
"Kau sangat cantik, apa kalian akan segera ?menikah?"
Alan dan Dinda kembali saling menatap, "Aku terserah padanya saja," ujar Dinda.
Semoga dia peka, semoga dia peka....
"Aku belum ... maksud ku...." Alan tergagap.
Bibi yang selama ini tinggal di rumah peninggalan orang tua Alan itu tersenyum, lsu mengusap bahu Dinda.
"Kau harus sabar, dia memang begitu! Terlalu kaku kalau sudah berurusan dengan seorang wanita, tapi selama bibi tinggal di sini, tidak pernah sekali pun dia membawa seorang wanita pulang ke sini. Baru kamu saja yang dia bawa."
"Benarkah?"
Dia mengangguk, "Jangan heran jika dia itu tidak banyak bicara, tapi dia akan menunjukkannya dengan perbuatan, seperti saat ini. Dia jauh- jauh ke sini hanya untuk mengantarkan kaca mata ini untukku."
Dinda tersenyum kecut, Astaga, aku pikir dia mengajakku ke sini karena ingin mengenalkanku pada seluruh keluarganya selain pada ayah dan bunda nya, ternyata aku salah, iiihh dasar manusia kanebo kering. Tidak pernah peka. batin Dinda penuh dengan menggerutu.
"Kalian makan malam saja dulu disini, akan aku siapkan!" ujarnya kemudian.
Namun Alan menarik bahunya. "Tidak perlu, kau istirahat saja, bukankah matamu sakit, biar maid yang lain yang menyiapkan nya."
Bibi mengusap kedua pipi Alan, "Kau sudah semakin besar, sangat mirip dengan tuan besar, dia pasti bangga denganmu. Kau tumbuh dengan baik selama ini. Nyonya Ayu membesarkan mu dengan baik Nak." ucapnya dengan ujung mata yang mulai menganak.
"Itu karena kau selalu tidak mau ikut denganku, menyebalkan! kau harus menyuapi ku sekarang."
Eehh... apa katanya barusan? Kenapa dia manja sekali dengan bibi itu, dia tidak pernah berkata selembut itu denganku. Hahaha lucu sekali.
Tapi aku senang, hanya aku yang tahu sisi lain dari seorang Alan yang terkenal dingin itu. Mereka tidak tahu saja jika dia seperti ini,
Bibi mengangguk, "Tidak sekalian aku mandikan?"
Alan membulatkan matanya, "Kau ini ... aku sudah sebesar ini!"
"Benar juga, baiklah untuk urusan mandi, biar nanti jadi urusan istrimu saja ya!"
Alan mengangguk, membuat wajah Dinda merona, dia tersipu malu-malu. Alan melihat ke arahnya dengan mengernyit.
"Kau kenapa?"
Dinda terkesiap, "Hah, tidak ... tidak apa-apa,"
Aku membayangkan aku yang memandikanmu kelak. hihihi.... Hatinya cekikikan sendiri.
"Kau mau melihat kamarnya? Kamar semasa dia kecil?"
"Bibi!!"
"Ayo ... "
Namun dengan cepat Alan menarik lengan Dinda, "Tidak usah, kamar itu sudah lama tidak dibuka!"
Alan menariknya hingga ke belakang, rumah belakang yang banyak pohon dan juga kebun, terdapat kursi santai dan sebuah ayunan.
"Ibuku selalu menemaniku disini, hingga aku tertidur di ayunan, dan ibu di kursi goyang ini." ujarnya dengan duduk di kursi itu.
Sementara Dinda duduk di ayunan, "Kau sangat dekat dengan ibumu?"
"Semua anak pasti akan dekat dengan ibunya, bodoh!"
"Aku tidak, masa kecilku lebih banyak aku habiskan bersama maid, tapi sekarang aku menjadi lebih dekat dengannya, walau mungkin waktunya terlambat, tapi aku bahagia! Begitu juga denganmu."
"Kau tahu dari mana jika aku bahagia atau tidak, benar-benar bodoh!"
Dinda memukul lengannya, "Hei, kau sudah dua mengatakan aku bodoh. Menyebalkan!"
Alan menarik lengan Dinda hingga tubuhnya menabrak dada bidangnya.
"Kau memang bodoh, tapi aku rasa aku yang paling bodoh,"
Dinda yang saat ini berada terjerembab di dada Alan mengenadahkan kepalanya, "Kenapa?"
"Karena aku jatuh cinta pada gadis bodoh sepertimu!" ujarnya dengan menarik kembali kepalanya hingga tenggelam di dadanya.
Dinda menyunggingkan bibirnya. "Itu seperti kata-kataku, kenapa kau tidak kreatif sekali, kau hanya menirukanku."
"Benar...." tukas Alan kemudian terkekeh.
"Apa urusanmu sudah selesai?"
Alan yang memejamkan matanya dengan tangan memeluk Dinda itu mengangguk,
"Semua sudah selesai, bahkan sekarang ini hanya aku sudah tidak memegang senjata apapun lagi." Ujarnya.
"Baiklah, aku akan menjadi senjatamu mulai saat ini!" ucap Dinda dengan terkikik.
Alan membuka kedua matanya, lalu menatap Dinda. Netra mereka kembali bertemu, dengan lembut Alan menarik dagunya.
"Kau akan menjadi kekuatan sekaligus kelemahan bagiku! Jadi jangan macam-macam, karena aku bisa saja kembali ke dunia itu!"
"Kenapa kau menakutkan sekali!" gumam Dinda.
"Benarkah?" mengusap pipi Dinda dengan ibu jarinya.
"Hmmm ... tapi tetap saja kau ini menakutkan, kau tidak ada romantis-romantisnya." Dinda mencebik.
"Aku tidak bisa menjadi orang lain! Carilah yang lain jika kau berani." menjumput hidung Dinda.
Dia menenggelamkan kepalanya lagi, "Aku tidak mencari orang lain, aku akan tetap bersamamu."
"Aku mencintaimu Akira!"
Dinda semakin merekatkan lingkaran tangannya dipinggang Alan, "Aku lebih dan lebih mencintaimu Sweety ice." ujarnya tergelak.
Dinda mengenadah kembali, mencium kilat bibir Alan.
Alan terkesiap dengan tindakan tiba-tiba dari Dinda, "Kenapa kau suka sekali menciumku?"
Dinda mendorong tubuh Alan hingga terbaring di kursi santai itu.
"Aku memang menyukainya! Memangnya kau tidak suka?" tanya nya konyol.
"Pertanyaan bodoh," ujar Alan dengan menarik tengkuk Dinda hingga dia berada diatas tubuhnya.
Dengan cepat Alan menyambar bibirnya, melu matt nya dengan lembut. "Aku merindukanmu,"
"Aku lebih merindukanmu."
Mereka kembali saling me lumatt, menyusupkan lidah hingga masuk saling membelit, membuat mereka saling mengungkapkan kerinduan nya. Suara decakan kian menghangat, mengalahkan dinginnya udara malam itu, tanpa mengabaikan seluruh rasa.
Alan semakin menekan tengkuk kepala Dinda hingga di leluasa menyisir rongga mulut miliknya, saliva yang silih bertukar itu membuat mereka semakin hanyut, larut dalam rasa yang menyenangkan, yang membawa mereka dalam sejuta angan.
Sebagai orang yang sudah dewasa, tentu saja mereka tahu bagaimana cerita ini jika diteruskan, dengan menggapai rasa yang ingin mereka cicipi lebih.
Tangan Alan menyusup masuk kedalam T-shirt yang dikenakan Dinda. Perlahan-lahan mengusap punggung yang mulai menghangat karena desiran-desiran yang tercipta di antar mereka.
Dengan dada yang naik turun, tangan Alan semakin naik ke atas dengan keraguan namun juga merasa terpancing, jiwa kelakiannya terpanggil begitu saja, menyentuh dua benda bulat milik Dinda untuk pertama kalinya.
Dan rasanya ternyata menyenangkan, membuat tubuh Dinda yang berada diatasnya itu menggelinjang, menekan sesuatu di bawah sana menjadi kokoh berdiri.
"Aaahh...." Pekiknya seraya melepaskan tautan bibirnya. Lalu menggeser tubuhnya.
Membuat tubuh Dinda yang berada di atas tubuhnya ikut bergeser mengenai kursi santai, "Kau kenapa?"
"Aaahh...sakit sekali!" ujarnya.
Dinda mengernyit, "Apa yang sakit? Kau terluka? Biar aku melihatnya."
Alan melonjak, dia berdiri dan segera masuk kedalam rumah.
"Apa yang sakit?" gumam Dinda yang langsung menyusulnya.
"Heh... kau belum menjawab ku? Apa yang sakit?"
Alan tidak menggubrisnya, dia naik ke atas dan masuk kedalam kamarnya.
Brugg
Menutup pintu kamar dengan keras. Sementara Dinda yang berada di depan kamarnya itu kaget.
"Astaga, apa dia sangat kesakitan?"