
Sementara Alan telah tiba di sebuah Kafe, dia berjalan masuk, seseorang waiters mengenalinya dan menghampirinya.
"Pak Alan?" Alan mengangguk.
"Mari ikuti saya pak, tamunya sudah datang dari tadi."
Waiters itu kemudian berbalik dan berjalan ke arah belakang, menuju sebuah meja yang terletak paling pojok, dengan menghadap sebuah taman kecil di area kafe itu.
"Itu tamu nya pak, saya permisi." ujarnya dengan berlalu.
Alan kemudian berjalan mendekat, sesosok pria berdiri menyambutnya.
"Alan Alfiansyah?" ujarnya dengan mengulirkan tangan.
Alan mengangguk, tangannya terulur menyambut tangan pria tersebut. "Betul, saya Alan Alfiansyah, yang tempo hari menghubungi anda. Silahkan duduk pak!"
Pria tersebut mengangguk-anggukan kepalanya kemudian kembali mendudukkan dirinya.
"Maaf sebelumnya, apa kita pernah terlibat satu kerja sama? Sepertinya wajah anda tidak asing."
Alan menarik tipis bibirnya, "Sepertinya belum pak, baru kali ini saya bertemu anda dan tertarik pada perusahaan anda."
Pria tersebut kembali mengunggukkan kepalanya, meskipun belum pernah bertemu sebelumnya, mereka tampak seolah mengenalnya.
"Bisakah kita mulai?"
Pria itu lebih banyak mengangguk, saat Alan menjabarkan kerja sama dengan perusahaan nya, Alan menawarkan tawaran yang mengiurkan, membeli saham terbanyak dan mengucurkan dana untuk investasi pada perusahaan itu.
"Maaf sebelumnya, kenapa anda tertarik pada perusahaan saya."
"Karena saya lebih tertarik pada perusahaan yang hampir gulung tikar dari pada perusahaan yang sudah besar,"
"Bagaimana kalau anda malah rugi telah berinvestasi begitu besar dengan membeli saham perusahan kami yang tidak seberapa ini?"
"Setelah resmi, saham saya di sana enam puluh persen dari keseluruhan, tolong dibaca dan dipahami, sebelum anda menandatanganinya."
"Dan tentu saja, saya tidak akan membiarkan nya rugi, jadi begitu perjanjian ini rilis, saya akan mengirimkan orang-orang terbaik saya untuk membenahi managemen perusahan anda."
Pria itu mengangguk, "Saya rasa itu memang perlu, saya akan siapkan semuanya."
"Terima kasih!"
"Kalau begitu, saya permisi!" ujar Alan dengan bangkit dari duduknya.
Dengan cepat pria itu ikut bangkit dari duduknya, "Tunggu sebentar, ada yang ingin saya tanyakan lagi,"
Alan kembali membalikkan tubuhnya, pria itu maju hingga mereka menjadi sangat dekat.
"Apa kamu tinggal di kota ini?"
Alan mengernyit, "Maaf pak, saya rasa itu tidak ada hubungannya dengan kerja sama kita. Saya permisi." ujar Alan lalu berjalan keluar dari kafe itu.
Siapa dia? rasanya wajahnya tidak asing bagiku. batin pria itu yang kini menghempaskan kembali tubuhnya di kursi.
'Semoga jalan ini adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut itu.'
'Dan sepertinya pria muda itu, berani mengambil resiko besar dengan membeli saham sebanyak itu, siapa dia?
Pria itu terus memandangi Alan yang berjalan keluar dari kafe lalu berjalan ke tempat parkir, hingga mobil Alan menghilang dari pandangan.
Seorang waiters yang menyambutnya tadi melintas di depannya, pria itu lantas memanggilnya.
"Kau mengenal pria yang baru saja mengobrol dengan ku?"
"Tentu saja pak, dia adalah tamu ekslusif kafe ini, dia sering mengadakan meeting penting disini."
"Kau tahu dimana dia tinggal,"
"Maaf pak saya tidak tahu alamatnya, permisi pak!" ujar Waiters itu padanya.
Tentu saja tidak ada yang berani menceritakan segala sesuatu tentang informasi dari Alan, bisa-bisa habis mereka, sekalipun mereka tahu, mereka memilih untuk menutup mulutnya.
Sementara Alan masuk kedalam mobil, dia menghembuskan nafasnya pelan. Lalu melajukan kembali mobilnya dari sana.
Hari ini cukup melelahkan, tidak ada waktu bertemu dengan Dinda lagi di kantor. Dia harus menyusul ke tempat di mana Farrel mengadakan meeting nya.
Dreet
Dreet
"Kau dimana? Aku sudah menunggu!"
"Dijalan." ujarnya singkat.
"Cepatlah."
Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh lima menit untuk sampai ke kafe sesuai alamat yang diberikan oleh Farrel.
Tak lama dia sampai dan langsung masuk kedalam kafe itu.
"Al..." ujar Farrel yang melambaikan tangan padanya.
Alan berjalan mendekatinya, namun dia terkejut karena di meja yang terletak di sudut itu ternyata ada keluarganya semua.
"Ayah, bunda, Metta," Ujar Alan mengabsen satu persatu keluarganya.
"El ... ada apa ini? ini pasti akal-akalanmu saja!" ujarnya dengan menarik kursi dan mendudukkannya disamping Ayu.
"Bunda yang minta El melakukan nya, habisnya kau sudah seperti anak hilang, tidak pernah pulang ke rumah, menelepon bunda pun jarang! Menyebalkan!" ujar Ayu memukul bahu Alan berkali-kali.
"Bunda sakit!" ujarnya.
"Bunda benar Al, sampai kami harus melakukan hal ini untuk bertemu dengan mu!" decak Arya.
Alan merengkuh bahu Ayu, "Maafkan aku Bun...."
Farrel berdecak, "Mulai manja, gak inget umur!"
Ayu menepuk-nepuk lengan Alan, "Kau selalu membuat kami khawatir, jangan begitu lagi. Pulanglah ke rumah!"
"Bunda, to the point saja bun," sela Farrel dengan terkekeh.
Alan menolehkan kepalanya, "To the point apa maksudnya."
"Bunda ayo bilang!"
"Diam saja kau ini, membuat ribut saja." Alan melempar remahan kue pada Farrel.
"Sayang, dia memarahiku!" ujarnya mengadu pada istrinya.
Metta celingukan, keluarga Adhinata yang terpandang dan terkenal angkuh itu terbanding terbalik dengan apa yang dia lihat dan rasakan selama ini.
"Bunda ingin kau segera menyusul adikmu!"
"Menyusul kemana maksud bunda? Memangnya kau mau kemana El?"
"Eh ... bukan itu maksud bunda, kau segera Menyusul nya menikah, begitu!" ujar Ayu dengan terkekeh.
Deg
"Bunda, aku belum kepikiran hal itu, jadi tolong jangan memaksa ku!" ujar Alan yang menyeruput minuman milik Farrel.
"Hei, itu punya ku! kenapa kau tidak pesan sendiri! Menyebalkan."
Mereka kalau sudah berkumpul begini, seperti ton and jerry, selalu saja berdebat dengan hal apapun, sekalipun hal kecil seperti ini. Padahal sikap mereka selalu terlihat cool. Keluarga harmonis, saling menjaga satu sama lain. Terlebih ka Alan, siapapun pasti tidak akan menduga si manekin hidup ini. batin Metta yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi keluarga barunya.
"Kalau kamu belum memikirkannya, biar bunda yang memikirkannya, kau hanya ikuti saja. Oke sayang, Sha, kamu bantu bunda memilih yaa! Atau kamu bisa mengenalkan teman-temanmu pada bunda!" ujar Bunda yang membuat Alan tentu saja gelagapan, begitu pun Metta.
"Aku bun?" ujar Metta lalu melirik Alan.
Alan menatapnya dengan tajam, ih manekin hidup, aku baru saja memujimu.
"Hei, jangan mengintimidasi istriku, kau berurusan dengan ku jika berani!" ujar Farrel menendang kakinya dari bawah meja.
Alan mendecih kasar, "Bunda tidak usah melakukan hal itu, urusan ku masih banyak, ayah, jangan diam saja!" ujarnya meminta bantuan pada Arya.
"Ini semua tergantung padamu Nak, ayah tidak bisa melakukan apa-apa." ujar Arya lalu menatap Farrel yang tersenyum tipis.
Alan meraup wajah, sungguh belum ada niatan untuknya untuk segera menikah, masih banyak urusan yang belum selesai, ditambah ketakutannya jika tiba-tiba terungkapnya keterlibatannya dalam perdagangan senjata ilegal yang selama ini di sembunyikannya.
"Bunda kasih waktu kamu mencari sendiri, jika sampai batas waktunya habis, bunda yang akan mencarikannya untukmu." ujar Ayu kembali.
.
.
Alan kembali ke kantor, namun dia bukan ke kantor Adhinata, melainkan menuju ARR. Corps, dengan wajah yang kusut, dia langsung masuk ke dalam ruangan nya.
"Kenapa wajahmu?" ujar Leon.
Alan melonggarkan dasinya perlahan, lalu dia menghembuskan nafasnya perlahan.
"Le... apa jika bisnis kita berhenti, kita akan selamat?"
Leon mengernyit, "Bisnis yang mana Al,"
"Kau bodoh apa pura-pura bodoh!" sentaknya dengan menyalang padanya.
"Kau ini pemarah sekali,"
Alan mengeluarkan sebatang sesuatu dari sakunya, lalu dibakarnya, menghembuskan asap putih ke udara.
"Apa kita berhenti saja Le,"
"Bisa saja, tapi kita harus menanggung segala resikonya juga, pertama kemungkinan besar kita akan dipenjara, kedua, musuh yang menunggu kita lengah akan memburu kita, kau fikir selama ini mereka tidak menunggu kita lengah Al?" ujar Leon panjang lebar.
"Pikirkan juga orang-orang yang selama ini kita tindas, mereka akan memberikan kita kejutan, kalau tahu kita sudah berhenti." ungkapnya lagi.
"Tidak ada pilihan yang bagus!" gumam Alan.
"Lagi pula kenapa kau ini?"
Alan menghela nafas, "Bunda ingin aku segera menikah Le!"
Leon tergelak, "Ya menikah saja, kau sudah punya pacar, ajak lah menikah! Kenapa malah ingin berhenti dari bisnis yang kita bangun dai nol. Kau aneh Al,"
"Entah lah Le, aku tidak bisa membayangkan jika mereka tahu!" ungkapnya.
Leon ikut menghembuskan nafasnya perlahan, dia juga tidak bisa membantu jika itu terjadi, bagaimana pun juga pekerjaan yang mereka geluti itu salah.
Alan mematikan rokok yang masih menyala itu kedalam asbak, lalu ditekannya hingga api nya padam. "Lebih baik aku pulang saja, siapkan kau siapkan semua yang diperlukan saat meeting dengan davis kembali."
Leon mengangguk, "Oke...!"
.
.
Dinda terus berdecak dengan melirik jam tangan, kemudian memeriksa pesan masuk didalam ponselnya.
Tidak ada kabarnya Alan membuatnya tidak tenang, Selalu saja begini, dia akan pergi suka hati, dan pulang juga sesuka hati! Apa sebegitu tidak ada waktu nya hanya sekedar mengabariku. Dasar manusia kaku.
Dinda menyambar tas selempang nya, lalu dia pergi setelah membereskan meja kerjanya. Jam kerja sudah selesai, waktunya raga beristirahat, sebelum besok memulai kembali hari sibuknya.
Dinda keluar dari gedung, dia kembali melihat Doni dan Tiwi masuk ke dalam mobil yang sma lalu melesat pergi dengan kencang.
Dinda mengerdikkan bahu, "Dahlah, masalahku saja sudah banyak!" ucapnya lalu masuk kedalam mobil dan melaju pulang.
Dinda keluar dari mobil dan masuk ke dalam lobby apartemen, dengan langkah gontai dia masuk ke dalam lift, menekan tombol tiga kemudian menunggu lift tertutup.
"Tunggu...." seseorang masuk dan membuat Dinda membulatkan mata ke arahnya