Assistant Love

Assistant Love
Tak kunjung berubah 2



Tasya tak sadarkan diri, beberapa orang membantunya, seseorang dari mereka mengangkatnya saat mereka berteriak memanggil perawat.


"Tasya...?"


"Dok ... dokter, tolong teman saya dok!"


Tasya akhirnya dibawa ke ruangan dokter, dia kembali diperiksa, karena tengah mengandung, suster pun berinisiatif memanggil Dokter Mariska, dia pun bergegas datang ke sana.


"Apa dia baik-baik saja Dok?"


"Sudah aku bilang, dia itu kekurangan darah, ditambah banyaknya fikiran." gumamnya sambil menempelkan Stetoskop.


"Untung saja masih dikawasan rumah sakit, dan segera mendapatkan pertolongan,"


"Hum ... aku tidak sengaja melihatnya berjalan di selasar gedung."


Mariska mengangguk, "Dia baru saja memeriksakan kandungannya bersama ku, kenapa kau tidak menemaninya? Dasar suami tidak bertanggung jawab, maunya hanya membuatnya saja,"


Leon mengernyit, "Aku?" ucapnya menunjuk wajah nya sendiri.


"Iya kau ... kau suaminya bukan? Aku masih mengingat wajahmu walaupun kita hanya sekali saja bertemu tempo hari!"


"Maaf Dok tap--"


"Apa kau tahu, istrimu itu kelelahan, banyak fikiran dan mengalami darah rendah."


Leon menatap Tasya yang masih belum sadarkan diri itu, Apa Erik sering menyakitimu? Dia juga tidak menemani mu ke sini, dasar brengsekk.


"Aku sudah memberinya resep tadi, sebaiknya kau ambil obatnya sekarang, agar dia bisa meminumnya saat sadar kembali,"


Leon terkesiap, dia lantas mengangguk begitu saja.


"Dan sebaiknya, istrimu dirawat disini saja, satu sampai dua hari, agar aku bisa memantau kesehatannya dengan baik. Dia juga bisa istirahat total."


Bagaimana ini, aku tidak bisa memberikan keputusan, aku bukan suaminya, seharusnya Erik yang berada di sini. Aku harus menghubunginya tapi ...


"Kenapa masih berfikir, cepat urus administrasinya."


Leon keluar dari ruangan dokter Mariska, dengan membawa resep yang dia ambil dari dalam tas milik Tasya.


Dia berjalan menuju apotik untuk menebus obat, sekilas dia melihat Priya yang tengah berjalan bersama sesama mahasiswa yang tengah Koas itu,


Dia ingin menghampirinya, namun saat melangkahkan kakinya, petugas apoteker memanggilnya, dia menyerahkan obat untuk Tasya.


Leon berbalik ke arah sebelumnya dia melihat Priya, namun dia tidak menemukan nya, Leon kembali berjalan ke ruangan dokter, ternyata Tasya sudah dipindahkan ke ruangan lain.


Leon menghela nafas, dia kembali kembali keluar.


"Sus...pasien yang baru saja diperiksa dokter Mariska di bawa kemana ya?"


"Oh Nyonya Tasya, dia dipindahkan di lantai 2 di atas."


Leon mengangguk, "Terima kasih."


Dia berjalan keluar, lalu menyusuri koridor rumah sakit, dan naik lift menuju tempat di mana Tasya di rawat.


Setelah memastikan ruangan Tasya, dia membuka pintu namun langkahnya terhenti, setelah dia mendengar percakapan didalam. Erik sudah berada di dalam, Leon mengurungkan niatnya dan kembali menutup pintu. Dia menitipkan obat itu pada suster yang tengah berjaga.


"Erik sudah datang, lebih baik aku pergi!"


.


.


"Kenapa kamu tidak bilang hari ini ada jadwal kontrol ke dokter kandungan? Kau berniat pergi dengan pacar gelapmu?" sentak Erik.


Leon yang hendak pergi, menghentikan langkahnya, saat mendengar suara Erik yang meninggi.


"Apa maksudmu?" lirih Tasya.


"Pintar berpura-pura." gumam Erik.


Tasya yang terbaring itu menatap Erik yang bahkan tidak bertanya keadaannya sama sekali. Dia langsung mengatakan hal yang tidak Tasya mengerti.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan!" Ucap Tasya.


Leon yang masih berada didepan pintu pun mengepalkan tangannya, "Dia yang bermain api, tapi dia yang menuduh! Dasar breng sekk!" gumamnya.


"Atau jangan - Jangan, anak yang kau kandung itu sebenarnya bukan anakku?"


"Mas!!" Tasya memalingkan muka ke arah lain, hatinya terasa sakit atas tuduhan Erik padanya.


"Aku tidak mengerti, kenapa kau bisa berfikiran seperti itu!" lirihnya


"Sudahlah, lebih baik aku pergi!"


Ada apa dengannya, kenapa Erik bisa berfikir seperti itu. Apa salah ku?


Tasya menangis seorang diri di kamar inap Vip yang diatur oleh Leon sebelumnya.


Ceklek


"Sya ... maafkan aku!"


"Mas, aku tahu kamu pasti kembali!"Ujar Tasya dengan menyeka air bening dari wajahnya.


Dengan cepat dia membalikkan tubuhnya menghadap arah pintu. Namun sesaat kemudian dia melonjak kaget, bukan Erik ternyata yang kembali, melainkan Leon.


"Leon? Sedang apa kamu disini?" ujarnya dengan buru-buru menyusut air mata.


Leon terkesiap dengan pertanyaan Tasya, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku sedang berada di sini saat aku melihatmu, jadi ya sekalian aku menjengukmu saja. Hehe." ujarnya dengan terkekeh.


Tasya mengangguk, "Terima kasih, aku juga baru ingat kenapa aku bisa disini! Seingat ku, aku hendak mengambil obat, sesudah itu aku tidak ingat!"


"Mungkin kau pingsan, kenapa kau hobi sekali pingsan?"


Tasya terkekeh, "Iya juga, tapi entahlah!"


Leon menarik kursi dan duduk dihadapan Tasya, perut buncitnya sejajar dengan Leon yang memandangnya.


"Aku tidak melihat Erik? Apa dia masih sibuk? Dia sudah tahu kamu disini?"


Tasya mengangguk," Sudah kok, mungkin sebentar lagi dia sampai."


"Baiklah, kalau begitu bagaimana jika aku menemanimu sampai Erik datang?"


Tasya tersentak, Dia baru saja pergi, mungkin dia tidak akan kembali kesini lagi.


"Maaf Leon, tapi sebaiknya kamu pergi! Aku tidak ingin Erik salah sangka pada kita!"


Leon mengangguk, "Tidak akan, Erik itu pria baik. Dia tidak akan menuduhmu macam-macam dengan ku kan?"


Aku tahu Tasya, kamu berbohong! Kenapa Erik bisa mengatakan hal sekejam itu padamu.


Tasya menarik tipis bibirnya, lalu mengangguk.


"Oh iya, jika kamu membutuhkan teman untuk sekedar menemanimu, hubungi saja aku ya!"


Tasya mengernyit, "Kamu laki-laki panggilan?"


"Ppfftt...pria panggilan? Boleh juga, hubungi sekarang, karena besok harga naik!" kelakarnya.


Membuat Tasya tergelak, namun sejurus kemudian meringis, pasal nya dia tidak sengaja menarik tangannya yang terpasang jarum infus.


"Astaga, hati-hati dong! infusmu bisa terlepas," Ujar Leon dengan membenarkan posisi selang infus.


Deg


Posisi Leon yang berdiri dengan mencondongkan sedikit tubuhnya itu menghadap Tasya, aroma farpum dari tubuhnya menyeruak masuk kedalam lubang hidung Tasya, menenangkan hingga dia memejamkan matanya.


Perlakuan sederhana yang dilakukan Leon membuat hatiku menghangat, kenapa disaat begini, justru orang lain yang memperlakukanku dengan baik, sementara suami ku sendiri malah menuduhku macam-macam.


"Sudah ..." ujar Leon yang kembali duduk.


"Terima kasih," jawab Tasya dengan tersenyum.


Hingga Tasya terlelap begitu saja, hanya dengan mencium aroma farpum Leon. Sementara Leon terkekeh saat melihat Tasya kembali memejamkan kedua matanya, "Istirahatlah, aku akan menunggu disini." gumamnya.


Tasya tentu saja tidak mendengar gumamannya, sesaat kemudian pintu kembali terbuka.


"Brengsekk!! Apa yang kau lakukan disini?"


Erik merangsek tubuh Leon dan melayangkan pukulan pada wajah nya.


"Kau memang mengincar istriku!"


Leon tak kalah geramnya, "Harusnya kau yang malu sebagai suami! Apa kau lupa apa yang telah kamu lakukan diluar sana!"


Bugh


Erik kembali memukulnya hingga Leon terjengkang dan menubruk meja disamping ranjang


Brakk


Membuat Tasya terbangun saat itu juga.


"Apa yang kalian lakukan?"