
Leon pun akhirnya keluar melalui pintu ke arah balkon dan bersembunyi disana.
Setelah memastikan Leon aman, Tasya membuka pintu kamar yang terkunci, pelayan rumah masuk dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan,
"Aku mendengar suara dari kamar Non Tasya, apa Non baik-baik saja?" tanya pelayan itu.
Tasya menyentuh bibirnya, "Ya ... aku baik-baik saja, mana baby Zi, aku ingin melihatnya."
"Tuan besar sedang membawanya ke taman, mungkin sebentar lagi akan pulang." ujarnya meletakkan obat di atas nakas.
Tasya menghela nafas , "Oke ... terima kasih!"
.
Leon berhasil turun, dan keluar dari rumah Tasya, dia tak lupa berterima kasih pada security yang membantunya, kemudian melajukan mobilnya pergi dari sana.
"Aku harus mencari cara, agar ayahnya bisa percaya padaku." gumamnya.
Leon kembali ke rumah keluarga Adhinata, Alan dan Jerry masih menunggunya, mereka berbincang di halaman belakang. Sedangkan Frans dan Farrel sudah tidak ada disana.
Mobil Rubicon hijau itu berhenti melaju, Leon turun dengan wajah yang berseri-seri.
Masalahnya dengan Tasya cukup berat, yaitu masalah ayahnya yang tidak ingin putrinya di nikahi Leon yang notabene seorang penjahat.
Mimah membukakan pintu untuknya, dan memberitahunya bahwa Alan menunggunya di halaman belakang, Leon pun mengangguk lalu ke belakang.
"Dia sudah disini Al!" ucap Jerry saat melihat Leon yang bersiul.
"Al ... Jerr," sapanya.
Alan mengangguk, "Bagaimana masalahmu?"
"Aku hanya memastikan Tasya memaafkan ku dan mau menerimaku dengan masa lalu ku."
"Dia pasti marah? Apalagi ayahnya...."
Leon mendengus, "Ayahnya yang tidak menerima aku! Tapi aku akan berusaha agar Ayahnya mau menerimaku."
"Nasib ... nasib, begini lah nasib mantan penjahat!" tukas Jerry.
Ketiga nya terdiam, menjadi manusia yang penuh kesalahan di masa lalu itu memang berat, dan saat menjadi baik, semua itu tidaklah mudah.
"Kau sendiri bagaimana Jerr? Apa rencana mu selanjutnya!" Tanya Leon.
"Entahlah, lagi pula kita masih dalam pengawasan, dan sudah pasti kita tidak bisa kemana-mana! Mungkin nanti Omar yang akan datang menjemputku."
"Kau masih belum berubah fikiran Jerr?"
Jerry menghela, "Mungkin nanti aku fikirkan!"
Sementara Jerry dan Leon mengobrol, Alan hanya diam. Seperti biasa, dia hanya mendengar dan mengamati saja.
Leon meliriknya, "Bagaimana denganmu Al?"
"Aku akan mengejarnya lagi saat dia pulang kemari, Mac menyusulnya untuk membawa nya pulang, tapi ibunya akan menjalani operasi, kemungkinan dia akan menunggu sampai ibunya selesai operasi."
Leon dan juga Jerry terbelalak, "Mengejarnya?"
"Kau yakin Al ... selama ini aku lihat hanya dia yang mengejarmu! Ya kau hanya terlihat pencemburu tapi tidak pernah mengejarnya."
Alan terdiam dengan penuturan Jerry, begitupun Leon. Tiba-tiba mereka bertiga dikejutkan oleh kedatangan Ayu.
"Ya ampun ini lagi pada bahas cinta?" celetuknya.
"Bunda?" Alan menghampiri sang bunda.
"Kau harus bersabar, Ayah bilang kalian masih dalam pengawasan, jadi masih tidak boleh keluar negeri."
Ketiga pria tegap itu tampak mengangguk. Lalu Ayu kembali masuk, namun Alan mengikutinya.
"Apa ayah sudah selesai?"
Ayu mengangguk, "Ayahmu ada di ruangan kerja."
.
Tok
Tok
"Masuklah!"
Alan masuk kedalam ruangan kerja, terlihat Arya tengah duduk di kursi kerja dengan beberapa berkas dan juga benda-benda milik ketiga pria yang baru saja dibebaskan bersyarat.
"Ini semua barang kalian yang disita pihak kepolisian!" ucap Arya menyodorkan boks diatas meja.
"Terima kasih yah!" jawabnya.
Namun Alan tidak berminat membuka boks dan mengambil ponsel dan dompet serta barang pribadi miliknya, dia masih penasaran dengan apa yang ayah dan Farrel jaminkan pada kepolisian.
"Ayah ... jawab saja! Lebih baik aku tahu bukan?"
Arya menatapnya lekat, "Tentu saja uang!"
Alan menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin hanya itu Yah, pasti ada yang lain? Apa ayah menjaminkan perusahaan?"
"Tidak...."
"Lantas apa? Apa perlu aku mencari tahunya sendiri?"
"Ayah dan Farrel menjadi penjamin! Itu sudah cukup!" ujar Arya.
"Maksud Ayah?"
"Ya gitu, kami yang menjadi jaminan dan memastikan kalau kalian tidak akan mengulanginya lagi!"
Namun Alan tidak percaya begitu saja, karena hal itu memang sudah biasa, membayar sejumlah uang yang tentu saja tidak sedikit dan jaminan orang terdekat.
Lebih baik aku mencari tahu sendiri.
"Lebih baik kau istirahat Al, Ayah juga akan beristirahat." ucap Arya membereskan berkas-berkas dan juga memasukannya ke dalam laci.
Mereka berdua pun akhirnya keluar, Arya menuju ke kamarnya sedangkan Alan sendiri kembali ke halaman belakang.
Setelah memastikan ayahnya berada dikamar dan beristirahat, Alan kembali masuk ke dalam ruangan kerja, dan mengunci pintunya.
Pria kaku itu mencari sesuatu, yang berhubungan dengan kebebasannya, apa saja yang bisa dia temukan.
Beberapa laci sudah dia buka, map dan berkas tak luput dari penglihatannya, pria perfeksionis itu sangat teliti dan juga rapih. Hingga dia menemukan satu buah berkas yang mencurigakan.
Alan membawa berkas itu dan duduk di kursi kerja yang biasa Ayahnya duduk, dan mulai membukanya.
Kedua mata sipitnya membulat, dengan tajam, tatkala membaca yang tertulis di surat pengajuan penangguhan penahanan hingga surat kebebasan bersyarat Alan dan kedua sahabat baiknya.
Ayah dan Farrel menjaminkan seluruh kekayaan yang mereka punya, bahkan perusahan besar yang tengah tumbuh pesat milik Farrel, F&M Empire, PT Adhinata corps dan juga ARR. Corps. Tidak hanya itu saja, bahkan sejumlah uang yang nilainya sangat besar, dan jika diantara ketiga sahabat itu kembali melalukan hal itu, maka sudah dipastikan keluarga Adhinata akan bangkrut seketika.
Alan meraup wajahnya dengan kasar, begitu besar pengorbanan yang dilakukan Ayah dan adik angkat untuknya, setelah apa yang Alan perbuat yang hanya bisa mencemarkan nama baik keluarga Adhinata, padahal mereka sama sekali tidak punya hubungan darah.
Alan terenyuh, sekaligus merasa bersalah, mungkin semua yang dia miliki tidak akan cukup untuk mengganti pengorbanan mereka, bahkan nyawa sekalipun.
"Ayah, El ... aku akan berusaha lebih keras lagi untuk kalian, dan aku tidak akan pernah mengecewakan kalian lagi." gumamnya pelan.
Setelah beberapa lama dia berdiam diri, akhirnya dia mengembalikan berkas itu ketempat semula, dan segera keluar dari ruangan tersebut.
Jerry dan juga Leon baru saja masuk, dan melihat Alan yang datang menghampiri mereka, dengan boks di tangannya.
"Jerr, batalkan rencanamu untuk kembali ke dunia itu, dan berikan semua aset pada omar!"
Jerry terperangah, "Ada apa Al?"
"Tidak usah banyak tanya, jalankan perintahku!" serunya berjalan masuk ke kamarnya.
Leon dan juga Jerry saling menatap, "Apa masalahnya sekarang?"
"Sepertinya masalah ini sangat serius!!"
Leon mengangguk, lalu menyusulnya pergi ke atas, Alan kembali keluar kamar, dan memberikan boks itu pada Leon.
"Barang kalian! Istirahatlah!" ucapnya dengan kembali menutup pintu.
Leon mengeluarkan ponsel, dompet, bahkan jam tangan miliknya, begitu juga dengan Jerry yang mengeluarkan barang miliknya juga.
"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kebebasan kita Le?"