
Burung silih berkicau menyambut pagi, saat kelamnya malam bertukar tempat dengan sinar mentari. Bulu lentik nan halus yang berkumpul dimanik coklat itu mengerjap, menerjang silaunya pagi.
Ketika sang empunya raga menggeliat didalam hangatnya selimut. Secepat kilat kelopak indahnya itu terbelalak, mencoba mengedarkan bola matanya keseluruh penjuru ruangan.
"Aku belum sampe surga kan?" ujarnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Dinda terperanjak, mencoba mengumpulkan nyawa yang belum genap berkumpul, dan sesekali masih menguap.
Ya...aku pasti akan membunuhmu, jadi menurutlah padaku.
Ucapan yang lebih terdengar sebagai ultimatum itu terngiang di telinganya. Dinda menggerak-gerakan kepala nya ke kiri dan ke kanan berulang kali, mencoba mengusir bayangan itu dari benaknya.
Lalu kaki jenjangnya menapaki lantai, memastikan dirinya masih berpijak atau tidak.
"Hah... aku belum mati!" ucapnya saat kaki menyentuh dinginnya lantai keramik dikamarnya.
Bodoh, kenapa juga aku berfikir aku mati, jelas-jelas melihat diriku masih ada kok. Ucap nya sambil menatap pantulan dirinya didalam cermin.
Dinda meraih handle pintu dan membukanya sedikit, menyembulkan setengah kepalanya guna melihat situasi diluar. Hanya denting jam yang terdengar. Sepi, sunyi.
Perlahan dia keluar dan berjalan dengan mengendap-ngendap, namun tidak menemukan orang lain selain dirinya sendiri.
Dinda menghembuskan nafasnya pelan, "Syukur lah dia sudah pergi."
Dinda berjalan keruangan tengah, semua bahkan telah rapi kembali, jaket yang tergantung juga sudah tidak ada. Tau diri juga ternyata. Namun pandangan Dinda berhenti tepat pada sekantong besar berwarna putih diatas sofa.
Dinda mengernyit, lalu berjalan mendekatinya.
"Apa ini?"
Dinda mencondongkan tubuhnya untuk melihat isi kantong itu. "Astaga apa ini?"
Dia membuka kantong itu lebar-lebar, terperangah melihat isinya. "Bahan-bahan masakan, mie instant, susu astaga!"
Dia fikir aku mau tamasya.
Dinda menemukan note kecil di dalam kantong besar itu. "Apa nih? Iih...aneh banget."
Note yang hanya berisi digit angka, yang jelas bukan nomor ponsel apalagi nomor rekening. Sejenis teka- teki yang harus Dinda pecahkan. Ah maaf Dinda tidak ada waktu bermain tebak-tebak an. Lebih tepatnya otak minimalis nya jelas malas berfikir hal-hal yang akan menguras energi.
Lalu apa? Entahlah....
Tidak ada kejelasan selain hanya nomor itu saja. Dinda mengerdikkan bahunya tanda menyerah sebelum berperang. Note itu sempat dia bolak-balik namun tidak menemukan tulisan apapun lagi. Lalu dia melemparkan note kecil itu ke tempat sampah setelah sebelumnya dia remas terlebih dahulu.
"Mungkin semacam kode barang, atau entahlah. Apapun itu aku tak peduli." ujarnya lalu membuka kotak susu rasa vanila dan menyeruputnya.
Namun tiba-tiba saja dia tersedak, apa dia berlaku baik sebelum akhirnya membunuhku.
Bodoh
Ceroboh
Dinda bergidik sendiri, lalu dia beranjak berdiri setelah menghabiskan sekotak susu rasa vanilla tersebut dan membuang kotak bekas itu kedalam tempat sampah. Lalu kembali masuk kedalam kamar dan bersiap-siap pergi bekerja. Melangkah kedalam kamar mandi untuk melakukan ritual bersih-bersihnya.
Setelah selesai ritual, dia keluar dengan handuk yang menggulung menutupi rambutnya dan bertumpuk diatas kepala, lalu membuka lemari baju dan mencari pakaian yang cocok untuk dipakai nya.
Dia mematut dirinya sendiri didepan cermin, bergerak ke kiri, lalu ke kanan kemudian berputar. "Cocok...." gumamnya.
Rambut coklat yang telah selesai dia hairdryer kini dia ikat kuncir kuda kebelakang, tak lupa riasan minimalis di wajahnya dan dengan sentuhan akhir dari lipstik kesukaannya yang dia oles tipis di bibirnya yang mungil.
"Cantik...." ucapnya pada pantulan cermin.
Dengan semangat baru, Dinda melangkah kan kakinya keluar kamar, bibirnya tak berhenti bersenandung riang mengiringi burung yang tengah berkicau, kehadiran Alan semalam di Apartementnya membuat semangatnya kian menggelora, menjadi mood booster untuknya, sekaligus menciut dalam waktu yang bersamaan, karena ucapan Alan yang menukik tajam, serta menghunus dalam sampai ke rongga hatinya.
"Kita belum saling mengenal," rungutnya, " Dia yang tidak mengenaliku, hanya aku saja yang mengenalnya." Ucap nya lagi.
Setelah selesai bersiap-siap dia keluar dari kamar dengan senandung kecil yang tak berhenti keluar dari mulutnya, berusaha melupakan ucapan Alan yang akan membunuhnya jika tidak menurutinya.
"Baiklah itu sangat mudah, aku tidak akan memberitahukan siapapun tentang ke arogan-annya, aku akan menutup rapat mulut ku bahkan aku akan menguburnya dalam-dalam sampai aku mati."
"Seperti seorang istri yang akan menutup aib suami nya...." Dinda terkikik sendiri setelah mengucapkan nya seraya memakai high hill
Tak lama kemudian dia keluar, dengan senyum merekah, dan langkah yang percaya diri, melupakan betapa takutnya dia semalam.
Dinda melirik jam tangannya, "Aku pasti bisa mengalahkan si Shaun jika berangkat jam segini."
Bak seorang ilmuwan yang menemukan temuannya, Dinda berbalik arah, membeli kopi kemasan siap minum dan berjalan melewati pelataran parkir, melewati taman kecil dan juga area olah raga dikawasan sekitar fasilitas dari Apartemennya.
.
.
Sementara Alan yang baru saja selesai berolah raga pagi masuk kedalam Apartemennya. Menenteng paper bag berisi sand wich doble cheese yang jadi menu sarapannya setiap pagi.
"Ppsssttt...."
Alan menoleh saat seseorang terdengar mendesis di telinganya.
"Pagi...."
Alan tersentak dengan suara desisan nya ternyata juga mengagetkannya,
"Sedang apa kau disini....?"
"Aku hanya ingin menyapamu...." ucap nya dengan bibir tipis yang melengkung hingga ke ujung.
Alan memutar kedua bola mata dengan malas lalu kembali berjalan masuk melewati lobby apartement nya.
"Ini untukmu...." Dinda menyerahkan botol minuman yang baru saja dia beli.
"Bodoh!? kau tidak ingat peringatanku?"
"Hei...aku hanya ingin menyapa sebelum pergi bekerja," serunya dengan menyelipkan botol minuman itu ditangan Alan, hingga hampir terjatuh dan terpaksa Alan menggenggamnya.
"Dan terima kasih, aku sudah melihat belanjaan yang kau berikan." Teriaknya kemudian.
"Sangat bodoh!?"
Alan masuk kedalam lift yang saat itu terbuka, mengabaikan teriakan Dinda yang mengganggu pendengarannya. Sementara Dinda masih mematung menatap nya, hingga lift itu tertutup dan Alan menghilang dari pandangan.
Setelah dia kembali berjalan dengan riang bak seorang anak yang diajak pergi bertamasya. Dia kembali melewati 2 blok dimana apartemennya berada, masuk ke area pelataran parkir dan membawa mobil nya.
"Kenapa aku ini bodoh sekali? Harusnya tadi aku bawa mobil, jadi bisa langsung pergi setelah mengucapkan terima kasih."
Bodoh
Ceroboh
"Hmm...My Sweety ice benar!" kikiknya kemudian.
Sementara Alan berjalan menuju platnya, dengan sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Tak peduli kehadiran Dinda yang tiba-tiba namun juga membuat sudut bibirnya terangkat.
"Gadis bodoh." gumamnya sesaat sebelum menghilang dibalik pintu plat nya.
Berjalan kearah dapur dan menyimpan barang bawaannya.