Assistant Love

Assistant Love
Pernikahan Tasya & Erik



Alan harus menghela nafas berkali-kali, menahan sesuatu yang lagi- lagi menyeruak hebat akibat sentuhan-sentuhan tidak sengaja, dan itu sangat berat. Berkali-kali Alan harus menetralkan fikirannya.


Srdangkan Dinda yang tengah membersihkan wajahnya, tiba-tiba terdiam, jika ditanya hari terbaik sepanjang hidupnya, maka hari ini lah jawabannya, hari ini adalah hari libur terbaik yang pernah dia lewatkan, bersama pria yang kini menjadi kekasihnya.


Rasa kantuk akibat kekurangan tidur pun tidak berasa apa-apa dibandingkan kebahagiaan yang tengah dia rasakan.


Bahkan jika ditanya, dia ingin waktu berhenti saja saat ini.


"kau memikirkan apa?" Ujar Alan dari belakang.


Dinda yang tengah melamun itu, tersentak ketika lagi-lagi pria itu mendekat namun tidak juga melakukan apa-apa, dia mematikan air yang mengalir dari wastafel, lalu berbalik.


"Aku tidak memikirkan apa-apa!"


"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu," Alan berbalik arah, namun Dinda mencekal pergelangan tangannya.


"Tunggu, aku ...aku... Aku akan mengantarmu." Ujar Dinda dengan cepat.


"Nanti sore aku jemput, bersiap siap lah, kita akan menghadiri pesta pernikahan Tasya." Ujar Alan.


Dinda pun mengangguk, "Oke...."


Alan mengacak pucuk rambutnya, "Kalau begitu aku pergi."


"Kau tidak ingin menciumku apa?"gumam Dinda dari ambang pintu.


"Dinda! Enyahkan otak kotor mu itu."


Dunda menggaruk belakang kepalanya, "Hehehe iya, eh enggak aku bercanda."


.


.


Dinda berdandan sangat cantik, dengan memakai mini drees dan hiasan rambut yang sangat cantik. Sementara Alan memaki jas senada, dia berjalan ke arah apartemen milik Dinda, tak ada yang berbeda, raut wajahnya tetsp tanpa ekspresi.


Dia menekan bel pintu, tak lama kemudian pintu terbuka, Dinda tersenyum ke arahnya, membuat Alan ikut tersenyum wakau tipis,


"Kau siap?"


Dinda mengangguk, "Iya aku siap."


Setelah menutup pintu mereka berjalan beriringan, Dinda beberapa kali melingkarkan tangannya pada lengan Alan, namun sepertinya Alan tidak nyaman, hingga akhirnya Alan melepas kan tangan Dinda, dan menggenggamnya.


Mereka sangat serasi, Alan membuka pintu mobil dan Dinda masuk kedalamnya, setelah itu Alan berjalan memutar untuk masuk ke pintu kemudi.


"Apa aku cantik?"Tanya Dinda saat Alan duduk dan memasang seat belt.


Alan mengangguk, "Ayo pergi!"


Ih dia bahkan tidak memuji ku, dasar... kenapa juga aku bertanya padanya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, mengarah pada gedung hotel bintang lima, tak lama kemudian mereka tiba di gedung dimana Tasya dan Erik menikah, dengan pengamanan dan tentu saja dengan penjagaan ketat dari pihak keluarga.


Mereka yang masuk harus melewati beberapa pemeriksaan terlebih dahulu.


Dia tidak membawa senjata kan? Bagaimana kalau dia membawa senjata? Batin Dinda.


Namun saat mereka melewati pintu masuk, beberapa penjaga membungkukkan tubuhnya pada Alan, seraya mempersilahkan mereka berdua masuk begitu saja tanpa melakukan pemeriksaan seperti tamu yang lainnya


"Kenapa kita bisa masuk begitu saja?"


"Bisa saja, mungkin Tasya melakukan pengecualian pada kita,"


Dinda mendelik, "Begitu ya, tapi rasanya itu tidak mungkin, memangnya kau siapanya ?"


"Aku temannya." Ujarnya terkekeh.


Mereka masuk dalam acara pernikahan yang mewah, membuat Dinda terperangah, aku ingin menikah juga.


"Kondisikan mulutmu, bagaimana kalau ada lalat yang masuk,"


"Ih, kau ini, tidak bisa apa bicara sedikit yang menyenangkan hatiku," sungut Dinda dengan mencubit pinggang Alan.


"Tidak bisa, dan kau tahu itu," Alan mengulum senyum.


Dinda mencubit lagi, kali ini mencubit pelan lengannya, "Untung aku mencintaimu." ujarnya kemudian.


"Kalau tidak memangnya kenapa?" Ucap Alan dengan mata membulat, saat mereka berjalan mendekati sepasang pengantin.


"Kalau tidak mungkin aku sudah menikah dengan Le...."


Alan merengkuh pinggang, "Masih berani menyebutkan namanya, aku akan menghukummu."


"Kalau begitu hukum saja aku!" ucapnya melepaskan diri dengan terkekeh.


Dinda berjalan ke arah meja Leon, dan dengan sengaja ingin memancing Alan si manusia kaku.


"Leon...." Sapa Dinda saat melihat Leon yang tengah duduk bersama seorang wanita.


Alan mengikutinya dari belakang, lalu bergeleng kepala melihat kearah Leon,


"Leonmu sudah move on dengan cepat. Dia tidak mungkin menikahimu." Alan kembali merengkuh pinggang nya.


Dinda tersentak dan menoleh kearah Alan, "Iya aku tahu itu. Kau cemburu kan?"


Dinda mencebikkan bibir, "Ish, kau ini!"


"Hai Dinda, Halo Al... apakabar? makin lengket saja sih Membuat ku iri." Leon terkekeh.


"Kau juga Le, membuat seseorang menyesali perkataanya." cibir Alan.


Dinda memukul bahu Alan, "Iihh kau ini ...."


Namun malah tangannya yang terasa sakit.


"Kita temui dulu Tasya dan Erik dulu." Alan menarik pergelangan tangannya, berada dekat dengan Leon akan membuat diri nya tidak bisa di kontrol.


"Dasar pria aneh, aku tidak berniat merebutnya dari mu, khawatir sekali." gumam Leon yang melihat mereka menjauh.


"Oh iya sampai dimana kita tadi?" tanya Leon pada wanita disampingnya.


Sementara Alan dan Dinda berjalan ke arah pengantin,


"Hai Sya, selamat yaa atas pernikahanmu." Ujar Alan.


"Kakak, akhirnya kau datang juga, ku pikir kau lupa hari ini!" ucap Tasya


"Mana mungkin aku lupa,"


Tuhkan, giliran sama Tasya, cara bicaranya sudah berubah. Dasar!


Senyum Tasya merekah, " Terima kasih kak."


Alan mengangguk, lalu dia menyalami Erik,


"Selamat Erik,"


" Pak alan, terima kasih sudah datang." ucap Erik.


Sementara Tasya dan Dinda saling berpelukan,


"Dinda akhirnya aku tahu namamu,"


Dinda terkekeg, "Iya, hehe...."


Tasya membisiki telinga Dinda, "Kau memang hebat, bisa menaklukan manusia yang kaku ini, selamat ya, jangan menyerah. Dan cepet menyusul ku." ujarnya dengan tersenyum.


Dinda terkekek kembali. " Terima kasih Tasya,"


Lalu setelah itu mereka turun dan berbaur dengan tamu yang lain. Ekor mata Alan menangkap sosok yang tempo hari membuatnya kesal,


"Fernand? benarkah itu dia?"


Fernand terlihat sedang mengobrol dengan tamu lainnya, disana juga ada Dewi, dan Fierro Feremundo, orang tua dari Tasya.


"Erik adalah anak laki- laki dari Fernand, memutuskan keluar dari rumah karena dikekang dan terlalu diatur oleh Fernand sang otoriter." celetuk Farrel yang tiba-tiba berada di belakang Alan.


"Wow, kau semakin hebat El menganalisa."


"Kau ini, itu kan harusnya tugasmu!Apa kau sudah mulai bodoh sekarang?" ujar Farrel yang melihat kearah Dinda yang tengah cekikikan bersama istrinya.


Alan pun beralih menatap mereka, " Entahlah, ini konyol, kau bayangkan saja! Dia sekretarisku sendiri, tapi aku yang membuat jadwal untuknya."


"Kau lebih bodoh ternyata!"


"Ayahmu yang melakukannya!"ujar Alan kesal.


"Dia Ayahmu juga Al!" seronok Farrel.


Sementara Dinda dan Metta yang masih terkikik- kikuk,


"Kok, aku baru tahu kamu sama si manekin!Jahat banget gak cerita-cerita,"


"Masa aku ganggu kamu yang lagi honeymoon? Enggak kan....!"


Metta mendelik, "Alesan saja sih...."


"Beneran deh, lagian juga belum lama kok!"rungut Dinda.


"Iya deh, iya percaya kok!" ujar Metta akhirnya.


"Tapi selamat yaa, akhirnya perjuanganmu tidak sia-sia,"


Seseorang dari kejauhan tengah memicingkan matanya kearah Dinda,


" Itu Akira kan?"


Dia lantas berjalan mendekati Dinda yang tengah tertawa bersama Metta,


"Akira...?"


Dinda menoleh, "Kau...?"


Kedua maniknya membulat lalu membalikan tubuhnya hendak pergi.


"Tunggu...!"