Assistant Love

Assistant Love
Kekhawatiran Alan



Setelah menerima telefon dari Leon, Alan kembali masuk ke dalam ruangan Farrel.


"El ... kau bisa menggantikan aku untuk meeting? Ada sesuatu yang aku urus terlebih dahulu."


Farrel yang tengah fokus dengan pekerjaannya pun menoleh, "Apa yang lebih penting dari pada dunia mu itu?"


"Ayolah El...aku benar-benar harus pergi!"


"Oke ... oke pergilah, urus dunia mu itu, dan jangan pernah kembali sebelum selesai." ujarnya kesal.


Alan menarik bahu Farrel dan mengecup pipinya, "Thanks...brother!" lalu segera keluar dari sana.


"Cih ... menjijikan!" ucap Farrel menyeka pipinya.


Dengan tergesa-gesa Alan keluar dari kantor, dia begitu terlihat panik, bahkan dia mengacuhkan keberadaan Dinda yang baru saja keluar dari lift.


"Kenapa pacarmu?" tanya Metta.


Dinda mengerdikkan bahu, "Entahlah ... aku tidak tahu, dia juga tidak memberi tahuku."


"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi."


Dinda melihat punggung Alan yang semakin jauh, "Sepertinya begitu, sudahlah ayo kita kembali saja, lama-lama aku malas melihatnya yang selalu tidak peduli itu."


Metta terkekeh, "Sabar ... mungkin ada yang lebih penting dari padamu."


"Kau ini, temanku apa temannya! Kenapa kau selalu membelanya."


"Dia kakak ipar ku!"


"Tapi kau sahabatku Shaun!" ujarnya dengan mencebikkan bibirnya.


Metta merangkul bahunya, "Iya aku sahabatmu, dan juga adik iparnya," ucapnya terkekeh,


Kemudian mereka kembali berjalan menuju meja kerja nya masing-masing. Dinda menatap pintu ruangan yang penghuninya baru saja keluar dengan terburu-buru itu.


Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada yang darurat? Dia terlihat panik sekali, pasti karena sesuatu terjadi.


Metta masuk ke dalam ruangan suaminya, terlihat Farrel tengah memakai jasnya kembali.


"Kau mau pergi?"


"Hm... aku harus mengurus meeting, menggantikan Alan!"


"Memangnya dia kemana?"


Farrel mengerdikkan bahu, "Sepertinya ada yang penting, dia terlihat panik dan buru-buru."


"Hem...aku melihatnya tadi, dia bahkan mengabaikan Dinda,"


"Pasti sesuatu yang besar tengah terjadi, jika dia sampai mengabaikan orang-orang di sekitarnya."


"Kau tahu apa itu?"


"Tidak ... tapi aku akan segera tahu, aku pergi dulu!"


"Huum... hati-hati!"


.


.


Alan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, dia menuju ke pinggiran kota di mana kafe The bone, tempat teraman saat ini. Tidak ada orang yang tahu tempat itu, kecuali sahabatnya, bahkan keluarga nya pun tidak pernah mengetahui tempat itu.


"Le...Leonard," teriak Alan saat dia sampai tempat itu.


Leon menyembulkan kepalanya dari balik dapur, "Al ... disini!"


Alan masuk ke dalam dapur di kafe langganannya, kafe tua yang selalu menjadi tempat pertemuannya saat mereka berkumpul.


kafe yang terletak di pinggir kota.


Ada pintu rahasia dari dapur yang menuju sebuah ruangan khusus, Alan masuk ke dalam setelah memastikan tidak ada orang selain dirinya yang masuk ke dalam sana. Dan Leon sudah menunggunya di dalam.


"Le, bagaimana bisa Jerry tertangkap?"


"Dia ditangkap di bandara Al, kau tahu? Omar Ali menyuruhnya ke sana, namun saat di bandara, Jerry tertangkap. Sepertinya polisi memang tidak berhenti memperhatikan kita Al. Tapi kita sudah tidak lagi berkecimpung dalam aktifitas apapun, hingga target utama mereka adalah Jerry."


"Kita bahkan tidak tahu markas baru yang dipilih oleh Jerry, habislah kita jika mereka berhasil membuka mulut Jerry, Al." ucap Leon membasuh wajahnya kasar.


Dreet


Drett


Ponsel Alan berdering, dengan penuh waspada Alan melihat layar putih yang masih menyala itu.


'Al ... kau ada di mana?'


'Kenapa yah?'


Alan menghembuskan nafas panjang


'Ayah sedang mencari jalan keluarnya.'


'Terima kasih yah, tapi aku akan membereskannya.'


'Jangan gegabah Alan Alfiansyah, biarkan ayahmu membantumu!' teriak Ayu dari ujung sambungan.


'Iya bun.' ujar Alan lemah.


.


.


"Bagaimana Al?" tanya Leon saat sambungan telepon dari Arya berakhir.


"Wartawan sudah memenuhi kantor ARR. corps, kita harus berhati-hati Le."


Leon mengangguk, "Kau yang harus lebih hati-hati, Al. Mereka pasti tengah mencari bukti keterlibatanmu,"


"Kau sudah tahu keadaan Jerry?"


"Dia masih diperiksa, statusnya masih belum jadi tersangka,"


"Dan aku sudah mengirim pengacara untuknya!"


Alan kembali menghela nafas, fikirannya kali ini tertuju pada Dinda, bagaimana keadaannya jika suatu hari nanti dia ditangkap.


"Baiklah Le, kau urus keperluan Jerry! Aku harus kembali."


Leon mengangguk, "Kau tenang saja!"


Akhirnya Alan kembali keluar dari tempat pertemuannya dengan Leon, begitu juga Leon. Mereka berpisah arah, Alan memilih kembali ke apartement miliknya.


Dinda berjalan mondar-mandir di dalam apartemen, dirinya resah menunggu Alan yang tidak juga memberikan kabar apapun padanya. Dirinya ingin sekali tidak peduli, namun itu bertolak belakang dengan hatinya.


Ceklek


Pintu terbuka, netra keduanya saling beradu, namun tidak ada yang bergeser dari tempatnya masing-masing. Mereka hanya saling melihat dalam diam.


Hening


Hanya ada denting jarum jam yang terdengar, menjadi saksi kebisuan mereka, Alan berjalan mendekati wanita beriris cokelat itu.


"Maaf, membuatmu menunggu tanpa kabar! Aku benar-benar minta maaf."


Kedua manik coklat itu mulai memanas, lelehan air bening tiba-tiba meluncur dengan perlahan.


"Kau selalu membuatku khawatir! Apa tidak bisa memberiku kabar sedikitpun?"


Dinda menyeka pipinya yang basah, dia tidak ingin menangis, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan pria yang terkenal dingin itu. Namun air matanya tidak lagi mampu ditahannya.


"Maaf...."


"Kenapa hanya kata maaf yang bisa kau ucapkan! Kenapa kau tidak pernah bisa membuatku tenang, aku sangat khawatir dan juga takut!"


Dinda mulai terisak, air matanya semakin deras membasahi pipinya. Alan menarik tubuhnya, dan mendekapnya ke dalam dadanya.


"Berhentilah menangis, aku tidak suka wanita cengeng! Kau harus selalu percaya, aku akan baik-baik saja."


Dinda memukul keras dada yang mulai basah karena air matanya itu, "Kau fikir mudah? Kau selalu bersikap tidak peduli, kau jahat ... benar-benar jahat!"


Alan menangkap tangan yang tengah mengepal itu dengan cepat, dan menggengamnya lembut.


"Aku benar-benar minta maaf, aku tahu aku salah!"


"Maaf ... maaf terus! Kau fikir dengan minta maaf, semuanya selesai dengan mudah?"


Alan menarik tengkuk Dinda hingga wajahnya kini mengenadah ke arahnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Hem ... agar membuat dirimu tenang, dan percaya aku akan baik-baik saja."


Nikahi aku


Nikahi aku


Ah...tidak Dinda, jangan katakan itu, kau sungguh memalukan.


Masih dengan saling menelisik dalamnya tatapan mereka, Dinda mengerjap. Dia menarik dirinya menjadi membelakangi Alan.


"Aku tidak tahu, kau fikirkan caranya bagaimana! Kau kan seorang pria, tapi kau tidak tahu caranya membuatku percaya."


"Sayang ...!" ucapnya dengan nada yang datar.


Rasa marah, sedih, namun juga ingin tertawa kini dirasakan Dinda. Bagaimana tidak, mengatakan kata sayang pun sangat datar.


"Apa?"