
🌹
🌹
"Kamu serius nggak mau ikut ke rumah kakek?" Angga sekali lagi meyakinkan kepada putrinya.
"Nggak ah."
"Disana semua orang kumpul lho, keluarganya om Gara juga datang."
"Ngak ah, aku lagi males." Rania menelungkupkan tubuhnya di sudut sofa.
"Ya udah. Tapi nanti jangan keluyuran."
"Nggak, paling nanti ikutan NR aja."
"NR apaan?"
"Night Riding."
"Kagak ada! mendingan ikut aja dari pada keluyuran." Angga bereaksi.
"Nggak pa. Bercanda, nggak akan kemana-mana. Lagian nggak ada temen juga buat prgi. Galang camping sama temen-temennya."
"Biasanya juga pergi sendiri."
"Nggak ih serius."
"Awas lho!!"
"Beneran Papa. paling keluar kalau mau cari makan doang."
"Makanan banyak dirumah, mama udah masak banyak buat stok makan kamu semalaman." sahut Maharani yang muncul dari kamarnya.
"Noh, kagak ada alasan keluar malem oneng!" ucap Angga.
Rania mencebikan mulutnya.
"Pergi dulu ya? awas, jangan masukin cowok kedalam rumah, bahaya." sekali lagi angga memperingatkan.
"Nggak ih, udah Dibilangin si Galangnya juga nggak ada." Rania dengan kesal.
"Kagak si Galang juga ada yang lain."
"Siapa?"
"Kali ada sponsor yang Kamu bawa pulang lagi?" sindir Angga.
"Ish... mana ada?"
"Bisa aja."
"Ada yang ronda di depan, paling kena grebeg kalau malem-malem masukin cowok mah."
"Ho'oh tar papa kawinin sekalian. Balapannya udahan, kagak bakalan bisa beli Bugati lagi." Angga mengepalkan tangannya di depan wajah.
"Bercanda ih, papa serius amat." Rania mendelik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rania merasa bosan berada di dalam rumah sendirian. Pasalnya tak ada yang bisa dia jahili, karena biasanya dia berbuat iseng kepada tiga adiknya yang sama usilnya dengan dirinya. Belum lagi rasa lapar yang mendera, sementara makanan yang sudah disediakan sang ibu membuatnya tak berselera.
Dia segera berganti pakaian dengan skinny jeans, jaket kulit dan sepatu kets. Tidak lupa dengan helm fullfacenya.
Papa, aku nggak lama. Cuma cari makanan doang.
Boleh Ran, pergi aja. bisiknya, lalu dia terkikik.
Kemudian pergilah dia setelah memastikan pintu terkunci rapat dan keadaan aman.
"Pergi Neng?" seorang bapak-bapak menyapa sambil melihat jam tangannya, yang memang menunjukan waktu telah larut.
"Iya, mau nyusulin papa ke rumah kakek." jawab Rania, kemudian merapatkan helmnya.
"Rumah udah aman Neng?" tanya bapak itu lagi. Dan Rania menjawabnya hanya dengan mengangkat jempolnya ke atas.
Gadis itu kemudian memacu Ducati milik sang ayah menuju ke tengah kota.
***
Rania memarkirkan motornya di tempat biasa. Alun-alun kota Bandung sudah ramai pada malam itu. Seperti biasa, tempat itu menjadi pilihan banyak orang untuk menghabiskan malam minggu.
Segera saja dia melangkahkan kakinya ke tujuan utama, mencari makanan yang disukainya dan setelahnya akan segera pulang.
Namun ponselnya berbunyi nyaring, dia segera memeriksanya, dan keningnya menjengit saat nomor kontak Dimitri menelfon.
"Ya?"
"Kamu dimana?" tanya dari seberang.
"Alun-alun."
"Alun-alun? sedang apa malam-malam begini?"
"Cari makan."
"Makan?"
"Hmm...
"Dengan siapa?"
"Sendiri."
"Tunggu aku kesana." ucap Dimitri, kemudian memutuskan sambungan.
"Apa yang ..." gadis itu menatap layar ponselnya saat hanya terdengar bunyi tut dari seberang sana.
***
Dimitri segera saja mengganti pakaian tidurnya, meraih jaket di gantungan dan kuci mobil diatas nakas, kemudian keluar dari kamarnya. Begitu dia memutuskan sambungan telfon dengan Rania yang tengah berada di alun-alun tengah kota
"Mau pergi Dim?" Lita menemukam cucunya turun dari kamar, dia memeriksa karena terdengar kegaduhan di lantai bawah.
"Iya nek," pria itu mengenakan sepatunya dibawah tangga.
"Kemana?"
"Ketemu temen."
"Nanti pulang?"
"Sepertinya nggak. Aku pulang ke apartemen langsung ya?"
"Baiklah."
"Pergi dulu nek, bilang Abah aku pergi ya?" dia memeluk sang nenek sebelum pergi.
"Iya, hati-hati Dim. Jangan macam-macam."
"Nggak nek, paling satu macam." sang cucu tertawa.
"Nenek laporkan mama kamu." ancam Lita dengan telunjuk dia arahkan kepada Dimitri.
"Nggak usah lapor juga mereka pasti tahu."
"Dimiii!" perempuan itu dengan gemasnya.
"Pergi dulu." Dimitri melambaikan tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pria itu tiba di tempat parkir setelah sekitar setengah jam berkendara, dari wilayah berbukit tempat kediaman nenek kakeknya, hingga ke tengah kota. Melewati jalan pintas yang sudah dia kenal sejak kecil.
Dimitri menatap kerumunan mencari sosok yang dikenalnya, namun seseorang menepuk punggungnya dari belakang.
"Kamu lama, aku udah lapar." keluh Rania dengan ekspresi kesal namun lucu.
"Memangnya kamu dari mana?"
"Dari rumah."
"Mamamu tidak masak?"
"Masak, banyak malah."
"Terus kenapa kamu sampai cari makan keluar malam-malam begini? bukannya sekarang bisa pesan online juga?"
"Banyak banget nanya nya? yang mana yang harus aku jawab duluan?" Rania menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ck!" Dimitri berdecak sambil memutar bola matanya.
"Udah ah,... cari makan dulu." gadis itu berjalan mendahuluinya.
"Makanan terus yang ada di pikirannya?" Dimitri menggerutu, namun tak urung juga dia mengikuti langkah gadis itu melewati gerobak dan stand makanan yang berjejer.
"Bisa tidak kalau kita cari makannya di tempat lain?" dia mensejajari langkahnya.
"Kenapa? aku nggak biasa ke tempat selain ini."
"Maksudnya biar lebih nyaman aja, nggak seramai ini, dan...
"Malu ya ke tempat kayak gini?"
Dimitri terdiam.
"Lagian ngapain juga ikut? kan aku nggak ngajak kamu?"
"Kenapa bicara begitu?"
"Nggak apa-apa. Kamu memang nggak biasa kan datang ke tempat kayak gini? jangan maksain diri, lagian apa sih yang mau kamu buktikan sama aku?" mereka berhenti berjalan.
"Kamu berlebihan," Dimitri terkekeh, "Aku cuma ingin tahu apa saja yang sering kamu lakukan. Lagipula ... aku kan sedang pedekate." jawab Dimitri.
Kini Rania yang terdiam.
"Ayo kita cari makan?" Dimitri meraih tangannya, dan menuntunnya melihat ke beberapa stand yang mereka lewati.
"Kamu mau makan apa?" tanyanya kemudian.
"Kayaknya aku mau seblak level 30 deh." Rania bergumam seraya mengikuti langkah peria itu, dia bahkan membiarkan Dimitri terus menggandeng tangannya.
"Seblak apa?"
"Seblak level level 30."
"Makanan macam apa itu?"
"Makanan terkenal disini lah."
"Benarkah?"
"Iya."
"Mana? apa ada yang jualan makanan semacam itu disini?"
"Banyak."
"Mana?"
"Tuuuhhh." Rania brhenti dan menyentakan dagunya kedepan, dimana sebuah gerobak dengan tulisan ANEKA SEBLAK terpampang nyata.
"Baiklah, ..." Dimitri menuntunnya ke arah sana.
***
Satu mangkuk makanan berisi kerupuk, mi, tahu dan tulang juga siomay kering bercampur sosis dan terlihat seperti telur bertabur sambal berwarna merah menyala. Tampaknya sangat pedas, terlihat dari biji cabai yang banyak dan aroma dan menyengat di indera penciumannya.
"Level 30." Rania menepukan kedua tangannya seolah dia baru saja menemukan harta paling berharga di dunia. Kemudian mengambil kuahnya denga sendok dan menyesapnya dengan riang.
"Enak." katanya.
"Makanan macam apa itu Ran?" Dimitri bergidik ngeri, baru melihat banyaknya biji cabai dan mencium aromanya yang menyengat saja sudah membuat tenggorokannya terasa sakit. Apalagi jika makanan tersebut masuk kedalam perutnya, sudah bisa dipastikan dia tidak akan bisa berjalan selama berhari-hari karena mengalami diare hebat.
"Makanan orang lah, mau coba." Rania menyodorkan satu sendok makanan tersebut.
Dimitri menggelengkan kepala dengan raut ngeri.
"Eh, lupa. Kamu kan nggak makan pedes ya?" ucapnya, dan dia menarik kembali tangannya untuk kemudian menyuapkan benda tersebut kedalam mulutnya. Dan dia mengunyahnya tanpa ekpresi lain selain senang.
"Tidak pedas Ran?"
"Dikit."
Berkali-kali pria itu menelan ludah sambil bergidik. Namun hal tersebut malah membuat Rania tersenyum. Menurutnya ekspresi pria itu lucu juga. Dan dia merasa ingin mengerjainya lagi.
"Kamu nggak pesen?"
Dimitri menggelengkan kepala.
"Ada yang nggak pedes juga, pesen aja."
"Oh ya?"
"Hu'um, bilang aja pesen seblak bayi."
"Seblak bayi?" pria itu mengerutkan dahi.
"Iya, kan cuma bayi yang nggak makan pedas. Kali itu cocok buat kamu." Rania tergelak, sementara Dimitri mendengus kasar.
***
"Habis ini mau kemana lagi?" mereka duduk di kursi taman di sekitar alun-alun setelah Rania menghabiskan seblak level 30 nya, dengan dua cup minuman dingin ditangan masing-masing.
"Pulang ah ..." Rania menyesap cappuccino cincau miliknya.
"Pulang?"
"Hu'um. Kan niatnya juga cuma cari makanan doang. lagian udah malam." dia melihat layar ponselnya, dan waktu sudah menunjukan hampir tengah malam.
"Aku pikir kalau kamu keluar malam-malam seperti ini mau kemana lagi gitu? lagipula ini malam minggu."
"Kemana lagi, selain cari makan. kalau dulu sih aku suka ikut Night Riding atau balapan di jalan. Tapi sekarang nggak."
"Night Riding?"
"Iya, keliling gitu, terus nongkrong sama anak yang lain."
"Sama siapa? Galang?" Dimitri Mulai tak suka.
"Iya, banyakan juga."
"Kalau balapan?"
"Ya balapan, di flyover, atau jalan mana aja yang udah sepi."
"Balap liar kayak di film fast and furious gitu ya?" pria itu tergelak, mana mungkin Rania bisa ikut-ikutan hal semacam itu, pikirnya.
"Hu'um." Rania menganggukan kepala.
"Serius?"
"Serius. Aku sering dapat duit taruhan dari balapan itu, lumayan buat dandanin motornya papa." jawab Rania lalu tertawa.
Dimitri tertegun.
"Benarkan kamu melakukan itu semua?" dia seakan tidak percaya.
"Beneran. Tapi akhir-akhir ini udah nggak bisa."
"Kenapa?"
"Beberapa kali kena razia polisi, terus ditebus sama papa. Terakhir aku ditangkap polisi waktu abis balapan di flyover, dan itu bikin papa marah dan ngancam aku nggak boleh bawa motor lagi. Beberapa minggu sebelum dapat sponsor untuk balapan di sirkuit." dia memalingkan wajah kepada Dimitri.
"Lucu ya? ajaib juga pembalap liar kayak aku yang nggak pernah ikut turnamen lokal bisa dapat sponsor dan masuk kualifikasi balapan internasional. Kedengarannya kayak dongeng aja kan? tapi ini nyata. Bahkan papa aku aja sempet larang,"
"Kenapa?"
"Karena aku perempuan. Kamu tahu, banyak orang yang memandang perempuan sebelah mata. Cuma bisa minta dan ditakdirkan sebagai makmum laki-laki, tanpa diperbolehkan meraih mimpi mereka, apapun itu. Bahkan di arena balap liar juga kaya gitu. Padahal aku udah banyak ngalahin pembalap laki-laki disini, tapi mereka tetap ngeremehin aku. Dan balapan di Italia kemarin sedikit merubah pandangan mereka, terutama sama aku. Se nggaknya itu yang aku kira, biarpun kenyataannya nggak kaya gitu juga sih." Rania terkekeh, ingat perkataan tetangga saat dia baru saja pulag dati Italia.
"Kamu tahu, balapan itu bukan cuma ajang pembuktian buat aku, tapi sebagai tolak ukur sampai dimana kemampuan aku selain bisa mengendalikan mesin yang tiga kali lebih besar dari badan aku. Dan aku mampu. Se nggaknya kepercayaan diriku meningkat setelah itu. Aku mandiri, aku bisa, dan aku nggak butuh siapapun untuk membawa aku pergi kemanapun aku mau. Dan itu asik."
Dimitri mendengarkannya bercerita, dan hal tersebut membuat pikirannya semakin terbuka lebar.
"Dan aku bertemu dengan legenda hidup yang sedang memulai petualangannya?" dia berkelakar.
"Ck! kamu lebay."
"No! karena prestasi seperti ini akan diingat sepanjang masa, sampai kamu punya anak cucu nanti. Dan mereka akan bangga, karena lahir dari keturunan istimewa seperti kamu."
Rania menatap wajah pria asing itu yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya, namun bisa mengucapkan hal yang belum pernah diucapkan oleh siapapun.
"Aku istimewa?"
"Ya." jawab Dimitri.
"Aku haya bisa balapan, selain itu nggak ada lagi yag aku bisa."
"Kamu istimewa sesuai dengan caramu sendiri."
"Oh ya?"
Dimitri menganggukan kepala.
"Aku nggak lagi gombal lho, aku serius." lanjut pria itu, dan membuat Rania tertawa.
"Kenapa tertawa? aku bilang aku serius."
"Dan wajah serius ini menurut aku lucu." gadis itu menyentuh wajah Dimitri untuk beberapa saat. Dan sesuatu terpercik diantara keduanya.
"Mmm...
"Kamu mau lihat aku ikut balapan liar?" Rania langsung saja berdiri.
"Apa?"
"Orang tua aku kebetulan lagi nggak ada, kayaknya aku bisa pulang lebih telat sedikit lagi."
Dimitri menjengit.
"Ayo kita ke flyover, mereka kayaknya mau mulai sekarang."
"What?"
"Pakai motor aku aja, mobil kamu tinggal disini. Kita titip mamang parkir."
"Serius?"
"Iya, cepetan. nanti aku keduluan." Rania menarik lengan pria itu ke tempat motornya terparkir.
Dan dalam waktu kurang dari lima belas menit saja mereka tiba di flyover yang Rania sebutkan. Dengan Dimitri duduk di belakang gadis itu memeluk pinggangnya dengan erat.
Sorakan tentu saja langsung bergemuruh saat ratusan remaja itu mengetahui kedatangan Rania, yang memang sudah mereka kenal apalagi setelah gadis itu masuk balapan di lintasan resmi. Sambutan meriah langsumg saja diterimanya begitu mereka tiba di jalanan lengang yang sengaja di blokir secara ilegal oleh penyelenggaranya.
"Oke, kita harus cepat. Sebelum polisi menyadari acara ini. Gue tekankan selain lagi, siapapun yang menang nanti, setelah ambil duit langsung pergi, nggak ada yang boleh basa-basi. Kecuali kalau kalian udah ada di tempat yang aman. oke?"
Para peserta balap itu mengacungkan jempol mereka.
"Ini ilegal Ran?" Dimitri berteriak saat gadis itu tengah bersiap.
"Memang."
"Bahaya!"
"Aku udah disini bahkan jauh sebelum kenal lintasan Sentul."
"Tapi Ran?"
"Jangan khawatir. Aku bisa." dia merapatkan helmnya.
Suara mesin motor sudah meraung-raung, seperti halnya tunggangan Rania. Enam peserta sudah bersiap dan mereka segera melepaskan tekanan rem saat sebuah kain dilemparkan ke udara. Semuanya melesat secepat kilat dan tak ada yang mampu menghentikannya.
"Rania!!" Dimitri memegangi kepala dengan kedua tangannya. Rasa khawatir tentu saja dia rasakan, selain karena arena ini berbahaya, juga ilegal. Dan sudah bisa dipastikan saat polisi datang, semuanya tidak akan bisa mengelak.
Sementara Rania memacu Ducati milik Angga yang memang sudah bisa dia kuasai dengan baik. Mengejar lima peserta didepan dengan cukup baik dan dia segera mampu menyusulnya.
Mereka menyusuri jalanan yang lengang pada lewat tengah malam itu, yang memang sengaja telah di tutup secara ilegal oleh penyelenggara.
Rania telah melesat jauh meninggalkan lima peserta dibelakang dalam kecepatan tinggi. Tunggangannya sudah tidak bisa dihentikan lagi, dan dia dengan mudah melintasi jalanan itu tanpa hambatan berarti. Tentu saja, Instingnya sudah terlatih denga baik di arena yang sesungguhnya. Hingga setelah melewati satu tikungan saja, dan dia melesat kembali ke tempat awal. Membuatnya menjadi peserta satu-satunya yang tiba disana lebih dulu, bersamaan dengan suara sirene yang terdengar mendekat.
"Polisi!!!" teriak beberapa orang.
Tanpa banyak kata, mereka segera membubarkan diri, dan seperti yang dikatakan pembawa acara tadi, setela Rania menyambar uang taruhan darinya, dia segera menghampiri Dimitri, dan pergi dari sana.
Rania kembai melesat membawa pria diboncengan ke tempat paling jauh dari daerah itu, tempat yang tidak mungkin bisa dikejar oleh siapapun.
***
Mereka tiba di sebuah tempat yang jauh dari manapun, sebuah jalan berbukit yang sepi, tak ada kendaraan yang melintas karena waktu memang telah menunjukan lewat tengah malam.
Rania menghentikan laju motornya di pinggir jalan yang sepi, kemudian melepaskan helm fullfacenya. Dia sedikit berbalik ke arah belakang untuk mastikan keadaan.
"Apa aman?" katanya, dan dia dalam posisi itu untuk beberapa saat.
"Ah, aman." kemudian dia tertawa terbahak-bahak seolah telah menemukan hal paling lucu di dunia. Semenyara Dimitri merapatkan tubuhnya dan memeluknya begitu erat. Adrenalin jelas masih menguasainya, dan tentunya rasa takjub bercampur terkejut.
"Kamu lihat tadi? aku ngalahin lima pembalap dengan mudah kan? latihan di sirkuit bagus juga ternyata." Rania tertawa lagi.
Namun Dimitri masih terdiam, tampaknya dia masih menenangkan diri. Dia terlalu terkejut untuk menjawab.
"Sekarang percaya kan kalau aku nggak cuma bisa bawa motor, tapi juga...
"Jangan diulangi lagi." Dimitri akhirnya buka suara. "Jangan membuat aku takut dengan melakukan hal berbahaya seperti itu." lanjutnya, dan dia mengerutkan pelukannya.
"Aku mohon, jangan lagi menantang bahaya seperti itu, aku nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadaku kalau sesuatu terjadi kepadamu." Dimitri menenggelamkan wajahnya di belakag kepala Rania, menghirup aroma khas yang menguar dari rambut gadis itu.
"Aku mohon, zaichik!! (kelinci kecil). Stop!!" katanya, dan kini dia melingakarkan kedua tangannnya di pundak Rania. Membuat pelukannya menjadi semakin erat saja dengan dadanya yang menempel di punggung kecil Rania, membuat debaran jantungnya yang berpacu cepat seakan tembus hingga ke punggung gadis itu.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
aduh aduh aduh, ... anaknya papi dibawa kebut-kebutan sampai gitu. 😅😅🙈
Biasalah genks, like komen dan hadiahnya jangan lupa. udah tahun baru nih, tambahin doooonng.
lope lope sa Bandung Raya. 😘😘
Note : Zaichik (kelinci kecil) adalah salah satu panggilan kesayangan bagi orang rusia, kelinci yang dimaksud adalah kelinci liar yang biasa hidup dihutan Rusia, dan itu kayaknya cocok untuk Rania. 😜😜
Kelinci liarnya pak Dimi 😆😆