
Setelah kepergian Alan dari rumah nya, Dinda kembali merebahkan dirinya diatas ranjang, berguling kesana-kemari dengan novel edisi khusus dari penulis favoritnya. Dan yang paling utama adalah siapa orang yang memberikan benda kesukaan nya itu.
Dari mana dia tahu novel ini yang aku sukai? Apa diam-diam dia memperhatikanku...Batin nya bicara.
Entahlah, yang jelas hari ini aku bahagia sekali.
Siapa pun pasti akan bahagia jika mendapat sesuatu hal yang dia inginkan selama ini, terlebih dari seseorang yang selama ini dia sukai, bak gayung bersambut, bertanda seseorang itu pun menyukainya.
Dinda terus saja berguling-guling diatas atas, tertawa saat adegan lucu dari novel jelek seperti yang Alan katakan, atau ikut meringis saat adegan romance didalam nya,
"Tidak menurutku penulis ini bagus, kalau tidak mana mungkin aku mengeluarkan uang hanya untuk membeli tiket meet and greatnya." Gumamnya.
"Dia belum pernah membaca nya jadi tidak tahu kalau novel ini bagus, kira-kira dia suka membaca tidak yaa, tapi mana mungkin orang sedingin itu."
Dinda terus bermonolog, menjawab semua pertanyaan dirinya sendiri. Baru keluar kamar saat merasa tenggorokan nya kering, berjalan ke arah dapur untuk mengambil gelas dan mengisi gelas itu oleh air lalu menenggak nya hingga tandas.
Bertepatan dengan Dinda menyimpan gelas bekas miliknya, suara pintu yang diketuk dari luar, dia mengernyitkan dahi, lalu melirik jam dinding yang setia berdetak meski sering diabaikan, menggantung di salah satu sudut ruangannya.
Siapa yang bertamu malam-malam begini?
Dinda mengarah ke arah pintu lalu membukanya, tanpa dia duga Leon sudah berada dihadapannya dengan paper bag yang diacungkan dan di goyangkan nya.
"Temani aku makan malam." ujarnya sambil menerobos masuk.
"Hei, kau ini! Aku belum mengatakan boleh ataupun tidak. Main nerobos aja!!" Gerutunya dengan mengekor pada Leon yang masuk terlebih dahulu tanpa bisa melarangnya.
Leon berjalan kearah dapur dan mengeluarkan piring, sendok, serta garpu dari lemari milik Dinda tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Hei... kau sudah menganggap tempat ini rumahmu sendiri ya, Bagus sekali!!" cibir Dinda dengan kedua tangan bersidekap dada
"Hahaha...iya maaf ya, aku begitu antusias karena lapar sekali!" tukas Leon sambil tertawa, dengan berpura-pura meringis memegangi perutnya.
Andai saja Alan bersikap seperti Leon, sudah pasti aku akan berlari memeluknya. Menyebalkan dia bahkan tidak pernah berbasa basi seperti ini.
"Heh...aku kan belum mengatakan mau makan ataupun tidak!" ucapnya sambil berlalu kearah ruang tamu dan mendudukkan dirinya di sofa,
Leon menata makanan di atas kedua piring, lalu membawanya ke sofa di mana Dinda duduk, " Aku membelinya kebanyakan, jadi aku bawa kesini. Mungkin saja kau belum makan. Tenang saja ini low karbo."
"Aku gak peduli low karbo ya, asalkan aku kenyang dan rasanya juga enak!" ujar Dinda yang langsung menyambar piring dari tangan Leon.
"Aku coba dulu, kalau tidak enak ... aku tidak akan memakannya, dan kau harus segera keluar dari platku!" ancamnya.
Leon berseringai, "Coba saja dulu, kalau enak aku akan disini sampai aku merasa mengantuk lalu setelah itu aku baru akan pulang!"
"Deal...."
Lagi-lagi gerakan impulsif nya yang bekerja, dengan mulut penuh dia mengulurkan tangan begitu saja lalu beralih kembali pada makanan hingga piring miliknya telah tandas.
Cukup unik, menaklukannya hanya dengan makanan yang enak.
Tak lama kedua piring telah tandas itu tergeletak begitu saja, alih-alih menemani Leon mengobrol, Dinda terlebih dahulu tertidur di sofa.
"Astaga ... aku baru akan bertanya padanya, mudah sekali dia tidur." gumamnya pelan.
Leon menatap wajah Dinda yang tengah terlelap, wajah polos yang selalu membuatnya tertawa dengan tingkah nya. Wajah polos yang membuat dia ingin memilikinya.
Leon mendekatkan wajahnya semakin dekat, menatap bibir polos miliknya, dia mulai penasaran bagaimana bibir itu rasanya, begitu tipis dan juga selembut sutra. Leon semakin membenamkan wajahnya.
Beruntunglah, Dinda tiba- tiba membuka perlahan kedua matanya dan Leon kembali memundurkan tubuhnya dengan gelagapan
"Kau ... kenapa ada disini?"
Sedetik kemudian dia menepuk jidatnya, "Astaga aku sampai ketiduran lagi kan!"
Leon terkekeh, "Padahal aku ingin kau menemani ku sampai aku mengantuk, ini malah sebaliknya,"
"Iya maaf aku mengantuk sekali," Ucap nya seraya bangkit dari duduknya, namun naas dia malah terjerembab dan jatuh di atas tubuh Leon.
Sesaat mereka saling menatap, menelisik setiap sudut kelopak matanya, mencoba menyelami indahnya dunia melalui mata indah berwarna coklat itu. Leon mendekatkan wajahnya, mencoba peruntungan dengan mengecup bibir Dinda yang manis.
Namun Dinda yang terkesiap itu langsung bangkit dari tubuh Leon, "Maaf Leon ... mungkin lebih baik kau pulang saja." ucapnya.
Leon salah tingkah, dia bangkit dari duduknya, "Baiklah, lebih baik pulang, tidur lah." Ucap nya mengacak rambut di pucuk kepalanya.
Leon pun keluar dari plat milik Dinda, dia mengarah pada plat nya sendiri.
Dreet
Dreet
Konsep yang berada di balik jaket nya berbunyi, dia merogohnya lalu mengangkatnya setelah berulang kali mati lalu kembali berbunyi.
"Ada apa?"
"Maaf bos, aku tidak menemukan gadis itu, tidak ada satupun informasi tentang nya,"
"Bagaimana bisa, tidak ada sama sekali?"
"Betul bos!! Aku tidak menemukan apa-apa!"
Leon mendengus, "Dasar tidak berguna!"
Leon masuk kedalam platnya dengan kesal, "Brengsekk, pasti ada seseorang yang melindunginya! Aku harus menemukannya, gadis itu berbahaya untuk keselamatan Alan."