Assistant Love

Assistant Love
Penggoda 2(Here she is)



Alan berbalik dan tubuhnya tepat menabrak tubuh Cintya yang lagi- lagi menggigit ujung bibirnya, memasang wajah penuh ga irah guna memancing, serta mengundang has rat pria yang tengah melihatnya itu naik seketika. Dengan dua benda bulat miliknya yang menonjol sempurna menempel pada dada bidang milik Alan.


"Sshhh...."


Cintya mendongkakkan kepalanya melihat wajah Alan dengan jarak yang semakin dekat, namun Alan tak bergeming.


Tiba-tiba Cintya dengan cepat menyambar bibir Alan, tangannya menyusuri rahang Alan yang mengeras, melu matnya dengan juluran lidah menyapu bibir Alan yang masih tetap mengatup, sontak Alan mendorong tubuh Cintya hingga terhuyung,


"Kau gila... Cih!!


Alan mengambil tissue dan menyusut bibirnya yang sedikit basah, "Menjijikan... keluar dari ruangan ku sekarang juga!"


"Bukankah kau tadi yang menyuruhku masuk?" Cintya melangkah maju dengan tatapan menyalang pada Alan.


"KELUAR!!!"


"Oh... Ayolah tidak usah sok suci! Katakan kau juga menginginkannya,"


"Kau tidak mendengarku? Keluar sekarang juga." Tangannya merentang menunjuk pintu, agar Cintya segera keluar.


Namun Cintya tak bergeming, "Ayolah, kita bermain dulu! Oh aku tahu, apa kau benar-benar seorang Gay?" ucap Cintya menohok.


"Benarkah gosip itu? Kau seorang Gay..., dan kau menghilang kemarin karena kau pergi dengan pasangan gay mu?"


Alan mendudukkan dirinya disofa, dengan tenang dia meraih sebatang rokok dari atas meja, lalu menyalakannya.


"Benarkah itu sayang?"


Alan hanya mendengus pelan, dengan mengepulkan asap rokok dari kedua hidungnya. Cintya dengan tak tahu diri nya kembali berjalan, mendekat kearah sofa,


"Bukan kah diam berarti iya?"


Alan tidak tak bergemung, dia tetap dalam diam dan menunduk, tak sedikitpun dia menoleh apalagi menatap Cintya.


"Menjijikan...." gumamnya.


"Apa gosip yang beredar itu benar?"


Alan kembali mendengus, "Entahlah dari hadapanku sekarang juga."


Cintya berdecak kesal, dia mundur perlahan namun dia tidak melepaskan tatapan dambanya,


"Baiklah, aku bisa menunggu...."


Alan mematikan ujung batang rokok itu, "Pergilah, selagi aku berlaku baik padamu!"


Cintya menghentakkan kakinya, berjalan berbalik dengan menyibakkan rambutnya lalu menutup pintu ruangan dengan keras.


"Kurang ajar...." gumamnya dengan mendengus.


Sementara Alan menghela nafas, merogoh ponselnya dari saku jas dan mendial nomor seseorang,


"Ke ruanganku sekarang."


Kepala HRD gedung utama tergopoh-gopoh berjalan menuju ruangan Alan, dari kejauhan dia melihat Cintya yang tengah menatap layar monitor dengan santai.


"Apa yang kau lakukan, sampai Assisten ketua memanggilku?" Ucapnya pada Cintya.


Cintya mengerdikkan bahu, "Aku hanya bermain sedikit..., payah."


Kepala HRD itu menggelengkan kepalanya lalu masuk kedalam ruangan Alan.


"Pak...."


Alan tak menoleh sedikitpun, "Duduklah...."


Kepala HRD mendudukkan dirinya, "Apa yang bisa saya bantu?"


"Aku tidak ingin melihatnya lagi besok, entahkan dia!"


Kepala HRD itu terperangah, selama bekerja hingga saat ini Alan tidak pernah menyuruhnya memindahkan orang seperti ini, kecuali memang benar-benar seorang


itu mempunyai kinerja yang bagus, seperti yang dilakukannya pada Tiwi.


Lalu sekarang harus memindahkan Cintya yang notabene adalah sekretaris Arya.


Ketua HRD itu menyusut keringat, "Tapi saya harus tahu alasan kenapa Cintya harus saya pindahkan ."


"Lakukan saja perintahkah ku!!" ucapnya dengan nada dingin.


"Ba--baik...."


"Kau boleh keluar!"Ucap nya lagi.


Ketua HRD melangkah keluar dengan cepat dan menghampiri meja kerja Cintya, cukup lama dia mengamatinya lalu perlahan dia menghembuskan nafasnya, "Jika kau sudah selesai, segera keruangan saya!"


Cintya mendongkak, lalu mengangguk. Ada apa yaa....


.


Setelah kepergian ketua HRD, Alan kembali menyesap rokok, lalu dia menyandarkan kepalanya di bantalan sofa dengan fikiran menerawang. Hanya kepulan asap yang mengelungi wajahnya.


"Harusnya aku lakukan ini dari dulu." gumamnya diselingi kepulan asap di udara.


Dreet


Dreet


"Halo Mac...."


"...."


"Benarkah? Kau yakin...."


"...."


"Periksa sekali lagi,"


"...."


"Hmm...."


Alan terpaku, setelah sambungan telepon nya dengan Mac terputus. Lalu keluar dari ruangannya dengan cepat untuk memastikannya sendiri.


Kebiasaannya menutup telepon secara sepihak ataupun tidak mendengarkan laporan dengan tuntas membuat kegundahan dalam hatinya.


Alan dengan cepat memasuki lift khusus, berkali-kali ponselnya berbunyi namun dia abaikan. Dia harus memastikan hal yang akhirnya menggelitik.


Astaga, kenapa aku harus memastikannya?


Tidak penting....


Namun perkataan nya berbanding terbalik dengan impulsif tubuhnya, dia terus melangkah keluar saat lift terbuka, dia terus berjalan hingga memasuki kantor divisi umum.


Kedua matanya menyapu seluruh ruangan, mencari sosok yang membuatnya melakukan hal konyol seperti sekarang. Namun dia tidak menemukannya. Setelah itu dia memasuki ruangan Manager.


"Wah tumben kesini?" Ucap Farrel saat Alan masuk.


Dia berdecak lalu dengan wajah yang sulit diartikan itu dia duduk disofa.


"Apa kau tahu seseorang yang bernama Akira?" Ucapnya tanpa berbasa-basi.


Farrel yang masih terduduk di kursi kebesarannya menoleh kearahnya, "Akira?"


"Hm...."


"Entahlah... Siapa dia?"


"Orangmu...maksudku Dia disini, entahlah dibagian mana!"


Farrel menepuk jidat, "Apa dia seorang gadis?"


"Sialan..., apa yang kau bicarakan!"


Farrel tergelak, "Santai gak usah ngegas."


"Kau kan jarang sekali membicarakan seorang gadis, kecuali gadis halumu di novel."


"Jangan banyak bicara, katakan saja kalau kau tahu, kalau tidak aku akan pergi!"


"Oh iya kau akan pergi kemana? Ke kantor kependudukan dan menanyakannya atau ke kantor polisi mencari jejak-jejaknya, hahaha ha."


Lagi-lagi Farrel tergelak, pasalnya baru kali ini melihat wajah Alan merah padam saat membicarakan seorang gadis.


"Akira Dinda Pramudya." sela Alan.


Farrel menoleh pada Alan yang bicara tanpa ekspresi, "Dasar manekin, kau sama sekali tidak terganggu saat aku tertawa." gumamnya.


"Aku mendengarnya anak nakal!!"


Farrel terkekeh, " Baik-baik, Akira Dinda pramudya ya? Sepertinya tidak asing." lalu mengerdikkan bahunya namun otaknya ikut berfikir.


"Kau yakin namanya itu? Tidak ada clue lainnya? panggilan atau semacam itu?"


"Entahlah, yang aku tahu hanya itu,"


Akhirnya Farrel kembali tergelak, "Sekarang kau merasakan bagaimana bodohnya pria jika berkaitan dengan seorang gadis bukan?"


"Lalu untuk apa punya anak buah banyak berlogo ARR. Corps." Farrel menggelengkan kepalanya.


Alan mengambil bolpoin dari atas meja, yang dia lempar kearah Farrel, "Sialan ..., serius sedikit!"


"Hahhaaha, iya ...iya baik, aku bantu mencarinya!"


Setelah itu Farrel menghubungi stafnya untuk memberikan data karyawan, lalu dia mengeceknya di ipad. Satu persatu dia gulir layar ipad itu. Dengan senyum mengembang dia berhenti menggulir saat menemukan namanya.


"Aku menemukannya?" tanya Alan.


"Hmm..."


"Benarkah dia ada disini?"


"Iya aku menemukannya, dan dia ada disini, Mettasha Kalyna." Ucapnya dengan memegang dadanya yang tiba-tiba bergejolak hanya karena membaca namanya saja.


Alan melempar pematik api elektrik kearah nya, "Sialan!!"


Farrel dapat menghindar lalu terkekeh dan kembali beralih pada ipad yang dia pegang.


"Here she is."