
Flash back On
PT Adhinata corp.
Seperti biasa, Alan berkutat dengan pekerjaannya hari itu, ditambah dia harus membagi fikirannya dengan perusahaannya sendiri, meskipun dia menyerahkan semua urusan perusahaannya pada orang kepercayaannya. Namun tetap saja, segala keputusan berada di tangannya.
Hari itu dia menerima laporan tentang para karyawan yang terlihat mabuk saat bekerja, berbagai keluhan dirasakan oleh karyawan lain, terutama karyawan perempuan. Tak jarang membuat mereka mendapatkan tindakan asusila meskipun mereka berada dilingkungan perusahaan.
Segala upaya telah dilakukan, namun mereka tidak jera, hingga Alan harus turun sendiri melakukan investigasi, dan terpaksa meninggalkan perusahaan. Adhinata untuk beberapa waktu kedepan, dan hanya fokus pada perusahaan milik keluarganya.
"Cintya, batalkan semua agendaku hari ini!" ucapnya dengan dingin, tergesa-gesa keluar dari ruangannya.
"Ta--...."
"Kebiasaan, belum juga selesai bicara!" sungut Cintya.
Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju ke Apartemennya. Tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di pelataran parkir, kemudian membuka seat beltnya dan turun dari mobil. Berjalan masuk kedalam Apartement.
"Tuan, ini ada titipan untuk anda." ucap petugas wanita yang selalu bekerja dibelakang meja informasi.
Alan meraihnya, tanpa melihat kearah pemilik suara, lalu berlalu begitu saja,
"Selalu saja begitu, kenapa dia tidak pernah melihat ke arahku? Apa aku jelek sekali...." menatap cermin kecil yang selalu dia pasang dimejanya.
Ting
Lift terbuka, Alan masuk dengan amplop kuning di tangannya, yang kemudian dia masukan kedalam kantong saku dibalik jasnya. Apartement ini tampak sepi, karena memang penghuni yang terlalu sibuk ataupun harganya yang cukup mahal.
Alan merogoh ponsel dari saku celananya, lalu menghubungi Mac.
"Mac, untuk saat ini tidak usah berpatroli. Fokus saja jaga Farrel dengan baik, jangan sampai dia berulah dan laporkan apapun padaku!"
"Kau mau kemana!? Maksudku tuan mau kemana?"
"Aku harus mengurus perusahaan peninggalan ayah, dan mungkin beberapa hari kedepan aku tidak akan ke kantor!"
"Baiklah, jika kau butuh sesuatu hubungi aku,"
"Hem, thank Mac."
Alan mengakhiri teleponnya. lalu dia memasukan ponselnya kembali kedalam saku.
Ting
Lift terbuka, Alan keluar lalu berjalan kerah unit nya. Menekan password unit lalu masuk kedalam. Tanpa menunggu lama dia membuka amplop kuning itu, terdapat beberapa foto bangunan dan juga alamat lengkapnya.
Alan melihat foto itu satu persatu, dan tampak sesosok pria yang hanya terlihat punggungnya saja dan beberapa orang yang tengah berada disatu ruangan dengan kesibukannya masing-masing.
"Jalan Pandan wangi 235." Alan mengernyit setelah mengucapkannya. Seperti merasa ini dejavu. Alamat yang sama-sama pernah diucapkannya.
Flash back Off
Keesokan Hari
Dinda terbangun sebelum alarm yang terpasang di jam wekernya dan juga alarm diponselnya berbunyi, Dia bangun lebih cepat dari biasanya. Dengan langkah yang semangat turun dari ranjang lalu berjalan ke kamar mandi dengan bersenandung.
Menyalakan shower lalu mengguyur tubuhnya masih dengan bersenandung, hatinya masih berbunga-bunga. Pelangi masih tampak diatas kepalanya dengan lemparan hati diatasnya.
Setelah selesai dengan ritualnya, Dinda keluar dari kamar mandi, mengarah pada lemari dan mencari setelan kerja yang cocok dia pakai hari ini.
Memilih dan memadu padankan setelan kerjanya membuat dia semakin bingung.
"Aku pakai yang ini atau yang ini!?Kira-kira dia suka yang mana?" Ucapnya sendirian.
"Yang ini saja, ah tidak yang ini saja." Dinda mengambil salah satu setelah berwarna navy, lalu menggantinya dengan warna lain.
"Aku harus tanya Metta soal ini! masalah mix end Match dia jagonya." Dinda terkikik lalu meraih ponsel yang diletakkan diatas meja.
Namun sampe beberapa saat panggilan itu diabaikannya, "Cx, kemana nih anak satu! Kenapa tidak diangkat-angkat."
Dinda melirik panggilan ketiga kalinya, dan ketiganya pulang diabaikannya. Dia melihat Jam diponselnya, dan kaget.
"Astaga, masih jam 04.00!" teriaknya.
"Kamu mau kemana sih!! Astaga." meraup wajahnya kemudian terkekeh.
Akhirnya Dinda memakai setelan pilihan pertama, lalu berjalan kerah meja rias dan mendudukkan bokongnya.
Memoles bibir dengan lipstik tipis-tipis dengan bayangan bibir Alan yang bermain di bibirnya. lalu dia terkikik.
Setelah dirasa selesai dengan riasan wajahnya, Dinda berdiri didepan cermin, berputar sekali dengan senyum yang mengembang penuh di bibirnya.
"Kenapa aku harus mengacak baju di lemari jika ujungnya jika memilih baju yang pertama kali aku sentuh! Bodohnya kamu Din." ucapnya lalu keluar dari kamar.
Kali ini dia menuju dapur, namun lagi-lagi harus menahan kecewa karena bahan makanan yang masih kosong di lemari es nya.
"Sudahlah nanti aku sarapan diluar saja."
Bagai mendapat ilham yang turun dari langit, Dinda menjentikkan jarinya.
"Aku ada ide...." Dia lantas bergegas keluar setelah menyambar tas kerja dan juga kunci mobilnya."
Dia masuk kedalam lift yang kosong, jika sebelumnya lorong tempat unit nya berada ini lumayan ramai jika biasanya Dinda berangkat bekerja, kali ini tidak terlihat siapapun disana.
Dinda keluar dari gedung apartemen dengan wajah berseri, menuju tempat mobilnya terparkir. Berjalan dengan penuh percaya diri lalu masuk kedalam mobil.
"Aku mencari sarapanku di dekat Apartemennya saja, siapa tahu pagi ini keberuntunganku lagi." Dinda melajukan mobilnya mengarah pada blok apartement milik Alan yang hanya berjarak tidsk kurang dari 2km saja.
Setelah sampai dia keluar, menuju stand kecil penjual sandwich yang tepat berada didepan gedung Apartemen milik Alan.
"Doble cheese 1" ucapnya berbarengan dengan suara bariton disampingnya.
Dinda menoleh, hatinya berdebar setelah melihat Alan yang masih mengenakan training dan handuk kecil di tangannya. Dengan keringat yang masih bercucuran dari keningnya turun hingga ke rahang dan leher yang menambah daya tarik tersendiri bagi Dinda.
"My Sweety ice ...." gumam Dinda.
Namun Alan tidak sedikitpun melihat Dinda yang menatapnya. Dia fokus pada ponsel yang dengan musik melalui earphone yang terpasang di telinganya.
"Bagaimana dia bisa setampan itu di pagi hari begini, ahk seperti vitamin saja." Dinda menatap wajah Alan dari samping, ikut menelan saliva saat Alan mengenggak air mineral dari botolnya langsung.
Tetesan air yang ikut mengalir di area jakun yang turun naik, membuat Dinda sulit bernafas. Dia hanya mampu menenggak ludahnya sendiri.
Alan mengambil pesanannya, dia menyerahkan selembar uang yang diberikan kepada pemilik stand.
"Ambil saja kembaliannya." lalu dia pergi begitu saja.
"Hei, kenapa pesanan ku belum juga selesai?" Dinda tersadar.
"Maaf Nona hanya melamun saja dari tadi! Jadi pesanannya diambil orang tadi."
"Tidak masalah ... Tidak masalah, dia kekasih ku, dan aku rela memberikan apapun padanya!" Dinda terkikik, memandang punggung Alan yang masuk kedalam Apartemennya.
"Tunggu, dia benar-benar tidak mengenaliku?"
Bersambung
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa.
Terima kasih