Assistant Love

Assistant Love
Perlu waktu untuk memikirkannya



Mereka tiba di rumah sakit, di mana Leon telah dibawa oleh Jerry, beberapa orang berjaga didepan halaman rumah sakit, dan menundukkan kepalanya saat Alan tiba.


Alan masuk dengan tergesa, disusul oleh Dinda,


"Jerry...." serunya dengan suara oktav yang meninggi.


Jerry menoleh, "Al ... disini!"


"Bagaimana keadaan Leon?"


"Dia sedang di operasi, tapi dari tadi mereka belum juga keluar!"


Alan terduduk di kursi, dengan membasuh mukanya kasar, Dinda mengusap pelan bahunya, dia ikut duduk di sampingnya.


Beberapa orang polisi datang, meminta keterangan karena adanya laporan dari pihak rumah sakit tentang adanya pasien dengan luka tembak cukup serius.


Alan menautkan jemarinya dengan tangan Dinda yang gemetar,


"Tenanglah, jangan kau perlihatkan ketakutan mu pada siapapun!" bisiknya.


Dinda semakin merekatkan jarinya pada Alan, mencari ketenangan dan benar saja, Dinda bisa sedikit tenang karena Alan meyakinkannya dengan sentuhan kuat namun menenangkannya.


Mereka meminta keterangan, pada Jerry dan juga Alan.


Namun semua bisa dikendalikan oleh Jerry, hingga polisi itu kembali pergi.


"Al ... kita tidak bisa terus- menerus menahan mereka untuk tidak curiga pada kita, sudah terlalu banyak! Mereka akan terus mengawasi kita Al, kita harus segera melakukan sesuatu."


Alan teringat dengan niat Leon yang akan memindakan markas dari jangkauan polisi, namun sekarang Leon justru menjadi korban. Dan itu karena menyelamatkannya.


Alan terdiam, dia hanya mengangguk dan bergeleng saat Jerry berbicara dengannya.


"Jerr, urus keluarga Danuarta,"


Jerry menghela nafas, dia sudah bisa menduganya, Alan sudah pasti menghilangkan nyawanya.


Dia mengangguk mengerti, "Pasti Al, dan itu artinya musuh kita bertambah lagi."


.


.


Lampu ruang operasi sudah berubah warna, itu artinya operasi Leon sudah selesai, dua orang terlihat mendorong blankar dengan Leon yang tengah terbaring lemah dan masih belum sadar


Semua bernafas lega, terutama Alan, bayangan Jhoni yang meninggal ditangannya berkelebatan kembali dan dia tidak bisa membayangkan jika Leon juga akan pergi dengan luka yang sama, yaitu luka tembak senjata api.


Bak resiko yang harus mereka terima saat memulai bisnis ini, ketika seseorang akan meninggal dengan kebiasaannya. Itulah yang harus mereka terima, dan resiko itu akan datang kapan saja, bahkan tanpa mereka duga sebelumnya.


"Pulanglah, kamu harus istirahat," ujarnya pada Dinda.


"Kau pikir aku bisa beristirahat dengan tenang, sementara aku akan sendirian di apartemen?Aku tidak mau... aku kan ikut pulang jika kamu pulang!"


Alan mengangguk pelan, mereka mengikuti perawat yang membawa Leon ke ruangan inap, Sementara keadaan nya masih belum stabil,


"Cukup satu orang saja yang menungguinya didalam, sementara yang lain, boleh tunggu di luar." ujar Perawat itu.


"Aku saja yang masuk, kau tunggu disini bersama Jerry!"


"Tidak Al, kasian dia sendirian, aku saja yang akan masuk kedalam, kau pulanglah terlebih dahulu, besok kau bisa kemari lagi,"


"Kau yakin Jerr?"


"Anak buahku berjaga di luar, kau tidak usah khawatir. Lihatlah Pacarmu, dia pasti kelelahan."


Alan menoleh pada Dinda yang tengah bersandar pada tembok, dengan wajah yang sudah kelelahan.


"Baiklah, aku akan kembali besok. Berhati- hatilah."


Jerry mengangguk, kemudian Alan menghampiri Dinda.


Dinda mengangguk dan menoleh pada Jerry, menatapnya dengan nanar seolah berkata, Jaga Leon untuknya.


Tak lama mereka keluar dari pelataran parkir, anak buah nya berjaga - jaga, namun dnmi keamanan nya juga, beberapa orang dari mereka mengikuti mobil Alan hingga sampai ke Apartemennya.


"Aku tidak ingin sendirian di apartemen," ujar nya saay mereka keluar dari mobil.


"Lantas kau akan kemana? kalau untuk pulang ke rumah orang tua mu tidak mungkin, ini sudah terlalu malam. Aku akan mengantarmu sampai ke apartemen." ujarnya.


"Tidak mau, ujung-ujungnya kau akan meninggalkanku!" Dinda membanting pintu mobil dengan cepat.


"Lantas kau mau kemana?"


"Aku ikut ke apartemen mu, dan berangkat bersama ke kantor atau kemanapun anda pergi," ujarnya kemudian.


.


.


Alan menghela nafas, setelah selesai membersihkan dirinya, dia menatap pantulan dirinya di cermin di kamar mandi, memikirkan ucapan Dinda,


"Al ... bagaimana jika polisi menangkap mu? Bagaimana jika keluarga nya marah dan membalas dendam pada keluargamu? tidak kah kau sadari itu? Bagaimana jika mereka melakukan hal yang sama pada Farrel, bunda, Ayah, dan ... Aku?"


Dia kembali membasuh wajahnya dengan air, berulang kali. Sekelebatan hadir di ingatan nya orang- orang yang mati ditangannya, lalu bayangan bunda dan ayah yang selama ini menyayanginya, bahkan tidak membedakan dengan putra kandungnya.


Kemudian ucapan Leon, dan terakhir ucapan Jerry, membuat Alan kembali menghembuskan nafas panjangnya.


Ceklek


Pintu akhirnya terbuka, dia keluar dengan langkah gontai, menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.


Sedangkan Dinda tengah berada di dapur, membuat teh untuknya dan juga untuk Alan.


Kejadian hari ini membuat hatinya sedikit takut, namun juga entah kenapa dia merasa tertantang, gadis ekstovert yang tidak mengenal resiko yang akan dia dapat atas tindakannya.


Seru juga sih, apa aku minta di ajarin menembak saja yaa,


Alan terlihat keluar dari kamar nya, lalu mendudukkan dirinya di sofa, jika saja tidak ada Dinda, sudah pasti dia kan membawa Wine dari tempat penyimpanannya, dan menikmatinya, mengurangi rasa bersalahnya dan juga fikiran-fikiran yang mengganggunya.


"Minumlah," Ujar Dinda yang meletakkan cangkir berisi teh di hadapan Alan.


"Terima kasih!"


Dinda ikut mendudukkan dirinya, "Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"


Alan menoleh, lalu kembali menundukkan kepalanya. Saat ini dirinya tidak tahu apa yang akan dia lakukan kedepannya.


"Aku perlu waktu untuk memikirkannya, karena semua jalan Yang akan aku pilih, semuanya beresiko!"


Dinda mengangguk, "Fikirkan lah baik-baik!"


ucapnya dengan menyandarkan kepalanya di bahu Alan.


Hingga tak terasa Dinda yang kelelahan itu justru terlelap di bahunya.


"Bagaimana aku bisa melepaskan mu jika kau benar-benar bodoh seperti ini!"


Alan mengangkat tubuh Dinda, membawanya ke kamar tidur, membaringkan tubuhnya di ranjang, kemudian menutupinya dengan selimut.


Alan menatapnya lekat, dengan merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya. Dasar gadis bodoh.


Dia mengambil bantal dan selimut dari lemari, dan keluar dari kamar. Menuju ke bawah dan melemparkan bantal ke atas sofa, membaringkan tubuhnya dengan menatap langit- langit hingga dia tertidur pulas.


Hingga keesokan harinya, Alan merasa sofa tempatnya tertidur semakin sempit, dia mengerjap- ngerjapkan kedua matanya. Tubuhnya terasa mendekap sesuatu yang hangat. Dia membuka perlahan kedua matanya dan sontak kaget karena Dinda berada dalam dekapannya saat ini.


Dengan dengkuran halus darinya, membuat Alan tersenyum tipis.


"Dasar gadis bodoh, sejak kapan kau pindah kesini." gumamnya dengan menusuk- nusuk pipi Dinda yang masih terlelap.