Assistant Love

Assistant Love
Pengacau



Alan masuk ke dalam ruangan, dimana bunda dan juga ayahnya sudah berada di dalam, begitu juga Farrel. Mereka sudah berkumpul di sana.


"Ada apa nih? Pagi-pagi sudah berkumpul disini?" tanya Alan yang baru saja masuk.


"Heh kau ini, memangnya kami tidak boleh mengunjungi anak sendiri!" Sahut Ayu.


"Ayolah Al ... berikan kejutan istimewa buat bunda dan ayah sekarang!" timpal Farrel yang membuat bunda Ayu melihat ke arahnya dengan heran.


"Kejutan apa yang ingin kau berikan Al?"


Alan menyoroti adiknya yang tengah terkekeh, "Sialan kau! Selalu saja membuat kacau,"


"Ayolah ... tunggu apa lagi? Kau ini sudah semakin tua," Ujar Farrel dengan tergelak.


"El ... ada apa?" tanya Bunda.


Arya hanya berdehem, senyum tipis terukir di bibirnya, melihat Alan yang salah tingkah seperti itu, dia melirik ke arah Farrel yang tengah menggodanya, lalu kembali melirik sang istri yang penasaran.


"Kalau kau tidak bertindak, biar aku saja." ucap Farrel dengan berdiri.


"Jangan!!" sergahnya.


"Ayolah, lihat wajahmu yang merah itu!"


Arya menggelengkan kepalanya, "El ... hentikan, kau tidak lihat kakakmu itu? Biarkan dia, jangan kau terus menggodanya seperti itu."


Farrel berdecak, "Payah kau Al ... benar-benar memalukan!"


"Bun ... yah, aku keluar dulu! Lama-lama aku gatal-gatal melihat tingkahnya yang memalukan itu."


Farrel akhirnya keluar, dia tidak habis fikir kenapa Alan bersikap kaku, apa semalu itu mengungkapkan perasaannya.


Sementara Ayu masih merasa heran, begitu juga Arya, mereka bukannya tidak tahu, tapi mereka ingin mendengarnya sendiri dari mulut Alan.


"Al ...ada yang ingin kau katakan pada kami?"tanya Ayu.


"Nanti saja bun, masih banyak yang harus aku kerjakan, hari ini aku ada meeting, aku harus segera berangkat!"


Alan menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawanya untuk meeting, membuat Ayu kesal melihatnya.


"Al ...inget perjanjian kita, jika dalam sebulan kau tidak membawa pacar ke hadapan bunda, bunda akan menjodohkanmu, dan bunda tidak main-main." seru Ayu.


"Bunda, ayolah ... aku belum memikirkan pernikahan! Masih banyak yang harus aku urus, selain hal itu." ucap Alan dengan wajah memelas.


"Tidak ada waktu lagi, bunda tidak mau ada penolakan, bawa pacarmu sendiri, atau bunda yang akan memilihkanmu!" titah Ayu.


Arya menyentuh lengannya lembut, "Bun...."


"Biar saja yah, bunda sudah terlanjur kesal, bunda takut dia kembali ke dunia nya, kenapa sampai saat ini dia ragu untuk menikah? Apa karena dia berencana untuk kembali ke dunia gelap itu lagi. Bunda tidak akan tinggal diam," cerocosnya.


"Bukan itu bunda, pekerjaanku masih banyak, biarkan aku menyelesaikan semua pekerjaanku sebelum aku memutuskan untuk menikah!" Sahut Alan dari meja kerjanya.


"Bunda sudah kasih kamu waktu satu bulan bukan?"


"Bun ... biarkan dia!" bisik Arya.


Alan menghampiri sang ibu yang sedang merajuk, dia berjongkok di hadapannya dengan bertumpu pada satu kaki, "Bunda, kenapa bunda bersikeras ingin aku menikah? Apa bunda ingin aku menjauh dari kalian?"


"Astaga...kenapa Kau berfikir seperti itu? Bunda hanya ingin kau bahagia, jangan selalu memikirkan pekerjaan!"


"Biarkan aku menyelesaikan masalah pekerjaanku dulu, ya ... aku pasti akan membawa calon ke hadapan bunda setelah itu!"


Alan meraih tangan bunda dan mengecupnya sebanyak dua kali.


"Aku sudah bahagia berada di antara kalian, jangan khawatirkan aku karena aku sudah pasti bahagia." ujarnya lagi.


Membuat Ayu menghela nafas dan tidak bisa lagu berkata apapun.


.


.


"Hei... kau, lebih baik kau masuk ke dalam ruangan, dan beri kejutan untuk si bodoh Alan." ujarnya dengan kesal.


"Sayang? Apa yang kau bicarakan?" tanya Metta.


"Aku kesal sekali, kenapa bodohnya itu gak ketulungan, tinggal bilang aku mencintainya, dan ingin dia menjadi istriku! Kenapa susah sekali."


Metta mengatupkan bibirnya, jelas sangat beda antara Farrel dan juga Alan, sementara Dinda mengulum senyum.


"Apa jangan-jangan dia tidak benar-benar menyukaimu?"


"El ... jangan gitu!" sergah Metta.


Dinda hanya tersenyum, namun juga bertanya-tanya dalam hatinya.


Apa yang dikatakan Farrel mungkin saja, dia tidak benar-benar menyukaiku, makanya itu sampai saat ini dia tidak pernah mengajak ku menemui orang tuanya.


Metta mengelus lengannya, "Jangan kau dengarkan, dia hanya asal bicara saja."


"Tapi yang dikatakan suamimu memang benar, sampai saat ini dia tidak pernah peka!"


Farrel mendengus, "Dia memang tidak peka, sangat tidak peka!"


"Lebih baik kau cari yang lain saja!" ujarnya terkekeh.


"Jangan mengacau!" ucap Alan yang baru saja keluar dari ruangan dan mendengar Farrel berbicara seperti itu.


"Ayo sayang, kita kembali ke ruangan!"


Farrel menarik tangan Metta dan kembali ke ruangannya. Sementara Alan menggelengkan kepalanya.


"Jangan kau dengarkan dia! Dia hanya membual."


"Aku rasa dia benar!" ujar Dinda yang langsung berdiri dari duduknya, dia menyerahkan berkas pada Alan dan berlalu dari sana.


Alan menghela nafas, melihat punggung wanitanya yang berlalu begitu saja.


"Perempuan tidak hanya butuh tindakan, tapi mereka juga membutuhkan komitmen, yang di ucapkan, dia bahkan tidak akan pernah tahu jika kau mencintainya begitu dalam, mereka butuh ungkapan, sesuatu yang terucap dari mulutmu." bisik Farrel dari arah belakang.


Alan menoleh, "Kau memang pengacau!"


Farrel terkekeh, "Ayolah tunggu apa lagi? Kau menunggu rambutmu putih semua baru kau akan mengatakannya."


"Enyah kau dari sini Farrel! Sebelum aku hancurkan kepalamu." ujar Alan dengan sengit.


Farrel hanya tertawa, dia menepuk bahu Alan berulang kali lalu kembali masuk ke dalam ruangan nya.


Dia tahu kalau aku menyukainya, dia juga tahu aku mencintainya, walaupun tanpa terucap terus menerus. Dia pasti mengerti.


Dreet


Drett


Alan merogoh ponsel yang berdering,


'Ya Le... ada apa?'


'Al ... kau harus kemari, sekarang juga!'


'Ada apa?'


'Jerry ditangkap polisi!!'


.


.


Hai readers... author minta maaf sebelumnya, karena author baru up lagi, kemarin author nge drop, sampai harus jauh dulu dari namanya dunia halu.. Semoga kalian selalu sehat.❤