Assistant Love

Assistant Love
Aku menyesal



"Katakan!! Siapa dia??"


"Siapa yang kau magsud?"


Alan mendengus, "Tadi nya aku akan melamarmu lagi, untuk melanjutkan pernikahan kita! Tapi---"


Dinda membulatkan mata, "Tapi apa?"


"Ternyata kau memiliki pria yang lebih baik dariku!"


"Melamarku disini? Yang benar saja."


"Kau masih saja bodoh!"


"Kau yang tidak pernah peka sedikitpun!"


Alan mendengus, "Kau tidak mau mengalah!"


"Kau yang harusnya mengalah!!"


"Aku merindukanmu Akira!"


Kali ini Dinda memilih diam, namun di lubuk hatinya dia bersorak dan tentu saja bahagia karena kata ajaib itu terlontar dari bibir Alan, si manusia kaku.


"Kenapa kau tidak menjawabku?"


"Kenapa kau membawaku kemari? Supirmu bilang kau akan mengurungku karena sikap ku yang menolakmu!"


"Benarkah dia mengatakan hal itu padamu?"


Dinda mengangguk pelan, dia ingin memeluk Alan untuk melepas kerinduannya selama ini, namun melihatnya saja tiba-tiba kesal sendiri.


"Itu mungkin karena kau terlalu berisik!"


"Kau juga menyebalkan, kenapa kau tiba-tiba marah padaku?"


"Karena aku kesal padamu! Kau tahu bagaimana aku berusaha tetap waras saag dipenjara hanya karena memikirkanmu... huh, kau malah bersenang-senang disana bersama pria lain."


"Tentu saja, dia itu baik sekali, dia bahkan menolong ibuku!"


Alan tampak kesal, sementara Dinda tersenyum penuh kemenangan. "Dia seorang dokter!"


Alan terperangah, "Aku tidak peduli, kau tetap akan menikah denganku!"


"Kau sengaja membuatku marah? Hem ...."


Dinda menggelengkan kepalanya, "Aku tidak begitu!"


"Lalu kenapa kau mengatakan hal itu, bangga sekali!"


Sebenarnya Alan juga merasakan hal yang sama, dia begitu merindukannya, ingin memeluknya saat itu juga, namun api cemburu lebih cepat menyerangnya tanpa dia kendalikan.


"Kau selalu saja begitu! Mempersulit hubungan kita dengan sikapmu."


"Kau juga tidak peduli denganku! Kau tidak mengatakan hal sebenarnya padaku, hingga aku berfikir, apa gunanya aku selama ini Al!!"


"Sampai aku merasa lelah sendiri karena merasa perjuanganku sia-sia."


"Maaf!!"


Satu kata yang membuat air mata Dinda luruh seketika, dan Alan mengulurkan tangannya, "Maaf untuk semua kekecewaan yang telah kau rasakan terhadap ku! Aku memang tidak pernah membuatmu merasa seutuhnya bahagia. Dan hanya membuatmu menangis."


"Aku hanya ingin berada disisimu apapun yang terjadi! Tapi kau tidak pernah ingin berbagi beban denganku."


"Maaf ... " tangannya masih menengadah menunggu, namun Dinda masih enggan meraihnya.


"Apa kau tahu Al? Aku belajar melupakannya! Tapi tetap tidak bisa, aku juga ingin dicintai seperti aku mencintai. Tapi rasanya terlalu berat."


"Maaf, kau boleh menghukumku kali ini!"


"Untuk apa? Aku bahkan tidak bisa menunggu kau yang datang mencariku! Kau yang mengejarku ataupun kau yang mengatakan cinta terlebih dahulu. Aku lelah menunggumu melakukan hal itu, aku lelah Al." ujarnya dengan menangis.


"Maafkan aku!!" lirihnya dengan menarik tubuh Dinda kedalam pelukannya, "Maaf ... maaf ... dan maaf!"


"Maafkan aku sayang!" ujarnya lirih.


Dinda mendongkakkan wajahnya yang basah dengan air mata, "Sayang?"


"Hm ... aku sayang dan aku cinta padamu!"


Kedua mata yang sudah terlalu lama tak beradu itu kini saling menelisik, dalam diam.


Alan mencuil dagu nya dan menariknya hingga lebih mengenadah ke arahnya, "Aku sangat merindukanmu! Sampai rasanya aku ingin mati saja jika sampai kau memilih pria baik hati itu dibandingkan denganku! Karena saat ini aku sudah tidak ingin membunuh orang!" ucapnya dengan kedua mata menyapu seluruh wajah kemerahan kekasihnya itu.


"Aku menyesal!! Maafkan aku!!"