Assistant Love

Assistant Love
Memutuskan berhenti



Alan lalu mengembalikan kunci dan sejumlah uang itu pada supir ojek online, "Lain kali jangan sembarangan membawa seorang perempuan!"


"Buat seorang supir, mau laki-laki atau perempuan kan tidak ada bedanya, kecuali kalau yang aku ambil itu orderan setan. Baru aku fikir-fikir Tuan!" kelakar supir itu wajah yang berbinar karena setumpuk uang kini berada di tangannya lalu dimasukan kedalam tas pinggangnya.


Ridho dan rela dah tiap hari jadi supirnya si mbak, sekali narik dapatnya berlipat-lipat malah bukan lagi setimpal-timpal ini. Batin supir ojek online itu.


Alan menyorot dengan tajam tanpa suara, membuat nyali supir itu menciut dan segera menancap gas dan berlalu dari sana dengan cepat. Sementara Alan kembali berjalan dan masuk kedalam mobil.


Dinda masih mencebikkan bibirnya bahkan kini terlihat berkumpul menjadi satu dengan hidung yang mengembang.


"Mau sampai kapan jadi penguntit?" ujar Alan dingin, jangankan melihat, menolehpun tidak pada orang yang dia ajak bicara.


Hening


Dinda tak menjawab pertanyaan nya, dia hanya diam dengan pandangan yang lurus kedepan, tampak kesal dengan apa yang dia lihat sebelumnya, sikap Alan pada gadis itu sangat berbeda dengan sikap Alan padanya.


Dia melirik Dinda dengan ujung mata, namun orang yang dilirik tidak bergerak sedikitpun. Gadis ektrovert itu hanya meniup-niup anak rambut yang menutupi dahinya.


Hening


Alan kembali melirik gadis yang tampak menyedihkan jika hanya diam saja. Wajah yang biasa nya ceria itu kini bermuram.


"Apa kau salah minum Obat?"


Dinda hanya mendelik tanpa kata lalu kembali menatap Jalan di depannya, tak peduli sedikitpun pada pertanyaan Alan yang tidak penting itu.


Haruskah aku menyerah sekarang? Berhenti berharap, sekalipun kesempatan itu belum datang juga. batin Dinda.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, saking cepatnya Dinda sampai ketakutan, dan berpegangan pada handle pintu mobil.


"Kau gila, hentikan mobilnya!!Aku mau turun," ujar Dinda kesal.


"Kau yang gila, kenapa kau tidak berhenti mengikutiku!" jawab Alan.


"Kau terus memancingku, benar-benar ingin melihatku marah?" imbuhnya lagi.


"Marah apanya? Kau memang selalu marah, berbeda sekali saat kau bersamanya. Kau bahkan tersenyum padanya."


"Memangnya kenapa? Kau cemburu?" Alan semakin mencengkeram kemudi,


"Iya aku cemburu!! Sangat cemburu bahkan aku benar-benar marah melihatnya!!" ujar Dinda dengan lantang.


Sementara Alan terdiam dengan jawaban begitu jujur dari mulut Dinda. Perlahan dia melambatkan laju mobilnya.


"Aku menyukaimu Alan Alfiansyah, aku benar-benar menyukaimu. Tapi detik ini juga aku sudah memutuskan, aku tidak akan mengikutimu lagi, aku akan berhenti menyukaimu, persetan dengan perasaanku ini! Kau tidak suka kan? Maka aku akan melakukannya." ujar Dinda dengan nafas terengah-engah.


"Turunkan aku!!"


Alan semakin terhenyak dengan apa yang dikatakan gadis ekstrovert itu. Bahkan kepalanya sulit mencerna apa yang dimaksud Dinda. Dia bahkan tidak tahu perasaan nya harus senang ataupun sebaliknya.


Aku memang membencimu karena terus jadi penguntit, tapi aku juga tidak suka kau mengatakan hal itu. Sh itt...!!


'Kau menyukainya Alan.'


Kata-kata yang sempat Farrel ucapkan beberapa waktu yang lalu mengusik fikirannya.


Rahang keras itu semakin mengeras, membentuk garis yang semakin terlihat tegas, dengan gigi yang bergemelatuk menahan marah. Tapi kenapa harus marah. Dia tidak mengerti kenapa tidak bisa mengontrol dirinya sendiri untuk hal yang satu ini.


Lebih baik aku bertarung melawan musuh daripada harus menghadapi masalah seperti ini.


"Hentikan mobilnya sekarang atau aku akan melompat!!" Ujar Dinda dengan memegang handle pintu mobil.


Alan terkesiap, dia benar-benar menepikan mobilnya dan membiarkan Dinda turun begitu saja.


Dinda membuka pintu mobil dengan tersungut, namun sedetik kemudian dia berbalik, "Kau camkan baik-baik manekin hidup, dasar manusia kulkas yang tidak punya perasaan!! Kau pasti menyesal."


Lalu Dinda keluar dari mobil dan membanting pintu, sengaja menendang ban mobilnya sebelum dia berlari dari sana. Sementara Alan memutar bola matanya mengikuti pergerakan Dinda. Hingga dia menghilang entah kemana.


Alan memukul setir kemudi dengan kesal, lalu menyandarkan kepalanya disandaran mobil.


Aaaghkkk....sial


Umpatnya dengan meraup wajahnya kesal. Perasaan yang sama saat dirinya mencari Dinda diseluruh gedung Apartemen saat Dinda tidak bisa masuk kedalam platnya sendiri. Perasaan yang sama saat dia mencari sosok Dinda dan mengira akan melompat dari gedung. Sh iitt perasaan apa ini?


Alan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, berharap menemukan jawaban namun entah apa dan dimana dia mencari jawaban nya. Dia mencari Dinda yang terus berlari. Namun nihil, Dinda berlari dengan cepat dan masuk kedalam gang sempit, sampai Alan tidak menemukannya.


Dinda terus berlari dengan genangan air diseluruh wajahnya, dia terus masuk kedalam sebuah gang yang sempit dan baru berhenti setelah menyadari gang itu terlalu sepi. Lalu dia terduduk berderai air mata.


"Kau memang manusia tidak punya perasaan, dan aku terlalu berharap pada manusia macam dirimu." gumam Dinda dengan menyusut air matanya.


Namun semakin dia berusaha menyeka air matanya, semakin deras air bening itu turun. Dadanya terasa sesak dan berat. Dinda lalu bangkit dengan bahu yang bergetar hebat.


Sementara Alan terus mencarinya dengan menyisir pelan-pelan jalanan yang semakin gelap. Hingga dia melihat siluet bayangan dari kejauhan. Dia memicingkan kedua bola matanya dan memastikan bahwa sosok yang dilihatnya itu adalah sosok yang dia cari.


Alan turun dari mobil begitu saja, dia tidak peduli mobilnya akan menghalangi jalan atau apapun itu. Karena satu yang di inginkan nya sekarang hanyalah memeluk gadis itu. Gadis yang membuat nya dalam kebingungan.


Dia terus berlari dan menghampirinya dengan nafas tersengal, dan benar saja, siluet itu semakin jelas, dialah gadis bodoh yang diam-diam masuk perlahan kedalam relung hati tanpa dia sadari.


Alan lalu mencekal tangan Dinda dan menariknya perlahan kedalam rengkuhannya.


"Maafkan aku! Aku memang bodoh." ujarnya saat Dinda sudah berada dalam dekapannya.


Namun Dinda mendorong keras dada bidang milik Alan, dia melangkah mundur dengan perlahan.


"Terlambat!! Untuk apa kau mencari ku?" ujar Dinda dengan tangan yang sibuk menyeka air mata.


"Untuk apa kau terus melakukan hal ini padaku? Terus mencari ku lalu kembali menghancurkan ku!"


"Untuk apa kau bersikap begini padaku. Kau akan memelukku saat aku jatuh tapi kau juga yang menjatuhkanku!"


"Untuk apa?"


Dinda terus bertanya padanya, namun tidak satu pun yang mampu dijawabnya.


"Sudah ku bilang bukan, kau ini manusia tidak punya perasaan, dan aku sudah memutuskan untuk berhenti. Jadi tolong biarkan aku pergi!" ucapnya dengan berbalik.


"Pastikan terlebih dahulu perasaan apa yang kau rasakan padaku." gumamnya membelakangi Alan.


Lalu dengan langkah pasti dia melangkahkan kakinya, berlalu meninggalkan Alan yang tertegun menatap punggungnya.