Assistant Love

Assistant Love
Aku dan dia ( ARR. Group)



"Tunggu, dia benar-benar tidak mengenaliku?"


"Dia seperti memakai kaca mata kuda, hanya lihat yang didepan, gak pernah melirik kiri atau kanan, aahh... sudah dipastikan dia itu pria yang sangat setia." kelakar Dinda dengan riang bak anak kecil yang diberi permen.


"Mbak, pesanannya jadi apa enggak. Kasian yang dibelakang Mbak sudah antri." ujar penjual sandwich dengan mata mendelik.


Dinda menoleh kebelakang, "Sejak kapan antrian sudah panjang begini." lalu menyodorkan selembar uang membayar pesanannya.


"Maaf...maaf." ujarnya dengan membungkukkan tubuhnya.


Dinda kemudian berjalan kembali ke mobil, menyantap sarapannya sendirian.


"Bisa dibayangkan, ketika nanti aku dan dia keluar dari Apartemen dengan bergandengan tangan, memesan sandwich dengan rasa yang sama, memakai baju yang sama dan menenggak minum dari botol minum yang sama." Dinda terkikik membayangkannya.


Hap... suapan pertama lantas dikunyahnya dengan wajah berseri. Kepalanya tak henti bergerak dengan sejuta khayalannya. Dengan sunggingan melengkung dari bibir yang kini ikut bersenandung sesuai irama musik yang dia pasang di mobilnya.


Mengingat aroma tubuh Alan yang semalam dia hirup dipadukan dengan keringat dan tetesan air yang menetes dari lehernya.


"Duh ... gue lama-lama bisa gila!"


Menatap pantulan wajahnya di spion kaca. Merapihkan sisa saus yang masih tersisa di sudut bibirnya, menyekanya dengan tissu yang dia ambil dari tasnya.


"Ah... bibirnya! Tidak... tidak... Dinda dia tidak mengenalmu."


"Akira, bodohnya aku menyebut namaku,"


Dinda terus berkelakar, menghabiskan waktu yang menurutnya terlalu pagi itu dengan memikirkan Alan.


"Apa aku harus menemuinya dan mengatakan dengan jujur?" Dinda menggeleng.


"Tidak... itu memalukan!"


"Tapi... apa yang harus aku lakukan?"


"Berfikir Dinda, ayo berfikir..."


"Aku tahu ...." Lalu dia terkekeh, " Baiklah begitu saja ..."


Dinda terus bermonolog, hingga ketukan di kaca mobil mengejutkannya.


Tok


Tok


"Kau mau pergi tidak, berapa lama aku harus menunggu mu? Mobil ku susah keluar." Ucap seorang Pria dengan kesal.


Dengan tergesa Dinda menurunkan sedikit kaca mobilnya. "Maaf mas ..."


Dinda menyalakan mobilnya dan keluar dari pelataran parkir, "Sial ... dia merusak imajinasiku!"


Menancap gas kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menuju kantor nya dengan semangat.


Sementara pria yang mengetuk dengan kesal itu, kembali masuk kedalam mobilnya dan menutup pintu dengan keras. "Gadis gila," Lalu melajukan mobilnya.


.


.


Sementara itu Alan kembali ke unit Apartemennya, meletakkan sandwich yang baru saja dia beli diatas piring, kemudian dia naik keatas untuk mengguyur seluruh keringat sehabis olah raga pagi yang dilakukan hampir setiap pagi.


Setelah selesai dengan rutinitas kebersihan, Alan keluar menuju walk in closet lalu memakai kemeja lengkap dengan dasi dengan warna yang sepadan. Hampir semua setelan bajunya sudah disesuaikan. Perfeksionis adalah jalan hidupnya.


Setelah siap, dia kembali kebawah, menarik satu kursi lalu menyantap sandwich dengan segelas kopi. Membuka ipad lalu memeriksa pekerjaannya. Hari ini dia tidak ke kantor Adhinata, melainkan ke perusahaan milik orangtuanya.


Dreet


Dreet


Ponselnya kini berbunyi, Alan melihat layar putih menampilkan nama Farrel.


"Hem...."


"Kau tidak kekantor hari ini?"


"Tidak, aku harus mengurus sesuatu."


"Berapa lama?"


"Mungkin seminggu, jangan bilang kau kangen padaku!"


"Hahaha, kau tahu saja,"


"Aku sudah mengirim Mac untuk membantumu,"


"Huh, Pria itu lagi! Kau memang pandai mencari orang, sudah ku tutup."


"Hem...."


Alan meletakkan kembali ponselnya diatas meja, kembali menyantap sandwich hingga tandas. Lalu menyeruput secangkir kopi yang dia buat sendiri.


Lalu dia bangkit dan membawa piring serta cangkir bekas kopi menuju dapur dan meletakkannya diwastafel. Kemudian dia gulung kemejanya sedikit keatas, untuk mencucinya.


ARR. Group


Perusahaan yang dia kelola dibalik layar, menempatkan seseorang yang dipercayainya untuk mengurus perusahaan itu. Sementara dia tetap bekerja di perusahaan Adhinata.


Alan tiba di perusahaannya, berjalan menuju resepsionis,


"Saya mau bertemu dengan Leon?"


"Maaf Pak dari mana, pak sedang mengadakan rapat penting,"


"Katakan aku akan menunggunya diruangan."


"Maaf pak tidak bisa!" sergah pegawai perempuan itu.


Alan merogoh ponselnya, Lalu menghubungi Leon. Tak lama telepon resepsionis berdering.


"Baik Pak, maafkan saya." ucapnya dengan telepon yang menempel di telinganya.


"Silahkan Pak, pak leon sud--"


Sebelum perempuan itu menyelesaikan ucapannya Alan sudah terlebih dahulu melangkah. Membuat perempuan itu geram.


"Sialan, siapa orang itu, berlagak seperti bos disini. Untung tampan! Kalau tidak sudah kuludahi wajahnya." rutuknya kemudian kembali menghempaskan bokongnya dikursi.


"Kenapa?" Tanya salah satu rekannya yang baru datang.


"Tadi ada pria menyebalkan, mencari bos kita. Anehnya bos kita langung membentakku, menyuruh pria itu langsung keatas. Tak perlu ditanya-tanya lagi katanya."


"Benarkah? apa mungkin mereka sepasang ...." Rekannya yang tengah berdiri itu membulatkan matanya kearah temannya.


"Iya kali, sangat disayangkan mereka padahal memiliki wajah yang tampan ..." jawab resepsionis mengangguk.


Sementara Alan yang langsung masuk kedalam lift naik keatas, tiba didepan ruangannya dan Leon sudah menunggunya.


"Pak Alan..." sapa leon menyalaminya.


"Leon..." ucapnya datar.


Leon adalah orang kepercayaannya, yang selama ini menjalankan perusahaan.Mereka berdua masuk kedalam ruangan. Alan duduk di sofa sementara Leon masih berdiri.


"Duduklah."


Setelah itu leon duduk disofa berhadapan dengan Alan.


"Aku sudah memeriksa tempat itu semalam, dan kau benar. Sepertinya mereka memproduksi obat itu disana, tempat yang jauh dari jangkauan pihak kepolisian."


Leon mengangguk, "Ada yang kau curigai?"


"Aku menemukan seseorang, dia yang aku beri kesempatan hidup, tapi aku belum mempunyai bukti tentangnya. Dia hanya ada disana semalam."


"Aku akan menyuruh orang untuk memeriksanya lagi."


"Hem... aku mengandalkanmu leon!" Leon mengangguk.


"Bagaimana dengan perusahaan? apa sudah kau periksa orang yang memakai obat itu saat bekerja dan mengganggu yang lain?"


"Sudah, dia sudah kita kirim ke pusat rehabilitasi. Sangat disayangkan, padahal kinerjanya selama ini cukup bagus!"


"Kau awasi orang ini!" Alan meletakkan selembar Foto diatas meja.


"Baik,"


"Apa kau akan muncul sekarang? aku akan mengumpulkan seluruh karyawan,"


"Tidak usah, aku masih ingin seperti ini saja, cukup laporkan semua yang terjadi di perusahaan."


"Cx, kau ini memang aneh!"


Alan berdesis, "Sudah lah, kau kembali saja rapat sana! Aku ingin bersembunyi sebentar diruangan ini,"


"Kau tidak berubah Lan! Dari dulu selalu saja ingin menyendiri begini, cepatlah menikah. Agar kau tidak kesepian." cibir Leon.


"Sialan, kau semakin berani padaku!"


Leon tertawa, "Kau terlalu serius menjalani hidupmu, hingga kerutan didahinya tampak jelas begitu," Alan menyentuh dahinya.


"Bajingan, pergilah dari hadapanku!" ujar Alan dengan ketus.


Leon terbahak, "Baiklah, hubungi aku segera jika kau butuh sesuatu."


Selepas Leon keluar, Alan menghela nafas, menyandarkan. tubuhnya disofa dan melihat langit-langit ruangan.


Bersambung.


.


.


Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih untuk yang sudah mampir.