
"Kalian ini sama sekali tidak mengerti juga?"
Jerry dan Leon terperangah, karena aksi yang dilakukan oleh Alan saat ini cukup ekstrim. Bisa dibilang tanpa ampun.
"Kenapa dengan kalian? Apa sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal yang seperti ini? Terlihat sangat kaget!" tanya Omar yang heran melihat Jerry dan juga Leon.
"Itu benar, apa karena kau akan berhenti, dan aksi brutal mu ini adalah yang terakhir?"
"Benar apa yang kau katakan Le, yang terakhir harus mengesankan, agar kita tidak melupakan hal ini sepenjang hidup kita." sela Jerry.
Alan hanya tergelak, "Terserah kalian mengatakan apa!"
Mereka akhirnya berlalu dari sana, dan menuju gedung perusahaan ARR.corps.
Mereka berempat berada dalam satu mobil, dengan Jerry yang mengemudikan mobilnya, Leon berada disampingnya, sementara Alan dan Omar berada dibelakang.
Omar tengah mengotak-ngatik laptopnya kembali, dia membersihkan jejak demi jejak hingga tidak bersisa sedikitpun.
"Jerr kau tidak lupakan anak-anak kan?" cetus Alan membuyarkan keheningan.
"Aman... mereka akan di bawa ke markas baru! Kau tenang saja, mereka tidak akan rewel, karena pasti mereka kekenyangan."
Leon menolehkan kepalanya seraya terkekeh. "Al, kau tidak akan merindukan mereka?"
Alan terdiam, "Mungkin tidak."
"Le hentikan, kau dan dia kan sudah akan berhenti, tapi dari bicaramu dari tadi kau seolah tidak ingin berhenti." sela Jerry tanpa mengalihkan pandangan nya pada ruas jalan.
Alan hanya menarik tipis sudut bibirnya, "Kau seperti tidak tahu saja, dia memang plin plan."
"Done!" ujar Omar dengan menekan tombol enter pada terakhir aksinya.
"Omar, terima kasih!"
"Kau tidak usah berterima kasih, aku hanya sedang membayar hutang budi keluargaku pada keluargamu. Kali ini kita impas, sudah tidak ada hutang budi." ucap Omar dengan menutup laptop miliknya.
Sementara Alan masih berfikir apa yang terjadi saat dulu antara keluarga mereka, ayahnya tidak pernah bercerita sedikit pun tentang hal ini. Bahkan bagaimana cerita beliau mengenal sosok orang terhebat di dunia permafiaan. Don Salendro.
Bagaimana Arya yang hanya pebisnis bisa mengenalnya, Alan berfikir keras akan hal itu. Ayah angkatnya itu dipastikan pebisnis bersih, yang tak pernah terkena kasus maupun skandal apapun. Sementara Don Salendro sudah menjadi legenda, bahkan dia sendiri saja sangat mengagumi sosoknya.
Tak lama kemudian Jerry menepikan mobilnya, mereka telah sampai di perusahaan.
Mereka berempat keluar dari mobil dan masuk kedalam.
N
Dreet
Dreet
Ponsel Alan bergetar didalam saku dibalik jasnya, Alam merogohnya, nama kontak sang ayah terpangpang jelas di layar ponselnya.
'Iya Ayah?'
'Kau dimana?'
'Aku di kantor yah,'
'Kantor yang mana?'
'Di ARR....'
'Bagus, kita bertemu diatas.'
Tut
Apa ayah akan datang kesini, ada apa?
Alan berbalik dan hendak menyusul teman-temannya yang sudah terlebih dahulu masuk,
pintu lift masih terbuka, Leon menahannya sampai Alan masuk ke dalam nya.
Empat pria dewasa yang tiba-tiba saling terdiam itu semakin membuat atmosfir didalam lift begitu mencekam.
Menambah udara yang dingin itu semakin dingin.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba semua terdiam?" tanya Jerry.
Tidak ada yang menjawab, mereka larut dalam fikirannya masing-masing.
Ting
Lift terbuka, Alan keluar terlebih dahulu, kemudian Omar dan Leon dan terakhir Jerry. Semua merasa gedung ini semakin mencekam, ditambah adanya beberapa orang berpakaian hitam-hitam mengangguk ke arah mereka. Alan bersikap seperti biasanya, dia akan menatap lurus saja tanpa melihat kiri dan kanan jalannya.
Sementara Leon dan Jerry saling pandang, pasalnya mereka tidak mengenalnya sama sekali.
"Siapa mereka?" gumam Jerry.
Leon mengerdikkan bahu, "Entahlah, aku tidak tahu."
Udara semakin mencekam saat mereka masuk kedalam ruangan Alan. Yang selama ini seringnya digunakan oleh Leon, sebagai orang yang dipercaya untuk mengelolanya.
"Akhirnya kau datang juga!" Seru Arya saat Alan masuk kedalam ruangan dan disusul oleh yang Omar, Leon dan Jerry.
"Ayah?"
Arya mengangguk, "Ayah sudah mendengar semuanya,"
Kemudian Arya menatap Omar Ali yang tenagh tersenyum padanya.
"Omar Ali?"
Dia mengangguk, "Yes sir... apakabar?"
Arya mengangguk-anggukan kepalanya, "Ayahmu sudah mengatakan padaku, jika kau akan datang, terima kasih sudah mau membantu Alan."
"Tidak masalah Sir, apa yang dikatakan ayah saya adalah perintah yang tidak mungkin dibisa ditolak, dan sebagai bentuk terima kasih keluarga kami atas kebaikan yang dulu Sir lakukan pada ayah." jawab Omar.
Arya berdecak, "Kenapa kalian masih mengingat hal sepele seperti itu?"
"Sir terlalu merendah, kebaikan yang sir katakan adalah hal terbesar bagi keluarga aaya, terutama saya sendiri. Andai saja dulu sir tidak melakukannya, mungkin hari ini saya tidak ada disini!" kelakar Omar.
Alan, Leon serta Jerry hanya mengernyit, mereka tidak memahami apa yang dikatakan oleh keduanya. Saling mengingatkan masa lalu dan ada kaitannya dengan hari ini.
"Kenapa kalian diam saja?" tanya Arya yang baru menyadari Alan dan kedua sahabatnya itu hanya mematung dan berdiam diri saja.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicara kan."
Flasback on
29 tahun yang lalu
BRUKK
Seseorang yang kepayahan menubrukkan dirinya pada mobil yang tengah Arya lajukann, untung saja, saat itu dia melajukanmya tidak terlalu kencang.
Orang itu memegangi perutnya, dan tubuhnya penuh luka, dia menerobos masuk kedalam mobil, membuat Arya kaget.
"Cepatlah pergi dari sini, kalau tidak kita akan mati saat ini juga." ujarnya dengan membuka jaketnya dengan paksa.
Arya melonjak dengan apa yang dilihatnya, tubuh pria penuh luka itu dipasangi oleh beberapa kabel berwarna hijau dan merah. Yang terhubung pada satu alat pemicu dengan waktu yang terus berjalan.
"Sh iiitt kau ini kenapa?"
"Cepatlah, bawa aku pergi dari keramaian ini sebelum benda terkutuk ini menhhancurkan tengkorak mu."
"Sial!" gumam Arya.
Kesialan hari ini membuat Arya yamg selalu prnuh kehati-hatian dalam bertindak berubah menjadi Arya yang ceroboh, berapa jali dia harus menabrak tong sampah, bahkan bagian belakang mobil pengendara lain yang menghalangi jalannya.
"Kita harus kemana?" tanyanya pada pria asing yang tampaknya seumuran dengannya.
"Kemana saja, asal sepi! Waktumu tiga ouluh menit deri sekarang!"
"Sial, kau seperti dosen killer yang memberikan quis dadakan."
Pria asing itu tergelak, "Setidaknya kau akan mati setelah membuat aku tertawa."
Arya melajukan mobilnya dengan cepat, keluar dari perbatasan kota.
"Aku masih lajang, baru saja akan pergi untuk menyatakan cinta pada seorang gadis, malah bertemu pria sinting sepertimu."
Pria itu kembali tergelak, "Siapa namamu?"
"Arya ... Arya Adhinata."
Dia berdecak, "Orang kaya sejak lahir!"
"Huuum...."
Mereka sampai di satu daerah perkebunan kayu dengan gedung yang masih dalam tahap pembangunan.
"Apa tempat ini bisa digunakan?"
Pria tersebut mengedarkan pandangannya. "Semoga tidak ada pegawai yang lembur hari ini,"
"Tanah sengketa keluarga, rencananya akan dihancurkan!" ujar Arya yang menghentikan laju mobilnya.
Dengan cepat pria tersebut keluar dari mobil, berlari masuk kedalam gedung kosong dan melepaskan bom waktu itu dari tubuhnya, lalu meletakkan nya di lantai.
Arya berlari menyusulnya setelah mematikkan mesin mobilnya.
Arya melongo melihat pria tersebut dengan cekatan mengotak-ngatik benda yang lebih banyak dia lihat di film action.
"Ambilkan aku bangku itu," teriaknya.
Alan mengambil bangku tersebut dan memberikannya pada pria itu.
"Apa ini sungguhan?" ujarnya dengan ikut berjongkok,
"Kau mau mengetesnya? Coba saja pasang ditubuhmu dan tunggu waktu nya habis, jika kau mssih hidup, berarti bom ini palsu." ujarnya dengan tergelak,
Sesuatu merembes dari balik jaket yang dia kenakan.
"Apa punggungmu terluka, sesuatu terlihat basah!" ujar Alan dengan menempelkan tangannya di atasnya.
"Aaakkh ... hentikan, biarkan saja! Ini lebih penting." ujarnya.
Arya memeriksa tangannya, dan seketika dia kembali melonjak kaget.
"Kau berdarah, punggungmu berdarah!"
Arya mondar-mandir, dirinya tengah panik, pasalnya dia sangat takut akan darah,
"Kau suka warna merah atau hijau?" tanyanya.
"Abu...." jawab Arya dengan cepat.
"Pilihannya hanya ada merah dan hijau, cepatlah!"
"Hijau."
"Baiklah...."
Krek
Dia memutuskan kabel berwarna merah dengan giginya.
"Aku tidak suka warna merah!"
"Lalu untuk apa kau tanya padaku?"
"Agar aku tidak tegang saja, mungkin sebentar lagi aku akan mati!" ujar pria itu asal.
Arya tidak mengerti, apa yang dilakukan oleh pria itu.
Dan pengatur waktu itu kini berhenti. Pria itu menghela nafas. Lalu membaringkan tubuhnya dilantai.
"Kita selamat." gumamnya.
Bamun sedetik kemudian pengatur waktu itu kembali menyala, membuat dia melonjak dan menatap Arya,
"Tidak akan berhasil." ujarnya.
Tik tik tik
Pengatur waktu lebih cepat bergerak dari sebelumnya.
"Kita harus pergi dari sini sekarang juga." ujarnya dengan berdiri.
Mereka berlari keluar dari area gedung kosong itu dan masuk kedalam mobil.
Namun Arya yang panik justru melupakan kunci mobil yang dia tinggalkan tadi didalam, saat dia ikut berjongkok.
"Sial, aku harus kembali ke dalam."
"Sh iitt... tidak ada waktu!" ujarnya keluar dari mobil.
"Cepat berlari, kita ke sana." menunjuk sebuah undakan kecil seperti bukit.
"Kau gila, itu sangat jauh!" ucap Arya.
Timer di alat pemicu itu terus bergerak cepat, hanya tersisa lima menit lagi.
Mereka berlari keluar dari area, bahkan meninggalkan mobil kesayangan Arya, dan seikat bunga yang akan dia berikan pada seseorang gadis hari itu.
"Lebih cepat!" ujarnya.
Pria tersebut berlari dengan terus meringis. Akibat dari luka dipunggungnya. Entah luka apa Arya tidak tahu.
"SEKARANG!!"