
Hari yang ditunggu pun tiba, dimana sepasang manusia dipersatukan oleh ikatan suci, cinta yang terpatri dalam sanubari terjaga oleh janji antara mereka dengan Tuhan, saling menjaga, saling menyayangi dan saling memberi bahagia atas nama pernikahan.
Dinda menatap pantulan dirinya yang terbalut dress akad, raut penuh kebahagian tercipta jelas di wajahnya, tatanan rambut nya menambah aksen kecantikan paripurna di awal permulaan babak baru dalam kehidupan nya.
Sementara Alan yang di dampingi Arya dan juga Ayu sudah duduk didepan penghulu, dihadapannya duduk Pramudya yang tidak hentinya menyusut air mata kebahagiaan juga kesedihan sekaligus, pasalnya sang istri tidak bisa ikut hadir dalam acara sakral sekali seumur hidup putrinya.
Alan mengenakan suit yang sangat cocok, lelaki terhebat versi Dinda yang sebentar lagi akan menjadi seorang suami, berbeda dengan Dinda yang wajahnya penuh riak kebahagian, Alan merasa tegang, wajah tanpa ekspresi itu tidak bisa menyembunyikan ketegangan yang baru dia rasakan saat ini, melebihi tegangnya saat dia masih menjadi seorang mafia yang tidak segan membunuh jika di usik.
Berkali-kali Arya menepuk punggung tangannya, mencoba membuat Alan tenang.
"Tidak usah tegang, rileks kan dirimu Al ..."
"Iya Yah..."
Perkataan yang dia ucapkan tidak serta merta membuatnya tenang, malah sebaliknya, ketika sang penghulu mulai bergerak, tubuh Alan pun ikut bereaksi.
"Kau hanya menikah, bukan dicabut nyawa Al ... jadi tenanglah, jangan membuat imagemu semakin turun. Apalagi sampai kau mengompol." bisik Farrel dari arah belakang, yang ikut geram melihat Alan.
"Diam kau brengsekk!!"
Farrel terkekeh, memainkan kedua tangan Baby Shena dalam gendongannya, yang bergerak-gerak menggapai di udara. "Jangan sampai uncle Al mu membuat kita malu ya sayang!"
Penghulu didepannya mulai membacakan taklik pernikahan, dilanjutkan dengan ijab kabul, dimana Pramudya menggenggam tangan Alan dan penghulu membimbingnya.
Keringat dingin semakin bermunculan saat menjabat tangan calon ayah mertuanya, hingga berkali-kali Alan harus mengelap dahinya.
"Sayang ... tenangkan dirimu!" ucap Ayu mengusap bahunya lembut.
Alan mengangguk ke arah ibunya, lalu kembali menatap Pramudya. Alan menarik nafas panjang, dan dengan satu tarikan napas, dia mulai mengatakan ijab Kabul,
"Saya terima nikah dan kawinnya Din__Din....!"
Ulangi ...ulangi
"Saya terima nikah dan kawinnya Dinda ...!"
"Ulangi sekali lagi namanya Akira Dinda Pramudya." ujar penghulu, berkali-kali Alan menyeka keringat, 2 kali gagal mengucapkan nama calon mempelai.
Semua orang menahan tawa tidak terkecuali Leon dan juga Jerry mereka mengulum senyum dan Farrel berdecak, "Ayolah Al kau pasti bisa! Ayo baby Shen kasih semangat untuk uncle mu."
"Ayo uncle Al ... kamu bisa!!" seru Leon, yang duduk di samping Farrel.
Metta yang mengintip dikamar rias terkikik melihat ke arah bawah, dimana Alan terlihat sangat tegang sampai salah mengucapkan nama.
"Din ... dia benar-benar akan menjadi suami hebat dan calon ayah yang luar biasa!" ujarnya dengan menghampiri Dinda yang duduk resah, karena menurutnya itu sangat lama.
"Memangnya kenapa Sha? Kenapa ... apa yang terjadi dibawah, perasaan terlalu lama, kenapa aku tidak dipanggil-panggil." Dinda meremasss kedua tangannya,
"Alan tidak bisa mengucapkannya, gagal 2 kali menyebut namamu, habisnya namamu sih!! Yang bener namamu Akira Dinda Pramudya, tapi orang-orang memanggilmu Dinda."
"Sangat membingungkan apalagi Alan terlihat sangat tegang!"
Dinda mengernyit, "Kenapa dia bisa tegang begitu? Bukankah dia juga tahu namaku!"
"Itu karena dia tegang, peak...."
.
.
Akhirnya kata yang ditunggu pun bergema diseluruh ruangan di rumah utama keluarga Adhinata, 3 huruf yang membuat hati Alan melengos lega, seluruh tubuh pun seakan lemas seketika ketika dia berhasil mengucapkan ijab tanpa kesalahan lagi.
Seorang kerabat mengetuk pintu dimana Dinda resah menunggu, Metta membukanya dan dia menyuruh mereka turun.
Gadis yang tiba-tiba terlihat anggun itu keluar dari kamar, menuruni tangga dan diapit oleh Metta, Pramudya menyambutnya di bawah, dan menggenggam tangan putrinya, "Ayah ...?"
Pramudya mengangguk, lalu memeluk putrinya yang kini menangis sesenggukan, "Aku rindu Mami Yah ..."
"Ayah tahu, dia menyaksikan kamu juga kok," ujarnya menunjuk ponsel yang tengah terpasang, dan Sisilia melambaikan tangan dengan derai air mata, sejak tadi Pramudya sengaja melakukan video call agar Sisilia juga dapat melihatnya walau dari jauh.
"Sudah jangan menangis, kasian suami mu menunggu disana."
Suami? Jadi aku sudah benar-benar menjadi istrinya dan akhirnya kami benar-benar menikah. Ini seperti mimpi.
Metta memberikan tissu padanya, dan merapikan riasannya, "Jangan sedih, Mami mu pasti ikut sedih, kamu harus kuat Din, ini hari pernikahan mu!"
"Ayo kita temui suamimu!"
Akhirnya Pramudia menggandeng putrinya dan menjalan mendekati Alan, pria itu tertunduk, dengan wajah yang merah merona, lalu mendongkak pada saat gadis bodoh yang hari ini resmi menjadi istrinya itu.
"Al ...! Maksudku Mas ....!" panggilnya.
Alan tersenyum ke arahnya, dia tidak tahu harus memanggil apa pada istrinya itu. Dia hanya memberikan anggukan kecil lalu menyambut tangan Dinda yang disodorkan Pramudya, "Titip anak Ayah, jaga dia seperti kamu menjaga seluruh keluargamu Al ... Ayah percaya kamu memang terbaik untuk putri ayah ini, dan jangan pernah menyakitinya, mengecewakannya dan juga satu hal yang paling penting, kamu harus sabar menghadapinya."
"Iya Ayah ... tidak perlu khawatir, seluruh hidupnya akan menjadi tanggung jawabku! Begitupun dengan baik buruknya. Terima kasih karena sudah memberikan aku kesempatan."
Pramudya menepuk bahu Alan beberapa kali, dengan kedua mata yang berkabut.
"Nak ... cintai dan sayangi suamimu melebihi cintamu pada kami, patuh pada suamiku dan belajarlah menjadi istri dan menantu yang baik."
"Ayaah...!" ujarnya seraya berhambur memeluknya.
Ayu dan Arya pun bergantian memeluk putra mereka, walau Alan tidak bisa sedikitpun menitikkan air mata, dia menenggelamkan kepalanya di ceruk sang bunda yang sesegukan.
"Tuh kan bunda kebiasaan deh!! Selalu saja penuh dengan air mata, tidak hari sedih saja, hari bahagiapun selalu begitu." gumam Arya yang mengelus punggung sang istri yang selalu sentimental itu.
Metta mengambil alih baby Shena dari tangan suaminya, memberi waktu Farrel untuk ikut acara peluk-pelukan.
"Menyebalkan ... moment paling menyedihkan dalam pernikahan sayang!"
"Hussstt ... sudah sana, temani bunda!"
Farrel pun memeluk Alan dan menepuk punggungnya berkali-kali. "Aku harap kau selalu bahagia Al ...!"
"Thanks El ...!"
"Kalau kau tidak tahu cara memulainya, jangan sungkan bertanya padaku!" bisiknya lagi.
"Alan menepuk punggung Farrel yang terkekeh dengan keras, "Sialan ... jangan bicara aneh-aneh!!"
Alan mengurai pelukan, namun Farrel masih terkekeh, "Akan aku kirim link nya nanti, dijamin ini rekomended,"
"Farrel ...!!" gumam Alan dengan kedua mata sipit yang melebar.
"Apa yang kalian ributkan?"
Tiba-tiba Leon dan Jerry menghampiri mereka, dan bergantian memeluk Alan, mengucapkan selamat.
"Apa setelah menikah kita masih bisa berkumpul?" tanya Jerry, hanya dia yang belum punya kekasih diantara mereka.
"Tentu saja!!" jawab Leon dan juga Alan bersamaan.
"Kalau perlu kita kumpul membawa anak-anak kita kelak, kau ... cepat-cepat membuatnya!" timpal Leon yang membuat semu orang tergelak, begitu pula Dinda yang wajahnya merah seketika. Entah apa yang ada di fikirannya sekarang. Metta menyenggol lengan nya dengan bibir yang dikulumm.
Setelah acara ijab kabul yang hanya di hadiri oleh saudara dan keluarga itu, mereka bersiap- siap untuk pergi ke hotel dimana diadakannya pesta pernikahan.
.
.
Dinda melirik berkali-kali ke arah suaminya yang kini terus menggenggam tangannya erat, mereka masuk ke dalam mobil pengantin yang akan mengantarkan mereka ke hotel, begitupun seluruh keluarga dari kedua belah pihak.
"Kenapa terus melihatku? Apa ada yang salah dengan wajahku?"
Dinda terkekeh, "Iya ...wajahmu terlalu tanpam, membuat aku ingin terus menatapnya."
Alan mendengus, "kau ini bisa saja! Tapi maaf aku tidak bisa membalas kata-kata gombal seperti itu, kau tidak masalah kan?" Meremass kuat tangan istrinya.
Dinda menggelengkan kepalanya, "Dari dulu aku selalu berfikir kau ini sulit digapai, terlalu tinggi dan pasti aku tidak akan mampu, tapi hari ini semua terwujud, kita sudah menikah, jadi aku tidak akan meminta lebih darimu dalam bersikap manis atau sebagainya layaknya pria lain. Aku sudah bisa memilikimu seutuhnya itu sudah lebih dari cukup." ujarnya panjang lebar.
"Kau ini ... paling bisa!!" ujarnya dengan menjumput hidung mancungnya.
"Aku mencintaimu, dan seluruh hidupku ada di kamu." ujarnya lagi.
Membuat Dinda berkaca-kaca lalu melingkarkan tangan di pinggangnya, "Terima kasih sayang. Aku lebih lebih lebih mencintaimu."
Jerry yang berada di balik kemudi berdehem, "Apa kalian akan terus membuat hati ku yang sepi ini terus meronta-ronta?"