
Hujan mengguyur bumi sore itu, puluhan bahkan ribuan tetes air turun dengan deras, membasahi gersangnya kehidupan. Ketika orang-orang berlomba mencari tempat untuk meneduh, memakai payung untuk melindungi dirinya dari hujaman air dari langit.
Seorang gadis berlari, tidak memperdulikan dirinya yang tengah basah kuyup, dia terus berlari dengan mata yang pedih akibat hujan yang membasahi wajahnya, menerjang derasnya hujan namun tidak tak perduli itu sama sekali.
Sementara sorot lampu dari mobil membantu penglihatan yang mengabur dari kaca mobil yang berembun. Seorang dibalik kemudi yang mencengkram setirnya dengan kuat,
Ckiiiitttt
Kanvas rem kini terdengar ngilu, sorot lampu itu menerangi jalanan basah dengan bayangan sosok yang tengah berjongkok, mobil itu nyaris saja menabrak seseorang.
"Sh itt hampir saja"
Namun tidak serta merta membuat si pengendara turun untuk sekedar melihat bahkan menolong, pria itu hanya mematung, menatap bahu yang tengah berjongjok itu kini menggigil.
Tin
Tin
"Sial... kenapa dia hanya diam saja, merepotkan!" umpatnya.
Tin
Tin
Berapa kali dia membunyikan klaksonnya namun sosok itu tak bergeming, entah apa yang ada difikirannya, dia hanya diam saja. Membuat si pengendara mobil itu keluar dengan amarah yang membuncah, turun dari mobil dan membanting pintu mobilnya.
"Heh, apa kau sudah gila, cari mati!!" ucapnya dengan mencekal keras lengan sosok yang tengah menggigil itu.
Dia terperanjat, rambutnya yang basah kuyup seketika tersibak karena kerasnya tarikan dilengannya yang membuatnya bangkit tiba-tiba.
Sedetik kemudian wajah mereka saling menghadap, Kedua maniknya saling beradu,
1 detik
3 detik
5 detik
Mereka saling menatap, dengan lampu mobil yang menyinari mereka, memperlihatkan setiap inci wajah keduanya.
"Kau...."
Seketika dia melepaskan cekalannya, dan membuat sosok gadis itu menundukkan kepala, namun detik berikutnya dia berlari kembali dengan menabrak bahu pria itu.
"Aaahkk.... Sial!"
Dia gadis itu, gadis itu berlari menjauh. Terus menjauh dengan bulir bening yang keluar dari pelupuk matanya. Terjun bebas bersama hujan.
Pria itu, terlambat menyadari jika gadis itu yang tengah dia cari. "Sial Akira...."
Lalu dia pun menerjang hujan dan menyeberang, terus berlari mengejar Akira.
Setelah aksi kejar-kejaran nya itu Alan berhasil menghentikan pelarian Akira, dia mencekal bahunya dan saat itu juga Akira terhuyung kebelakang, menabrak dirinya yang belum siap hingga mereka jatuh dengan posisi Akira berada di atasnya.
Deg deg
Suara jantung seakan bertabuh bak genderang perang, menyatu dengan dentuman yang seketika meledak.
Dia buru-buru beringsut bangkit dan berdiri, begitupun dengan Alan. Nafas keduanya terengah-engah.
Alan menarik tangannya lalu masuk kedalam sebuah kedai bakmi, tempat sederhana dengan kepulan asap rokok, meja dan kursi kayu yang setengah telah usang dimakan rayap.
"Duduk!"
Bukan sekedar bicara namun itu sebagai titah yang tanpa bantahan.
Akira terduduk, dengan kedua tangan yang bertautan, seolah mencari seutas hangat. Sementara Alan menghampiri seseorang yang mungkin adalah pemilik kedai itu. Membisikkan sesuatu entah apa itu, karena yang terlihat hanya anggukan saat Alan berbicara.
"Semoga kali ini dia tidak memegang senjata," harapnya.
Lalu dia kembali dan mendudukkan dirinya disamping Akira, yang kini hanya bisa menunduk.
Hening
Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka, masih terus hening hingga beberapa orang yang telah selesai makan pun meninggalkan kedai itu, begitu juga hujan deras kini telah berhenti, berganti dengan hawa dingin yang semakin menjadi.
Kepulan asap dari semangkuk bakmi kini ada dihadapan Akira, perutnya yang memang kosong meronta minta diisi, sementara otaknya sudah memerintahkan seluruh sel tubuhnya untuk tidak bereaksi.
"Makan!"
"Kenapa kau lari malam itu?"
Andai bisa memilih mungkin dia akan memilih buta dan tuli sekaligus, tanpa mata hingga dia tidak perlu melihat kejadian malam itu, dan dengan tuli dia tidak akan mendengar suara itu malam ini.
Suara yang setengah mati ingin dia dengar sebelumnya, suara yang terdengar sebagai alunan merdu di telinganya. Namun kali ini tidak.
"Jawab!"
"A-aku aaku ...."
"Kau takut?"
Antara menggeleng atau mengangguk, lagi-lagi respon impulsif yang bekerja, dia mengangguk lalu menggelengkan kepalanya secara bersamaan.
"Bicara!"
"Aa-aku aku tidak takut, bu-bukan takut...."
"Makanlah."
Suaranya kini tidak berubah, tidak seperti kedua kata yang disebutkan tadi, kata yang baru saja diucapkan masih dapat diterima nalar manusia, ya
nalar manusia.
Hingga mangkuk itu telah tandas setengahnya, dan kini perutnya terasa menghangat, meski baju dan seluruh tubuhnya masih bercucuran air.
"Aku antar kau pulang,"
Akira terkesiap, Apa maksudnya!? dia mengajak atau apa?
Alan yang terlebih dahulu bangkit masih menunggu nya di depan kedai, setelah sebelumnya dia memberikan selembar uang pada pemilik kedai itu.
Akira perlahan bangkit, dengan takut-takut dia melangkahkan kakinya.
"Masuk!"
Akira masuk kedalam mobil dan menghempaskan tubuh basahnya di kursi dipinggir kemudi, sementara Alan berjalan memutari mobil dan masuk dibalik kemudi.
Hening
Masih hening
Tetap hening sampai mereka tiba di apartement milik Akira.
Kenapa dia tahu aku tinggal disini?
"Keluar!"
Tak menunggu lama setelah titah itu kembali terucap. Akira telah melangkahkan kakinya masuk, diikuti oleh Alan dibelakangnya.
Hatinya semakin bergemuruh, harusnya ini menjadi kebahagiaan untuknya, dari dia berlari mengejarnya, terjatuh bersama, makan bersama meski dia hanya melihat saja, dan diantar pulang.
Bukankah ini harusnya semacam kencan?
Tapi ternyata bukan, bukan kencan yang selama ini dia khayalkan, menjadi impian terindah dalam hidupnya. Bukan, tidak seperti itu sekarang.
Entah kenapa hati ini seolah tertutup oleh tembusan peluru yang menghujam seorang manusia lainnya, sesama manusia yang seharusnya saling menjaga atau sekedar saling menolong sebagai fitrahnya mahluk sosial.
Hingga mereka berjalan memasuki lift, Alan menekan tombol keatas, meski sempat melirik sekilas wajah tampan dengan rahang tegas dari samping, namun Akira memilih untuk memejamkan matanya.
Ting
Lift terbuka, mereka masuk kedalam lift, sialnya tidak ada orang lain lagi selain mereka. Membuat Akira semakin menggigil didalam lift yang seolah berubah menjadi lemari es dengan suhu dingin 0 celsius. sangat terasa dingin karena ditambah sosok Alan yang sama atau bahkan lebih dari suhu lemari es.
Alan menekan nomor dimana lantai plat milik Akira berada. Kenapa dia tahu aku dilantai 3. batinnya.
Ting
Kotak besi itu terbuka, Alan melangkahkan kakinya terlebih dahulu,
"Lambat!" gumamnya namun masih terdengar jelas oleh telinga Akira.
"Cepatlah!"
Kenapa harus cepat, yang mau pulang siapa? Celaka apa dia sudah tahu aku juga karyawan ditempat yang dia pimpin saat ini.