
"Kau memang bodoh Erik, dan kau menuduh sembarangan tanpa bukti!"
Bugh
Merasa belum puas dengannya, Alan kembali mengepalkan tangan dan memukulnya.
"Jangan membelanya Al, hanya karena dia sahabatmu, dan aku juga temanmu kan?"
"Aku tidak membela siapa-siapa!" tukas Alan kemudian.
Beberapa orang berpakaian serupa memegangi Erik.
"Kalian urus dia! Pastikan dia menyesal."
Alan kembali berjalan keluar, setelah dia membersihkan kemejanya yang kotor.
Dreet
Dreet
Ponsel Alan berdering, dia mengambil ponsel itu di dalam saku jasnya.
"Ada apa Le?"
"Kau dimana?"
"Aku baru saja keluar dari rumah sakit, Tasya kembali masuk rumah sakit, aku menemukannya tak sadarkan diri kembali!"
"Astaga, berarti kau bertemu Erik?"
"Tentu saja! Dan aku menghajarnya!"
Leon terdengar menarik nafas nya dengan berat.
"Bagaimana keadaanya Tasya?"
"Kau lihatlah sesndiri, aku harus mengurus sesuatu yang lebih penting untuk hidupku sendiri."
Tut
Alan menutup teleponnya, bertepatan dengan langkahnya telah sampai di basement rumah sakit, dia lantas masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah sakit.
.
.
Sinar pagi menerobos masuk diantara celah tirai yang masih tertutup rapat itu, menyapa sepasang mata yang kemudian mengerjap akibat silaunya sinar mentari itu.
Dinda menggeliat, menegakkan punggung dengan posisi terduduk, namun kedua iris coklatnya masih enggan dia buka dengan sempurna, perlahan dia turun dari peraduannya, dan berjalan lunglai menuju kamar mandi.
Sudah berminggu- minggu dirinya tinggal di apartemen milik Alan, dan lagi-lagi pemilik hatinya itu tak pernah datang sekalipun, mereka hanya bertemu di kantor, mengobrol sebatas pekerjaan. Selebihnya, tidak ada.
Pria berwajah oriental itu terlalu sibuk, banyak hal yang dia urus, hingga sering mengabaikan dirinya, lebih tepatnya Dinda merasa terabaikan begitu saja.
"Huuu u ... uh!"
Dinda menghembuskan nafasnya panjang. Dia merasa sedikit sesak di dadanya, menahan rindu yang tak kunjung temu.
"Padahal bisa saja dia mampir ke sini, atau dalam beberapa waktu dia bisa menemuiku, tapi ternyata tidak!" gumamnya dengan menyisir rambut coklatnya.
Setelah beberapa saat, Dinda keluar dari kamar, dia menuruni tangga dan langsung masuk ke dapur, selama tinggal di apartemen Alan, dia memang tidak pernah kekurangan makanan, selalu ada kurir yang mengantar bahan- bahan persedian makanan, dan itu tentu saja atas perintah Alan.
"Lebih baik aku makan dengan mie instan, tapi aku bisa melihatnya!" ujar Dinda dengan mengeluarkan bahan untuk sarapannya dari dalam lemari es.
"Lebih baik lemari es ini kosong, dari pada penuh dengan makanan tapi aku tidak bisa melihat orang yang membuat lemari es ini penuh!"
"Benarkah?"
Dinda mematung, potongan roti yang tengah di pegangnya terjatuh, dengan cepat dia menoleh ke arah suara, sosok tinggi yang dia rindukan itu tampak berdiri dibelakangnya, seutas senyum terbit di wajahnya.
"Kau ..., disini? Atau penyakitku kambuh lagi?"
"Kemarilah, periksalah sendiri, apa aku nyata atau tidak."
Dinda mematung, "Ah... kau terlalu sibuk, sampai-sampai ka u mengabaikanku lagi."
Alan terkekeh, dengan satu tangan yang bersembunyi di dalam saku. "Baiklah, aku saja yang kesitu."
Alan berjalan maju, hingga mereka saling berhadapan, "Kau masih berfikir kau punya penyakit halusinasi?"
Dinda hanya menatapnya tanpa bicara.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Alan dengan heran, karena gadis berambut cokelat itu hanya menatapnya.
"Ku fikir kau tidak sudah tidak peduli lagi padaku."
"Kenapa kau selalu berfikir begitu?"
"Karena aku merasa begitu!" tukas Dinda dengan kembali membalikkan tubuhnya, mengambil potongan roti yang baru lalu meletakkannya pada mesin mesin membakar roti.
"Maaf..."
"Selalu saja minta maaf, tapi setelah itu mengabaikan aku lagi." gumamnya.
"Memangnya kau ingin aku melakukan apa? Selain kata maaf?"
Dinda kembali menghadap ke arahnya, "Kenapa kau selalu bertanya padaku? Kau tidak punya inisiatif, jangankan menemuiku, meneleponku juga jarang!"
"Maaf, terlalu banyak hal yang harus aku urus, sampai aku selalu mengabaikanmu, dan bukankah aku pernah bilang padamu, jika dengan bersamaku kau akan terluka, kau juga akan sering terabaikan, seperti sekarang ini."
"Dan kau tidak masalah bukan." ujar nya kemudian.
Dinda terdiam, memang dia tidak keberatan mengenai hal itu. Tidak sama sekali, tapi dia juga ingin sekali di utamakan, di prioritaskan dari apapun.
Anggaplah aku egois, tapi aku juga ingin diletakkan di urutan paling atas diantara urusan-urusanmu yang lain.
Bibir Dinda terkatup, hanya batinnya saja yang bicara.
Tuk
Alan menyentuh keningnya dengan telunjuknya.
"Apa otakmu sedang nge- bug? Kenapa hanya diam."
Dinda menggelengkan kepalanya "Aku merindukanmu!"
Seketika sudut bibir Alan terangkat, mendengar wanitanya mengatakan hal itu.
"Apa kau sedang merajuk?"
Dinda menggelengkan kepala nya, "Tidak untuk apa aku melakukannya."ujarnya dengan berjalan melewati tempat Alan berdiri.
Dia menahan pergelangan tangannya, dan menariknya ke dalam pelukannya.
Brukk
Tubuh Dinda tenggelam dalam dekapan Alan, dada bidang miliknya itu membuatnya tidak terlihat.
"Maafkan aku, selalu membuatmu menunggu! Bersabarlah," bisiknya.
"Sudah aku katakan padamu, aku akan tetap menunggumu, walau harus menunggu lama."lirihnya dengan memukul dada milik Alan.
Alan terkekeh, "Iya ... maafin aku yaa?"
Dinda mengangguk, dengan mengeratkan pelukan tangannya pada pinggang Alan.
Ting
"Astaga aku hampir lupa!" ujar Dinda dengan mengurai pelukan Alan.
Dia hampir melupakan begitu saja sarapannya, bahkan rasanya rasa lapar tidak lagi menyerangnya.
"Kau ingin sarapan di sini?" tanya nya.
"Nanti saja, aku kesini untuk menjemputmu, dan aku harus ke rumah sakit lagi."
"Kerumah sakit lagi?"
"Hm ... Tasya kembali di rawat, kandungannya sangat lemah,"
Dinda berjalan ke arah meja makan, dan menarik kursi untuk dia duduki, "Berarti kau pernah ke sana sebelumnya?"
Alan mengikuti Dinda ke meja makan, "Hm ... aku yang membawanya ke rumah sakit,"
"Bagus!" gumamnya.
Dia terlalu sibuk sampai tidak bisa menemuiku, bahkan untuk sekedar meneleponku! Tapi untuk Tasya? Dia melakukannya.
Alan mengernyit, saat mendengar gumamannya, "Kenapa?"
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa! Memangnya kemana suaminya Erik? Kenapa kamu yang membawanya."
"Entah lah rumit sekali, dan semua berhubungan dengan si Leon. Erik menuduhnya berselingkuh dengan Leon, dan anak yang dikandungnya adalah anak Leon."
Dinda kaget, dia tidak menyangka Erik berani berbuat seperti itu. Padahal setahu ku Erik adalah pria baik.
"Apa mereka sedang bermasalah semua?"
Alan menghela nafas, "Huum... banyak sekali masalah yang harus aku selesaikan! Sampai aku mengabaikan mu." ujarnya dengan mengelus pipi Dinda.
Dinda menatap kedua pupil Alan yang melebar saat itu, raut kelelahan ada disana semua,
"Maafkan aku yaa! Kamu pasti lelah. Sementara aku malah menambah beban fikiran untukmu!"
Alan meraih tangan Dinda, dan menautkan jemarinya,
"Aku merindukanmu, dan jangan pernah berfikir hal seperti itu! Karena itu sama sekali tidak benar!"