
"Dasar pria aneh, bagaimana dia bisa segaring itu. Ahk aku sedang benci semua pria di muka bumi ini, mereka semua sama saja!" gumamnya dengan kembali masuk ke dalam ruangan dimana ibunya berada. Dengan wajahnya yang ditekuk, dia duduk ditepi ranjang.
Tapi Alan tidak begitu, kami bahkan tidak pernah berkenalan sebelumnya, haiss ... kenapa ingat orang itu terus. Sudah jelas dia tidak sayang padaku, bahkan tidak mencariku sampai detik ini. Dia selalu melupakan aku ... mungkin keadaan ini yang memang dia inginkan. menyebalkan.
"Wajahmu kenapa sayang?" tanya Sisilia yang tengah berbaring.
"Mam ... apa kau tahu, aku malu sekali karena 2 kejadian yang terjadi saat aku diluar." rungutnya
"Kenapa memangnya sayang?"
Dinda mendengus, dengan menceritakan semuanya pada Sisilia, lalu dengan meraup wajahnya dia memperagakan Kemal yang ingin berkenalan dengannya. "Sudah jelas-jelas name tag nya berada di depan. Aku bahkan bisa melihatnya dengan jelas. Sok akrab!"
"Lho memangnya kenapa? Pria di sini lebih ramah lho, dan kabarnya juga mereka romantis." bisiknya pada anak gadis yang masih menekuk wajahnya itu.
"Masa bodoh, aku tidak mau peduli Mam! Aku harus menukar uang, bolehkah aku keluar lagi?"
"Kamu yakin akan tahu arah jalannya, Mami kok ragu, apa lebih baik kamu tunggu ayah kesini? Biar nanti ayah yang mengantarmu?"
"No ... ayah lama Mam, aku harus segera mengembalikan uang pada pria itu."
.
.
"Sudah ku bilang tidak perlu difikirkan Nona, dan ibumu benar, aku ini termasuk pria romantis dan juga ramah."
Dinda terperanjat saat mendengar suara dari pria yang baru saja dia bicarakan bersama ibunya. Dia menoleh ke arah suara dan menatap Kemal dengan tajam.
"Kamu ... sejak kapan kamu berdiri disitu, dan menguping pembicaraan kami!"
"Maaf Nona ... sepertinya anda salah, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian."
Dinda mendengus, "Rumah sakit ini kabarnya terbesar yang ada di sini, tapi sepertinya harus ditinjau lagi. sempit sekali, sampai bertemu dengan orang yang sama di 3 tempat."
"Sayang...!" gumam Sisilia.
Kemal terkekeh, dia melangkah maju ke tepi ranjang untuk menyapa Sisilia.
"Sepertinya kita akan lebih sering lagi bertemu, atau jangan-jangan kita berjodoh?" ucapnya dengan mengedipkan sebelah mata ke arah Sisilia yang tampak tersenyum ke arahnya.
"Apaan sih!" sungut Dinda langsung berdiri dari duduknya.
Sementara pria berjubah putih menempelkan stetoskopnya ke arah Sisilia.
"Halo Miss, aku Dr. Kemal Harsa Baldaric, asisten dari prof. Belatric yang akan melakukan operasimu minggu depan."
"Kita lanjut periksa tekanan darah ya Miss!" lanjutnya dengan memasangkan tensimeter pada lengan Sisilia.
Dinda tersenyum kecut kearah ibunya yang mengatakan hal tersebut, entah kenapa dia tidak suka pada Kemal yang terlalu ramah, padahal difikir-fikir sosok Kemal sama sepertinya. Tidak tahu malu.
Setelah selesai memeriksa Sisilia, dokter Kemal kembali menatap wajah Dinda, " Nona, apa bisa kita bicara sebentar?"
Dinda terlihat mengernyit, "Bicara masalah apa ya?"
Kemal kemudian mendekatinya, "Ini masalah kesehatan ibumu, bisakah?"
Dinda pun mengikutinya keluar, mereka berjalan disepanjang lorong, "Kau mau bicara apa? Cepat katakan, sebentar lagi Hemodialis Mami akan selesai."
"Jadi begini, kondisi Ibumu saat ini memang terlihat stabil, tapi tekanan darahnya kurang bagus. Minggu depan beliau akan operasi, usahakan ibumu merasakan ketenangan, berikan banyak senyum di wajah mu agar dia senang, aku juga akan senang! Kau tahu cara menyenangkannya?" ujarnya dengan senyum yang mengembang.
"Memangnya dengan apa?"
"Jangan galak pada seorang pria, seperti yang ibumu katakan, kami disini ini terkenal dengan keramahannya."
"Apaan sih! Serius bisa tidak!! kau pasti mengada-ngada."
Dinda kembali masuk, meninggalkan Kemal begitu saja. "Menyebalkan, bisa-bisanya dia berkata seperti itu, menggunakan orang sakit untuk bermain-main!"
Kemal berdiri menatapnya, dan bergeleng kepala.
'Dok maafkan anak saya, dia itu biasanya sangat ceria, mudah bergaul juga berisik.' Ucapan Sisilia saat Kemal memeriksa nya, kembali terngiang.
"Aku jadi penasaran seceria apa kamu Nona?"
.
"Datang-datang kok marah!" ujar Sisilia yang baru saja selesai pembersihan darah.
"Tahu tuh dasar si kumal, bikin aku emosi!" gidiknya.
"Kumal?"
Dinda mengangguk, "Dokter yang mengaku ramah dan juga romantis seperti yang Mami katakan!"
Sisilia tersenyum melihat anaknya yang menggerutu, dia pun pindah duduk ke kurdi roda dengan di bantu oleh seorang perawat. "Kita bersiap-siap untuk pulang Nak?"
Seseorang membuka pintu ruangan, membuat Dinda kembali berdecak, saat melihat Kemal yang terlihat senang. "Kalian sudah mau pulang?"
Sisilia mengangguk, sementara Dinda menggelengkan kepalanya. Membuat Kemal mengulum bibir, "Miss ... may i?" ucapnya pada Sisilia.
"Jangan Mi ... jangan ... please, jangan mau!" gumamnya hanya gerakan bibir.