Assistant Love

Assistant Love
Pria sakit jiwa 2



Brakkk


Tiba-tiba pintu kamar terbuka setelah Alan menendangnya.


"Sudah ku duga!"


Denis yang kaget langsung menarik Dinda dan mengapitkan sebelah tangan dilehernya.


"Ternyata dia datang sendiri sayang!" bisiknya.


Alan menyorotinya dengan tajam, terlihat garis rahang itu mengeras, menahan giginya yang bergemelatuk.


"Lepaskan dia! Kau mencari ku bukan?" ujarnya dengan suara bariton yang menjadi khasnya.


Denis terbahak, "Lihatlah kekasihmu, dia pemarah sekali, berbeda dengan ku, benarkan sayang?"


Dinda mengangguk dengan menatap nanar ke arah Alan. Alan semakin geram saat melihat leher Dinda yamg masih basah oleh darah karena luka sayatan.


"Brengsekk!!" ujarnya dengan melangkah maju.


Denis mengeluarkan senjata milik Jhoni dari balik jasnya dengan cepat, dan mengacungkannya pada Dinda. "Stop disitu Mr Alan."


Alan kembali terdiam, "Sekali saja kau melukainya, aku akan menghancurkanmu!"


Denis terbahak, "Tidak ... tidak, aku tidak akan menyakiti seorang perempuan,"


Dia memberikan senjata itu pada Dinda,


"Kau sudah aku ajari sayang, jangan membuat ku kecewa."


Dinda memegang senjata itu dan Denis mengangkat tangannya hingga mengarah pada Alan.


"Kau siap Mr Alan? Dia akan mencoba menembak untuk pertama kalinya," ujarnya dengan mengelus rambut panjang miliknya.


Mereka saling memandang, seolah tatapan mereka saling berkata.


Al tolong aku.


Jangan panik.


Dinda memejamkan matanya, sementara Denis meletakkan pisau kecil itu tepat dilehernya.


"Lakukan sekarang sayang."


"Aku tidak bisa, ak--aku lupa caranya!" ujarnya dengan tergagap.


Alan kembali berjalan beberapa langkah saja,


"Ayo tembak saja, aku justru ingin melihat kemampuannya!" berseringai ke arah Dinda


"Dia akan melakukannya! Benarkan sayang?"


"Wow, dia memanggilmu sayang?"


Sekian lama berhadapan dengan bermacan orang, Alan cukup tahu, karakter orang yang tengah di hadapinya, seperti saat ini yang melihat jika Denis seperti orang sakit.


Prilakunya yang tidak konsisten, dan tiba-tiba berubah-ubah, mengelus rambut Dinda namun juga melukainya, berteriak lalu berbicara lembut.


"Sebentar lagi dia akan menjadi wanitaku, setelah kau mati ditangannya. "Benarkan sayang?" ucapnya dengan mengelus rambut Dinda kembali.


Alan kembali maju. Dia menggeser kursi lau duduk. "Oke begini saja, bagaimana kalau kita barter? Kau boleh memilikinya, bukankah dia sangat cantik? Aku ingin menukarnya...!"


Denis tergelak, begitu juga Dinda yang seketika kedua manik coklatnya membola sempurna.


"Kau fikir aku bodoh? Dengan apa kau menukarnya? Perusahaanku sudah di ambang kehancuran, adikku sendiri sudah mati!" ujarnya dengan kembali menekankan pisau kecil dileher Dinda.


Alan berhentilah main-main!


Alan kembali berdiri, "Kalau begitu, aku ingin menukarnya dengan nyawamu."


Trakk


Bugh


Begitu Alan selesai bicara Dinda menarik slide senjata api itu lalu memukulkannya tepat dikepala Denis, kemudian dia berlari dan melemparkan senjata api itu pada Alan.


Sedangkan Denis terhuyung ke belakang, dengan darah yang mengucur di pelipisnya.


Alan berdecak, namun menarik tubuh Dinda ke arah belakang tubuhnya.


Pisau kecil itu terlempar, Denis mengeluarkan senjata dari balik jasnya.


Dor


"Kau benar-benar mempersiapkan hal ini?" gumam Dinda yabg melihat bagian dalam sofa itu didesain khusus anti peluru.


"Tentu saja!"


Bruk


Alan melemparkan sofa itu ke arah Denis, seraya melangkah dengan cepat, saat sofa mendarat ditubuhnya, Alan menendang perutnya. Membuat Denis terjatuh, dan senjata api miliknya terlempar.


Bunda tidak mau hal ini terulang kembali, cukup sudah apa yang kau lakukan, jangan membuat bunda semakin kecewa.


Kata-kata bunda kembali terngiang saat dia menodongkan senjata padanya. Lalu tiba-tiba dia melemparkan senjata milik Jhoni itu ke atas ranjang.


Aku sudah berjanji untuk tidak lagi mengulangi perbuatanku,


Denis yang kini berusaha berdiri, memasang seriangian di bibirnya, apalagi saat dia melihat Alan sudah tidak memegang senjata.


"Biar polisi yang mengurusmu!" ucap Alan yang kemudian berbalik.


Tanpa diduga Denis mengeluarkan senjata lain dari sakunya, Swiis mini gun. Senjata terkecil yang bisa masuk kantong namun paling mematikan.


"Alan ...." pekik Dinda.


Dor


Alan yang menoleh ke arah Denis lalu kembali menoleh pada Dinda yang telah menembakkan peluru tajam ke arah Denis, sebelum Denis berhasil menarik pelatuk senjata miliknya.


Peluru itu menembus tulang bahu, lalu Dinda mendekati nya lagi,


Dia menarik slide kembali, lalu menodongkan senjata nya pada Denis, yang tengah meringis.


"Begitukan, aku harus menarik slide terlebih dahulu sebelum aku menarik pelatuknya. Terima kasih sudah mengajariku."


Perlahan Dinda menarik pelatuknya kembali, namun Alan berlari dari arah belakang dan menarik tangan Dinda ke atas,


Dor


Peluru itu menembus langit-langit kamar, sementara Denis sudah memejamkan matanya.


"Jangan gila, berikan senjatanya padaku!" ujar Alan merebut senjata api itu dari tangan Dinda.


Beberapa orang merangsek masuk bersama dengan Jerry.


"Biar ku urus, kalian pergilah dari sini!"


Alan menarik tangan Dinda dan keluar dari plat itu, beruntung, plat milik Alan memang dipasangi alat peredam suara, hingga tidak menimbulkan kecurigaan dari penghuni lain di plat itu.


.


.


Mereka masuk kedalam mobil dan melaju dari sana, tidak ada yang berbicara. Dinda terlihat shock sendiri dengan apa yang dilakukannya barusan, sedangkan Alan yang sudah berjanji untuk berhenti tak kalah kagetnya.


Mobil berhenti tepat di depan sebuah apotik, Alan turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam apotik itu, meninggalkan Dinda tanpa kata sepatah pun.


Dinda berdecak, merasa heran dengan Alan yang mendiamkannya seperti itu. Tak lama kemudian Alan terlihat keluar dari apotik dengan kantong yang dibawanya.


Dia masuk kembali ke dalam mobil,


"Kemarilah, aku akan mengobati lukamu!" ujarnya pada Dinda.


Dinda beringsut dari duduknya dan menghadap Alan. Dia mengenadahkan kepalanya yang terluka sayatan.


Alan membersihkan luka itu dengan alkohol, membuat Dinda meringis karena perih.


"Jangan pernah melakukan hal itu lagi! Aku saja sudah akan berhenti,"


"Aku hanya ingin menolongmu, dia mengeluarkan senjata api yang sangat kecil dan mengarahkannya padamu."


"Kamu fikir bisa menembak itu keren? Tidak sama sekali, aku tidak ingin masa depan kita terus dibayang-bayangi oleh kegelisahan, jadi jangan pernah coba-coba menyentuh senjata api lagi!"


"Tapi jika kau terbunuh bagaimana? Bodoh!" ketus Dinda dengan merebut kain Kassa steril dari tangan Alan.


"Tidak apa, jika aku mati hari ini, semua selesai! Dibandingkan jika tanganmu yang seharusnya digunakan untuk membesarkan anak-anakmu kelak, harus kotor oleh darah seseorang."


Dinda memukul bahu Alan, "Ku kira kau akan bangga padaku! Menyebalkan."


"Karena aku tidak mencari wanita yang jago menembak, aku mencari wanita yang mampu menggantikan posisi senjata api dalam hidupku! Kau mengerti?"


Dinda mengernyit, "Tidak ... ucapanmu membuatku bingung! Bagaimana mungkin aku menggantikan senjata!"


"Dasar bodoh!"