
Mereka tiba di rumah sakit, Mobil yang Alan lajukan berhenti tepat di pintu masuk, bahkan nyaris memenuhi area yang bukan jalur yang diperuntukkan untuk mobil.
"Tidak masuk saja sekalian, mobilnya langsung ke ruangan dokter!" Ujar Dinda yang heran dengan sikap Protektif Alan yang selalu muncul tiba-tiba.
"Oke, bisa di atur! Kau ingin aku menerobos dinding itu?"
Alan menyalakan kembali mesin mobilnya, Pram membulatkan mata, sedangkan Sisilia dan Dinda menutup mulutnya menggunakan tangan.
"Eeehh, kau!! tunggu, kau ini! Dasar manusia kaku. Tidak begini juga!" teriak Dinda saat Alan sudah melajukan mobil perlahan, bahkan dia sudah menabrak pot bunga yang berada di depannya.
"Dasar gila! Apa jika ada orang yang menyuruhmu lompat ke dalam jurang, kau akan melakukannya?"
"Jika bunda dan ayah yang menyuruhku, aku akan melakukannya." ujarnya tanpa ekspresi.
Pram tergelak, "Akira, sudah jangan terus mengganggunya!"
Dinda memutar malas kedua bola matanya,
"Malah aku yang kena marah, Dasar!" gerutunya pelan.
Sisilia mengusap punggung tangannya, "Sabar, pria pasti begitu, dan itu artinya Alan memang akan selalu melakukan yang terbaik untuk orang yang dia sayangi,"
Dinda diam saja, dia menatap wajah Alan yang datar tanpa ekspresi itu di pantulan spion.
"Sangat protektif,"gumamnya.
Mereka lantas turun, Pram mendorong kursi roda, sementara Dinda berada disamping beriringan dengan Alan.
"Kita langsung masuk saja, dokter sudah menunggu." ujar Alan.
"Lho, kita tidak perlu mendaftar? Bisa langsung masuk ini?"
"Hm... masuklah, aku harus menemui seseorang terlebih dahulu."
Ketiganya akhirnya masuk kedalam ruangan, suster yang sudah menunggunya pun menggantikan Pram mendorong kursi roda itu.
Dinda menoleh ke arah belakang, melihat Alan yang tengah menelepon, lalu pergi begitu saja.
Alan berjalan di koridor rumah sakit, dan berhenti diruangan dokter, seorang perawat keluar dari ruangan itu.
"Sus, dokter ada?"
"Ada pak, silahkan masuk." ujarnya dengan membuka daun pintu lebar-lebar.
"Om...." ujar Alan yang langsung menghempaskan tubuhnya di kursi, yang berhadapan dengan dokter Frans.
"Hei...ada apa kau kemari? Bukan kah aku sudah bilang bisa mengaturnya, semenjak kau menelepon."
"Aku hanya ingin berterima kasih, Om sudah membantuku." ujarnya lagi.
Frans mendongkak, merasa heran dengan sikap Alan yang terlihat sedikit kalem, dan mau menemui nya hanya untuk berterima kasih,
"Kau kan sudah mengatakannya saat di telepon."
Alan menggaruk belakang kepalanya, "Ya sudahlah pokoknya aku berterima kasih, aku pergi."
Alan beranjak dari kursinya lalu keluar dari ruangan dokter Frans yang tidak lain adalah adik dari Ayu, sang bunda.
"Kenapa anak itu?" gumam Frans mengerdikkan bahu.
.
.
Dokter spesialis ginjal tengah memeriksa Sisilia, mengambil sample darah dan urine nya untuk diteliti dilab. Sedangkan Pram dan juga Dinda menunggunya di kursi yang berhadapan denga meja dokter.
"Apa sebelumnya pernah melakukan pengobatan dan sempat berhenti begitu saja?"
Dinda menoleh ke arah ayah nya, menunggu jawaban.
Pram mengangguk, "Hampir satu tahun berhenti, Dok!"
Dokter itu menghela nafas, "Dilihat dari kondisinya, ginjal ibu Sisilia mengalami lima puluh persen dari fungsinya, itu artinya tubuh ibu Sisil sudah tidak mampu mengeluarkan racun-racun dan sisa metabolisme dari dalam tubuhnya."
"Jadi bagaimana dok? apa yang harus kami lakukan agar mama saya bisa sembuh."
Dokter kembali menghela nafas dengan berat, "Penyakit gagal ginjal itu tidak bisa sembuh begitu saja, fungsi kedua ginjal sangat berperan penting, maka jika keduanya sudah tidak bisa berfungsi dengan baik, tidak ada organ lain yang menggantikan nya. Jalan satu-satunya hanya dengan Dialisis atau cuci darah dan transplantasi ginjal."
Dinda dan Ayahnya saling berpandangan, namun tidak ada kata yang keluar, mereka sama-sama sedang mencerna apa yang dikatakan oleh dokter spesialis ginjal itu.
Dinda menemui Sisilia yang terbaring lemah di ranjang pemeriksaan, air yang sudah menganak itu pun tidak dapat di bendung nya lagi. Rasanya lebih baik dia tidak pernah bertemu kembali dengan ayah dan ibunya, lebih baik dia berfikir mereka sedang bersenang-senang dengan melupakan anak nya.
Mungkin rasa sakit di hatinya tidak akan terlalu berat seperti ini, saat melihat tubuhnya ringkih dengan kulit dulu putih bersih dan terawat kini keriput dan juga mengering, ada beberapa bintik ungu dan nyaris menghitam di beberapa bagian tubuhnya, seperti bekas memar.
Namun kata dokter hal itu timbul karena racun dan sisa metabolisme tubuh tidak dapat dikeluarkan dari tubuh dengan optimal, hingga terjadi penumpukan racun.
Hatinya terasa teriris, dengan tersenyum getir, Dinda menggenggam tangan ibunya. Tangan halus dan selalu terawat dengan kuku tangan yang indah, namun kini berubah, dengan kulit sedikit menghitam dan juga kering.
"Hei, anak mama kenapa menangis, bukankah kamu yang bilang mama harus semangat? Mama akan sembuh kok,"
"Iya mama, aku menangis karena mama pasti akan baik-baik saja, aku hanya terharu. Bisa melihat mama tercantik yang aku punya."
Sisil menyunggingkan senyuman, kata itu sering Dinda ucapkan saat kecil.
'Mama tercantik yang aku punya.'
Meski dulu mamanya masih sibuk dengan pekerjaannya sebagai model profesional, dan kerap menjadi pembimbing ahli untuk model-model baru.
Akira sangat bangga, meski dia selalu ditinggal bekerja, hingga kerap menunggu nya pulang hanya untuk mengucapkan kata-kata tersebut.
"Apa sekarang mama masih cantik?" tanya Sisilia dengan terkekeh.
"Tentu saja mam, tidak ada yang cantik selain mama, aku aja kalah cantik. Sampai membuat ayah tidak bisa jauh dari mama kan," Dinda terkekeh.
Sisilia mengangguk, mereka saling mendekap satu sama lain, air bening pun kembali lolos begitu saja, mereka saling mencurahkan semua kerinduan tanpa kata. Saling mengutarakan rasa sayang hanya dengan menatap saja.
"Mama sayang kamu Nak," bisiknya disela telinga saat mereka berpelukan.
Pramudya menghampiri dua wanita yang begitu dia sayangi itu dengan tak kalah getirnya, disatu sisi dia mendapat kebahagiaan karena bisa berkumpul lagi, namun disisi lain, mereka harus menerima kenyataan bahwa kondisi Sisilia semakin memburuk.
Dokter yang menerima hasil laboratorium itu menghela nafas, racun didalam tubuh Sisilia amat tinggi, hanya satu cara terbaik yang harus dilakukannya sekarang hanya lah dengan dialisis, atau cuci darah.
Sementara cuci darah harus dilakukan seumur hidup untuk mengantikan fungsi kedua ginjal dengan suatu alat khusus.
Pram menghela nafas, tidak ada pengobatan lain sebagai pilihan, atau nyawa istrinya menjadi taruhan.
Maka hari itu juga Sisilia ditempatkan diruangan khusus untuk melakukan cuci darah, mereka menunggu nya hingga selesai, dan waktu yang dibutuhkan cukup lama, yaitu tiga jam. Dan harus dilakukan dua kali dalam seminggu.
"Tidak apa-apa, kau jangan khawatir, ayah akan menemani mama mu saat jadwal nya tiba, kau tidak harus bulak-balik setiap jadwal mama mu. Fokuslah menyelesaikan pekerjaanmu. Datanglah pas hari libur, kamu pasti cape."
"Enggak Ayah, gak apa-apa, aku akan kemari seminggu dua kali untuk menemani mama, ayah yang harus istirahat, bukankah saat aku tidak ada ayah yang terus menemani, jadi sekarang giliran aku yaa! pokoknya aku tidak mau tahu." ujar Dinda dengan melipat tangan di atas dadanya.
Pram mengangguk, "Baiklah, kalau begitu! Kau memang bandel."
Alan bergabung dengan meraka, membawa tiga gelas kopi untuk dirinya dan mereka.
"Terima kasih Pak," ujar Pram mengambil kopi yang masih mengepul itu.
"Panggil aku Alan pak, tidak usah memanggil ku begitu, kita tidak sedang di kantor.
Pram mengangguk, "Baiklah nak Alan."
"Kalau begitu, ayah lihat mama mu dulu ya, takutnya dia membutuhkan sesuatu."
Pram pun masuk ke dalam ruangan, melihat kondisi sang istri yang ternyata sedang terlelap.
Sementara, Alan kini duduk disamping Dinda
"Apa kata dokter?"
"Kondisi mama buruk, hanya cuci darah dan transplantasi ginjal jalannya, tapi untuk saat ini hanya dengan melakukan cuci darah lah racun dan sisa metabolisme di dalam tubuhnya dapat keluar dengan maksimal," ujarnya dengan terisak.
Alan merengkuh pundaknya, "Bersabarlah, aku akan membantu mencari donor ginjal untuk mama mu."
Dinda menangis di bahu Alan, hingga membasahi jas yang digunakan Alan, "Terima kasih!" ujarnya dengan terisak.
Alan hanya mengangguk, tanpa satu patah kata pun terucap.
.
.
.
Author menulis bab ini sambil nangis, teringat waktu pertama kali di ruangan dokter dan mendengar kan penjelasan panjang lebarnya, sebagai seorang anak yang tidak mengerti apapun kondisi ibu, waktu itu. Dan mendengar kata cuci darah, tetiba fikiran ini melayang bagaimana cara mencuci darah sampai sisa racun bisa keluar. Gak mungkin kan di cuci🙈Dan menjadi pengalamanku karena bulak balik dua kali seminggu selama empat tahun, nganter ibu..huhuhu sedih. ( Author curcol, bang Al tanggung jawab, aku juga mau nangis membasahi pahamu, eeh bahu mu😘)