Assistant Love

Assistant Love
Pergi ke WO 2



"Tidak apa-apa bunda!"


"Sabar yaa sayang!"


Dinda mengangguk kecil, dan melirik sekilas ke arah belakang, dimana Alan masih sibuk dengan ponselnya, walau pun dia melirik ke arah Dinda tanpa gadis itu menyadarinya.


Tema sudah dipilih, Dinda memilih tema out dor ditepi pantai, dan mulai menggeser ke katalog dress wedding yang akan di pakainya nanti.


"Bunda apa tidak apa-apa semua aku yang memilihnya, sementara Al hanya mengikuti saja!"


"Pilih yang paling kau inginkan, dan kamu happy memilihnya, Al akan bahagia hanya dengan melihatmu bahagia sayang, percaya sama Bunda ya."


"Terima kasih Bunda, bunda baik sekali!" ujar Dinda dengan memeluk calon ibu mertuanya.


"Sama-sama sayang! Bunda memang baik, seluruh dunia tahu itu!" jawabnya terkekeh.


"Eemmm ... cuantik, Mommy Ayu yang cuantik jelita membahana memang terlove pokoknya, kamu tidak akan menyesal menjadi menantu Mommy, aku juga mau menjadi menantunya, hanya saja dia punya 2 anak laki-laki, coba kalau anaknya tiga khan eumm! Kalau sama Arya sih, aku sudah pernah merasakannya." ujar Marco dengan kedua mata yang mengerling.


"Jijik deh Co, udah mana dress keluaran terbarunya. Malah terus gosip!"


"Sabar Mommy, kita ngopi- ngopi cantik dulu, sambil menunggu si Stev membawa dress kemari."


"Stev cepetan dong iihhh ... lambreta deh yey!" serunya pada asistennya yang sedang mengambil sample wedding drees.


"Sabar kenapa sih Co, teriak-teriak sudah kayak di hutan!" ujar sesosok perempuan seusia Dinda yang dipanggil Stev.


"Kalian tertukar jiwa sepertinya? Iya kan Co, dia tampan sekali!" ujar Ayu yang melihat Penampilan Stev yang tomboi.


"Ih ... Mommy! Sarkas dech! Udah sana Stev, nanti akyu panggil lagi kalau butuh iyey!"


Perempun yang dipanggil itu mendengus kasar dan berlalu begitu saja.


"Nih ... New catalog by Marco, baru saja selesai? Kalau ada yang kurang, Marco tambahin nanti! Gimana cuco meong kan?"


Ayu mengangguk-anggukan kepalanya, Begitu juga Dinda yang terpesona dengan keindahan gaun berwarna putih dengan bahu yang terekspose.


"Kamu suka sayang? Atau mau lihat yang lain?"


"Aku suka Bun! Ini cantik sekali!" jawab Dinda dengan tangan yang mengelus bahan Dress yang terbuat dari kain premium.


"Terima kasih sayang!"


"Bukan kau yang di bilang cantik Co tapi gaunnya!" timpal Ayu.


Marco mendengus, namun sedetik kemudian kembali tertawa.


"Dasar gila!" sungut Ayu.


Dinda menoleh pada Alan, berharap dia memberikan komentarnya, namun lagi-lagi dia harus kecewa, pasal nya Alan hanya mengangguk dengan jari dan telunjuk yang membentuk huruf O.


Dinda kembali menghela nafas, Sabar ... sabar, ingat yang dikatakan bunda, Al akan bahagia jika aku bahagia. Tapi aku serasa menginginkan pernikahan ini seorang diri, sementara dia seolah tidak menginginkannya.


"Hayo, calon pengantin jangan terus melamun, tidak baik!" ujar Ayu dengan menepuk bahunya.


Membuat buyar lamunan nya, dia pun hanya tersenyum kecil.


"Ayo coba gaunnya! Kamu pasti cocok memakainya." Tambah Ayu lagi.


"Emmmpp ... biarkan pria ketus itu terpana melihatmu, dan air liur nya menetes, dengan kedua bola mata yang keluar!" timpal Marco dengan tertawa.


Dinda tergelak, begitu pun dengan Ayu, namun sedetik kemudian Ayu memukul bahunya, "Dia anakku ... sembarangan bicara!"


Dinda mencoba gaunnya di fitting room, dengan dibantu oleh pegawai perempuan, dan memperbaiki kekurangan pada dressnya.


Tak lama kemudian dia keluar dari fiiting room, pegawai wanita membantu memegangi dress bagian belakang yang menjuntai.


"Al...." panggil Ayu padanya, membuat Alan menoleh ke arah suara di mana Dinda sudah berdiri diapit oleh sang bunda.


"Bagaimana menurutmu?"


Alan menatap wanita nya tanpa berkedip, membuat Dinda tersipu karena tatapan dari Alan disertai bibir yang menyunggingkan senyuman.


"Cantik!" gumam Alan.


"Kan eyke bilang apa? Matanya melotot dan air liur menetes! Sudah bungkus Cyin, jangan dilihatin terus begitu!" seru Marco membuat semua tergelak, sementara Alan membuang wajahnya dengan kikuk.


"Benarkan apa kata bunda, dia akan senang melihatmu bahagia, dia memang begitu, walaupun tidak banyak bicara, tapi dia akan melakukan yang terbaik untuk orang-orang terkasihnya, apalagi wanita yang dia cintai." ungkap Ayu, membuat Dinda tersipu malu, sementara Alan diam-diam melirik calon istrinya.


Setelah beberapa lama mereka berada disana, mencoba dress dan perlengkapan lainnya, kini giliran Alan yang mencoba suit yang akan dia kenakan nanti, Alan sempat menolak dengan alasan sedang melakukan pekerjaan yang sangat penting dari ponselnya.


Sementara Dinda masih berada di fitting room, ada sesuatu yang harus di benahi agar semakin sempurna.


"Ayo sayang hensom, dicoba suit nya! Ini pasti akan sangat cocok untukmu!" bujuk Marco.


"Carikan sesuai ukuranku saja, sudah pasti itu yang cocok!"


"Ayo dong hensom, kita harus memadukannya dengan dress si cantikk, hanya sebentar kok!"


"Nanti saja, aku harus mengurus sesuatu dulu!"


Namun lagi-lagi Ayu harus turun tangan, dia membulatkan kedua matanya dan memarahi Alan.


Drettt


Ayu merebut ponsel dari tangannya, dan mematikan daya ponselnya. "Bunda terpaksa melakukan hal ini!"


"Bunda astaga! Pekerjaanku!"


"Tidak ada pekerjaan-pekerjaan hari ini! Cepat sana coba pakaiannya, setelah selesai Bunda berikan lagi ponselnya." titahnya.


Tidak ada penolakan lagi dari Alan, dia mengikuti langkah Marco, namun saat beeads di fitting room, dia mengusir Marco keluar.


"Aku bisa sendiri!"


"Biarkan aku membantumu hensom!"


"Nanti saja, diluar! Cepat sana keluar!"


"Tidak, Marco tidak akan macam-macam kok!"


"Pergi atau aku hancurkan kepalamu!" sentaknya dan berhasil membuat Marco keluar dari sana.


"Merepotkan saja!"


Tak lama kemudian Alan keluar dengan setelan suit yang sangat cocok untuknya, berwarna senada dengan gaun yang dipakai oleh Dinda.


Begitupun dengan Dinda yang keluar dari ruangan sebelahnya. Membuat mereka beradu pandang dan saling tersipu.


"Kamu tampan sekali sayang!"


"Terima kasih!" jawabnya datar.


Dinda membenarkan dasi kupu-kupu yang dikenakannya, membuat jantung Alan berdetak kencang.


Kedua netra sipit miliknya menatap lekat wanita didepannya yang tengah tersenyum, kedua pipi merona hanya karena tatapan dari mahluk bumi paling dingin itu.


"Wajahmu merah! Kau kepanasan! Cepat ganti saja, merepotkan! Kenapa harus memakai semua ini, kita hanya akan menunggu kata sah saja, tidak perlu ribet seperti ini!" ucap Alan mengajak Dinda masuk kembali untuk berganti pakaian.


"Tidak ... bukan dress ini yang membuatku kepanasan!"


Alan mengernyit, "Lantas kenapa wajahmu? Jangan bilang kau sedang berfikir mesum nona!"


"Ih ... kau ini! Sudah lah, kau membuatku kesal," ujarnya kembali masuk."


Namun Alan memegangi dressnya dsn membuat tubuh Dinda terhuyung kebelakang, secepat kilat Alan menangkap tubuhnya. Alan memegangi pinggang dengan Dinda yang menghadap kebelakang, hembusan nafas dari Alan kembali menerpa tengkuknya, membuat bulu-bulu halusnya meremang.


"Kau selalu saja ceroboh, bagaimana jika aku tidak menangkapmu!" gumam Alan di sela telinganya.


"Maka akan ada tangan lain yang menangkapku!" Jawab Dinda dengan asal.


Alan mendorong Dinda hingga terhimpit tubuhnya di dinding fitting room.


"Kau berani melakukan hal itu? Hem...."


Dinda terkekeh, dengan sengaja melingkarkan tangannya di leher Alan, "Kan kamunya tidak ada! Kenapa marah."


"Alasan!" Alan mendengus kasar.


"Lalu aku harus terjatuh dan tidak menerima bantuan tangan lain? Begitu ... kan kita juga tidak tahu, tangan itu tangan pria atau wanita! Kau ini serius sekali!" ucapnya masih terkekeh.


Namun Alan tidak langsung menjawab, dia menatap wajah kekasihnya itu dengan lekat, dan kembali menarik tubuhnya hingga jarak mereka semakin dekat.


"Aku tidak akan membiarkanmu jatuh!"