Assistant Love

Assistant Love
Memanfaatkan situasi 2



"Terima kasih Leon, kamu memang terbaik." Ujar Dinda sengaja penuh penekanan.


Leon mengetahui hal-hal remeh begini? Aku tidak peduli sama sekali. batin Alan.


Leon mengangguk, lalu kembali menyuap makanannya. "Makan yang banyak, kau terlihat kurus dari pada terakhir aku melihatmu,"


"Kau ini bagaimana, bukankah terakhir bertemu itu dua hari yang lalu? Dan dalam 2 hari mana mungkin aku menjadi kurus. Atau matamu bermasalah, seperti pak Alan yang tidak pernah melihat ku dikantor. Iyakan pak?"


Uhuk


Alan tersedak, ucapan Dinda bak sembilu yang menyayat hati, ingin mengelak tapi dia takut Dinda semakin menjadi menyerangnya, ingin mengiyakan tapi gengsi dong.


"Dinda, jangan bercanda mulu, atasan kamu ini terlalu kaku untuk diajak bercanda." Bisik Leon ditelinganya.


Bak pintu kesempatan pembalasan terbuka lebar, Dinda menjumput hidung Leon dengan gemas, "Makasih Leon, kamu mengingatkan aku. Aku kan tadi lupa, kalau Pak Alan ini bos ku dikantor!"


"Makasih yaa...." menepuk-nepuk pipi Leon.


Alan menenggak gelas berisi air putih hingga tandas,


namun ekor matanya mengarah pada tangan Dinda yang tengah menyentuh wajah Leon. Keterlaluan apa dia sengaja melakukannya didepanku?


"Tidak masalah, kita sedang berada di luar kantor, dan tidak perlu terlalu formal, kita mulai dengan berteman mungkin."


"Benar sekali!" Leon mengjentikkan jari tengah dan ibu jari hingga berbunyi klik.


Dasar manekin, pintar sekali berpura-pura.


"Bagaimana nona Akira, apa kau tidak keberatan jika kita berteman."


Aku ingin lihat sampai mana kau menyerangku, kau bertindak terlalu jauh Akira. Padahal aku sudah minta maaf.


Dinda tidak menjawab pertanyaan Alan, dia hanya menatap jengah ke arah nya.


Leon berdecak, "Kau ini bagaimana? Tadi kau yang bilang jangan terlalu formal, tapi kau menanyakan hal tidak penting begitu."


"Mungkin bukan aku yang keberatan, tapi Pak Alan yang keberatan, aku ini hanya karyawan biasa, sedangkan pak Alan adalah seorang BOSS." Ujar Dinda yang berkata sedikit meledeknya.


Dengan tatapan menyorot pada Alan yang dibalas dengan tajam oleh lawannya, seolah tatapan matapun ikut bicara.


Kau benar-benar memancingku Akira, Bodoh!


Itu yang aku mau! Kau akan melakukan apa setelah ini dasar manekin.


Leon tergelak, "Kau juga terlalu berlebihan, kenapa kalian terlihat kaku begitu! Al...kita diluar pekerjaan, kau boleh sedikit melonggarkan ikatan dasi mu?"


Membuat Alan garuk kepala, Bodoh!


Dan juga melirik Dinda yang ikut terkekeh dengan keterpaksaan. Lalu kembali menyuapkan Asparagus kedalam mulutnya.


"Aku permisi ke toilet dulu!"Ucap Leon dengan langsung bangkit dan berlalu dari sana.


Sial, Leon kenapa harus ke toilet segala sih. menyebalkan meninggalkan aku hanya berdua saja.


Bagus, pergilah yang lama. Batin Alan.


"Apa kau tidak bisa bersikap biasa saja di depan Leon?" gumam Alan.


Dinda menaikkan sebelah alisnya, "Maaf....! Anda bicara dengan ku?"


"Bodoh...." gumamnya lagi.


Hening,


Alan menyuap dengan sesekali melirik Dinda yang hanya diam saja, entah dia harus senang atau tidak saat melihat Dinda hari ini, apalagi dia bersama sahabatnya Leon.


"Jangan terlalu banyak makan asparagus! Kau kan sedang bekerja." Ujar Alan tanpa melihat kearah Dinda, seperti biasa.


Dinda mendesis, "Apa peduli mu?"


Alan melepaskan sendok yang dia pegang hingga sendok itu berdenting beradu dengan piring.


"Dasar keras kepala!" gumam Alan.


Dinda mendengus, "Apa kau bilang!? Aku keras kepala? Lucu sekali.... "


Alan memajukan wajahnya, membuat Dinda kalang kabut, dia mengerjapkan kedua manik coklatnya,


"Memakan asparagus terlalu banyak itu membuat banyak gas didalam perutmu, hingga nafasmu menjadi bau! Kau paham Dinda...."


Deg


Deg


Irama jantung tetap tidak terkontrol, astaga Dinda jangan bodoh lagi! Kau sudah tidak peduli dengannya.


Dinda membekap mulutnya menggunakan tangan, wajah Alan terlalu dekat hingga mereka hanya berjarak sedikit saja. Hembusan nafas dari hidung Alan pun berhembus mengenai wajahnya, aroma parfum tubuh mengganggu fikirannya.


Dengan cepat Dinda memalingkan wajahnya, Tidak bisa, tidak boleh lemah.


"Kenapa kau peduli dengan gas di perutku? Tidak penting...."


Alan mengepalkan tangannya dibawah meja, "Kau bekerja diperusahaanku, jika terjadi sesuatu yang salah saat kau bicara dengan orang lain. Kau akan merugikan diri sendiri, dan perusahaanku tentunya!"


Deg


Dinda tersenyum kecut, "Kau mengancam memakai kekuasanmu, itu tidak baik pak Alan,"


"Lalu apa yang terbaik menurutmu? Aa--aku sudah minta maaf padamu, apa itu tidak cukup? Dinda...." Ujar Alan.


Dih apa yang dia bicarakan? Tadi perusahaan, tapi kenapa ke arah situ.


Alan menatap tajam ke arahnya, "Jadi aku harus bagaimana?"


Namun belum sempat terjawab, Leon kembali duduk.


"Maaf aku terlalu lama ya, toilet mendadak penuh,"


"Aku tidak masalah Le, nona Akira yang menunggumu resah! Benarkan Akira?"


Sialan, mau mu apa?


"Benarkah, seberapa resah kau menunggu ku?" ujar Leon padanya.


"Hahaha ... Itu karena...."


Dinda berfikir, dia sedang bermain -main denganmu.


"Itu ka--karena pak Alan terlalu kaku saja."


"Pppfftt... Kau akan terbiasa Din, dia memang begitu!"


Dinda mengangguk,


"Kalian sudah selesai?" Ujar Alan menyela, saat melihat Leon dan Dinda saling menatap,


Kenapa saat aku kembali mereka terlihat tegang sekali. batin Leon.


"Ya aku sudah."


"Hm...Aku sudah."


"Baiklah, jam makan siang sudah habis, Leon aku pergi, kau harus ke kantor lagi bukan?" ujar Alan yang bangkit dari duduknya.


"Tentu Al ... Aku akan kembali ke kantor setelah mengantarkan Dinda,"


"Kau langsung ke kantor saja, Biar Nona Akira kembali bersamaku, kau tidak keberatan Nona?" ujar Alan menoleh pada Dinda.


Namun Dinda malah menatap Leon, berharap Leon kali ini menyelamatkannya dengan mengantarkan tidak.


"Kau benar Al, dengan begitu kau tahu ada karyawan secantik Dinda di kantormu," kata Leon dengan menaik turunkan kedua alisnya ke arah Alan.


Iihhh... sialan, Leon kenapa kau tidak mendukungku kali ini, aku kan ingin melihat reaksi dia, jika aku pergi dengan mu! Batin Dinda.


"Baiklah sudah clear semua, mari Nona Akira," ujar Alan mempersilakan Dinda.


Dinda menyenggol lengan Leon, "Kenapa kau seenaknya bicara, aku kan masih canggung dengannya. Kau tidak lihat dia kaku begitu!"


"Tenang saja, dia pria baik. Aku percaya!" Leon mengacak pucuk kepala Dinda.


Sementara Alan memperhatikan tangan Leon yang berada di pucuk kepala Dinda dari dekat. Keterlaluan bodoh


"Mari Akira!" ujar Alan dengan intonasi sedikit naik.


"Pergilah, nanti aku hubungi lagi!"


"Bye Leon...."


Dinda takut-takut mengekor padanya, dia mengikuti dari belakang meskipun Alan sengaja melambatkan langkahnya, namun dia tetap berjalan dibelakang. Hingga Alan berhenti dan dia menabrak punggungnya.


"Aaawwss... Kau sengaja melakukan nya bukan?"


Alan menoleh, " Tidak sama sekali," ujarnya dengan membuka pintu mobil.


Sialan aku fikir masih jauh, ternyata dia memarkirkan mobilnya di sini.


*K*enapa kau semakin menyebalkan,


Dinda berjalan berputar menuju pintu mobil, dan membuka pintu belakang, lalu masuk kedalamnya. Sementara Alan menyorotinya dari spion.


"Kau fikir aku supirmu?"


"Terserah, tapi aku tidak mau duduk disampingmu! Aku mau disini saja."


"Kau yakin Dinda,"


"Sangat yakin, aku tidak mau berada disampingmu!"


Dengan kecepatan tinggi Alan melajukan mobilnya, dengan sengaja membuat Dinda takut,


"Kau sengaja melakukan ini padaku?"


"Iya seperti kau yang sengaja memanfaatkan situasi didalam tadi!"


Sial kenapa dia.


"Kau benar-benar membuatku marah Dinda! Aku sudah minta maaf padamu!"


"Itu sudah 2 bulan yang lalu, kau meminta maaf 2 bulan yang lalu padaku."


"Harusnya kau memaafkanku, tinggal memaafkan saja malah rumit!" Ujar Alan dengan masih melajukan mobil nya dengan cepat.


Dinda memejamkan matanya heran, "Rumit... Kau bilang rumit? Kau memang benar-benar...."


Alan menginjak pedal rem nya sekaligus, membuat Dinda tersungkur membentur kursi depan. "Kau memang tidak punya perasaan."


Alan menoleh ke belakang,


"Apa yang harus aku lakukan?"