All About You

All About You
Ribeauville



🌹


🌹


Perjalanan mereka hari itu dimulai dengan mengunjungi bangunan paling terkenal di kota Paris. Landmark yang menjadi tujuan sebagian besar wisatawan dari seluruh penjuru dunia.


Menara Eifel yang menjulang tinggi di tengah kota Paris. Dikelilingi gedung-gedung megah di sisi lainnya. Semantara dibawahnya terdapat taman yang indah, yang menjadi tempat bagi para pengunjung untuk bersantai maupun mengambil gambar bangunan dari dekat.


Menara besi yang berdiri di wilayah Champ de Mars di tepi sungai Seine itu memang telah menjadi ikon global kebanggan negara Prancis, khususnya kota Paris sejak lama. Yang juga menjadi salah satu struktur telkenal di dunia. Dengan tinggi keseluruhan hingga ke ujung antenanya yakni 324 meter, menjadikannya juga sebagai salah satu bangunan tertinggi di dunia.


Rania menegadahkan kepalanya menatap bangunan tersebut dari buelevard berumput hijau dibawah menara.


"Waaaaa ..." ekspresinya terlihat menggemaskan.


"Aku baru ke tempat ini dan benar-benar melihat menara Eifel dengan mata kepala sendiri. Dan ini luar biasa." katanya yang masih terkagum-kagum.


"Aku juga baru mengunjungi tempat ini. Bagus ya?" sahut Dimitri yang merangkul pundaknya dengan erat. Dia tak membiarkan perempuan itu lepas dari pelukannya walau hanya sedetik.


"Hu'um ..." Rania mengangguk.


"Mau ke atasnya?" tawar Dimitri.


"Bisa?"


"Bisa. Apa yang aku nggak bisa?"


"Dih, ... sombong!"


Dimitri tertawa. "Come on!" katanya sambil meraih tangan Rania dan menuntunnya lebih mendekat ke bagian bawah bangunan menara tersebut. Dimana ratusan orang telah mengantri seja pagi-pagi sekali untuk membeli tiket.


"Hey, ... kita nggak ngantri dulu?" Rania melihat pengunjung lain yang sudah dalam antrian, sementara mereka berdua hanya berjalan melewatinya.


"Kita bisa langsung masuk." jawab Dimitri tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Kok bisa?"


"Bisalah, aku pesan tiketnya online sejak pagi." dia menunjukan layar ponselnya yang tertera tulisan yang tak Rania mengerti.


Dimitri kemudian menunjukannya juga kepada penjaga pintu masuk, dengan sedikit pembicaraan yang tak juga Rania mengerti.


"Ayo." katanya, dan mereka masuk saat si petugas membukakan pintu, bersama pengunjung lainnya yang sudah mendapatkan tiket terlebih dahulu.


"Kamu ngomong apa tadi?" mereka sudah berada di dapan lift yang menuju ke puncak menara.


"Kita bisa langsung ke lantai paling atas. Disana pemandangannya lebih bagus."


"Oh iya?"


"Ya."


Lift berhenti sebanyak tiga kali ketika beberpa penumpang lain memutuskan untuk turun.


"Kita turun di lantai paling atas." Dimitri menarik tangan Rania yang hampir mengikuti para penumpang yang keluar berurutan.


Lalu tibalah mereka berdua di puncak Eifel, dimana hanya ada beberapa orang saja di dalam sana. Tentu saja, karena perbedaan harga tiket yang cukup jauh untuk bisa mecapai tempat tertinggi di menara Eifel itu menjadikannya tidak terlalu banyak pengunjung yang masuk kedalam sana.


"Pastikan mantelmu terpasang dengan benar. Karena sangat dingin diatas sini." pria itu merapatkan mantel yang melindungi tubuh mungil Rania dari hawa dingin yang masih mendominasi sebagian besar wilayah benua Eropa pada akhir musim dingin itu.


"Wow, ..." pemandangan dari atas sini benar-benar terlihat menakjubkan. Mereka bisa melihat ke seluruh penjuru kota Paris, juga area sepanjang sungai Seine yang dihiasi taman dan pepohonan yang indah.


Beberapa kali mereka mengambil gambar dengan ponsel. Sebagian berfoto sendiri dengan latar pemandangan kota, dan sebagian lagi berfoto berdua. Selebihnya, keduanya hanya melihat-lihat di tempat itu hingga hampir lewat tengah hari.


Puas menikmati pemandangam kota dari puncak menara Eifel, keduanya kemudian berpindah ke tempat lainnya.


Mengunjungi Museum De Louvre yang terletak tepat di dekat sungai Seine. Lalu mengunjungi monumen Arc De Triomphe yang terletak di pusat Place Charles de Gaulle, dan Champ Elysees di ujung baratnya sebagai perhentian terakhir pada sore harinya.


"Kita nggak balik ke hotel apa?" Rania sudah menyandarkan tubuhnya pada Dimitri. Hari itu memang mereka lewati dengan menyenangkan, namun juga sekalius melelahkan baginya.


"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat."


"Lagi?" Rania bangkit. "Aku pikir kita akan pulang ke hotel. Aku capek, sayang!" perempuan itu mengeluh.


"Aku tahu, makanya kita pulang kesana." jawab Dimitri yang menyelipkan rambut Rania ke belakang telinganya.


"Kemana?"


"Ribeauville."


"Ribe ... apa?"


"Ribeauville."


"Kemana lagi itu?"


"Istirahat dulu lah, perjalanannya masih lama." Dimitri kembali merangkul tubuh Rania untuk kemudian dia tarik ke pelukannya.


Dan setelah beberapa lama menempuh perjalann, mereka pun tiba di sebuah desa terkenal di Prancis. Tempat dengan sebagian area lahannya di kelilingi hutan dan kebun anggur yang luas. Yang memang terkenal sebagai sentra pembuatan wine paling terkenal di negara itu.


Bangunan-bangunan khas mereka lewati sepanjang perjalanan. Bangunan indah dan suasana khas yang membuat siapapun seakan masuk ke negeri dongeng.


"Bangunlah Zai, kita sudah sampai." Dimitri berbisik di telinganya.


"Hum?" Rani menggeliat dalam pelukan Dimitri.


"Kita sudah sampai di Ribeauville." katanya.


"Oh iya?"


"Ayo." pria itu turun dan menarik Rania.


Sebuah kastil tua yang tidak terlalu besar menjadi persinggahan mereka, bangunan kuno namun masih tampak kokoh berdiri ditengah ladang anggur yang luas. Kastil tersebut terlihat cantik karena tanaman merambat yang memenuhi hampir sebagian besar dindingnya.


"Welcome to Rebaueville." seorang pria berstelan rapi datang menyambut. Yang merupakan pengelola tempat tersebut.


"Thank you." Dimitri menjawab.


Kemudian pria itu membawa mereka berdua untuk masuk kedalam bangunan tinggi tersebut. Suasananya begitu hening karena mereka tiba pada sore hari, ketika matahai hampir tenggelam di sebelah barat. Menyisakan semburat jingga menghiasi langit ladang anggur Ribeauville. Ditambah letaknya yang berada paling jauh dari tempat lainnya membuat tempat tersebut tak terlalu mendapat banyak kunjungan.


Lalu setelah mereka diantarkan ke sebuah Villa di area bawah tak jauh dari kastil, untuk menginap dan mebgistirahatkan diri.


Sopir mereka membawakan tas berisi pakain ke lantai dua dimana kamar berada.


"Kau juga bisa pergi Piere." ucap Dimitri setelah pria pengelola kastil meninggalkn tempat itu.


"Yes, Sir." ucap sang sopir yang kemudian keluar dari bangunan tersebut.


"Kita cuma berdua disini?" Rania menatap keluar jendela kamar mereka dimana pemandangan semakin terlihat menakjubkan.


Ladang nggur yang luas pada sore hari memang tampak mempesona. Namun sepi segera menyelimuti bagai tak ada lagi penghuni lain disana selain mereka, seiring matahari yang terus tenggelam hingga suasana menjadi gelap.


"Tentu saja, kita sedang berbulan madu, bukannya karya wisata anak sekolah." Dimitri terkekeh. "Lagi pula kasihan Piere, kalau aku membiarkan dia juga menginap disini."


"Kasihan kenapa? kan gampang kalau dia ada. Kalau kita mau pergi gimana?"


"Gampang, kita bisa telfon. Dia tidur di penginapan yang tadi kita lewati. Bahaya juga kalau dia tetap disini."


"Bahaya kenapa?"


"Dia akan mendengar suara asing yang menakutkan."


"Hum?" Rania mengerutkan dahi.


"Kita berisik kalau sedang bercinta." Dimitri merangkul pundak perempuan itu dari belakang, lalu menpelken bibirnya di telinga Rania, kamudian mengecupnya beberapa kali. Lalu ciumannya turun ke leher dan tengkuknya sehingga membuat tubuh perempuan itu meremang.


"Mm ... aku ... mau mandi dulu." Rania menghindar.


"Mandi bersama?" Dimitri mengikuti gerakannya sambil melepaskan mantelnya.


"Nggak! aku mau mandi sendiri." perempuan itu bergegas masuk kedalam kamar mandi seraya membanting pintu agak keras.


Sementara Dimitri hanya tertawa dan menggelebgkan kepala.


Kenapa semakin hari dia semakin menggemaskan saja. batinnya.


***


"Apa ini hadiah yang kamu maksud?" Rania meneguk minumannya setelah meyelesaikan acara makannya pada malam itu. Yang sudah disediakan oleh pengelola kastil dan villa beberapa saat sebelum mereka tiba.


"Bukan." jawab Dimitri, dia menenggak redwine dari gelasnya.


"Aku pikir hadiahnya ini."


Pria itu tersenyum.


"Atau nggak jadi ya?"


"Kenapa tidak jadi?"


"Karena kemarin waktu di Le Mans aku kan juara dua."


"Tidak ada pengaruhnya. Balapan sebelumnya kamu kan juara satu."


"Terus apa dong hadiahnya?"


"Nanti kita lihat sendiri."


"Hmmm, ... main rahasia-rahasiaan."


Pria itu tersenyum lagi.


"Apa mobil?"


"Bukan. Kamu sudah punya Bugatti, kenapa aku harus memberimu mobil lagi? satu saja jarang kamu pakai."


"Motor?"


"Ada motor aku, kenapa aku harus membeli lagi motor? pemborosan."


"Terus apa dong? aku penasaran."


"Nanti saja sekalian."


"Hmm ... kamu curang."


Dimitri tertawa.


"Mungkin setelah ini aku jadi pindah bekerja di Jakarta." Dimitri kembali memulai pembicaraan.


"Oh ya?"


"Sebentar lagi Om Arfan mau mundur, dan aku nggak punya piliha lain untuk menggantikan dia."


"Hmm ...


"Dan itu juga yang membuat dia mengijinkan aku mengambil cuti, dengan syarat aku harus benar-benar pindah ke Jakarta setelah ini."


"Pantes bisa cuti lama." Rania menenggak minuman yang Dimitri tuangkan ke gelas miliknya, lalu dia menjengit saat merasakan hal asing di lidahnya.


"Enak?" pria itu tersenyum.


"Aku bakalan mabuk nggak kalau banyak minum ini?" Rania menatap botol di depannya.


"Mabuk kalau kamu minum terlalu banyak."


"Ah tapi aman kalau beneran mabuk juga."


"Aman?"


"Aku mabuk sama suamiku sendiri. Kalaupun terjadi apa-apa juga nggak akan bahaya kan?" perempuan itu tertawa.


"Minum belum habis segelas kamu sudah ngawur." Dimitri ikut tertawa.


"Hmm ... aku nggak pernah minum sebelumnya."


"Untuk ukuran anak muda jaman sekarang ditambah pergaulan yang sangat bebas kamu terlalu lugu, Rania. Sulit dipercaya juga aku bisa menemukanmu yang masih sepolos ini. Yang sekarang sudah nggak polos lagi gara-gara aku."


"Ish, ... ngomong apaan sih? aku nggak ngerti."


"Kamu tahu, anak muda biasanya akan bergaul kebablasan, dan kadang bagi sebagian perempuan mereka tidak akan mampu menjaga dirinya sendiri."


"Dih, aku mah main ya main aja. Balapan ya balapa aja, temenan juga ya temenan aja, nggak ada unsur lain. Apalagi kalau ingat papa, ancamannya ngeri."


"Papamu galak ya?" Dimitri kembali menenggak minuman berwarna merah yang baru saja dia tuangkan lagi ke gelasnya.


"Nggak."


"Itu kamu bilang ancaman papamu ngeri?"


"Ngeri, kalau aku berbuat macam-macam. Itu kayak udah tertanam di otakku. Jadi suka berhenti sebelum ikut ngelakuinnya kalau ingat papa."


"Memang." Rania dengan bangganya. "Tapi bagus juga kan? karena kamu jadi satu-satunya laki-laki yang mendapatkan aku secara utuh." dia tersenyum sambil menggerak-gerakan kedua alisnya keatas dan kebawah.


Bangga.


"Hm... benar. Dan aku beruntung karena itu." Dimitri meraih tangannya, kemudian merematnya dengan lembut.


"Jadi, hadiahnya apa?" Rania kembali pada topik sebelumnya.


"Haih, ... itu lagi."


"Aku kan penasaran." dia menenggak habis minuman merah yang tersisa di gelasnya.


"Mau lagi?" Dimitri menawarkan.


"Nggak ah, nanti aku mabuk beneran."


"Nggak akan, ini bagus juga untuk membuat tubuh tetap hangat. Akhir musim dingin tahun ini terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya." pria itu berujar.


"Ada hal lain yang bisa bikin kita tetap hangat."


"Apa?"


Rania mengulum senyum.


Kenapa tiba-tiba otakku meikirkan itu ya?kayaknya minuman ini mempengaruhi otakku deh. Batin Rania, dan wajahnya memerah seketika. Udara mulai terasa panas sekarang ini.


"Hey, wajahmu memerah, Zai."


"Hmm ... ?" dia menyentuh wajahnya sendiri yang terasa panas.


"Kayaknya aku mabuk deh?"


"Mana ada orang mabuk ngaku? lagi pula kamu cuma minum sedikit. Red wine tidak akan dengan mudah membuat yang meminumnya mabuk begitu saja. Kamu ngaco." Dimitri tertawa.


"Ye, ... iya kalau kamu. Aku kan baru ini minum." seraya mengalihkan pandangan saat ekor matanya menangkap cahaya mencolok dari ruang makan tempat mereka berada.


"Kamu berlebihan, ini cuma wine." Dimitri terkekeh, dan lagi-pagi dia menyesap minumannya.


"Tuhkan, gara-gara minum mataku jadinya berkunang-kunang." Rania bangkit dari duduknya.


"Astaga!!" pria itu lanjut tertawa.


"Di belakang sana itu apa?" Rania bertanya.


"Hum?"


"Di belakang villa ini ada apa?"


"Masih kebun anggur, lalu hutan kecil di belakangnya."


"Hmm ... ada pemukiman penduduk terdekat?"


"Nggak ada. Kenapa?"


"Terus cahaya apa itu?" Rania tetap menujukan pandangannya pada cahaya yang berpendar diluar jendela.


"Cahaya?" Dimitri mengerutkan dahi, lalu mengikuti pandanganny ke arah mata Rania memandang.


Rania kemudian keluar lewat pintu yang memang ada sebagai jalan untuk mencapai area belakang. Cahaya terang di tempat itu menarik perhatiannya.


"Apa yang ... " Dimitri pun bangkit dari duduknya saat melihat Rania sudah berada diluar bangunan.


"Zai, kembalilah. Cuacanya dingin!"


"Tapi itu cahaya apa?" Rania menunjuk ke arah cahaya yang berpendar.


"Nggak tahu, mungkin ada kapal alien." jawab Dimitri, sekenanya.


"Ngaco!"


"Mungkin saja."


Perempuan itu menuruni anak tangga kemudian berjalan ke arah dia melihat cahaya.


"Hey, Rania!!"


Dia melewati jajaran pohon anggur setinggi dirinya, yang luasnya tk sebesar area lainnya. Hanya berjarak beberapa meter saja dari villa.


"Rania!" tak ada pilihan lain bagi Dimitri selain mengikutinya memasuki kebun anggur tersebut.


"Ughh!" dia hampir saja menabrak tubuh Ranja yang tiba-tiba saja berhenti.


"Sudahlah, ayo kita kembali. Nanti kalau tersesat bagaimana?" Dimitri menarik Rania yang betah menatap kejadian menakjubkan di depan matanya.


"Zai, ayo."


"Wow, apa itu?" mata bulatnya berbinar memantulkan cahaya dari sebuah area berumput di belakang kebun anggur. Atraksi cahaya dari serangga malam yang menghuni area itu.


"What the ...


"Bagus ..." Rania berjalan mendekat.


Serangga dengan dominasi cahaya berwarna kuning beterbangan di area terbuka yang ditumbuhi rumput dan semak belukar. Mungkin ada ribuan ekor yang beterbangan diudara, sebagian kecilnya hinggap di dedaunan.


"Kunang-kunang." ucap Dimitri yang juga melangkah mendekat.


"Mustahil, ini bahkan masih musim dingin. Kenapa mereka sudah keluar?"


"Emangnya kunang-kunang kapan keluarnya?"


"Setahuku, di negara dengan empat musim seperti ini, merek akan muncul saat musim panas. Tapi ini unik, mereka muncul di akhir musim dingin." pria itu menengadahkan tangannya, dan segera saja, beberapa ekor serangga yang ekornya menyala itu hinggap di jari-jarinya.


"Wow, mereka cantik." Rania pun mendekatinya.


"Yeah, just like you." ucap Dimitri, seraya menatap wajahnya yang tampak berpendar di kelilingi banyak kunang-kunang yang beterbangan di sekitar mereka.


Rania balik menatapnya, kemudian tersenyum.


"Ini kita dimana sih?"


"Masih si Prancis."


"Kok rasanya kita di Cikole ya? dinginnya sama." perempuan itu tertawa.


"Ck!" Dimitri berdecak sambil memutar bola matanya. "Kamu merusak momen romantis kita." katanya saat serangga yang barusan hinggap di tangannya terbang karena suara tawa Rania.


"Asli, dinginnya sama kayak di Cikole. Jalau tahu gini kita langsung pulang aja ke Bandung. Ngapain mahal-mahal liburan di Prancis?" ucapnya, kemudian tertawa lagi.


"Di Bandung bisa kapan saja, kalau ke Prancis entah kapan lagi setelah ini. Mungkin tahun depan kalau kamu masih balapan."


"Ye ... suka kemana aja kalau ngomong."


"Itu benar."


"Nggak juga lah. Ya pasti masih balapan, kenapa nggak?"


"Hmm ... semoga."


"Ya harus lah. Selama masih mampu, aku pasti terus balapan."


"Yeah, ...


"Lihat, makin lama kunang-kunangnya makin banyak." Rania memutar tubuhnya melihat sekeliling yang masih terang dihiasi cahaya kecil yang beterbangan diatas kepalanya.


"Ah, ... aku lupa nggak bawa hape. kan bagus kalau bisa aku rekam buat kenang-kenangan?"


"Kalau mau lihat lagi, nanti kita ke resortnya om Arfan. Disana juga ada kunang-kunang."


"Masa?" Rania berhenti berputar.


"Ya, ...


"Ya udah, nanti bulan madu lagi kesana."


"Oke."


"Eh, nggak deh. Bulan madu ini juga udah cukup."


Dimitri mendekat sambil menggelengkan kepala.


"It's never enough." katanya.


"Jangan pakai bahasa asing pak. Aku pusing." Rania menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kebiasaan yang nggak bisa aku rubah."


"Hmmm ...


"Kamu masih mau disini?"


"Nggak tahu, tapi ini masih bagus."


"Tapi kita akan kedinginan jika terlalu lama diluar."


"Iya juga."


"Ayo kita kembali, dan melihat cahayanya dari dalam villa?"


"Nggak yakin cuma lihat cahaya kunang-kunang di villa."


Dimitri menyeringai.


"Pasti lihat yang lain-lainnya."


"Kamu sudah pintar sekarang." pria itu meraup pinggang Rania hingga mereka kini tak berjarak.


"Kamu yang ngajarin." Rania terkekeh.


"Hmm ... bagus kan?"


"Ya ya ya, ... dan kamu membuat aku nggak bisa lupa semuanya."


"Benarkah?"


Rania mengangguk.


"Well, let see ... apa yang nggak bisa kamu lupa." kemudian dia menempelkan bibir mereka berdua. Yang segera mendapat sambutan hangat dari Rania, dengan membalas pagutan lembutnya.


Lidah mereka saling membelit dan bersentuhan, lalu saling menyesap dengan nikmat.


Perasaan keduanya meningkat seiring ciumam yang semakin dalam saat Rania melingkarkan kedua tangannya di leher Dimitri. Lalu pria itu mengangkatnya dengan mudah. Kemudian dia berjalan tergesa menuju villa dengan perempuan itu dalam gendongannya.


***


Ujung-ujung jarinya menyentuh setiap jengkal tubuh telanjang Rania, dan dia menatap setiap detiknya ketika perempuan itu menggeliat dan mendes*h.


Alat tempurnya sudah benar-benar menegang begitu dia melepaskan kain terakhir di tubuh mereka.


Dimitri kemudian membenamkan naga ajaibnya kepada Rania tanpa aba-aba sehingga membuat perempuan itu hampir berteriak. Dan tanpa menunggu lama lagi, dia segera enghentak.


"Engh ..." Rania mengerjap pelan dengan mulut yang terbuka. Namun dia tak melepaskan pandangan dari wajah diatasnya yang juga tengah menatapnya. Saling menikmati pemandangan indah saat wajah mereka sama-sama merona karena hasrat yang terus menanjak.


"Oh, ..." tubuh perempuan itu menggeliat, dan kedua tangannya meremat keras kain pelapis tempat tidur dibawahnya. Hingga beberapa lama dia melakukan itu, seolah dia akan terjatuh jika tak melakukannya.


Namun kemudian Rania beralih memeluknya ketika Dimitri asyik menelusuri leher dan dadanya. Dia meremat rambut cokelat pria itu saat kedua tangan Dimitri juga tak berhenti meremat apapun yabg dia temukan. Menyentuh titik-titik sensitif ditubuh Rania sehingga membuatnya semakin menggeliat tak karuan. Area dibawah sana bahkan berkedut dan mencengkeram semakin kuat, menghadirkan perasaan yang semakin sulit untuk dikendalikan.


"Oh God!" Dimitri mempercepat hentakannya saat dia merasakan klim*ksnya hampir tiba di ujung, sementara Rania bertahan mati-matian untuk tidak segera meledak. Inti tubuhnya malah memcengkeram semakin kuat untuk membuatnya bisa menahan diri.


Tapi rasanya dia sudah tak kuat lagi, karena pada kenyataannya dia gagal bertahan. Seiring hentakan Dimitri yang semakin menggila, maka saat itu pula lah dia semakin mengencangkan cengkeramannya. Dan disaat yang bersamaan, tiba pula lah dirinya di puncak pelepasan.


Begitupun Dimitri yang mengalami hal sama. Saat cengkeraman dibawah benar-benar mengecang, diikuti tubuh Rania yang melengkung dan lenguhan panjang keluar dari mulutnya. Dia menghujam keras dan menahan alat tempurnya untuk beberapa saat hingga semburan di dalam berhenti dengan sendirinya.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


maaf telat up, lagi banyak anu😜😜


minta vote, like komen dan hadiah aja yang banyak.


lope lope sekebon anggur 😘😘😘