
Tatapan sengit ditujukan pada pada Kemal, karena dia terus berusaha untuk mengambil perhatian Dinda, terus mengajaknya bicara dan mengacuhkan dirinya.
Dinda yang kehabisan kata kata karena melihat tingkah Kemal yang seperti sengaja memancing Alan mulai menghela nafas. Dia mulai tidak tertarik pada percakapan Kemal dan bualan bualannya.
"Kenapa dia terus bertanya dengan pertanyaan yang tidak penting!" gumam Dinda dengan kesal.
Tanpa dia sadari Alan mendengar gumamannya. "Biarkan dia terus mengoceh! Dia sengaja memancingku!"
Dinda menoleh ke arah Alan, tentu saja dia kaget karena Alan ternyata mendengar perkataannya padahal sangat pelan.
"Memancing? Untuk apa dia memancingmu?"
"Mungkin dia ingin tahu bagaimana aku!" ujarnya dengan kembali bergumam.
"Ah ...iya Alan apa pekerjaanmu di indonesia? Kudengar kau memiliki perusahaan jasa pengamanan."
"Hem ...!"
"Apa termasuk perdagangan ilegal?" tanya nya lagi lebih menohok.
Brakk
"Maksudmu apa Kemal? Kau sengaja ingin memancing kemarahan suamiku?"
Dinda menggebrak meja, kebodohan Alan karena mengatakan hal yang dia rasa pada Dinda, karena wanita itu tidak akan bisa menahan dirinya sendiri.
"Wooh ... kenapa kau marah Akira? Aku hanya bertanya, lagipula ... yang seharusnya marah itu adalah suami mu bukan dirimu!" ucap Kemal dengan sedikit mencibir. "Bukankah itu benar Alan?" tanya nya lagi dengan mengubah eait wajahnya dengan serius.
"Dengar ya Kemal alias si Kumal, kau tidak perlu membuat suamiku marah atau apalah! Kau kekanak kanakan sekali." timpal Dinda dengan menyorotinya tajam.
Sementara Alan masih terus diam, namun sorot matanya terus memperhatikan pergerakan Kemal. Dia tidak ingin mencari masalah di negeri orang. Lagi pula, Kemal bukan saingannya dalam segi apapun.
Melihat Alan yang hanya diam tidak bereaksi bahkan terdiam saja disaat istrinya yang justru berbalik marah padanya, Kemal nyaris berdecih.
"Ku kira kau seseram apa yang istrimu ceritakan! Nyatanya, sama sekali tidak! Kenapa Akira justru memilihmu dibandingkan dengan ku."
Alan kali ini tertawa kecil, sudut bibirnya dia angkat satu, "Kau tahu Kemal? Apa yang membuatnya memilihku?"
"Karena kau banyak bicara! Berhentilah membual dan jadilah seorang pria sejati!" kata Alan begitu menohok.
"Ayo sayang, kita pergi!" Alan menarik tangan Dinda dan membawanya keluar dari kafe itu.
Kemal berlari mengejarnya, dia menahan lengan Alan.
"Tunggu!! Kau tidak perlu mengajari ku dengan berkata seperti itu!"
Alan berbalik dengan langkah cepat lalu mendorong tubuh Kemal hingga menabrak dinding, dengan lengan yang menahan lehernya hingga membuat nafas Kemal terengah engah.
"Lalu kau mau apa? Hah...?"
Kemal membulatkan kedua matanya, dan tentu saja gerakan tubuh Alan jauh lebih sigap dibandingkannya, hingga dia merasa pernapasannya mulai tercekat.
"Al ... sudah hentikan!" Teriak Dinda, "Sayang sudah, jangan hiraukan dia!" teriaknya lagi.
Alan melepaskan tangannya dari leher Kemal, dengan sedikit dorongan ke belakang.
"Katakan apa yang kau inginkan? Apa kau sebegitu penasarannya padaku?"
Seorang pria berjas hitam bergegas mendekati Alan, dia berbisik dengan wajah serius. Dan Alan mengulas senyuman.
"Thanks Lexy ... tapi aku bisa mengatasinya!" ujarnya dengan menepuk bahu anak buah Omar yang sengaja di perintahkan untuk menjaga Alan dan istrinya karena baru kali ini Alan keluar dari indonesia. Dan berjaga jika maaih ada antek antek musuh yang menunggunya lengah.
Walaupun Alan nyatanya sudah tidak terlibat apapun lagi dengan bisnis yang dia rintis dari muda.
Kemal terbelalak, saat melihat sosok pria yang tengah berada di sampingnya, wajahnya amat tidak asing, namun dia lupa dimana dia pernah melihatnya.
Lexy berjalan mendekati Kemal, dengan sorot mata tajam. Tiba tiba saja dia merangsek kerah kemeja yang dikenakan oleh Kemal.
"Jangan mencari masalah! Atau aku patahkan tanganmu!" desis Lexy dengan suara tegas. Kemal yang bisa terpaku ditempatnya, wajahnya sangat pucat dengan mata mengerjap. Dinda sampai menutup mulutnya sendiri.
"Lexy ... kau membuatnya takut!"