Assistant Love

Assistant Love
Bertemu masa lalu 2



Flash back on


4 Tahun yang lalu.


Davis Danuarta, kapten sebuah tim basket di sebuah sekolah ternama, menjadi bintang lapangan dan digandrungi semua siswi sekolah tersebut, termasuk siswi paling ceria Akira Dinda pramudya.


Yang tiba-tiba menyatakan perasaan cinta padanya, ditengah lapangan.


"Akira Dinda Pramudya, apa kamu mau menjadi pacarku? seru Davis dengan memakai pengeras suara.


Membuat Dinda yang kala itu berada di kelas biologi melonjak kaget bercampur bahagia, karena perasaan diam-diam suka nya itu terbalaskan dengan cara yang membuatnya bangga.


Dinda keluar dari kelas dan melihat Davis yang berada di tengah lapangan dengan bertabur bunga mawar merah yang berbentuk hati dengan tulisan i love you.


Begitu romantis dan membuat hampir semua siswi iri padanya, semua berseru mengatakan hal yang sama,


Terima


Terima


Gadis ber iris coklat itu menutup mulutnya tidak percaya, seorang Davis dengan segudang prestasi itu menyatakan perasaannya. Teman-teman Dinda mendorongnya ke tengah lapangan. Dinda yang mempunyai perasaan yang sama pun menerimanya.


Tidak ada perasaan sebahagia ini, mereka berdua berpelukan dan semua menjadi saksi cinta mereka.


Dan seminggu setelahnya, Davis yang teman-temannya mengajak Dinda dan teman-temannya berlibur di sebuah villa,


"Davis aku sayang kamu, kamu juga kan?" ujar Dinda yang berada dalam kungkungannya.


Davis tidak menjawab, dia terus berusaha membuatnya terlena, dengan mendaratkan ciuman pada ceruk leher dengan tangan yang terus menyusup kedalam pakaian Dinda.


Dinda memegang tangannya dan menggelengkan kepalanya berulang kali,


"Jangan lakukan ini Davis! Aku mohon."


"Aaaaggkkh... dasar wanita tidak tahu diuntung, aku sudah berbaik hati selama ini karena menjadikanmu yang tidak ada apa-apa nya ini menjadi kekasihku." ujar Davis marah.


Dia melemparkan jaket ke arah Dinda yang tersentak dengan ucapannya. Lalu Davis beranjak dari ranjang.


"Dengar, mulai saat ini kau bukan pacarku lagi,"


"Tapi kenapa Davis, aku mencintaimu san kau juga! Kau memutuskan aku hanya karena tidak mau melakukan hal itu?" ujar Dinda sesegukan.


"Bukan hanya itu saja!"


Dinda menatap nanar sosok yang dia kira mencintainya, yang akan terus menjaganya.


"Kita bahkan baru saja jadian Davis,"


"Aku memang tidak mencintaimu, semua ini hanya taruhanku, kau dengar. TARUHAN." bentaknya.


Lalu Davis berlalu keluar dari kamar dengan membanting pintu. Sementara Dinda menangis sejadinya.


Dia kemudian keluar dari kamar dan tidak mendapati siapapun di sana, mereka meninggalkannya, Davis dan teman-temannya, juga teman-teman Dinda.


Semua nya meninggalkan nya sendirian. Tubuh Dinda merosot ke lantai, merasa sakit hati dan terkhianati oleh semua orang.


Namun tak sampai disitu, saat Dinda pulang, bukan pelukan menenangkan yang dia dapatkan dari ibunya,


"Dasar anak tidak berguna, gara-gara kau keluarga Danuarta memutuskan hubungan kerja dengan perusahaan ayahmu, itu semua karena kau menolak cinta dari Davis Danuarta?"


"Sok cantik!"


"Bu--bukan seperti itu yang sebenarnya Mam!" sangkal Dinda dengan berderai air mata.


"Apa, buka seperti itu apa? Sudah jelas-jelas kau menolaknya, hingga Davis mengadu pada ayahnya, dia sakit hati padamu!"


"Mami lebih percaya orang itu dibanding aku? anak Mami sendiri?"


Plak


Sisilia menampar pipinya, dan saat itu Dinda merasa langit runtuh menimpanya, bahkan ayahnya tidak dapat berbuat sesuatu, Pramudya hanya terdiam dan mengepalkan tangannya.


"Mam...." gumam Dinda dengan tatapan sendu.


"Mami menamparku dan tidak percaya ucapanku? bahkan Mami belum mendengar penjelasanku! Mami jahat." ucap Dinda yang berlari masuk kedalam kamar.


Dan setelah kejadian itu hubungan mereka kian merenggang, Mami Sisilia tidak lagi memberikan pelukan-pelukan hangatnya, Sedangkan Ayah Pramudya hanya diam dan diam saat melihat Dinda.


Disekolah pun begitu, Davis yang memutar balik kan fakta bahwa dirinya lah yang menjadi korban, memfitnah Dinda dengan mengatakan bahwa Dinda selingkuh dan menolaknya, dia hanya menerimanya pada saat itu hanya mencari sensasi saja.


Membuat Dinda dijauhi teman-temannya, merubah sifat ceria nya menjadi pendiam selama tahun terakhir disekolahnya. Semua berlangsung sampai kelulusan. Tidak ada yang menyapa atau bahkan menanyakan keberadaan nya.


Setahun kemudian Dinda memutuskan keluar dari rumah, dan tinggal sendiri. Menghadapi masa-masa kuliah nya seorang diri, bahkan ayah maupun ibunya tidak pernah mencarinya, mereka hanya mengiriminya uang melalui supir dan maid yang rutin berkunjung.


"Mereka memang tidak menyayangi ku lagi bi." ujar Dinda yang menangis di dalam pelukan sang maid.


"Percuma saja bi, mereka tidak akan percaya sama aku! Mereka bahkan tidak mencariku selama ini!" Ucap Dinda dengan sesegukan.


"Non tenang yaa, masih ada bibi dan juga pak Amin yang akan selalu menyayangi Non Akira." tukas Maid yang selalu bisa membuatnya tenang.


Dinda mengangguk, "Tapi nanti bibi kena marah Mami."


"Tidak apa-apa Non, yang penting bibi bisa melihat Non baik-baik saja! Jangan khawatirkan bibi."


"Betul itu Non, Pa Amin juga akan terus datang untuk menengok ke sini, tapi sebenarnya Papi menyayangi Non, bukti nya dia masih menitipkan uang untuk Non Akira."


"Papi memang baik, namun juga tidak bisa berbuat banyak, Papi hanya bisa diam dan terdiam saja." ucap Dinda menyeka air matanya.


"Itu karena papi menyayangi mu juga Non, Papi selalu menanyakan kabar Non pada bibi dan juga pak Amin, bukan begitu pak Amin?"


Pak Amin mengangguk, "Betul apa yang dikatakan bibi, Non! Buktinya bibi dan pak Amin masih bisa berkunjung ke sini."


"Ya sudah. Bibi tidak bisa lama-lama, nanti bibi kesini lagi ya! Non jaga kesehatan, baik -baik ya di sini."


Dinda mengangguk, dia memang mengerti, jika bibi maid dan juga Pak Amin yang bisa datang di kala jadwal belanja bulanan. Mereka yang menyempatkan berkunjung di kala bisa keluar dari rumah itu.


"Bi...?" seru Dinda saat bibi maid sudah berada diambang pintu.


"Mulai sekarang jangan panggil aku Akira lagi, aku benci nama itu!"


Nama yang menurutnya membuat kehilangan semua orang yang dulu begitu mencintainya.


'Aku membencimu Davis'


Bibi maid mengangguk, "Baik Non Dinda."


Tak lama kemudian bibi maid dan pak Amin pun pergi dari sana, meninggalkan Dinda yang masih menangis.


Dan semua sudah berlangsung selama hampir empat tahun. Dinda bekerja keras menyelesaikan kuliah nya, hidup seorang diri dan belum pernah lagi pulang kembali ke rumahnya. Hingga tak pernah lagi mengeluarkan air matanya untuk mereka. Sudah tidak ada lagi air mata yang keluar dari pelupuk matanya.


Sejak terakhir maid dan pak Amin yang datang mengunjunginya, mereka tidak pernah lagi datang, hanya sekali saja dan itu pun hanya di telepon. Dan tidak pernah sekalipun juga Dinda bertemu dengan Davis, hingga perasaan cinta untuk itu hilang begitu saja.


.


.


Dinda berkali-kali menghembuskan nafas, rasa sesak di hatinya kembali terasa. Perasaan marah dan kecewa yang perlahan hilang kini muncul kembali, dan itu semua berawal saat melihat Davis kembali.


Alan menepikan mobilnya, lalu menoleh pada Dinda yang saat ini tidak seceria biasanya,


"Kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Alan.


Dinda menggelengkan kepalanya, "Tidak... aku ingin pulang saja!"


"Kau yakin?" Alan memastikan.


Dinda mengangguk, "Iya... aku ingin pulang!"


"Baiklah, kita pulang." ujarnya kemudian.


Alan kembali melajukan mobilnya, menuju Apartemen milik Dinda. Tidak ada yang mengeluarkan satu kata pun, Dinda menatap lurus ruas jalan didepannya, sementara Alan melirik nya diam-diam.


Mobil tiba di pelataran parkir. Dinda membuka seat belt nya dan keluar dari mobil begitu dan aja, Alan mengikutinya dari belakang. Dinda masuk kedalam pintu lift yang terbuka.


Begitu pun Alan, mereka berjalan bak dua orang asing yang tidak saling mengenal. Alan sendiri bingung, dia tidak tahu harus mengatakan apa.


Dinda menekan password pintu dan masuk, Alan pun ikut masuk.


"Istirahatlah, jangan terlalu dipikirkan." ujar Alan.


"Pergilah, aku tidak apa-apa!" ujar Dinda tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putih dengan satu gingsul lucunya.


"Ini hal biasa, dan aku sudah terbiasa." ujarnya lagi.


Kau menyembunyikan kesedihanmu dibalik sifatmu yang ceria. batin Alan.


"Kau yakin ingin aku pergi?" ujar Alan dengan senyum yang tipis.


"Padahal aku ingin meminta makan, aku ingin mie instan buatanmu." ujarnya lagi.


Dinda terdiam, dan menundukkan kepalanya, namun sedetik kemudian dia menatap kembali pada Alan.


"Baiklah, aku sedang berbaik hati, aku akan membuatnya untukmu!"


Dinda berbalik, namun Alan melangkah dengan cepat dan merengkuh bahunya.Melingkarkan tangan memeluknya dari belakang.


"Kamu sudah berusaha hidup dengan baik selama ini, terus lah begitu. Tapi menjadi kuat, tidak harus menahan diri untuk menangis."