Assistant Love

Assistant Love
Payah ( Leon Vs Erik)



"Leon, apa Alan selalu begitu?" tanya Omar saat mereka keluar dari perusahaannya.


"Begitu bagaimana?"


"Bertindak sekehendak nya sendiri?"


"Hm ... kebanyakan iya! Dan kami sangat menghormatinya, walaupun aku pernah mengecewakannya." ujarnya dengan lesu.


Omar mengangguk, dia menghembuskan asap rokok itu kembali.


Asap putih menyelinap keluar dari celah jendela mobil yang membawa mereka ke tempat mereka bersenang-senang. Dunia malam yang tidak aneh bagi mereka, bersenang-senang dengan melipir dari hingar bingar kerasnya hidup.


Leon menghentikan mobilnya, dan Jerry sudah menunggu mereka, dia berdiri di ruas jalan, memperhatikan Leon dan juga Omar berjalan ke arahnya.


Omar yang mempunyai wajah timur tengah itu membuat para lady yang berjajar itu menatapnya dengan sumringah, bak menemukan secangkir es saat teriknya matahari.


Mereka yang biasa menatap Leon dan Jerry dengan penuh damba itu tampak semakin liar saat melihat Omar,


"Pesona mu setara dengan Alan, mereka melihatmu seperti mereka melihat Alan, menyebalkan, aku terlewati begitu saja." kelakar Leon.


"Heh ... bukankah kau sudah menemukan dambaanmu? Gadis yang tengah Koas di rumah sakit itu?" tanya Jerry.


"Ah ... aku hampir melupakannya, dia terlalu sibuk mengurus pasien, sudah dipastikan aku akan kesepian, sama saja seperti sekarang." kilah Leon.


Jerry berdecak, "Kau memang selalu begitu, dasar plin plan." Omar pun tergelak.


"Apa Alan akan datang ke sini juga?"


"Entahlah, kau coba saja hubungi dia, tapi aku tidak yakin, kau tahu Omar, dia lebih suka minum sendirian di apartemennya, dia tidak suka pesta seperti ini, tidak suka berisik musik dan tidak ... ah banyak sekali ternyata tidak sukanya." kelakar Leon.


"Le ... bukankah itu Erik?"


Leon menolehkan kepalanya, mengikuti telunjuk Jerry, benar saja dia melihat Erik yang tengah memangku seorang wanita berpakaian serba mini.


"Iya itu dia?" Leon bangkit dari duduknya namun Jerry menahannya, "Kau mau apa kesana?"


"Jelas aku akan kesana, dia sudah menikah, dan istrinya tengah hamil, dan aku mengenalnya, kau fikir aku akan diam saja?"


"No ... jangan mencari masalah, itu bukan urusanmu. Tutup mata dan telingamu, sudah duduk." ucap Jerry menarik kembali Leon hingga duduk.


"Tapi Jerr...!"


"Kau tidak faham juga? Jika kau ke sana aku pastikan kalian akan ribut, dan Om Arya tengah mengawasi kita. Kau ingat itu Le ... mah akan mengacaukan semuanya."


Leon menghela nafas, dengan mata yang menyalang ke arah Erik yang tengah berciuman dengan wanita yang berada di pangkuannya.


"Brengsekk kau Erik!"


Leon beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Erik.


Bugh


Leon langsung menghantam pukulan pada Erik,


"Brengsekk kau!!"


Bugh


Bugh


Erik tersungkur dengan darah yang mengucur di pelipis serta hidungnya.


"Jangan mencampuri urusanku!" ujar Erik dengan keras.


Dia menghantam kepala Leon dengan botol wine yang dia ambil dari meja bartender.


Prang


Leon menangkis tangan Erik lalu melemparkan botol itu. Sementara Jerry berdecak dan menghampiri mereka.


"Le hentikan, kau akan membuat kacau!"


"Enyah lah Jerry, aku akan menghajar pe cundangg ini terlebih dahulu."


Para tamu mulai kocak kacir melihat perkelahian di antara mereka, begitu juga wanita yang tadi bersama Erik, dia menghilang entah kemana.


"Cih ... menjijikan! Menyebut istrimu dengan mulut yang telah menyentuh wanita lain!"


"Apa pedulimu!"


Bugh


Erik mendaratkan pukulan di rahangnya, dia tak kalah cepat, dia menyusut darah yang terus keluar dari hidungnya, Erik kembali mengambil kursi dan menghantam ke arah Leon.


Brukk


Kursi terlempar setelah Leon berhasil menghindar, lalu dengan cepat dia menendang perut Erik, membuatnya mundur beberapa langkah.


Beberapa penjaga bertubuh tinggi besar masuk dan melerai mereka, salah satu dari mereka memperlihatkan senjata api dari balik pakaiannya.


Membuat Erik menciut, Leon sama sekali tidak kaget, namun dia sedikit khawatir karena dia tidak lagi memegang senjata.


Omar yang sedari duduk pun hanya berseringai, dia enggan ikut campur karena ini masalah yang menurutnya tidak penting.


Hingga Erik digiring keluar dan dilemparkan begitu saja oleh penjaga bertubuh tinggi besar itu.


Membuat Leon dan Jerry bertatapan dengan heran.


"Siapa mereka?"


"Aku tidak tahu!" jawab Jerry.


"Sudahlah ayo duduk, kau ini keras kepala sekali, bagaimana bisa kau ini berfikiran untuk menyerangnya begitu?"


"Aku rasa aku harus melakukannya. Aku mengenal Tasya, dia perempuan baik, apa aku harus diam saja? seperti orang be go?"


Pria bertubuh tinggi besar itu menghampiri mereka.


"Bos ... sudah siap?"


Membuat Leon dan Jerry terperangah, "Bagaimana mungkin dia membuat mesin berjalan ini."


"Heh apa maksudmu dengan mesin berjalan?"


gumam Jerry,


"Kalian tenang saja, mereka anak buah ku. Mereka menjemputku, aku harus segera pulang ke negara asalku."


"Kau seuriiss?"


"Tentu saja aku serius, banyak yang harus aku kerjakan lagi setelah ini!"


"Jerr ... katakan kapan saja kau siap? Orangku akan menjemputmu." ujarnya dengan beranjak dari duduknya.


Jerry mengangguk, "Baik ...aku akan segera menghubungimu!"


"Kenapa kau cepat sekali kembali, kau tidak tertarik tinggal lebih lama lagi disini?"


"Aku pasti akan kembali! Tapi tidak untuk sekarang, aku benar-benar harus kembali! Katakan pada Alan, untuk tidak usah khawatir lagi, semua sudah selesai."


Akhirnya Omar bersama anak buahnya, meninggalkan mereka berdua.


Setelah kepergian Omar, mereka berdua kembali ke apartement milik Leon, Jerry untuk sementara tinggal bersamanya,


"Aku masih belum percaya aku bisa berhenti dari bisnis ini!"


"Kompres lukamu tuan sok jagoan!"


Leon berdecak, "Jika kau mengenalnya kau pasti tidak akan mencemoohku!"


"Benarkah? Secantik siapa dia?"


"Kau ini ... kau harus melihatnya seniri." ujar Leon.


"Aku tidak tahu tentang apa-apa, Jangan libatkan aku."


"Payah ...." ucap Leon