
Dinda merengut, dengan bibir yang mengerucut, saat Kemal membantu ibunya masuk kedalam mobil. Lalu dengan malas dia masuk ke dalamnya, disamping sang ibu.
"Miss Sisil, apa anda tidak keberatan jika anakmu duduk didepan? Aku merasa kesepian dan tidak ada teman disini!" ujar Kemal saat Dinda menutup pintu mobilnya.
Dinda menyorot ke arahnya dengan tajam, "Bisa-bisanya kau mencari dukungan! Dasar si kumal." gumamnya pelan.
Sisilia mengangguk, membuat Kemal tersenyum ke arah Dinda, sementara dia berdecak ke arah ibunya.
"Mami ... apaan sih!"
"Sudah sana pindah sayang, dokter Kemal hanya ingin ditemani, sepertinya agar dia tidak mengantuk jika ada teman mengobrol." tukas Sisilia.
Karena desakan sang ibu, Dinda terpaksa pindah ke depan, dan membuat Kemal semakin sumringah.
"Dasar si kumal!" gumamnya lagi.
"Thanks Miss!" ujar Kemal mengedipkan mata pada Sisilia.
Mami hanya ingin melihat kamu bahagia disisa hidup Mami yang tidak akan lama lagi ini, Mami berharap ada seseorang yang menjaga kamu dengan baik, dan tidak lagi membuatmu kecewa dan bersedih. Mungkin dokter Kemal lah orang yang tepat. Biarkan Alan menyesal dengan tindakannya, dia bahkan tidak memperjuangkan kamu nak.
Butuh waktu 35 menit dari rumah sakit menuju apartemen dimana Dinda beserta ayah dsn ibunya tinggal, dan waktu yang singkat itu digunakan Kemal dengan baik, segala macam gurauan dan lelucon dia layangkan, namun hanya Sisilia yang tertawa, sementara Dinda hanya mengangguk dan tertawa malas.
"Apa kau tahu, negaramu saat ini katanya sepi sekali Akira? Kau tahu kenapa?"
Dinda mengerdikkan bahu. "Aku tidak tahu, jawab sendiri saja, aku malas berfikir!"
"Akira!"
Dinda mendengus kasar, Kemal pun hanya terkekeh melihat gadis disebelahnya senakin mengerucutkan bibirnya.
.
Mobil berhenti tepat di depan apartemen, Dinda keluar tanpa mengucapkan apa-apa, begitupun dengan Kemal, dia keluar lalu mengeluarkan kursi roda di dalam bagasi, lalu membantu Sisilia keluar.
"Biar aku saja! Kamu kembali saja ke rumah sakit! Terima kasih sudah membantu dan mengantarkan kami." ucap Dinda yang mengambil alih kursi roda dari tangannya.
Kemal masih tersenyum, dia membiarkan Dinda mendorong kursi roda seorang diri. Sementara dia mengambil tas milik Sisilia dari dalam mobil, lalu menyusulnya masuk.
Dinda mendorong kursi roda masuk kedalam lift, dan Kemal menahan pintu lift agar tidak tertutup.
"Kenapa kau masih disini, sudah aku bilang sana kembali ke rumah sakit!" seru Dinda ketus, "Ngeyel!" gumamnya lagi.
"Maaf tapi tas Miss ketinggalan, dan juga aku ingin mampir! Bukankah di negara mu itu tidak sopan jika tamu yang berkunjung, tidak diperkenankan untuk masuk atau mampir?"
"Ish ... kita ada disini! Bukan di indonesia, lagipula suka-suka aku mau menerima tamu ataupun tidak! Sudah sana...."
"Sudah tidak apa, dokter Kemal, mari! Kalau mau mampir."
Kemal masuk kedalam lift, dia tidak peduli apa yang dikatakan Dinda, yang penting dia sudah mendapat dukungan penuh dari Sisilia, itu sudah cukup, dekati ibunya terlebih dahulu untuk mendapatkan putrinya.
Ting
Pintu terbuka, Dinda mendorong kursi roda dengan cepat, dia tidak membiarkan Kemal membantunya, walaupun dia sedikit kesulitan.
"Mami kenapa sih? Pengen banget dia mampir! Awas saja kalau dia berani macam-macam."
Dinda meniup anak rambut yang menghalangi wajahnya dengan kasar, terserah apa kata ibunya, yang pasti dia tidak suka cara Kemal yang terlihat mendekatinya secara terang-terangan, apalagi caranya mencari dukungan ibunya.
.
"Mami mau ke kamar, kamu temani dokter Kemal ya."
"Dokter, saya permisi ke kamar! Mau istirahat." Ucapnya pada Kemal dengan tersenyum.
Dinda bangkit dari kursi dan mendorong kursi roda, namun dicegahnya, Sisilia sengaja meninggalkan mereka karena ingin mereka berdua bisa saling dekat.
Setelah melihat Sisilia masuk kedalam kamar, Dinda menatap tajam ke arahnya. "Heh kumal, sekarang kau bisa katakan tujuanmu! Karena aku sudah malas berbasa-basi dengan orang! Apalagi pria sepertimu."
Kemal terkekeh, "Kamu terus terang sekali!"
"Cepat katakan! Kau pasti ada maksud, tidak mungkin tidak berniat apa-apa atau bahkan ketulusan hanya ingin membantu Mami." tukasnya kembali dengan kesal.
"Biar aku tebak! Kamu pasti sedang merasa sakit hati dengan seorang pria, sampai kamu bersikap seperti ini pada seorang pria!"
Dinda terkesiap. Dari mana dia tahu!
"Selain so akrab, so baik sekarang so tahu! Kumplit sekali!"
"Benarkan apa yang aku bilang nona Akira?"
Dinda tidak menjawab, dia memilih pergi ke luar balkon yang terbuka, lalu menghirup sebanyak-banyaknya udara, melepaskan rasa sesak pada dadanya.
Kemal menyusulnya dari belakang, dia pasti tahu Dinda tife orang yang tidak pintar menutupi perasaannya, dia begitu meledak-ledak bahkan bersikap terus terang jika dia tidak menyukai sesuatu.
"Kamu bisa cerita padaku! Aku benar-benar ingin berteman dengan mu! Ya kalau ke depannya kita berjodoh, itu juga tidak masalah!" ujarnya terkekeh.
Dinda menoleh kearahnya, "Kenapa kamu ngeyel sekali! Sudah sana pergi, aku tidak butuh teman, apalagi orang yang sok tahu sepertimu!"
"Kamu belum tahu keuntungan berteman dari seorang pria seperti ku!"
Dinda berdecih, "Kau tidak sehebat pacarku! Dia bahkan jago menembak dan mengecoh musuh-musuhnya!"
Glek
Gadis beriris coklat itu tersedak saluvanya sendiri, Lagi-lagi dia harus kelepasan bicara, bagaimana bisa dia menceritakan hal tersebut pada orang lain. "Mati aku!"
"Pacarmu seorang penjahat?" tanya Kemal heran. Kedua alisnya bertaut namun tidaklah lama dia tergelak.
"Paling juga berakhir di penjara! Kalau dia seorang penjahat!"
Deg
Perkataan Kemal membuatnya tidak dapat bicara, dia hanya menatapnya dengan bayang-bayang Alan yang berada di dalam sel penjara.
Jika sesuatu terjadi nanti, apa kau akan selalu percaya padaku?
Kalimat terakhir yang Alan katakan sesaat sebelum Aln akhirnya memutuskan untuk pergi kembali di ingatnya.
"Apa maksudnya ini?"