
🌹
🌹
"Ya pak, saya titip Rania. Kasih apa pun yang dia butuhkan, buat dia senyaman mungkin di sana." Angga menerima panggilan telfon di sela percakapannya dengan Andra.
"Saya nggak dulu ke sana, nanti saja kalau Rania sudah tenang. Dia butuh sendiri. Hanya awasi dan jaga. Minta bantuan orang lain kalau bapak nggak sanggup." lanjutnya.
"Iya, terimakasih sebelumnya." dan panggilan pun di akhiri.
"Ketemu?" Andra bertanya.
Angga tak langsung mendekat, namun malah menatap orang-orang di depannya satu per satu. Andra, Vivian dan istrinya sendiri, Maharani.
"Jawab pea!" sahabatnya itu yang datang mendekat.
"Dia ada villa." akhirnya Angga menjawab, dengan langkah pelan dan gestur tenang. Tak tampak sedikitpun ke khawatiran sama sekali.
"Villa mana?" malah Andra yang merasa lebih khawatir, mengingat keadaan perempuan itu yang tengah hamil muda.
"Di Bogor." Angga menjatuhkan bokongnya di sofa, tepat di samping Maharani yang menunggu penjelasan darinya.
"Bogor? gue cari ke sana kemarin kagak ada?" Andra bereaksi.
"Bogornya mana pea? Bogor itu luas."
"Lah itu di mana?" tanya Andra kemudian.
"Rahasia ah, tar lu laporin lagi ke si Dimi." Angga mendelik. Tampak sekali kekesalannya setiap kali mengingat menantunya itu yang telah membuat putrinya melarikan diri.
"Dih, kagak ada hubungannya."
"Jelas ada, dia atasan lu. Ya pasti lu laporin lah?"
Andra terdiam.
"Kesel gue sama dia. Kalau orang tuanya nggak cepet-cepet jelasin udah gue hajar juga tuh anak. Bikin anak gue sedih lagi, mana nyepelein keadaan dia. Berani-beraninya!" pria itu bersungut-sungut.
"Sabar ih, kamu nggak boleh gitu." Maharani terus megusap punggung Angga untuk menenangkannya.
"Mereka masih muda, masih butuh di bimbing. Kita sebagai orang tua cuma harus mengingatkan kalau mereka salah. Kayak lahir langsung setua ini aja, gimana sih?" katanya lagi yang langsung membuat suaminya itu bungkam.
"Bener tuh omongan Rani, kayak lu lahir langsung tua aja." cibir Andra, merasa mendapat kesempatan mengolok sahabatnya semasa kuliah itu.
"Diem lu pea!" Angga mengacungkan ujung kakinya kepada Andra, yang membuat sang sahabat tertawa terbahak-bahak.
"Masih cemburu aja lu sama si Dimi, move on Ga, move on! Itu Rania anak lu udah sama lakinya, bukan bini lu yang di rebut orang." pria itu tertawa lagi.
"Ketawa lu sepuasnya, tar giliran adiknya Alvi yang kawin baru tahu rasa!"
"Dih, dia nyumpahin? emangnya lu? cegeng bener jadi bapak?"
"Tar lu rasa Ndra!"
"Kagak bakalan!"
"Nangis darah lu ditinggal anak gadis kawin."
"Kagak gue mah, rela-rela aja kalau udah jodohnya. Ngapain nangis darah segala? Emangnya lu, badan gede doang tapi hati isinya barbie semua." cibir Andra lagi, sebelum akhirnya ocehannya di hentikan oleh Vivian.
"Lu ya, makin tua makin ngeselin Ndra?"
"Eh, udah! ini kenapa jadi berantem? tiap ketemu kalian pasti begini?" Maharani menghentikan percakapan tersebut.
"Jadi di mana?" tanya Andra lagi setelah terdiam beberapa saat.
"Apaan?"
"Anak lu di mana?"
"Ogah gue ngasih tahu lu."
"Dih? segitunya? gue kagak bakalan ngasih tahu si Dimi, tapi kalau pak Satria udah turun tangan siapa pun yang sembunyi kagak bakalan lolos. Ini kebetulan aja dia nyuruhnya ke gue, kalau ke yang lain udah ketemu Rania dari kemaren."
"Kinerja lu payah berarti, masa udah tiga hari anak gue belum lu temuin?"
"Alah, bilang aja lu juga puas karena si Dimi kagak bisa nemuin dia?" tukas Andra.
"Gue saranin nih ya, mending lu kasih tahu gue deh dimana Rania sekarang, biar bisa gue tutupin." lanjutnya kemudian.
"Maksud lu?"
"Ya kita biarin aja dia disana selama yang dia mau tanpa harus Dimitri temuin dulu."
"Lu mau berhianat sama bos lu?"
"Bukan berhianat, cuma biar Dimitri ngerti aja."
"Tega lu hianatin bos lu sendiri?"
"Kagak, orang emak bapaknya aja nyuruh gue gitu."
"Apaan?"
"Pak Satria bilang kalau Rania ketemu jangan dulu kasih tahu Dimitri. Biarin dia temuin sendiri."
"Emang bener-bene ya tuh orang?"
"Jadi kalian mau berkonspirasi nih?" Angga berujar.
"Serah dah, lu nyebutnya apa."
"Kagak ngerti gue."
"Kalau nggak ngerti nanya, bukannya bolos." jawab Andra.
"Maksud lu apaan pea?"
"Ya kalau lu nggak ngerti itu nanya, bukannya bolos pas kuliah. Apa lagi sampai D.O. Kan gini jadinya."
"Dih, lu kagak nyambung!"
"Sambungin aja, kan gampang?"
"Hadehhh!! makin tua makin ngeselin!" Angga menggelengkan kepala.
"Kamu nggak ada niatan ganti suami gitu Vi?" kini Angga beralih kepada Vivian.
"Hah?" perempuan itu mendongak.
"Punya suami bikin pusing kayak gini? kamu nggak kena darah tinggi apa?" katanya lagi, membuat Vivian tertawa.
"Tapi anak kalian nggak kaya dia kan? Alvi mah normal kan ya? adiknya gimana?"
"Apaan lu pea!" Andra bereaksi.
"Kasihan, ..." Angga bergidik seolah telah menemukan hal paling mengerikan di dunia.
🌹
🌹
Dimitri menepikan mobilnya di tempat parkir sebuah area mini market, setelah seharian mengelilingi kota Jakarta untuk menemukan Rania. Tapi dirinya tak memiliki ide sama sekali mengenai keberadaan perempuan itu. Entah itu jalan yang pernah dia lewati, atau tempat yang pernah dia singgahi.
Dan seketika Dimitri pun tersadar, jika istrinya itu tak pernah pergi kemana pun, atau memiliki teman satu pun kota itu. Jadi tidak mungkin ada tempat yang pernah dia singgahi selain rumah besar orang tuanya.
Dimitri merapatkan punggungnya pada sandaran kursi, seketika tenggorokkannya seperti tercekat, membuatnya merasa sesak dan sakit di saat yang bersamaan.
"Di mana sih kamu Zai?" dia bergumam, menatap kosong ke arah bangunan yang terang benderang di depannya. Juga sebuah stand minuman yang sangat Rania gemari.
Tempat ini, yang sering dia singgahi sepulangnya dari rumah orang tuanya. Dia pasti akan membeli banyak camilan untuk bekalnya malam hari. Karena Rania tidak bisa tidur dalam keadaan perut kosong. Makanan harus selalu tersedia di dekatnya, atau dia akan muntah-muntah.
Namun saat ini malah terbayang, dimana dia makan? apa yang dia makan dan bagaimana keadaannya? apa sama seperti saat bersamanya ataukah tidak?
Ulu hatinya terasa ngilu, dan dia merasa semakin putus asa. Membayangkan kemungkinan keadaan Rania yang tak seperti ketika mereka bersama.
Masalah sepele benar-benar menjadi boomerang besar baginya, dan dia baru saja menyadarinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dimitri tiba di rumah hampir tengah malam, dengan dua cup minuman dingin kesukaan Rania, dan dua kantong kresek camilan yang sering di belinya. Berharap ketika dirinya tiba di rumah, perempuan itu juga sudah pulang.
Namun tetap seperti empat malam sebelumnya, Rania tak berada di sana. Rumah tetap sepi, dan kamar mereka semakin dingin. Tempat itu bahkan terasa seperti kuburan.
Ah, ... Rania. Semarah itu kamu kepadaku. Apa tidak ada hal yang bisa membuatmu pulang dan memaafkan aku?
Dia menatap layar ponselnya yang juga terasa dingin. Hanya panggilan dari Clarra saja yang masuk, itu pun mengenai pekerjaan.
Biasanya Rania akan mengirimkan pesan konyol seharian, atau dia akan mengirim foto-foto untuk menggoda dan mencari perhatian. Apa lagi jika dirinya tak kunjung pulang walau malam telah larut.
"Sayang, hari ini kamu pulang jam berapa?"
"Sayang, nanti kamu lembur?"
"Yang, hari ini ada jadwal tambahan nggak?"
"Papi, apa kamu sibuk? aku mau nelfon."
"Yang, aku punya baju baru, mau lihat?"
Dulu, dirinya merasa itu sebagai hal konyol yang biasa, tapi kini malah hal itulah yang paling dia rindukan.
Dimitri duduk di tepi ranjang, menatap sekeliling ruangan yang remang-remang. Biasanya Rania akan muncul dari ruang ganti dengan penampilan menggodanya. Pakaian kekurangan bahan yang membuat rasa lelahnya setelah bekerja seharian menguap seketika, dan berganti dengan semangat dan hasrat yang menggebu-gebu.
Namun lagi-lagi bayangan tersebut malah menghadirkan rasa bersalah yang cukup dalam. Mengingat betapa banyak hal yang dia lewatkan, padahal usia pernikahan mereka baru hitungan bulan.
"Zai, ... aku mohon pulanglah!" des*hnya, seraya merebahkan tubuh letihnya diatas tempat tidur mereka.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ....
aduh, ... sedih euy kalau udah gini, tapi gimana lagi, oneng mah susah kalau udah marah. Yang katanya lebay gitu.
Mau minta lagi like komen sama hadiahnya lagi lah, kan aku udah up 3 kali hari ini 😜
lope lope sekebon cabe 😘😘