
Seluruh tamu undangan bertepuk riuh saat kedua pengantin memasuki ballroom hotel, keluarga, rekan kerja, sahabat, juga relasi bisnis keluarga Adhitama dan Pramudya hadir untuk memberi selamat pada dua sejoli yang sempat menunda pernikahan karena beberapa alasan.
Mereka tampak bergandengan tangan, dengan Dinda yang terlihat sumringah, mimpinya jadi kenyataan, menikahi pria kaku yang mencuri hatinya sejak pertama melihatnya, sementara Alan masih dengan wajah tanpa ekspresi khasnya, namun tautan dijemari menandakan keberatannya karena sang istri yang baru dipersuntingnya tersenyum pada semua orang
"Jaga sikapmu, kau hanya boleh senyum pada para wanita!" gumamnya saat mereka berjalan.
"Ish ... apa-apaan! Siapa suruh mengundang banyak tamu seperti ini!"
Tatapan nyalang menyorotinya, hingga Dinda terkekeh memeluk suaminya, "Iya ... kau tenang saja, walaupun ada pangeran yang datang hari ini dan tersenyum yang membuat dunia runtuh sekalipun, aku tidak akan tergoda, seluruh hatiku ini penuh dengan namamu, bahkan tidak ada ruang sekecil apapun untuk orang lain."
Alan mencoba untuk tersenyum mendengarnya, "Dasar aneh!! Kau fikir aku muat apa masuk dalam hatimu yang kecil itu, bahkan genggaman tangan ku saja belum tentu bisa masuk."
Dinda memutar bola matanya malas, "Iihh ... itu kan perumpamaan, kau ini selalu serius!"
Acara ramah tamah pun berlangsung meriah, gelak tawa terdengar dimana-mana, hanya Leon dan Jerry yang terlihat tidak bersemangat, Leon menatap Tasya yang menggendong baby Zi dari kejauhan, dia tidak bisa menghampirinya karena Fierro melarangnya, meskipun Tasya terlihat sedih, dia juga tidak bisa membantah ayahnya.
"Berusaha terus, lama-lama juga ayahnya luluh!" ucap Jerry yang melihat Leon terus menatap kekasih dan calon anaknya itu.
"Aku sedang berusaha, tapi saat ini waktu tidak tepat, aku tidak ingin mencari keributan di acara ini!" ujarnya dengan menghela nafas, "Lihatlah anakku, dia sepertinya ingin aku gendong, tangannya terus melambai-lambai ke arah ku." imbuhnya lagi.
"Semua bayi memang begitu bodoh! Bahkan patung kucing di toko-toko pun melambai-lambai."
Leon menolah kearah sahabatnya itu, "Kau ini kenapa sensitif sekali? Sudah sana cari pacar, jangan diam saja, jodoh tidak akan bertemu jika kita tidak ada usaha untuk mencarinya."
"Terserah!"
.
.
Fierro menyalami Arya, dan juga Ayu, diikuti oleh Tasya yang menggendong baby Zi.
"Ya ampun ... gantengnya baby Zi...." Ayu menvuol pipi gembil baby Zi yang sudah berceloteh dengan bahasa bayi.
"Tasya ... kau sehat nak?"
"Sehat Tante ... terima kasih!" ujarnya dengan pandangan nanar, pertanyaan yang terucap dari Ayu membuat matanya mengabur, ingin sekali dia menceritakan banyak hal pada seorang ibu yang mungkin akan selalu mengerti, namun tidak untuk ibunya sendiri, dia lebih memilih pekerjaannya sebagai desainer kondang di negara yang terkenal dengan negara fashion dunia itu.
"Fier ... bagaimana kabarmu?" tanya Arya.
"Seperti kau lihat Ar ... aku semakin tua!" ujarnya dengan tergelak, "Sudah saatnya pensiun seperti nya dan mengasuh cucu-cucu ku."
"Kau benar, kita sudah bertambah tua, mungkin sebentar lagi akan mati, dan perjuangan kita akan diteruskan oleh anak-anak menantu kita."
"Kau enak Arya, mempunyai dua anak pria yang hebat, bahkan istri- istri mereka pun tak kalah hebat, tidak seperti diriku, hanya punya 1 anak perempuan, bahkan ditinggalkan suaminya."
Deg
"Dad !!"
"Itu kenyataan sayang, Erik memang meninggalkanmu kan, dia pria brengsekk."
"Iya Dad, dia memang brengsekk, dan saat ada pria baik yang mau bertanggung jawab, Daddy juga menolaknya." seru Tasya kesal.
"Itu karena...."
Fierro tidak meneruskan ucapannya, dia baru sadar sepasang suami istri itu tengah menelisiknya. "Fierro ... kau tidak pernah berubah, selalu melakukan hal yang menurutmu baik tapi tidak untuk putrimu." ujar Ayu menimpali.
"Bunda ...." sergah Arya, dia tidak ingin istrinya terlalu ikut campur dalam masalah rumah tangga orang lain.
Fierro tergelak, "Kau benar Yu ... siapa orang tua yang menginginkan putrinya menikah dengan penjahat, bahkan mafia, tidak akan ada yang mau!"
Deg
Pernyataan Fierro sedikit menyayat hati Arya dan juga Ayu, bak air yang tenang namun mengguncang di dalam nya, Ayu tahu yang dimaksud Fierro adalah Leon, namun tidak untuk Arya,
"Memangnya kenapa jika seorang penjahat, dia sudah berubah kok! Daddy tanya saja pada Om Arya..."
"Maksudmu apa Nak?" tanya Arya masih belum mengerti, apa yang Tasya maksudkan.
Apa mereka tahu Alan seorang penjahat dan mafia, tapi berita ini sudah ditutup, bahkan tidak ada lagi berita-berita miring mengenai Alan.
"Ya ... karena Leon dan Alan saling mengenal, bahkan mereka bersahabat." sahut Tasya pada Ayahnya.
"Tunggu ... kau dekat dengan Leon?" Tasya mengangguk.
"Ya Tuhan ... jadi yang kau maksud penjahat dan mafia itu Leon?" ujarnya pada Fierro.
"Lebih baik kita bicara ditempat lain Fierro," pungkasnya lagi.
"Benar yah, yang Fierro maksud adalah Leon!"
.
.
"Jadi kau mengenal Leon Arya?" tanya Fierro pada saat masuk kedalam ruangan lain, dia sengaja mengajak Fierro agar tidak membuat tamu lain tidak nyaman.
"Sangat Fierr ... bahkan saat ini dia tinggal di rumah ku, benar yang putrimu bilang, dia sahabatnya Alan."
"Aku mengerti, jadi itu artinya___"
Arya mengangguk, "Seperti dugaan mu, Alan juga seorang penjahat, mafia seperti kau bilang! Lalu apa masalahnya? Buktinya ada seorang ayah menikahkan putrinya harinini dengan Alan. Seorang ayah yang berbesar hati menerima segala kekurangan menantunya yang seorang mafia."
"Besanku sangat hebat, aku beruntung sekali, dia tidak berpikiran picik sepertimu, bahkan tidak mempersalahkan masa lalu Alan yang kelam." ungkapnya dengan suara bergetar.
"Seorang manusia bejad pun punya kesempatan untuk memperbaiki diri bukan? Lebih baik seorang mantan mafia tapi bertanggung jawab akan masa depan dan kebahagian atas putri mu Fierr." ungkap nya lagi.
Fierro hanya diam, seolah dia tengah mencerna semua yang dikatakan Arya padanya. Dan setelah difikir-fikir, Leon memang selalu berusaha menyakinkan nya meski berkali-kali dia menolaknya, begitu pun dengan hari ini, Leon hanya terlihat memandang Tasya dari jauh hanya karena tidak ingin mencari masalah pada keluarga Adhinata.
Sekarang aku faham, kenapa mereka sangat dekat, Arya dan istrinya sangat mengerti, dan merangkul mereka.
.
.
Sementara Tasya memanfaatkan waktu untuk menemui Leon. Dia berjalan kearah pengantin, dimana Leon juga berada disana,
"Kak ...Selamat yaa! Semoga kalian selalu bahagia," ujarnya pada Alan.
"Terima kasih Tasya, aku juga berharap kau segera menyusul ku."
"Itu benar, semoga kau juga bahagia ya Tasya, iya kan Leon?"
Leon yang tengah menatap Tasya tak berkedip pun mengangguk, "Tidak lama aku pasti akan melakukannya." ujarnya dengan mengambil Baby Zi dari tangan Tasya
"Jagoan uncle...! Apa kabar sayang?"
"Hai sayang? Kau sehat?"
"Huum ... aku baik- baik saja! Maafkan sikap Daddy ku,"
Leon mengacak pucuk rambut Tasya, "Kamu tidak usah khawatir, apapun akan aku tempuh. Sekarang lebih baik kamu kembali kesana, jangan membuat masalah baru dengan daddymu! Ya kan baby Zi, uncle pastiin kita akan segera bertemu lagi. Jaga ibumu dengan baik oke jagoan!" ujarnya kemudian mengembalikan baby Zi pada Tasya.
Pertemuan singkat yang sangat berarti bagi keduanya, setelah itu Tasya kembali ke tempatnya, benar kata Leon jangan membuat masalah baru yang akan lebih mempersulit mereka berdua.
Segala suasana ada di pesta itu, kebahagian jelas yang utama bagi semuanya, terlebih bagi Alan dan juga Dinda yang menjadi ratu dan raja sehari.
"Apa acara masih lama?"
Alan mengernyit, "Memangnya kenapa? Pegal ya, lepas saja." ujarnya dengan membuka untaian pernak-pernik yang berada di atas kepalanya.
"Bukan ini!!"