Assistant Love

Assistant Love
Perminta -maafan ayah



"Akira?" lirih Pramudya wardani. Sang ayah.


Dinda mengenadahkan kepalanya, entah apa yang harus dia katakan, rindu, ingin memeluknya, namun juga kekecewaan teramat berat yang dirasakannya dulu, tiba-tiba kembali mencuat.


Dia hanya mengangguk, dengan seutas senyum tipis yang muncul terpaksa.


Alan menyentuh punggung tangannya, " Aku tunggu di luar, bicaralah dengannya."


Alan kemudian berjalan keluar, dia memilih untuk berkeliling, memeriksa ruangan demi ruangan didalam kantor itu.


"Ayah...! lirihnya dengan ujung mata menghangat.


"Aku tidak percaya, kau sudah hebat nak! Aku bangga padamu."


"Bangga?"


Pramudya mengangguk, "Iya ... ayah bangga Nak?"


"Anda tidak salah? Bangga padaku saat ini? Apa karena aku bisa menghandle perusahaan anda yang hampir bangkrut ini? Atau bangga padaku karena presentasi ku yang bagus barusan?"


"Katakan lah, apa karena itu? Lalu dulu anda tidak bangga sedikitpun padaku?"


"Akira ...."


"Namaku Dinda, bukan lagi Akira, aku sudah membuang nama depanku, dan aku ingin membuang nama belakangku sekalian."


Pramudya tersentak, bagaimanapun juga, nama itu yang diberikan olehnya dengan banyaknya do'a, dan segala harapan baik.


" Mana mungkin itu terjadi, bagiku kau tetap Akira Dinda Pramudya, putra kecilnya ayah." tukas Pram.


Dinda mendesis, dengan membuang wajahnya ke arah lain, " Putri kecil...?"


"Maafkan ayah, tidak bisa menolak perkataan mama mu, ayah juga tidak berusaha mencarimu, ayah benar- benar bersalah padamu." ujar Pram dengan mata yang mulai merah dan memanas.


"Sudahlah, untuk apa meminta maaf! aku rasa sangat terlambat, kalian membuang ku, bahkan tidak sedikit pun percaya padaku. Lalu sekarang anda meminta maaf?" Dinda mengerdikan bahunya.


"Akira?"


"Berhentilah memanggilku dengan nama itu, aku bukan Akira, dan bukan juga Putri kecilmu, kelurgaku sudah tidak ada! Aku hidup seorang diri selama ini."


Tiba-tiba saja ujung mata itu menganak, namun sekuat tenaga Dinda menahannya agar tidak luruh, dia menggigit bibir bagian dalamnya sedikit.


Seperti selama ini dia menjalani hidupnya, jauh dari keluarga, yang tidak pernah mencarinya sedikit pun. Bahkan Maid yang sering menengoknya pun dilarangnya.


Sudah tidak ada air mata yang ingin dia keluarkan semenjak itu sampai saat sekarang.


Dinda bangkit dari duduknya, sekilas dia melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. "Sudah waktunya aku pergi,"


"Maafkan ayah Akira, Ayah memang bukan ayah terbaik buatmu! Ayah bersalah padamu, sampai ayah kehilangan mu sampai saat ini. Tapi ayah bersungguh- sungguh minta maaf padamu!" ujar Pramudya yang kemudian bersudut dihadapan kaki Dinda.


Dinda memundurkan tubuhnya, dengan iris mata yang nyaris membulat saat melihat ayahnya bersudut kepadanya.


"Tolong, jangan bersikap seperti ini! ujarnya datar.


Dengan bertumpu pada kedua lutut, Pram menangis, air matanya berderai hebat, membasahi seluruh wajahnya.


"Berdiri lah! Jangan seperti ini!" ujar Dinda yang sebenarnya tidak setega itu melihat ayahnya sendiri bersujud padanya.


"Ayah tidak akan berdiri, sebelum kamu memaafkan Ayah mu ini."


"Berdirilah aku sudah memaafkan mu!" ujar Dinda membalikkan tubuhnya, dia tidak ingin melihat ayahnya, dia tidak ingin peduli, namun justru air matanya mengalir begitu saja.


Kenapa baru sekarang, ayah mengatakan hal itu, kenapa tidak dari dulu.


"Akira, kau mau kan memaafkan ayah?"


Dinda hanya mengangguk, menahan diri nya agar tidak terus menangis.


"Terima kasih!" ujar Pram tersedu-sedu.


"Berdiri lah, jangan seperti ini. Aa--ayah!"


Pram berdiri dan memeluk tubuh anak perempuannya. Namun Dinda tidak merasakan apa-apa. Dia hanya mematung di tempatnya, ada sesuatu yang masih mengganjal didalam hatinya.


"Terima kasih Nak, terima kasih! Ayah menyayangimu." lirih Pram tepat ditelinga Dinda.


Cih menyayangiku, dulu kemana saja?


"Ayah, aku harus pergi!" ucap Dinda dengan mengurai pelukan ayahnya.


Pram memegang bahunya, "Pulanglah ke rumah Nak, Mama mu pasti akan senang melihatmu."


Dinda mengangguk kecil, "Mungkin nanti aku akan pulang, setelah urusanku selesai Ayah."


Pram mengangguk, "Kami akan menunggumu! Sampai kamu siap untuk pulang Nak."


Dinda mengganguk lagi, "Aku harus pergi sekarang, ayah jaga kesehatan. Salam untuk mama."


Dinda akhirnya keluar dari ruangan menyesakkan itu, udara yang terasa sesak di dalam dadanya semakin sesak saat keluar dari sana.


Alan yang sudah menunggunya pun berjalan mendekati nya.


"Sudah selesai?"


Dinda tidak menggubrisnya, dia trus berjalan keluar dari gedung lalu masuk kedalam mobil.


Dia menangis sejadinya didalam mobil, menumpahkan air bening yang ditahannya sedari tadi.


Alan menyusul masuk, dan terheran menatap wanitanya itu.


"Hei ... kenapa menangis?" ujarnya dengan meraih kepala Dinda ke dalam dekapannya.


"Seharusnya aku bahagia, aku bisa merasakan pelukannya lagi, ta--tapi aku tidak merasakan apa-apa. Hati ku justru terasa sangat sakit, Aa--aaku ... aa-- aku tidak merasa ayah tulus meminta maaf padaku, kenapa baru sekarang? Ke--kenapa baru sekarang dia bilang maaf tidak mencariku, ke--kenapa!"


Dinda menangis terguguk, derai air mata itu menandakan betapa sakit hati nya, andai bisa memilih, lebih baik dia tidak lagi bertemu dengannya.


Dinda memukul dada Alan, "Ini semua gara- gara kau, kau yang merencanakan ini bukan?"


"Kau tidak akan akan mengerti apa- apa, kau tidak tahu rasanya jadi aku." ujarnya dengan terus memukuli dada dan bahu Alan.


Namun Alan tetap mendekapnya, tanpa kata, memberi nya waktu menumpahkan semua yang dia rasakan.


Dia hanya mengelus punggung Dinda, memberikan ketenangan hingga Dinda berhenti memukul dan menangis kembali.


"Aku memang tidak mengerti apa- apa, tapi aku hanya ingin memastikan kamu bahagia, saling memaafkan ayah dan ibumu selagi mereka ada, lupakan masa lalu, walau itu berat." ujar Alan saat tangis Dinda mulai mereda.


"Walau sampai saat ini, aku juga sama sepertimu, dibayangi terus oleh masa lalu yang menyakitkan, tapi asal kau tahu, aku tidak lagi bermimpi buruk saat tidur setelah bertemu denganmu. Kau percaya?" ungkapnya lagi.


"Kenapa begitu?"


"Entahlah aku tidak tahu, yang jelas perlahan-lahan aku mulai menerima masa lalu yang menyakitkan itu. Dan kamu pasti juga bisa, apalagi kedua orang tua mu masih ada, kalian masih bisa saling menyayangi."


Dinda kembali menitikkan air mata, "Cobaan hidupmu lebih berat dibandingkan aku, tapi kenapa kamu bisa bicara sedewasa ini padaku!"


Tuk


Alan menjitak pelan kepalanya,


"Kau ini ... itu karena aku lebih banyak makan asam garam dari padamu, makanya itu kau harus menurut padaku."


"Iihh... sakit, aku ini sedang sedih! Kau malah membuatku semakin sedih."


"Kalau gitu katakan semua kesedihan mu padaku? Agar aku bisa membantumu, menemaniku juga, kalau kau tidak mengatakannya aku mana tahu." tangannya mengelus bahu Dinda.


"Dasar tidak peka!" gumam Dinda.