Assistant Love

Assistant Love
Hanya boleh memikirkan ku saja.



Mereka saling mendekap satu sama lain, dengan tangan yang saling melingkar, dan tentu saja dengan hati yang berbunga-bunga. Melepaskan semua ego diri masing-masing.


"Apa kau tidak akan menyesal? Aku bukan pria yang bisa menunjukan perasaan dengan kata-kata yang manis!" ucap Alan setelah mereka mengurai pelukan.


"Kau ingin aku menarik kembali ucapanku tuan dingin?" ledek Dinda.


Alan merengkuh kedua bahu Dinda, dengan menatap lekat gadis ceroboh itu, "Aku hanya tidak ingin kau salah memilih pria, bukankah Leon juga menyukaimu?"


Dinda menepis tangan Alan, "Iya, dia mengatakan dia menyukaiku, tapi kita terlambat bertemu. Aku sudah lebih menyukaimu yang bodoh, jauh sebelum Leon datang!"


"Apa itu artinya jika dia yang lebih dulu datang, kau akan memilihnya?"


"Tentu saja, dia baik hati, pengertian, lucu, dan juga pinter masak, kau tahu masakannya enak sekali!" ujar Dinda dengan mata berbinar saat mengingat salmon with perasan jeruk lemon yang segar yang dibuat Leon tempo hari.


"Benarkah? Memang apa yang dia masak?"


"Ih... kenapa kita malah membahas masakan!"


Dengan ragu Alan memeluk Dinda dari belakang, dia melingkarkan tangannya pada pinggang hingga melingkar pada perut.


Dinda tergelak, "Kau benar-benar kaku! Seperti tidak pernah menyentuh perempuan saja,"


"Wanita satu-satunya yang aku sentuh hanya bunda, tidak ada yang lain, aku tid--"


"Aku tahu ...." sela Dinda dengan cepat, membuat Alan mengernyit,


"Hanya kau yang berani memotong ucapanku!" Alan terkekeh.


Flashback on


Leon keluar dari ruangan Alan dan menghampiri Dinda yang tengah duduk di meja kerja nya.


"Kita memang harus bicara, kau bisa ikut aku kan?"


Dinda mengangguk, "Aku juga ingin bicara padamu!"


"Kita pergi dari sini!" ujar Leon yang kembali melangkah.


Dinda pun menyambar tas nya dan mengikuti Leon. Mereka berjalan beriringan menuju lobby,


"Kita bicara disini saja! Aku tidak bisa lama-lama," ujar Leon yang langung menarik kursi untuk Dinda.


"Kau mau bicara apa?" ujar mereka bersamaan.


"Kau duluan," ucap Leon dengan cepat.


"A--aku mau minta maaf, karena aku harus mengaku berpacaran dengan mu padanya! Aku hanya membual untuk memberinya pelajaran!" ungkap Dinda.


"Aku sudah tahu!"


"Benarkah? Kau marah karena aku mengatakan hal itu? Maafkan aku Leon."


Leon meraih tangan Dinda, "Sudahlah tidak perlu meminta maaf."


"Terima kasih, kalau kau mau mengerti!"


"Hei, aku memang selalu mengerti, hanya saja hatimu bukan untukku, kau mencintainya bukan?"


Dinda terdiam, dia menundukkan kepalanya. Leon menatapnya dengan lekat.


"Dia memang paling tidak bisa mengutarakan perasaannya, dia terlalu kaku pada wanita. Dari dulu, dia selalu menutup hatinya pada perempuan, jauh dari yang namanya cinta, kau tahu."


"Tapi baru kali ini aku melihatnya sefrustasi itu saat melihatmu, berkali-kali dia menyanggahnya, tapi aku tahu hanya dari tatapan matanya yang tertuju padamu. Dia menyukaimu juga Dinda."


"Aku tidak tahu kalau dia juga menyukaiku, sikap nya saja begitu!"


Leon berkikik, "Dia bahkan melindungimu."


"Melindungiku?"


Leon mengangguk, "Bukankah kau pernah melihatnya tengah menembak seseorang? Aku mencarimu kemana-mana, mengerahkan orang untuk mencarimu."


"Tapi dia melindungimu, menghapus semua data-data yang berkaitan dengan mu dan mengatakan jika dia sudah melenyapkanmu," jelasnya lagi.


"Dia bahkan hampir mencekikku karena terus mencarimu kemana-mana! Padahal bisa saja dia mengatakan semuanya padaku, tapi dia tidak melakukannya hanya karena ingin melindungimu."


"Terakhir dia menyelidikiku, mencari tahu kegiatan ku yang berkaitan denganmu! Bodoh bukan? dia melakukan semua hal gila itu karena menyukaimu, dan dia benar-benar tidak menyadarinya sedikit pun." lanjutnya lagi.


Dinda hampir tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Leon, dia mengerjap-ngerjapkan manik coklat miliknya, mencoba berfikir apa ini benar atau hanya bualan Leon semata.


"Kau tidak percaya yaa?" tanya Leon.


"Bu--bukan, hanya saja aku tidak menyangka dia melakukan hal itu!"


"Satu lagi, kebodohan yang dia lakukan untukmu," ujarnya dengan jari telunjuk yang diangkatnya.


Dinda mengangguk, dia mengingat seseorang yang mencuri foto dirinya namun mengelak setelah dia menanyai nya.


"Itu temanku, yang aku suruh mengikuti mu, hanya ingin tahu apa reaksi Alan si bodoh itu,"


"Dan kau tahu apa yang dia lakukan? Dia menyusulmu menaiki mobil itu dengan diam-diam tanpa melakukan apa-apa."


"Bodoh bukan? Namun setelahnya dia menyelidiki nya juga. Aku sudah mengantisipasinya terlebih dahulu, hingga dia tidak tahu kalau aku yang ada dibalik semua itu." ujarnya dengan terkekeh.


"Kenapa kau melakukannya?"


"Dia sahabatku Din, kau juga orang yang aku sukai, aku hanya ingin membantumu namun juga membantunya. Ya walaupun aku harus berhenti berjuang!" Leon terkekeh lagi.


"Kau harus tahu, dia hanya tidak bisa mengatakannya dengan kata-kata. Namun dia mampu melakukan apapun untuk mu! Dia akan selalu melindungimu dengan caranya sendiri." pungkasnya.


"Dia kehilangan kedua orang tuanya sewaktu dia masih kecil, dan selalu beranggapan jika yang namanya cinta adalah kehilangan. Dia tidak percaya cinta, dan semua kebodohannya, tanpa menyadari dia sendiri melakukan kebodohan itu bukan?"


"So... Akira Dinda Pramudya, bagaimana menurutmu?"


"Aku yang hanya fokus ingin membuatnya menyesal, dan ingin dia mengejarku!"


"Dia tidak akan melakukan hal itu, asal kau tahu! Terlebih dia juga tahu aku menyukaimu, mungkin dia malah membiarkanku mengejarmu."


"Kenapa?"


"Dia akan selalu berkorban, untuk keluarga dan sahabatnya. Tidak pernah memikirkan diri nya sendiri."


"Bodoh...."


Dinda beranjak dari kursinya, "Aku harus bicara padanya Leon!"


"Sebaiknya begitu, aku akan mengantarmu. Pacarku yang akan menjadi pacar sahabatku!" ucapnya dengan terkekeh.


"Leon... Aku minta maaf."


Leon mengacak pucuk rambut Dinda, "Hei, jangan terus meminta maaf. Aku bahagia melihat mu bahagia dengan sahabatku sendiri."


"Ayo kita pergi menemui si Bodoh itu." ujarnya dengan melangkah terlebih dulu.


Walau hatinya harus perih, karena harus melepaskan cinta yang baru saja kuncup, bahkan sama sekali belum berkembang.


Mereka kembali naik keatas, masuk kedalam lift dan saling menatap,


"Leon apa kau baik-baik saja?" tanya Dinda saat berada didalam kotak besi yang membawa mereka kembali ke atas.


"It's oke, aku sudah pernah patah hati. Dan ini tidak akan lama, sedangkan Alan mungkin akan selamanya tidak akan pernah mau terlibat dengan urusan cinta. So ... buat dia luluh dan tahu kalau cinta tidak hanya sekedar bodoh dan kehilangan."


Dinda mengangguk dan berhambur memeluk Leon, "Terima kasih Leon! Kau membuatku membuka mata dan fikiran ku. Terlepas pada siapa yang pertama berjuang, entah itu pria maupun wanita."


"Tumben kau pintar." Ucapnya dengan tangan yang mengelus punggung Dinda.


Dinda mengurai pelukannya, "Ish... kau ini!"


"Tapi kau masih mau berteman dengan ku kan? Atau kau akan melarangku memakai kompor di plat mu?


Mereka tergelak, bertepatan dengan pintu lift terbuka,


"Leon, aku masuk dulu! Sekali lagi terima kasih."


"Pergilah, buat dia menyesal karena kau yang akan menyatakan nya terlebih dahulu." ujarnya pada Dinda yang sudah berjalan menuju ruangan Alan.


Flash back off


"Sudah aku duga sebelumnya, dia dalang dari semua nya!" ujar Alan dingin.


"Hei, kau akan marah padanya?" Ujar Dinda dengan tangan yang melingkar pada lengan Alan.


Alan menatapnya, "Aku tidak akan menyentuhnya sedikitpun jika kau tidak mengijinkannya,"


"Bagus, kalau tidak! Kau akan tahu akibatnya." Ujarnya dengan menenggelamkan dirinya dalam dada bidang Alan.


"Aku akan menghabisinya jika kau terus membelanya! bahkan dengan memikirkannya saja, dia akan habis di tanganku."


Dinda mendorong dada Alan dengan keras, "Heh, mana bisa begitu!"


"Bisa!! Kau milikku!! hanya boleh memikirkan ku saja! tidak boleh memikirkan pria lain, termasuk Leon."


"Ish... My Sweety ice!" gumamnya dengan bibir yang di tarik melengkung.


.


.