
"Apa aku salah mengambil keputusan?"
Alan dan Jerry berdecak ke arahnya, sedangkan Omar menggelengkan kepalanya,
"Jika kau berubah pikiran, datanglah padaku, kita akan menjadi tim yang hebat jika bekerja sama."
"Thanks ... tapi sepertinya kau akan kecewa jika aku tidak akan pernah datang!" ucap Alan.
"Bagaimana denganku?" tanya Leon.
"Tidak ada tempat untuk orang yang selalu plin-plan sepertimu." Ujar Jerry dengan menatap tajam.
Ponsel mereka masih silih berdering tak berhenti sedikipun. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang Alan cari selama ini, mafia-mafia yamg bersembunyi dan menunggu Alan lengah. Tapi kali ini mereka muncul dengan sendirinya setelah Omar memporak-porandakan sistem keamanan mereka dan menguras habis aset yamg mereka sembunyikan selama ini, termasuk di dalamnya ada bagian milik Alan.
"Omar, kau bisa ikut aku sebentar? Aku ingin menunjukkan sesuatu!" ujar Alan yang bangkit dari duduknya lalu berjalan masuk ke dalam satu ruangan.
Omar mengangguk lalu menyusulnya.
Tak lama kemudian mereka kembali keluar dari ruangan itu. Omar kembali sibuk dengan laptopnya.
"Kalian siap?"
Ketiganya mengangguk lalu beranjak dari duduknya. Berjalan keluar dan menunggu mereka yang mulai berdatangan.
Jumlah mereka tidak sedikit, namun sebanding bila anak buah Alan dan juga Omar yang kini bergabung.
"Kau benar-benar bergerak cepat!" seorang pria tua menenteng senjatanya.
"Kau lebih licik dari kami ternyata," seorang pria yang baru saja masuk.
"Kalian sungguh tidak punya sopan santun sekali!" Jerry tergelak.
Alan yang hanya diam memperhatikan mereka dengan terus mengepulkan asap putih di udara, sementara Omar berada disampingnya dengan jemari yang sibuk di keypad laptop.
Leon merentang kan tangan.
"Selamat datang teman-teman seperjuanganku!"
"Cih ... jangan terlalu sombong! Kalian hanya bocah ingusan yang baru kemarin sore!"
"Ya, tentu saja! Karena kalian sudah tua dan bau tanah, jadi lebih baik kalian pulang, cuci kaki lalu tunggu malaikat maut menjemput kalian!"Timpal Jerry.
Alan masih diam.
Pria tua itu menodongkan senjatanya ke arah Jerry, "Kalian memang kurang ajar!"
"Cepat kembalikan apa yang telah kalian ambil dari kami."
Semua silih menodongkan senjata kecuali Alan, dan Omar.
Tak lama kemudian Alan berdiri. Membuat seluruh mata mengarah pada pergerakannya.
"Aku ingin menyelesaikan apa yang selama ini menjadi masalah di antara kita, aku akan mengembalikan semua sistem keamanan kalian dengan satu syarat,"
Kedua pria tua itu menyuruh anak buah mereka menurunkan senjatanya. " Silahkan bicara, kami mendengarkan,"
"Kita selesaikan sampai disini. Jangan ada yang mengingkari, karena aku akan terus mengawasi kalian semua."
"Itu terlalu mudah bagi kami, begitu juga dengan mu! Kau tidak usah lagi mencari-cari kami! Begitu juga kami."
Pria tua yang membawa senjata itu mengulurkan tangannya, "Deal."
Alan pun menjabat tangan itu,
"Deal." ujar Alan lalu menghentakkan tangannya, dan benar saja, salah satu dari mereka mengeluarkan tembakan ke arah mereka.
Seorang anak buah Alan berlari melindunginya, dan peluru itu menembus punggungnya.
Dor
Dor
Semua orang kocar-kacir mencari perlindungan, Alan menangkap tubuh yang tertembak itu, namun dia sudah tidak bernyawa.
"Kalian benar-benar berlaku licik. Cih!"
"Bagaimana Al? Aku menunggu perintahmu, bukankah ini hanya permulaan." Ujar Omar yang membuka laptopnya kembali.
"Apa yang kau lakukan?"tanya Leon.
"Ini pertunjukan yang sebenarnya, tidak ada kata damai, yang ada, lenyapkan mereka semua sampai ke akarnya!" Seru Alan dengan suara menggelegar.
Omar menarik tipis bibirnya lalu menekan nomor satu, dengan bergumam. "Boom!!"
"Apa yang kau lakukan?"
"Periksalah!" ujarnya.
Satu diantaranya anak buahnya terlihat mengangkat telepon dan seketika wajahnya pucat pasi, kemudian berbisik pada bosnya.
"Kurang ajar! Kalian menghancurkan tempat kami? Astaga ..." ujarnya dengan menyalang pada Alan.
"Baru satu orang, silahkan tunggu giliran! Akan aku habisi semua sekarang juga!" ujarnya dengan menatap pada Jerry.
Jerry mengangguk, lalu memerintahkan anak buahnya untuk melucuti senjata mereka satu persatu.
Alan kemudian menatap Omar, dia kembali mengangguk. Dan menekan dua nomor sekaligus.
Semua wilayah tempat mereka hancur seketika, bukan hanya tempat persembunyiannya saja, namun juga gudang senjata milik mereka.
"Ini karena kalian tetap licik! Aku sudah memberi kalian kesempatan, tapi kalian menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan."
"Maka nikmatilah hari terakhir kalian, ditempat ini."
Alan lalu keluar dari markas, disusul oleh Leon, sementara Jerry dan Omar masih berada didalam.
"Al ... aku fikir kau sudah tidak lagi mau melakukannya!"
"Aku memang tidak melakukan apa-apa! Kau lihat sendiri, aku bahkan sudah tidak lagi memegang senjata."
Leon mendecih, " Tanganmu memang tidak melakukan apa-apa, tapi kau memakai tangan orang lain untuk melakukannya."
Alan tergelak, dan masuk ke dalam mobilnya. "Kau pintar Leon," ujarnya dengan menepuk pipi Leon.
Sempat beberapa kali terdengar suara teriakan dan juga jeritan. Namun tidak ada suara tembakan, karena Omar dan juga Jerry memakai peredam suara disenjatanya.
Namun yang terjadi didalam sulit untuk di ceritakan, ada sebagian yang digiring dan dimasukkan kedalam kandang buaya, hingga mereka menjerit dan juga berteriak.
Dan sebagian lagi yang ditembak mati, tidak ada kesempatan kedua yang diberikan pada mereka, setelah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Yaitu jalan damai.
Flashback on
Omar yang menyusul Alan masuk ke satu ruangan kini mengernyit, saat Alan menperlihatkan titik titik kordinat padanya.
"Apa ini?"
"Aku tahu kau mengejakan proyek senjata nuklir, tapi aku tidak percaya, kau tidak mengetahui titik apa ini!"
"Kau sunguh pintar Al, aku menyayangkan kau yang akan berhenti dari bisnis ini."
"Aku belum bisa berhenti sepenuhnya, sebagian hidupku ada disana! Aku hanya tidak bisa sepenuhnya lagi, aku hanya akan mengawasi saja, apalagi Jerry masih tetap di sana, aku jiga tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Dia akan melindungiku, begitu juga dengan ku yang akan melindunginya walaupun dengan caraku sendiri." tukasnya.
Omar mengangguk, "Kau ingin aku melakukan apa?"
"Orangku sudah menuju ke titik-titik ini, kau hanya tinggal menghubungkannya dengan alatmu. Hanya untuk berjaga- jaga, mereka pasti akan tetap licik. Sekali licik tetap licik!" ujarnya dengan memperlihatkan sesuatu yang kecil dari kotak hitam sebesar kotak korek api.
Omar berdecak dengan kaget, "Bom mini dengan bentuk seperti petasan anak TK! Kau sudah mempersiapkan semuanya ternyata!"
"Terlalu bahaya jika anak TK sudah mengenal petasan," Kelakarnya.
Omar tergelak, "Oke aku ralat, anak SD yang ikut tawuran!"
Mereka tergelak bersama.
Alan memang sudah menyuruh Mac. Tangan kanan yang paling dia percaya, Mac serta anak buahnya yang diam-diam menyelinap disetiap markas hanya untuk menyimpan bom mini sebesar kacang polong yang dapat dikendalikan dari jarak jauh.
Hak ini memang sudah direncanakannya dengan matang untuk berjaga- jaga, namun kedatangan Omar ternyata membuat rencana yang telah disusunnya itu semakin sempurna.
Sampai saat mereka berempat sedang mengobrol, dan Alan hanya diam. Sesungguhnya Alan sedang menunggu Omar yang tengah menyambungkan alatnya.
Flashback off
Tidak lama kemudian Jerry dan Omar keluar dari markas, setelah tugas mereka selesai, suara- suara pun sudah tidak bisa lagi dia dengarkan.
"Kalian sudah selesai?"
Jerry mengangguk, begitu juga dengan Omar.
Lalu Alan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sesuatu benda yang kecil berwarna merah.
Beepp
Seketika bangunan kokoh dua lantai itu ambruk seketika, Alan menekan pengendali bom dari jarak jauh. Membuat mereka terperangah, kecuali Omar dan Alan sendiri.
"Kalian ini sama sekali tidak mengerti juga!"