Assistant Love

Assistant Love
Alan Vs Kemal



Kini mereka berdua duduk di kursi tunggu rumah sakit. Menunggu Sisilia yang tengah membersihkan diri dibantu oleh suster, dan Didalam. Kekesalan Alan tersembunyi, raut wajahnya merah padam namun tetap bersikap datar.


"Sejak kapan kau mengenal dokter sialan itu?" Alan tiba tiba bertanya, tatapannya tajam mengintimidasi.


"Sejak mommy di rawat, dia yang memeriksanya dari awal hingga sekarang!"


Akan berdecih, "Tidak sepantasnya dia bicara seperti itu jika tidak mengenalmu dengan baik."


"Aku__aku!! Aku sudah menolaknya kok!"


Alih alih menjawab pertanyaan suaminya, Dinda yang tidak bisa pintar menjaga rahasia itu justru mengatakan hal yang membuat otak Alan kembali berfikir.


"Jadi dia pria yang kau tolak?" Dinda mengangguk, pegangan tangannya pada lengan Alan mengencang seiring pertanyaan Alan.


"Kenapa kau menolaknya saat itu?"


Kali ini Dinda memukul lengan yang dia pegang, "Tentu saja karenamu ... aku mencintaimu dulu ... sekarang dan juga selamanya."


Alan berdecak, "Jadi dia pria baik hati yang kau maksud?" ujarnya menohok.


"Sayang jangan marah lagi!"


"Aku tidak marah ... aku hanya bertanya padamu." Alan mengulas senyuman, bukan hanya ingin marah, kalau perlu dia ingin sekali mendatanginya, merangsek kerahnya, memukul wajahnya, kalau perlu menembakk tepat di kepalanya.


"Sayang...!"


"Al ... !"


"Ya ...!"


"Kau tidak marah kan? Dia orangnya memang tidak jelas begitu!" terang Dinda dengan senyuman.


Alan mengangguk, dengan menepuk punggung tangan sang istri yang melingkar di pergelangan tangan nya.


Derap langkah kaki terdengar mendekati mereka, sosok Kemal yang saat ini sudah tidak mengenakan jubah putihnya tampak tampan dengan hanya berkemeja biru, kulit putih dengan mata hazzel itu begitu mempesona.


"Akira ... kau masih disini?"


"Hum ... memangnya harus kemana?" Tukas nya dengan tetap melingkarkan tangan pada lengan Alan, sementara Alan masih membisu.


"Kau ini bandel sekali! Aku sudah katakan tidak mau!" sentak Dinda dengan mendengus lalu membuang wajahnya ke arah berlawanan.


"Ayolah ... kita sudah lama tidak berjumpa bukan, semenjak kau memutuskan untuk kembali pulang ke Indonesia." Entah kenapa Kemal terus ingin memancing Alan dengan membuatnya kesal, namun Alan tetap tidak beraksi.


Padahal aku ingin sekali melihatnya marah, aku ingin tahu sejauh mana kekejamannya! Apa yang dikatakan Akira itu benar atau hanya membual. batin Kemal, seraya terus tersenyum saat membujuk Dinda yang sudah jelas akan menolaknya.


Namun Alan justru berdiri, menghadap ke arah kemal dengan wajahnya yang datar.


"Mau minum dimana?"


Ucapan Alam tentu saja membuat Dinda membelalakan kedua matanya dan menatapnya.


"Sayang ... bukankah kita akan pergi kesuatu tempat untuk honey moon?" ucap Dinda dengan bangkit dari duduk lalu bicara dengan nada pelan, tangannya melingkar dengan terus menggerak gerakan lengan Alan bak seorang anak kecil yang sedang merajuk.


Kemal tersenyum, "Oke gitu dong! Let's Go."


Kemal melangkahkan kakinya menuju pintu kemari rumah sakit, di ikuti oleh Alan dan juga Dinda yang terus bicara berbisik bisik.


"Al ... kau lupa, kita ke mari untuk apa?"


"Kita akan mengunjungi tempat lain! Aku ingin berswafoto."


"Al ...!! Sayang..!!"


Berapa kali Dinda bicara dengan nya tak satupun dia menjawabnya, hingga mereka tiba di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah sakit, Kemal membuka pintu, lalu masuk.


Alan pun masuk dan langsung duduk, sementara Kemal yang masih mencari tempat kosong justru berdiri.


"Ah ... kau ingin duduk di situ? Baiklah...!" Ujar Kemal yang mengikuti Alan.


Keduanya tampak tenang, namun tidak dengan Dinda yang tampak resah,


"Kafe ini sangat ramai, lebih baik kita pergi saja!" Ajak Dinda pada pria kaku yang duduk disampingnya.


"Tidak apa apa!"


Kemal terkekeh melihatnya, Sosok Alan yang ternyata sangat dingin, kaku begitu. Jauh berbeda denganku, harusnya Akira lebih memilihku dibandingkan orang macam ini. Dia bahkan sangat dingin padamu.