Assistant Love

Assistant Love
Kunjungan tidak terduga



"Hubungi aku jika kau sudah memutuskan!"


Mac pun bangkit meninggalkan kedua orang yang tengah berpelukan itu, dia sudah menduga.


"Mac tunggu!" lirih Dinda menyusul Mac yang sudah berada diambang pintu.


Mac menghentikan langkahnya, melihat ke arah Dinda yang tengah menyusut air bening yang luruh membasahi wajahnya.


"Bagaimana keadaannya Mac? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya dengan suara tersedu.


"Pulanglah dan lihat sendiri!"


"Ta--tapi aku tidak bisa pulang! Ak--aku tidak bisa meninggalkan ibuku yang sebentar lagi di operasi Mac!"


"Kapan?"


Dinda menyusut wajahnya hingga kering, "Hah....?"


"Maksudku operasi ibumu?"


"Minggu depan beliau akan operasi!" jawabnya.


Mac mengangguk- mengangguk, "Baik, aku akan menunggu."


Dinda membelalakkan kedua matanya, "Kenapa harus menungguku?"


"Pulanglah Nak! Biar Ayah yang menjaga Mami-mu." ujar Pramudya yang baru saja tiba, dia mendengar apa yang diucapkan oleh Mac, dan mengerti apa maksudnya.


"Tapi Yah?"


"Pulanglah Nak, selesaikan kesalah fahaman yang terjadi di antara kalian."


Dinda menatap ayah nya, kemudian beralih pada ibunya yang berada di kursi roda belakang dirinya, sementara Mac masih menunggu jawaban.


"Maaf Mac sepertinya aku tidak bisa kembali sekarang,"


"Sayang?" lirih Pramudya.


"Aku ingin menemani Mami, Ayah! Mami lebih membutuhkan ku saat ini, pokoknya aku akan tetap disini."


"Tapi bagaimana dengan Alan? Dia juga pasti membutuhkan mu." tukas Pramudya.


Dinda terdiam, memang dia ingin sekali kembali dan meluruskan masalah dengannya, tapi hati nya terasa berat sekali meninggalkan ibunya.


Mac yang berdiri menatap keduanya dengan datar.


"Aku bisa menunggu, karena aku juga tidak bisa pulang tanpa membawamu!" ujar Mac menyela pembicaraan.


Membuat keduanya menatap ke arah Mac, ada senyum kecil yang tersinggung di bibir Dinda


Setelah kepergian Mac, Dinda terduduk diatas sofa, didepannya ada Pramudya, sementara Sisilia berada di sampingnya.


"Kau yakin ingin tetap disini sayang?"


Dinda mengangguk, "Aku yakin, toh Mac pun tidak akan berani pulang tanpa aku kan Mam, biarin saja dia menunggu! Aku hanya ingin bersama Mami."


"Brengsekk ... lihat saja! Aku akan menghancurkan kepalanya, jika dia datang kemari!" gumam Alan.


Setelah menutup telepon, petugas mengantarkan Alan kembali ke sel, dia berjalan melewati sel demi sel yang lebih penuh dibandingkan sel yang ditempatinya.


Seorang petugas lainnya menghampiri Alan, "Kenapa kau menolak fasilitas yang akan diupayakan oleh keluarga dan juga pengacaramu?"


Namun Alan tidak menjawab, dia melengos pergi begitu saja, dan menunggu petugas yang pertama tadi membuka kunci sel.


"Sudah lah, jangan membuat ulah dengannya, kau tidak lihat wajahnya tadi? Menyeramkan begitu!" ucapnya petugas itu lalu menyusul Alan dan membuka pintu untuknya.


Leon dan juga Jerry menatapnya heran, tidak ads yang berani bertanya padanya, melihat raut wajahnya saja membuat mereka menciut.


Mereka hanya saling pandang,


"Pasti dia sedang kesal."


"Sepertinya begitu...."


Alan menyandarkan punggungnya, "Aku tidak ingin terlihat lemah di depannya!" gumamnya.


Membuat Leon dan juga Jerry berangsur mendekatinya. "Kau tidak ingin terlihat lemah oleh siapa? Tidak ada yang berani seperti itu padamu! Kau tetap sang pemberani!" ujar Jerry.


Kalian tidak tahu, hanya ada satu orang yang berani padaku, bahkan aku lemah jika didepannya.


"Lupakan!! Aku tidak ingin membahasnya!" ujarnya dengan menutup mata.


Namun Jerry dan Leon masih tetap menatapnya,


"Aku tidak apa-apa! Kalian tidak usah khawatir!" tukasnya lagi, dengan mata yang masih terpejam.


Aku memang merindukannya, bahkan sangat merindukannya, ingin melihatnya, tapi aku tidak ingin dia melihatku di dalam sini, aku tahu Mac pergi ke sana atas persetujuan seseorang, entah itu ayah ataupun Farrel.... Bocah itu! Pasti dia....


Seorang petugas datang kembali membuka kunci sel dimana mereka tempati,


"Saudara Leon, ada kunjungan untuk mu!"


Leon teeheenyak, "Siapa yang mengunjungiku, aku bahkan tidak punya keluarga."


"Mungkin kekasihmu dan juga anaknya."


Leon menoleh pada Jerry, "Tasya ... baby Zi? Mereka belum tahu aku berada disini!"


"Sudah sana temui, agar kau tahu sendiri!"


Leon pun keluar, mengikuti petugas itu keluar dari sel dan menuju ruangan khusus kunjungan, selama ini tidak pernah ada kunjungan khusus untuknya, selain keluarga Alan saja.


"Silahkan ... pergunakan waktu kalian sebaik mungkin, aku akan kembali setelah waktu kunjungan habis."


"Terima kasih!" ujarnya.


Leon pun keluar, dan terhenyak kaget melihatnya.


"Apakabar Leonard?"