Assistant Love

Assistant Love
Halusinasi



Alan menarik tubuh yang sama sekali tidak dapat berdiri kokoh itu dengan sekali gerakan.


"Dasar bodoh!"


Kemudian Alan masuk kedalam kamar mandi di apartemen itu, masih dengan menggerutu Alan membersihkan dirinya karena terkena muntahan gadis yang dia tolong.


"Aku tidak ingat apapun lagi, kepala ku pusing banget!"


Tanpa sadar Dinda kembali merebahkan dirinya, dia bukan gadis sepolos Metta sahabatnya, dia juga tidak aneh dengan minuman beralkohol, namun saat ini ada yang berbeda, semacam obat tapi Dinda pun tidak tahu apa.


Samar-samar gemericik air terdengar dari kamar mandi, ALan keluar dengan bertelanjang dada. Dinda yang merebahkan diri dilantai mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan.


"Astaga, apa yang sebenarnya aku minum, kenapa aku bisa berhalusinasi seindah ini!" gumamnya pelan.


Bak melihat malaikat yang baru saja turun dari khyangan Dinda semakin membulatkan matanya.


"Bahkan dalam keadaan begini saja, yang ku lihat hanya wajahnya, apa karena di kantor aku tidak pernah punya kesempatan untuk melihatnya setiap saat?"


"Astaga aku bisa gila."


" Hei, kau! Enyah lah dari pikiranku, kau hanya datang dalam angan-angan ku saja."


"Pergilah..." Dinda melambai-lambaikan tangannya menyuruh Alan pergi.


"Untuk apa kau datang hah, tidak kah cukup kau datang hanya dalam mimpiku saja, bahkan datang setiap malam. Cih!"


Dinda meracau, "Aku capek harus melihatnya dari jauh, mencuri pandang, bahkan berpura-pura mengantarkan berkas hanya ingin melihatmu saja, hahaha melihatmu yang tidak melihatku!"


"Seperti hantu saja aku ini! Sudah lah untuk apa aku terus bicara pada bayangan, sudah gila!"


Dinda masih terus meracau, sementara Alan tidak sedikitpun peduli. Dia hanya ingin cepat pergi dari sana, bahkan Alan tidak mengerti sama sekali apa yang di katakan Dinda.


Alan berjalan ke area sudut, dimana ada sofa kecil dan sebuah meja, Apartemen ini tidaklah sebesar Apartemennya, namun cukup nyaman untuk ditinggali kecuali bagian tangga daruratnya saja.


Alan menggantungkan kemeja yang baru saja dia bersihkan, berharap cepat kering dan segera pergi dari sana, tiba-tiba Alan menyenggol tas kecil yang dipastikan milik perempuan yang sekarang tak sadar kan diri itu.


Alan mengambilnya dan memasukan kembali benda-benda yang jatuh tercecer, kecuali ID Card milik gadis yang belum dia kenal.


Alan mendaratkan tubuhnya di sofa, mengangkat kaki yang dia tumpangan pada kaki satunya. Membuka ipad nya dan memeriksa beberapa pekerjaan.


Hening


Alan menoleh kan kepala sekilas melihat Dinda yang kini terlelap. Gadis itu berhenti meracau,


"Akira Dinda Pramudiya," Alan bergumam membaca nama yang tertera pada ID card yang dia temukan tadi.


Alan memutar-mutar ID card itu disela jarinya. lalu membakar sebatang nikotin yang dia ambil dari saku bajunya. Menghasilkan kepulan demi kepulan asap di ruangan itu.


Tak lama kemudian dia mengangkat gadis yang dia duga bernama Akira berdasarkan ID card yang dia temukan. Memindahkannya kedalam ranjang lalu menutupinya dengan selimut.


Sejenak Alan memperhatikan wajah gadis yang kini terlelap, menyibakkan anak rambut yang menutupi wajahnya yang manis.


"Kau berhutang nyawa padaku, suatu hari aku kan menagihnya padamu,"


Alan menaikkan selimut itu sampai di batas dadanya, lalu beranjak, setelah itu memakai kembali kemeja yang dia rasa sudah kering. Lalu keluar dan pergi dari Apartement itu.


.


.


"Sudah kubilang aku tidak tahu! lebih baik kau tidak usah berteman dengan mereka lagi."


"Mereka hanya akan menghancurkan hidupmu saja!"


"Hidupku saja sudah hancur Erik, bahkan aku ditolak mentah-mentah oleh seorang pria, memalukan!"


"Benarkah? perempuan secantik ini ada juga yang menolaknya, benar-benar bodoh pria yang menolakmu itu!"


"Thanks Rik, Tapi aku juga tidak sepolos dan sebaik itu. Mereka juga bisa kapan saja menjebakku." ucap Tasya yang masih duduk didepan Erik, sang Bartender sekaligus pemilik club itu.


"Sudahlah tidak usah kau fikirkan lagi," menyodorkan gelas yang sudah di isi ke hadapan Tasya.


"Hem ...."


"Aku tidak tahu, begitu banyak orang malam ini, banyak pula yang bertanya kepada ku, aku bahkan tidak tahu siapa saja yang bekerja hari ini!"


"Itu karena kau bodoh saja, makanya itu kau dipecat kan diperusaahan!"


"Hei kau tidak tahu ya, aku ini mengundurkan diri, kau tahu artinya mengundurkan diri, bukan dipecat ya camkan itu!"


"Terserah kau saja, aku mau pulang!"


"Kau mau ku antar?"


"Tidak, kau selesaikan saja pekerjaan mu!"


Tasya kemudian keluar dari club malam itu, Miranda benar- benar meninggalkannya di club seorang diri.


.


.


"Gimana Mir, kau sudah dapat kabar dari Tasya?"


Miranda mengelengkan kepala, "Mungkin dia sekarang sedang meratapi hidupnya."


Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.


"Kau memang licik, benar-benar licik,"


"Jangan panggil aku Cintya jika aku tidak bisa menyingkirkan siapa saja yang menghalangiku."


Bersambung.


.


.


Jangan lupa terus dukung karya receh ini dengan like , komen, rate 5 dan juga Fav yaa.


Terima kasih❤