All About You

All About You
Dia, Rania



🌹


🌹


Dimitri memacu mobilnya menuju rumah mereka, setelah dia tak menemukan Rania saat keluar dari hotel milik teman SMPnya tempat acara Reuini itu diadakan. Perempuan itu haya meninggalkan mobil dalam keadaan terbuka dengan alarm menyala dan penyok di bagian pintunya.


Dia pasti benar-benar marah, mengingat kalimat yang diucapkannya sebelum dirinya kembali ke dalam bangunan itu untuk meminta maaf. Yang kemudian membuatnya segerra mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dan mungkin itulah juga yang membuat Rania menghajar salah satu temannya hingga hampir tak berdaya.


"Angkatlah Zai!!" Dimitri menempelkan ponsel di telinganya, berharap Rania menjawab panggilannya meski dirinya tahu, bahwa itu merupakan usaha yang sia-sia.


Untuk ke sekian kalinya dirinya membuat Rania marah, dan kali ini adalah yang paling fatal.


"Astaga! Aku bahkan tidak memberinya kesempatan untuk berbicara!" pria itu melemparkan ponsel ke kursi penumpang.


Dia kembali tertegun ketika tiba dirumah dan penjaga di gerbang mengatakan jika Rania belum kembali sejak pergi bersamanya pada petang tadi, dan membuat Dimitri semakin kelimpungan.


Panggilannya tak dia jawab, pesannya pun tak ada yang di balas. Sementara ini sudah hampir tengah malam.


"Apa dia ke Bandung ya?" Dimitri mondar-mandir di pekarangan rumahnya. Waktu sudah menunjukan pukul 23.30 mendekati tengah malam, namun dia yak menemukan titik terang tentang keberadaan istrinya.


Rania tak kenal siapapun di Jakarta, tidak ada sanak ataupun saudara yang dia tahu, apalagi teman. Satu-satunya yang dia kenal adalah Andra.


Mungkinkah dia pergi ke rumah pria itu?


Dimitri kemudian melakukan panggilan telfon. Tapi jawaban yang dia terima malah mengecewakan, karena perempuan itupun tak berada disana.


"Pasti dia ke Bandung. Mati aku kalau Rania benar kesana." dia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah.


Tak berapa lama Dimitri kemudian bangkit. Dia berlari keluar, dan tanpa berpikir panjang kembali mengendarai mobilnya berniat menyusul perempuan itu ke satu-satunya tempat yang paling memungkinkan untuk dia tuju jika mengalami masalah seperti ini.


***


Dimitri tiba pada hampir dini hari, dan rumah bertingkat dua milik mertuanya itu tampak sepi. Tentu saja, bisa dipastikan jika penghuninya sedang berselancar di alam mimpi saat ini.


Dia ragu, dan juga takut. Menyadari kesalahannya yang cukup fatal kali ini membuat keberaniannya menciut, jadilah pria itu hanya menunggu di depan pagar hingga pagi tiba, dan dia hampir tidak tidur sejak tiba disana.


Terdengat pintu gerbang dibuka saat suasana mulai sedikit terang. Dimitri terperangah dan dia segera keluar dari mobil. Mendapati Maharani yang keluar dengan motor maticnya.


"Dim?"


Pria itu tertegun.


"Kamu dari mana pagi-pagi begini?" ibu mertuanya bertanya.


"Mmm ... dari ...


"Rania mana?" tanya Maharani kemudian.


"Ap-apa?"


"Rania mana? atau kamu sendirian?"


Dimitri tak menjawab. Dia langsung tahu jika perempuan itu tak ada disana.


"Dim?" panggil Maharani.


"I-iya Ma?"


"Kamu dari mana? sendiri?" sang ibu mertua melihat kedalam mobil milik menantunya tersebut.


"Ck! kirain sama Rania."


"Ada masalah Ran?" Angga muncul tiba-tiba, melihat istrinya yang terlihat bercakap-cakap diluar pagar rumahnya. Dia mengerutkan dahi saat menemukan sang menantu yang berada disana.


"Nggak, ini ada Dimitri. Tapi nggak sama Rania." Maharani menoleh.


"Dari mana kamu pagi-pagi begini?" Angga berjalan menghampiri.


"Da-dari ... rumah nenek." pria itu berbohong.


"Nenek?"


"Iya, semalam ada kerjaan dan menginap di rumah nenek."


"Oh, ... Rania ...


"Rania memintaku mampir untuk melihat keadaan kalian sebelum pulang." Dimitri berujar.


"Oh iya, ..." Angga terkekeh. "Kami baik-baik saja."


"Iya, pah. Kalau begitu ... aku pamit."


"Nggak mau masuk dulu?" tawar Angga.


"Umm, ... sebentar lagi ada rapat pagi." Dimitri beralasan.


"Oh, ...


"Jadi, ... aku pamit." ucap Dimitri lagi yang kemudian menyalami kedua mertuanya, setelah itu segera pergi.


Kamu pergi kemana Zai?


🌹


🌹


"Kamu yakin nggak mau pulang?" Andra menyeruput kopinya pada sarapan mereka pagi itu.


"Aku masih boleh disini nggak?" Rania malah balik bertanya.


Suami istri di depannya saling pandang.


"Tante, aku masih boleh disini nggak?" dia beralih kepada Vivian, namun perempuan itu tak langsung memberi jawaban.


"Om sudah bohong lho sama suami kamu, rasanya ragu kalau om bisa bohong lama-lama sama dia. Kasihan juga Dimitri kalau kamu tinggal lama-lama." katanya saat mengingat pria itu yang menghubunginya semalam, tak lama setelah Rania tiba dan perempuan itu memohon untuk tak memberitahukan keberadaannya disana.


"Ah, ... dikasihani terus dia malah ngelunjak! bikin sebel. Udah nggak pekaan, suka salah sangka. Dia lebih percaya sama temen-temennya lagi dari pada aku." jawab Rania.


"Ya kenapa nggak kamu jelasin?"


"Orang dia nggak ngasih aku kesempatan buat ngomong kok, gimana mau aku jelasin? malah minta maaf sama temennya yang nyebelin itu."


Andra terdiam lagi.


"Ya minta maaflah, kalau urusannya jadi panjang gimana? anak orang udah kamu pukulin ya takutnya jadi masalah nanti."


"Dih, orang nyebelin kayak gitu nggak usah dipikirin. Masih untung dia nggak aku bikin gegar otak."


"Astaga, Rania!" Andra menyapu wajahnya dengan kasar. "Kenapa ya kamu persis papa kamu? keras kepalanya nurun banget? kenapa bukan kalemnya mama kamu aja yang nurun?" katanya, sedikit frustasi.


"Dih, nggak ada hubungannya. Kalau harga diri om yang dihina emangnya om bisa diem? atau tante Vivian yang di lecehkan bakalan diem? mana disebut jual diri lagi? kan gobl*k."


"Astaga!"


"Ups, ... maaf." perempuan itu menutup mulut dengan tangannya, kemudian terkekeh.


"Ya ... nggak juga sih." Vivian buka suara.


"Nah itu maksudnya."


"Tapi nggak gitu juga Rania?"


"Terus aku harus apa? lari, ngadu sambil nangis gitu? bukan aku banget."


"Hadeh ..." Andra memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa nyeri.


Kemudian Vivian terkekeh.


"Sudahlah, kalau kamu memang masih mau disini, nggak apa-apa. Tinggal lah dulu. Dari pada ke tempat lain kan bahaya." ucap perempuan itu yang melanjutkan sarapannya.


"Nggak lama kok, paling sore juga aku pulang."


"Beneran?"


"Serius om."


"Katanya masih kesel, tapi sore mau pulang?"


"Ya maunya sih kabur seminggu, cuma pasti om nggak akan ngijinin aku lama-lama disini."


"Ooo nggak bisa."


"Makanya."


"Ya udah."


"Tapi jangan bilang sama papa ya?"


"Apa?"


"Soal ini. Kalau semalam aku kabur kesini."


"Hhh ..." Andra menghela napasnya pelan-pelan.


"Papa jangan sampai tahu, kasihan nanti kepikiran. Marah lagi deh sama Dimitri."


"Ya kalau nggak mau papa kamu tahu plus marah sama suami kamu, ya kamunya jangan kabur-kaburan kayak gini dong?"


"Sehari doang om."


Rania terdiam.


"Sehari om ijinkan kamu disini, tapi nanti siang harus pulang."


"Itu sih bukan sehari, tapi setengah hari."


"Yang semalam dihitung juga, oneng!"


"Dih, om om nih perhitungan?"


"Jangan lama-lama nampung istri orang, takut jadi fitnah."


Rania mencebikan mulutnya.


"Ayo Alvi, kita berangkat." Andra bangkit seraya mengenakan jasnya, kemudian mengecup puncak kepala putri bungsunya dan berpamitan kepada istrinya. Diikuti Alvi, putranya yang sudah beranjak remaja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rania memilih duduk di teras belakang sambil membaca puluhan pesan yang sebagian besarnya berasal dari nomor ponsel Dimitri. Isinya apalagi kalau bukan kepanikan dan kekhawatiran pria itu kepadanya.


Dia juga mendapatkan pesan dari sang ayah yang isinya kabar jika mereka baik-baik saja, dan tidak usah khawatir, juga berterima kasih setelah kedatangan Dimitri tadi subuh.


Perempuan itu mendengus, kemudian meletakan ponselnya di lantai teras.


"Salah faham itu biasa, tapi harus cepat diselesaikan biar nggak berlarut-larut." Vivian muncul membawa minuman dingin yang dia letakan di samping Rania.


"Tante sama om pernah nggak sih ngalamin hal kayak gini?" perempuan itu mendongak.


"Sering."


"Masa?"


"Iyalah, namanya juga rumah tangga, ya sering ada perselisihan. Dan itu biasa."


"Terus nyelesainnya gimana?"


"Ya ngobrol."


"Tapi itu sering kejadian?"


"Namanya juga manusia, kena hilaf dan lupa. Ya kejadian-lagi, kejadian lagi."


"Pengulangan peristiwa."


"Betul."


"Aku nggak marah, tapi cuma kesel aja. Kalau kesel aku suka ngomong sama bersikap kasar. Kayak semalam, aku mukulin orang. Aku takut nanti gitu juga sama Dimitri. Kan kasihan kalau dia aku pukul?"


Vivian kemudian tertawa.


"Secinta itu ya, kamu sama Dimitri. Sekalipun kesel, kamu tetap takut menyakiti dia karena kebiasaan kamu. Jadi pilihannya pergi."


"Tapi sakit hati juga sih, soalnya dia lebih milih belain temennya dari pada aku."


"Kan dia nggak tahu apa yang terjadi?"


"Udah aku bilang dia nggak ngasih kesempatan aku untuk ngomong."


"Iyalah, kalian sama-sama nggak peka."


"Hum?"


"Bisa dimaklum. Kamu masih muda, dia juga."


"Aku salah?"


"Nggak. Kau cuma mengikuti naluri. Tapi nggak bisa dibenarkan juga kalau memilih lari, karena masalah nggak akan selesai kalau dihindari."


"Iya juga sih."


"Jadi jangan lama-lama marahnya ya? dosa."


"Hu'um." Rania menganggukan kepala.


🌹


🌹


"Rania ada dirumah saya." Andra meletakan minuman kaleng dingin di depan Dimitri yang sekarang ini telah sah menjadi atasannya itu.


"Nggak tega saya lama-lama." lanjutnya, yang seharian ini melihat pria muda itu murung dan tampak linglung. Masih beruntung dia dapat menyelesaikan pekerjaannya hingga di akhir hari.


"Baru ditinggal sehari sudah seperti itu?"


"Apa? tapi semalam om bilang ...


"Biarkan saja dulu dia, salah kamu sendiri sih?"


"Kenapa om bohong?"


"Dia yang minta. Dia kesal kepadamu."


Dimitri terdiam, dia tak bisa menyanggah hal tersebut.


"Jelas dia marah dan bertindak sekasar itu, seseorang melecehkannya secara fisik dan verbal. Kalau saya ada di posisi dia pun pasti akan melakukan hal yang sama."


"Lain kali tanyakan dulu penyebab kemarahan seseorang, jangan langsung menghakimi tanpa sebab, karena tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Tapi tindakanmu semalam menunjukan jika kamu tidak benar-benar mengenal istrimu." Andra dengan omelannya.


"Hhh ..." Dimitri hanya menghela napas pelan.


Tak ada satu hal pun yang bisa dia gunakan sebagai jawaban atau sanggahan.


"Jaga juga istrimu, jangan sampai ada orang yang berusaha mendekat apalagi menggodanya."


Dimitri terdiam mengingat apa yang perempuan itu lakukan semalam saat dia mengatakan tentang para perempuan yang berusaha menggodanya, yang tak dia sadari sama sekali. Mungkin hal itu juga yang Rania lakukan. Menjaga dirinya sendiri ketika tak mendapatkan penjagaan dari suaminya.


Namun dirinya malah menyebut sikap perempuan itu membuatnya malu.


"Astaga! kesalahanku benar-benar fatal!" Dimitri menutup wajah dengan kedua tangannya.


Namun kemudian dia bangkit dan berjalan keluar.


"Kamu langsung pulang kan?" Andra mensejajari langkahnya.


"Aku mau jemput Rania."


"Tapi dia bilang ...


"Dia tidak akan marah lama-lama, setelah melampiaskan kemarahannya dia akan kembali normal. Walau mungkin kali ini akan sedikit sulit untuk membujuknya, tapi rasanya tidak ada salahnya kalau aku mencoba."


"Yakin?"


"Yakin."


"Nanti dia meledak, terus malah memukulmu lho." Andra berkelakar.


"Aku lebih baik dia memukul dari pada ditinggalkan seperti ini. Rasanya mau mati saja!"


Andra mencebikan mulutnya.


***


Dan mereka pun tiba di kediaman Andra setelah berpacu melewati jalanan macet dan lampu merah.


Dimitri setengah berlari turun dari mobilnya, menerobos pintu depan yang terbuka tanpa permisi ketika tiga penghuninya, Vivian dan kedua anaknya tengah asyik bermain di halaman.


"Zai?" dia setengah berteriak.


"Zai, ayo kita pulang?" dia menyusuri setiap ruangan dilantai bawah hingga ke lantai atas.


"Zai, kamu di mana?" Dimitri berteriak lagi.


"Zai?" kemudian dia kembali ke bawah.


"Dia nggak ada, om?" katanya kepada Andra yang sudah berada di dalam rumah bersama anak dan istrinya.


"Rania sudah pulang tadi siang." Vivian menjawab.


"Apa?"


"Tadi siang, dia memutuskan untuk pulang." ulang perempuan itu.


"Astaga!"


"Maaf, lupa tidak memberitahu kalian." lanjutnya dengan nada menyesal.


Dimitri mendengus pelan, kemudian kembali kedalam mobilnya dan segera pergi dari sana.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


🤭🤭🤭