
"Kau sendiri tidak berniat mengajariku?"
Pletak
"Jika aku mengajarimu, untuk apa aku berhenti? Kau mau kita menjadi sepasang kekasih yang menggeluti dunia hitam yang sama?"
Dinda mengangguk, dengan bibir tipis yang nyaris melengkung saat Alan mengatakan kata 'sepasang kekasih', "Sepertinya seru!"
Alan menempelkan plester pada lukanya dengan sedikit menekannya.
"Awww...! Kau sengaja yaa?"
"Luka ini tidak seberapa jika dibandingkan kau berada di dunia kami, jadi jangan coba-coba! Jika kau saja penasaran, bagaimana aku akan bertahan? Bukankah kau juga ingin aku berhenti?" lanjutnya lagi.
Dinda mengangguk, "Aku tahu, aku hanya bercanda, wajahmu tegang sekali."
Alan mendengus, "Candaanmu tidak lucu sama sekali!"
"Aku akan mengantarkanmu pulang ke rumah ayahmu, disana aman! Dan tunggu aku kembali! ujar Alan yang melajukan kembali mobilnya, melesat membelah jalanan yang sudah gelap itu.
"Kau yakin mereka akan berhenti? Aku takut mereka justru datang ke rumah Ayah."
"Tidak, Jerry sudah mengaturnya sedemikian rupa! Kau tenang saja."
"Jerry? "
Alan mengangguk, "Jerry tidak ingin berhenti, dia akan meneruskan bisnis ini untuk melindungi kita semua, dan setelah itu dia akan bergabung dengan Don Salendro,"
"Don Salendro?"
Alan mengangguk lagi, "Mafia terbesar di negara timur, licin seperti ular sekaligus mematikan."
Dinda mengangguk saja, meskipun dia tidak tahu!"
"Baiklah, terserah kau saja, kembalilah secepatnya."
Alan mengangguk.
"Pasti...." ucapnya dengan kembali menginjak pedal gas, mempercepat laju kendaraannya.
.
.
Setelah mengantarkan Dinda ke rumah orang tuanya, Alan kembali ke markas, markas yang tengah dibenahi. Setelah ini, Jerry akan segera memindahkan markas yang selama ini tersembunyi dari dunia luar.
Alan baru saja masuk, saat beberapa orang yang menerobos dari beberapa pintu masuk, membuat mereka kalang kabut,
Jerry yang melihat segerombol orang masuk mulai memeriksanya, sementara Alan sudah bersiap- siap jika hari ini saatnya polisi menangkapnya.
Namun beberapa orang yang menerobos itu membawa senjata laras panjang, Alan yang berdiri di belakang pilar besar dilantai atas itu memperhatikan mereka yang mulai berpencar ke segala arah.
"Sialan, mereka banyak sekali." gumamnya.
Jerry yang datang dari arah belakang menyentuh bahunya, "Al ... kita tidak seimbang, lebih baik kita pergi!"
"Tidak, jika kita pergi, mereka akan terus mencari kita! Lebih baik kita selesaikan semua di sini Jerr." ujar Alan dengan menarik slide pada senjata api miliknya.
"Al, kau gila! Kita kalah jumlah, lebih baik kita tunggu yang lain datang! Mereka sudah dalam perjalanan.
Tak
Tak
Tak
Suara sepatu mmenghentak lantai dengan keras, pertanda seseorang berjalan dengan gagahnya masuk kedalam markas.
Orang itu berdiri dengan gagah, tubuhnya tegap dibalut dengan jaket kulit dan memakai kaca mata hitam, kemudian disusul oleh seseorang yang membuat Alan terperangah.
"Leon...."
"kau jangan membual, jauh-jauh aku kesini hanya untuk melihat gedung kosong? Oh god...." ucap seseorang itu dengan memijit pangkal hidung mancungnya.
Jerry yang mendekat kearah pilar tempat Alan bersembunyi malah tidak sengaja menabrak tong sampah.
"Sh iiit...!" gumam Jerry.
"AL, aku tahu kau ada disini! Keluarlah, mari kita selesaikan urusan kita!" seru Leon dengan berteriak.
Jerry dan Alan saling pandang.
"Apa Leon menghianati kita?"
"Tidak mungkin dia melakukannya Jerry! Aku tidak percaya!"
"Kau lihat lah sendiri, bahkan anak buah Leon ikut masuk, mereka pasti ikut membelot, sedangkan anak buahku tidak ada satupun yang ikut masuk, sudah pasti mereka menahannya agar tidak dapat masuk ke sini."
Alan masih tidak percaya, Leon sahabat terbaik nya setelah Jhoni, dia tidak mungkin melakukan hal hina itu disaat mereka memutuskan untuk berhenti.
"Al ... Keluarlah, aku bosan menunggu mu terus!"
"Temanmu payah, apa dia sedang ketakutan dan bersembunyi saat ini? Tidak seperti kabar yang aku dengar, kalau dia pemberani dan juga tidak terkalahkan!"
Leon berdecak, "Tenanglah dia akan turun sebentar lagi."
.
.
"Al ...?" gumam Jerry
"Aku akan kesana Jerry, aku ingin menyelesaikan semua sampai tuntas!" Alan keluar dan tetap melangkah, walau Jerry menahan lengannya.
"Al, jangan konyol! Kau hanya mengantarkan nyawamu."
Alan menepis tangannya, "Lepaskan, kau boleh pergi sekarang."
Alan kembali berjalan,
Tak
Tak
Leon menarik tipis bibirnya, "Sudah aku bilang, dia akan turun."
Pria itu mendengus.
Alan berjalan menuruni tangga, dengan tatapan mata menghunus pada Leon juga pria disampingnya.
"Akhirnya kau turun juga Al!"
Alan menarik Slide, dan menodongkan senjatanya pada Leon, lalu beralih pada pria yang saat ini berseringai, "Siapa kau?"
Para anak buah yang berjaga ikut mengangkat senjata mereka dan menodongkannya pada Alan. Namun Alan tidak gentar sedikitpun.
Leon berdecak, "Kau merindukanku atau tidak? kenapa kau tidak senang melihat sahabatmu ini? Hem....!"
"Turunkan senjata kalian!" seru pria itu pada anak buahnya.
"Jadi ini dia ... " ucapnya dengan mengulurkan tangan.
"Al, turunkan senjata mu!"
"Kau belum menjawab ku! Siapa kau?"
Pria tersebut, terkekeh, "Aku menyukai kewaspadaan mu Mr Alan, perkenalkan aku orang yang di utus oleh tuan Salendro."
Alan terperangah, "Don Salendro?"
Pria itu tersenyum, lalu kembali mengulurkan tanganmu, "Beliau tidak bisa datang, karena itu beliau mengirimkan ku ke sini, untuk membantu mu."
Alan menghela nafas, sementara Leon terlihat cekikikan.
Alan memasukkan kembali senjata api itu ke balik jas yang dikenakannya. Lalu menyambut tangan Pria dihadapannya.
"Omar Ali," ucapnya mengenalkan namanya.
Omar Ali, pria paling dicari di negaranya karena mampu meretas sistem keamanan negara dan membongkar kebusukan seluruh parlemen pemerintahan, menjadi dalang atas penyerangan digital yang dilakukannya, serta mendanai proyek pembuatan senjata nuklir. Putra sang legenda Don salendro, Tapi dia mau datang ke mari dan berniat membantu. Ayah sehebat apa kau di masa lalu?
.
.
Jerry turun setelah mengetahui bahwa mereka datang untuk membantu, membuat Leon berdecak kearahnya.
"Lebih baik kau juga berhenti, nyalimu membuatku malu saja!" ucapnya pada Jerry.
"Diam kau! Siapa suruh tidak koordinasi sebelumnya."
"Cih ... lagakmu sok, tapi saat melihat kami tadi kau malah bersembunyi."
Membuat semua tergelak, memang benar adanya Jerry akan selalu mengambil langkah seribu dari pada mengambil resiko seperti Alan, mengantarkan nyawa seperti Jhoni beberapa waktu lalu. Dia lebih suka mempersiapkan semuanya dengan matang, tanpa cela, sedangkan Alan terlalu gampang mengambil resiko, dia akan berani maju bahkan mengorbankan dirinya sendiri jika dibutuhkan, Leon sendiri sama dengannya, walau Leon punya banyak pertimbangan ketika melakukan sesuatu.
Kini mereka berempat duduk sofa, Omar membuka laptopnya, dengan menekan beberapa tombol.
"Sebenarnya hal ini terlalu biasa untukku, kau hanya menghadapi orang-orang yang masih berada dipersembunyiannya. Bagiku terlalu mudah! Aku bahkan bisa menyelesaikannya hanya dalam hitungan menit saja." ucap Omar.
"Dalam waktu satu jam mereka akan datang kemari, dan kau bisa membunuh habis mereka atau memilih berdamai." sambung nya lagi.
"Mana mungkin, aku sudah mencoba mencari mereka yang tengah bersembunyi, namun nihil, aku tidak bisa menemukan mereka." sela Jerry yang membuka laptopnya juga.
"Pancing mereka dengan sesuatu yang mengejutkan, memberikan shock terapi yang membuat mereka kocar-kacir!"
Alan terperangah, apalagi Leon. Mereka penasaran dengan apa yang hendak dilakukan oleh Omar. Begitupun dengan Jerry yang bahkan tidak bisa mendapatkan akses pada jaringan mereka.
Namun sebelum Omar menekan satu tombol akhir, dia menoleh pada Alan.
"Untuk pertama dan terakhir kali aku akan bertanya, apa kau serius untuk meninggalkan bisnis ini?"
Alan tampak ragu, namun bayangan wajah kecewa dari ayah dan bunda yang tiba- tiba melayang- layang dikepalanya, membuatnya dia yakin.
Aku tidak peduli saat orang lain yang memintaku untuk berhenti, selain mendengarkan apa kata hatiku sendiri. Namun tidak untuk mereka berdua, ayah dan bunda adalah segalanya untukku. Aku tidak akan mengorban mereka berdua hanya untuk kesenanganku sendiri.
Alan menganggukkan kepalanya, "Aku yakin! Aku akan berhenti."
Omar ikut mengangguk, "Apa yang membuat mu ingin berhenti?"
Leon berdecak, " Tentu saja seorang wanita, siapa lagi yang bisa merubahnya!"
Alan hanya mendesis, sementara Omar kembali mengangguk, "Penyakit bucin memang kerap menjadi kelemahan kita!" kemudian bergeleng kepala.
"Kau salah!" ujar Jerry.
"Kau harus melihat saat ayahnya hanya diam saat tahu Alan siapa sebenarnya, kau tahu Le, wajah diam dalam kekecewaan lebih buruk dari pada wajah marah dan mengamuk."
"Aku ada disana saat om Arya hanya menatap Alan tanpa kata, lalu pergi begitu saja."
"Jleebbb ... lebih sakit dari pada peluru menembus daging, lebih sakit dari pada belati menghunus jantungmu." ujar Jerry menekan dadanya sendiri.
Membuat Leon terperangah dan seketika menatap Alan. Sedangkan dia hanya menarik sudut bibirnya ke atas.
Omar kembali mengangguk, "Keluargamu memang luar biasa dari dulu."
"Kau mengenal keluarga dari dulu."
"Ayahku pernah bercerita tentang seseorang, dan hari ini aku fikir seseorang itu adalah ayahmu." ucap Omar lalu menekan sesuatu di laptopnya.
KLIK
"Jadi keputusanmu sudah benar, setelah ini hiduplah dengan baik, kau juga!" tunjuknya pada Leon.
Leon merentangkan kedua tangannya disandaran sofa, "Aku akan mulai mencari cinta sejatiku dan hidup bahagia."
Tuk
Jerry melemparkan bungkus rokok yang telah kosong kearah wajahnya, "Sok-sok an mencari cinta sejati, Yang mana yang kau sebut cinta sejatimu itu!"
Dreet
Dreet
Dreet
Dreet
Terdengar semua ponsel berdering, milik Alan, Leon bahkan milik Jerry.
Mereka terperangah saat melihat ponselnya masing-masing.
"Mereka benar-benar akan datang!"
Omar tergelak, lalu menyenderkan tubuhnya dengan menatap Alan.
"Sekarang kau periksa akun bankmu!"
Alan memeriksa ponsel dan membuka mobile banking miliknya.
"Keuntungan terakhir kali nya dalam bisnis ini. Semua kerugian atas kelicikan mereka padamu selama ini. Anggap saja itu sebagai tunjangan pensiunmu" ujarnya dengan terbahak.
Alan terperangah saat melihat saldo di salah satu bank atas namanya.
"Kau benar- benar gila! Kau membuat mereka bangkrut seketika dan membuatku menjadi milyuner dalam waktu sekejap saja!"
"Tunjangan Pensiun...." ujarnya dengan tertawa.
Leon berdecak kearahnya dengan kagum,
"Apa aku salah mengambil keputusan?"