Assistant Love

Assistant Love
ide mengerjai 2



"Mal ... mal kau suapi aku cepat!"


Kemal yang tengah menyantap makan siangnya itu mendongkak, "Mal? Astaga ..."


"Panggil namaku dengan benar Nona!"


Dinda berdecih, "Memangnya kamu mau aku panggil Kem ... Kem, kan gak lucu!"


"Ya, terserah kau saja, aku ikut! Konyol sekali orang indonesia ini."


"Ya sudah ayo cepat, suapi aku!"


Kemal pun menyendok makanannya, lalu bersiap untuk memasukkan nya ke dalam mulut Dinda.


Hap


Dinda mengunyahnya dengan sepenuh hati, tapi terkesan dipaksakan, dan Kemal terkekeh, pasalnya dia dengan sengaja mengambil potongan lengkuas untuk gadis yang semakin hari semakin menyenangkan baginya.


"Sorry ...." ucap Kemal tanpa suara, yang terlihat hanya bibirnya saja yang bergerak.


Dinda ingin sekali menyemburkan makanan yang ada di mulutnya itu, namun Mac masih menatap dari tempatnya. Dan dengan terpaksa Dinda menelan potongan lengkuas itu.


"Kau benar-benar gila! Yang kau telan itu potongan lengkuas, bukan potongan daging."


Dinda tersungut, mengambil minumannya, "Terlambat, dia sudah sampai di kerongkongan ku!" ujar nya kesal.


Kita lihat, dia akan laporan pada Alan, dan manusia kaku itu akan kebakaran jenggot.


Kemal pun tergelak, "Ku fikir kau terlalu memaksakan diri."


"Aku tahu, tapi ini menyenangkan...."


"Aku tidak mau ikut-ikutan ya, bagaimana kalau dia kemari dan membunuhku ... my Godness! Aku belum menikah," ujar nya dengan bangkit dari duduknya. "Aku harus ke toilet terlebih dahulu." ucapnya lagi.


Dinda hanya mendengus, dan kembali menyeruput coklat panasnya.


Tak lama kemudian Mac menghampirinya, dia duduk di kursi yang ditempati Kemal sebelumnya, "Dengar Nona, jika aku jadi kau, aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Terlepas kau sengaja atau tidak melakukan hal itu."


"Satu lagi, aku akan pura-pura tidak melihatnya, demi keselamatan mu sendiri dan juga dokter itu, karena aku tidak bisa menjaminnya sendiri. aku tunggu di luar. Permisi!" ungkapnya lagi.


Mac keluar dari kafe dan menghubungi Farrel, melaporkan apa yang dia dengar dan juga doa lihat.


'Jangan katakan apapun pada Alan, gadis bodoh itu tengah menguji mu Mac, cari tahu apa mereka berhubungan atau tidak.' Farrel


'Baik!!'


'Sepertinya dia memang sengaja melakukan hal itu, dia tahu kalau kau pasti akan melaporkan semua hal pada Alan,'


'Sepertinya memang begitu!'


Setelah memutuskan sambungan telepon, Mac kembali memperhatikan Dinda dan juga Kemal, terlihat wajah gadis berrambut coklat itu lebih murung setelah Mac bicara tadi. Wajahnya juga di tekuk sedemikian rupa.


Membuat Mac menyunggingkan bibirnya segaris. "Dia memang bodoh! Untuk apa melakukan hal seperti itu, hanya akan mempersulit dirinya sendiri." gumam Mac di balik kaca.


Setelah selesai makan, mereka kembali ke rumah sakit, masih dengan gelak tawa dari lelucon yang di ceritakan oleh Kemal, namun Dinda terlihat tidak menikmatinya, begitu pun dengan Mac yang masih setia berjalan dengan jarak 1 meter dibelakangnya.


"Aku harus kembali ke ruangan dokter, terima kasih sudah menemani ku makan siang, lain kali aku yang akan menemani mu makan siang!" katanya dengan tertawa.


"Sama aja artinya, dasar bule nyasar."


"Mereka pun akhinya berpisah dipertigaan lorong, Dinda masuk ke ruangan ibunya dirawat, sementara Kemal pergi ke ruang dokter.


"Bagaimana Mami?"


Pramudya tersenyum ke arahnya, "Jauh lebih baik, baru saja profesor memeriksanya kemari."


Dinda berjalan mendekati ranjang ibunya. yang tengah terlelap, "Syukurlah, berarti tinggal menunggu masa pemulihan."


"Nak, karena kondisi Mami mu sudah membaik, alangkah baik nya kamu pulang saja dan selesaikan masalahmu dengan nya, jangan membiarkannya berlarut-larut, tidak baik!"


ucap Pramudya.


"Tapi Ayah...!" ujarnya dengan menatap sang ibu.


"Mami mu pasti juga akan bilang hal yang sama, kamu tidak usah khawatirkan Mami, ada Ayah kan!"


"Baiklah, tapi aku harus memikirkan nya terlebih dahulu."