Assistant Love

Assistant Love
Jangan manja! ( Inilah hadiahmu.)



Tiga hari kemudian,


Setelah kejadian yang terjadi diantara Leon dan Alan, Dinda tidak lagi pulang ke platnya, begitu juga Leon yang masih dirawat di rumah sakit, akibat banyaknya luka pada tubuhnya.


Luka di tubuhku ini tidak seberapa dibandingkan luka di hatiku, jika aku tidak melakukan kebodohan itu. Dengan begini, aku tidak lagi penasaran. batin Leon.


"Aawwss... Mac pelan-pelan!"


"Manja!!"


"Apa Alan masih marah padaku?" ujarnya pada Mac.


Bruk


"Aawwss...." Leon meringis,


Alan yang membuka pintu ruangan rawat inap itu melemparkan buket bunga mawar berwarna putih,


"Dari kekasihku!!"


"Al... kau sudah tidak marah lagi padaku?" ujar Leon.


"Siapa bilang?"


Mac mengatupkan mulutnya, sementara Leon mendengus pelan. Lantas untuk apa dia kesini?


"Aku kesini hanya menyampaikan titipan itu saja." ucapnya dengan mendudukan dirinya di kursi.


Lalu dia bangkit kembali, mengarah ke arah pintu dan membukanya, " Cepat sembuh Le!!"


Leon mengangguk, dia kembali melihat kearah Alan.


"Terima kasih Al...."


Alan mengangguk, "Ingat tugas, jangan terlalu manja!!"


.


.


.


Drett


Drett


Ponsel Dinda berdering dengan nyaring, Dinda yang tengah siap-siap itu gelagapan, pasalnya hari ini hari dimana Alan mengajaknya untuk meeting penting, meeting yang dijanjikan hadiah spesial jika dia berhasil mempresentasikannya. Tiga hari sudah dia mempelajari berkas itu hingga berkas yang tadinya rapi itu menjadi lecek.


Namun tentu saja Alan yang perfeksionis itu hanya memberikan salinan berkasnya saja. Sedangkan yang asli, tetap hanya dia yang memegangnya.


Ponsel masih berdering, namun Dinda mengabaikannya, karena dia tengah mengikat rambutnya, mengkuncirnya keatas.


Lantas dia keluar dari kamar dan meraih ponsel yang masih berdering kencang, setelah keluar dari Apartemen baru lah dia mengangkatnya.


'Kau ini lama sekali mengangkat teleponku? Cepatlah atau kau tidak perlu ikut!'


Tut


Baru saja Dinda membuka mulut nya untuk menjawab, namun ponsel nya sudah terlebih dahulu terputus.


" Kebiasaan!" ujarnya lantas berjalan masuk kedalam lift.


Tak lama dia keluar dari lift dan langsung menuju mobil Alan yang sudah terparkir didepan pintu masuk.


"Lambat sekali!" gerutu Alan sambil membuka pintu mobil, Dinda masuk kedalamnya dan Alan menutup kembali pintunya.


Dia berjalan memutar untuk masuk ke belakang kemudi. "Kau siap?"


Dinda mengangguk, hatinya seakan menyesali ucapannya yang mengatakan bahwa bekerja dengan kekasih itu menyenangkan? Nyatanya tidak berlaku untuknya.


Alan selalu bersikap profesional dalam bekerja, kalaupun sedikit melenceng, itu karena ulahnya, yang kerap menggodanya. Dasar bodoh.


"Al, apa tempat nya sangat jauh? Kenapa dari tadi kita tidak sampai-sampai juga?" tanya Dinda yang merasa perjalanan mereka sudah keluar dari area perkotaan.


"Sebentar lagi," ucap Alan datar.


Inikan? ini jalan....


"Al, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Dinda yang mulai resah.


"Kau akan tahu nanti." ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya.


Mobil berhenti tepat di satu gedung, Alan membuka seat belt nya, "Kita sampai!" ucapnya tanpa ekspresi.


Deg


inikan perusahaan Ayah, kenapa dia bisa kesini, apa mereka ada kerja sama. Tapi aku tidak tahu soal ini! bahkan di berkas yang aku pelajari pun, tidak ada keterangan apapun mengenai perusahaan ini, apa Alan sengaja? mana mungkin, aku saja tidak pernah bercerita masalah keluarga padanya. Ini benar-benar membuat ku pusing.


"Kau kenapa?" ujar Alam saat melihat Dinda yang tengah menatap gedung.


"Tidak apa-apa!" ujarnya lalu membuka seat belt.


Anggap saja Alan tidak tahu, dan aku akan menganggap ini sebagai cara untuk membuktikan diriku pada mereka, pada keluarga yang bahkan tidak perduli padaku.


Akan aku ingin membuat mereka terkejut melihatku


Alan berseringai, lalu dia keluar dari mobil dan berjalan membuka pintu untuk Dinda.


"Fokuslah, buat mereka terkejut sekaligus kagum padamu!" ujar Alan saat Dinda keluar dari mobil.


"Kau ...?"


Alan mengangguk, "Ingat hadiah spesial yang akan aku berikan padamu? Bersiaplah, tegakkan badanmu. Kita akan masuk bersama."


Dinda mengangguk, hatinya seakan menghangat tiba-tiba, lagi-lagi Alan bertindak tanpa bicara apapun.


Mereka masuk kedalam gedung, staff yang terkait menyambut mereka dengan suka cita, mereka yang digadang-gadang pemilik dari saham terbanyak yang akan menyelamatkan perusahaan sekaligus sumber penghidupan mereka.


Seseorang mengarahkan mereka masuk ke ruang rapat, tampak beberapa orang sudah duduk dikursinya. Kursi yang mengelilingi sebuah meja panjang, sedangkan didepannya ada layar proyektor dan juga podium untuk siapapun yang akan berbicara didepan.


Alan masuk terlebih dahulu, Dinda menatap ruangan yang dulu dikenalnya saat ikut bersama ayahnya saat bekerja.


Ruangan yang tidak sedikitpun berubah dari terakhir dia mengunjungi nya, Dinda kemudian mendudukan dirinya disamping Alan.


"Baiklah sebelum kita mulai, saya ingin memperkenalkan seseorang terlebih dahulu, seseorang yang membuat kita semua ada disini. Dialah pemilih saham terbesar ... Nona Dinda."


Dinda sontak terkejut, dia melihat moderator yang baru saja berbicara dengan pengeras suara di atas podium. Ini salah, bagaimana mungkin?


Dinda terperangah dengan riuhnya tepuk tangan untuknya, masih belum bisa mencerna dengan baik dia menolehkan kepalanya pada Alan.


"Take your special gift." ujarnya dengan ikut bertepuk tangan.


Dinda berdiri dengan lutut yang bergemetaran hebat namun genggaman tangan Alan bak oase dipadang pasir. Memberikan kekuatannya dan menjadikannya berdiri dengan tegak.


Seseorang yang sedari tadi menunduk, kini terhenyak dari duduknya. Saat melihat sosok anak perempuannya yang telah lama tidak dia lihat. Seorang Dinda yang kini berada dihadapannya, dengan rambut coklat miliknya, dan iris mata coklat seperti ibunya, Akira


Setelah sambutan luar biasa yang ditujukan untuknya, sekaranglah giliran nya untuk mempresentasikan apa yang telah dia pelajari tiga hari ke belakang. Dengan penuh percaya diri, dia menjelaskan poin-poin yang telah dia tempel kan di segala tempat di meja kerjanya.


Saat itu hanya hadiah spesial dari Alan yang dipikirkannya, memikirkan Alan akan memberikan ciuman panasnya, atau memberikan hadiah berupa barang yang dia inginkan? atau sekedar mengajaknya meet and great dengan penulis kesayangannya,


Memang di otakku hanya hal-hal receh seperti itu yang akan Alan berikan padaku, tidak pernah terpikirkan memberiku sesuatu yang amat besar, saham enam puluh persen diperusahaan milik ayah ku sendiri, ini gila, dan dia lebih gila. Apa yang dia rencanakan?


Dinda selesai dengan presentasi nya yang luar biasa, Dinda yang bodoh dan ceroboh karena malas hari ini berubah menjadi sosok yang memukau. Semua mata berbinar ke arahnya, menjadikannya harapan besar untuk membawa mereka dalam kejayaan lagi.


Sosok yang mereka bahkan tidak tahu, bahwa dia adalah anak dari pemilik perusahaan. Standing applause dari mereka yang terkagum dengan apa yang di terangkan oleh Dinda. menjadi penghujung rapat tersebut.


Moderator mengambil alih kembali, lalu menutup rapat tertutup itu.


"Kau harus menjelaskannya padaku!" ujarnya saat dia kembali duduk.


"Inilah hadiahmu!"