
"Kau tamu yang menyebalkan."
Leon tergelak, "Habis nya kamu lucu sekali,"
"Awas lho lama-lama nanti suka beneran sama aku!" Dinda mencebikkan bibirnya.
Gak usah nunggu nanti, sekarang saja aku udah suka sama kamu. Batin Leon.
"Gak kebalik nih, kamu kali yang suka sama aku," Leon masih terkekeh.
Dinda bangkit dan mendelik kearahnya, "Dih... ngarep!" lalu menyimpan piring kotor di wastafel.
"Kenyang nya..." Ujarnya seraya memegang perutnya.
Sementara Leon masih setia dengan mengikuti gerak-gerik Dinda yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Terima kasih Leon, kamu udah bikin aku kenyang! Dan sekarang aku mengantuk," Ucap Dinda menutup mulutnya yang mulai menguap
Leon menggelengkan kepala melihatnya, "Sama-sama, lain kali kamu yang memasak ya, aku ingin mencoba masakanmu!"
Dinda yang sudah mengantuk pun hanya mengangguk, "Ya baiklah, nanti aku akan memasak mie instans untuk mu."
Seketika ingatannya kembali pada saat dimana dia membuat mie instant untuk Alan meski dengan ketakutan, tanpa sadar bibirnya melengkung karena ingat kejadian itu.
"Hei ... senyum-senyum lagi!" ujar Leon menggelengkan kepalanya.
"Sudah pulang sana, aku mau tidur!" ujarnya dengan menguap lagi.
"Aku belum mengantuk, bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol dulu."
Dinda mendorong Leon hingga kearah pintu, "Sudah pulang sana, ngobrol sendiri saja di plat mu, aku beanr-benar mengantuk."
"Tapi aku ingin mendengar ceritamu! Masa aku ngobrol sendiri." Leon menahan tubuhnya dari dorongan Dinda yang tidak seberapa itu.
" Tidak mau, sudah sana!"
Akhirnya dia bisa berhasil mendorong Leon keluar dari platnya dan segera menutup pintu. Leon tergelak didepan pintu dan menggeleng kan kepalanya lalu melangkah menuju platnya.
Sementara Dinda menepukkan kedua tangannya seolah kedua tangannya itu berdebu. Lalu dia masuk kedalam kamar. Naik keatas ranjangnya dan berharap Alan akan masuk tiba- tiba ke dalam plat dan memeluknya dari belakang, Dinda terkekeh, tak lama kemudian tenggelam dalam mimpinya.
Sementara di sudut tempat lain, Alan telah menghabiskan setengah dari botol wine, setelah kepergian Dinda, dia hanya duduk di kursi mini bar dan terus mencecap wine, menenangkan.
Dreet
Dreet
Ponselnya tiba-tiba menggelepar diatas meja, Alan menatap layar putih menyala itu dan mengangkatnya.
"Hmm...."
"Buka pintunya aku didepan plat mu!"
Alan berdecak sambil menutup sambungan telepon.
Dia beringsut dari duduknya dan berjalan untuk membuka pintu.
"Kebiasaan nih orang, main tutup aja!" ujar nya seraya melangkah masuk kedalam meskipun Alan belum memperbolehkannya.
"Lagian mau ngapain malam-malam, gak ada kerjaan!"
Ucap Alan menutup pintu.
"Aku ingin saja memangnya gak boleh?"
"Terserah...." Alan kembali duduk dan menuangkan wine kedalam gelas dan menenggak nya.
"Kebiasaanmu tidak juga berubah, kau selalu minum sendirian seperti ini!" ucapnya berdecak namun melangkah menuju dapur dan membawa gelas untuk nya sendiri.
"Bagaimana perusahaan?"
"Aman... kau tenang saja!"
"Hm...juga aman, kuta berhasil mengalihkan perhatian polisi- polisi itu," Alan mengangguk,
"Kau kuandalkan Le...."
Leon mendudukan dirinya di kursi mini bar berdampingan dengan bos sekaligus sahabatnya itu,
"Gimana orang yang melihatmu sedang menembak! Sudah ketemu?" ujar Leon dengan menuang wine kedalam gelas miliknya.
Deg
Alan teringat gadis bodoh yang tengah menangis dengan tersedu sedan, gadis bodoh yang terkantuk- kantuk menunggunya di depan pintu dan gadis ceroboh yang menguntit nya sepanjang waktu.
"Belum...." ucapnya asal.
"Kalau begitu aku akan menyuruh orang untuk mencarinya!" ucap Leon yang memutar-mutar wine sebelum menenggak nya.
"Sudahlah Leon, kau tidak usah ikut campur masalah ini, urus saja pekerjaan mu di perusahaan, aku akan mengurus masalah itu sendiri." ujar Alan dengan menenggak kembali isi gelasnya.
"Kau ini kenapa? Aku hanya ingin membantumu, itu saja, kenapa kau bersikap seperti ini!"
Namun Alan tak menjawabnya, dia mencabut sebatang rokok lalu membakarnya perlahan.
"Kau tidak ingat dengan Jhoni? Dia bergerak sendiri hingga akhirnya meregang nyawa, kau ingat itu Al?"
"Dia dengan bodohnya melakukan penyerangan tanpa memberi tahu kita," imbuhnya lagi.
"Jangan bilang dia bodoh Le, dia yang terbaik. Dan kau tahu itu!" lalu menghembuskan asap putih ke udara.
"Tapi jelas dia bodoh, melakukan semua sendiri tanpa memberi tahu kita, apa itu bukan bodoh namanya, bukankah dia mati sia-sia Al?" Leon mendengus kesal.
"Pokoknya aku akan membantumu mencarinya, kalau perlu aku yang akan menghabisi nyawanya dengan tanganku sendiri!" Leon menenggak wine hingga tandas.
"Jangan mengatakan hal seperti itu pada Jhony, Le."
"Kita harus tetap waspada Al, gadis itu bisa jadi bumerang untukmu, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!!"
Tanpa diduga Alan bangkit dari duduknya, dengan gerakan cepat dia mencekik leher Leon sekuat tenaga, hingga Leon yang terkesiap itu membentuk tembok.
"Sudah ku katakan jangan ikut campur Le!"
Uhuk
uhuk
Alan melepaskan Leon yang mulai terbatuk-batuk, dia berlalu dengan membawa gelas miliknya dan mencucinya di wastafel. Lalu kembali menyimpan gelas itu ditempatnya.
Kemudian dia mengelap tangannya dengan lap kering yang tergantung dan kembali melangkah keluar dari dari dapur.
"Tutup pintu nya jika kau sudah selesai, ucap nya pada Leon yang duduk terdiam dikursi mini bar.
Sedangkan dia sendiri berjalan naik di tangga dan menuju kamarnya. Membuka pintu lalu menutupnya, mengarah pada lemari dan membukanya untuk mengambil baju yang dia letakkan diatas ranjang.
Alan masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh mukanya dengan kasar. Lalu menatap pantulan dirinya sendiri dalam cermin, berpegangan pada wastafel dengan tubuh yang masih dia condongkan, membiarkan air menetes dari wajahnya.
Bayangan gadis bodoh yang memakai topi serta hoody hitam yang mengikutinya dalam gedung pembuatan obat-obatan kembali terbayang, bahkan cara bicara yang keras dan konyol seolah terdengar kembali diindera pendengarannya.
Dan membayangkan gadis itu merintih kesakitan saat Leon berhasil menemukannya dan menyiksanya atau bahkan menembaknya. Tidak
Dia tidak sanggup membayangkannya, lalu dia keluar dari kamar mandi dan membuka T-shirt yang melekat di tubuhnya dan melempar kan nya ke dalam boks pakaian kotor, kemudian mengenakan piyama yang dia letakkan tadi. Bergegas naik ke atas ranjang dan menutup wajahnya menggunakan bantal.
Sementara Leon yang masih heran dengan sikap Alan yang selalu ingin bertindak sendiri itu semakin heran.
"Kenapa dia harus semarah itu?" gumamnya dengan mengusap lehernya yang masih terasa kaku.
"Bukankah seharusnya memang melenyapkan orang yang mengetahui tentang hal yang sudah dirahasiakannya selama ini." Leon terus mengisap rokok dan menghembuskan kepulan asap ke udara.
"Aku akan pastikan keselamatan mu Al, aku tidak mau kehilangan sahabat lagi, cukup Jhony saja yang bodoh." gumamnya dengan mematikan rokok yang ditekannya didalam asbak.
Lalu Leon beranjak dari duduknya dan melangkah dengan menatap pintu kamar milik Alan yang tertutup lalu keluar dari Apartemen miliknya.