
🌹
🌹
Rumah bertingkat dua di tengah perkebunan daerah perbukitan pinggiran kota Bandung itu mendadak ramai dengan kedatangan tiga anggota keluarga. Suasana hangat kian terasa seiring dengan sorak sorai penghuninya saat menikmati acara televisi pada akhir pekan itu.
Satria dan Dimitri tentu saja gembira saat melihat gadis itu naik ke podium di urutan pertama, bersama dua juara dunia asal Italia dan Jepang. Keduanya tentu saja merasa bangga, karena pembalap yang mereka sponsori mampu membuktikan diri, dan itu lebih dari apa yang diharapkan.
Jagat maya tentu saja langsung ramai dengan postingan netizen yang mencari tahu asal usul Rania. Laman pencarian dipenuhi dengan ketikan nama Rania, pembalap wanita Indonesia pertama yang berdiri di podium pertama memegang piala.
Dan situs berbagi video pun tak kalah ramai dengan banyaknya unggahan video seorang gadis asal Bandung itu yang berkendara dan mencapai garis finish di detik-detik terakhir.
Dan untuk perusahaan Nikolai Grup, tentu saja merupakan sebuah keuntungan. Ketika sebuah prestasi membanggakan itu membuat saham mereka naik sebanyak enam kali lipat dari sebelumnya dan membuat posisi mereka berada jauh diatas perusahaan multinasional lainnya. Setelah semua orang mengetahui asal usul sang pembalap yang timnya bernaung dibawah perusahaan otomotif anak perusahaan Nikolai Grup.
"Aku bilang juga apa kan? dia pasti juara!!" Dimitri berteriak dengan gembira.
"Ya, kalian benar."
"Bukankah dia sangat keren? aku tidak tahu kalau kita punya pembalap sehebat itu." Sofia menimpali.
"Siapa yang sedang kalian bicarakan ini?" Hari bertanya saat dia tak mengerti apa yang anak dan cucunya itu bicarakan, yang sibuk menatap layar televisi dengan tayangan balapan motor dan semacamnya.
"Calon cucu mantu ayah," jawab Sofia.
"Cucu mantu? siapa?"
"Calonnya Dimitri."
"Dimitri?"
Sofia menganggukan kepala.
"Dia mau menikah?" Hari menatap sang cucu.
"Belum, baru mau." jawab Sofia.
"Belum berhasil pendekatan. Baru berhasil dapat pukulan." Satria tertawa.
"Pih?" protes sang putra.
"Pukulan?"
"Perjalanannya masih panjang Yah. Entah akan berhasil atau tidak. Tapi sepertinya dia semakin jauh dari jangkauan." lanjut Satria.
"Papi kok begitu? bukan menyemangati aku, tapi malah menjatuhkan kepercayaan diriku?"
"Karena kenyataannya begitu kan? kita harus realistis dalam hal ini. Waktumu mendekatinya hampir habis. Dia akan lebih disibukan dengan kegiatannya setelah ini. Dia akan lebih terkenal dan banyak orang menginginkannya. Bukan tidak mungkin juga banyak pria yang lebih baik darimu akan mendekati dan berusaha mendapatkannya. Dan kesempatanmu menjadi semakin kecil karena itu."
Dimitri terdiam.
"Ck! kemungkinan itu masih ada, tapi sebelum perjuanganmu berakhir semuanya masih bisa diusahakan." Sofia membesarkan hati putra kesayangannya.
"Tapi papi bicaranya begitu." Dimitri mengadu kepada ibunya.
"Papi hanya bicara kenyataan." tukas Satria.
"Jangan dengarkan papimu, hidupnya tak sebebas kamu dulu. Jadi, Biarkan saja papi bahagia dengan pemikirannya." perempuan itu setengah berbisik.
"Apa katamu?"
"Ck! kasihan." Dimitri mencibir sang ayah.
"Jadi, sebaiknya kamu berusaha lebih baik lagi. Tapi jangan sampai melupakan pekerjaanmu juga tentunya." Sofia menyemangati.
"Dan jika caramu tidak berhasil, tenang saja, mama akan membantumu." Sofia memberikan samangat kepada sang putra.
"Benarkah?" Dimitri dengan wajah sumringah.
"Tentu saja, siapa lagi yang akan membuatmu selain mama?"
"Ah, sudah pasti." pria muda itu memeluk ibunya. "Mama memang yang terbaik." katanya.
"Heh, apa itu barusan?" Satria menarik perempuan itu, merasa tak senang anak mereka bermanja kepada ibunya.
"Hah, papi sirik?"
"Tidak begitu, hanya berusahalah sendiri, jangan mengandalkan orang lain."
"Minta sedikit bantuan apa salahnya?"
"Itu tidak fair."
"Tidak fair apanya?"
"Kamu mendapatkan dia bukan karena usahamu."
"Terserah aku dong? kan mama juga yang mau membantuku."
"Tidak bisa seperti itu!" tukas Satria, tidak ingin kalah dari putra pertamanya itu.
"Stop!! kalian kalau bertemu apa harus selalu seperti ini?"
🌹
🌹
"Lihatlah, tempat ini akan menjadi salah satu kenangan paling indah dalam hidup kita, dan aku nggak akan pernah melupakannya sampai tua nanti." Galang menatap langit yang menggelap namun kota dibawah sana bertabur lampu berwarna warni. Menampilkan pemandangan malam kota perbukitan Tuscany yang mempesona.
Mereka memutuskan untuk menikmati pemandangan dan melepaskan euforia kemenangan beberapa saat yang lalu. Setelah sesi wawancara dengan beberapa pihak statsiun televisi dan media dari beberapa negara.
"Kamu mulai terkenal Ran." Galang menoleh kepadanya, dan seulas senyum terbit dari bibirnya.
"Apaan?" gadis itu terkekeh, lalu dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dan kedua kakinya yang dia rentangkan diatas meja. Halaman belakang villa mereka malam itu terasa sangat nyaman.
"Setelah ini, perhatian semua orang akan tertuju padamu, kamu akan jadi trend senter, role model dan publik figur harapan semua orang."
"Yaelah, lebay amat Lang?"
"Serius."
"Ah, ... oneng jadi selebriti." Galang mengacak puncak kepala sahabat kesayangannya itu.
"Kalau nggak ada om Angga aku mau peluk kamu deh, tapi takut dia tiba-tiba datang, terus nanti aku dipukul lagi." pemuda itu tertawa.
"Si dudul!!" Rania menumbuk lengan Galang dengan tinju pelannya.
"Coba aja kalau berani?" suara Angga menginterupsi, dan dia muncul dari balik villa yang sepi.
"Nah kan? baru aja ngomong udah beneran muncul." Galang berbisik.
"Masih kedengaran dudul!" Angga menepuk belakang kepala pemuda itu agak keras.
"Om ih!" protes Galang sambil memegangi belakang kepalanya.
Rania tertawa terbahak-bahak. Terkadang merasa lucu melihat kelakuan sang ayah dan sahabatnya itu. Mereka seperti dua musuh yang disatukan dalam satu tempat, yang terpaksa harus bekerja sama karena satu proyek pekerjaan.
"Fokus, fokus!!" ucap pria itu yang menjatuhkan bokong di sofa seberang Rania.
"Dua minggu ke depan jadwal kita padat nih. Setelah kita pulang dulu ke rumah, kita berangkat lagi ke Catalunya, terus langsung ke Jerman. Ada bahan kita nggak akan pulag dulu. Kita maraton ke Belanda sama Cheznya setelahnya. Libur dua minggu lanjut lagi ke yang lainnya." dia menyerahkan jadwal balapan kepada dua orang di depannya.
Daftar sirkuit di setiap negara berbeda yang harua mereka ikuti untuk satu tahun ke depan.
"Padat bener?" Rania bergumam.
"Itu kalau nggak ada masalah yang bikin kamu absen."
"Apa kita harus ikut semuanya?"
"Bagusnya gitu, jadi gelar juara yang akan kita dapat itu lengkap, sampai puncaknya nanti di Mandalika."
"Mandalika?"
"Ya, negara kita akan jadi lintasan yang terakhir Women Superbike tahun ini. Dan akan menjadi ajang tarung paling bergengsi di seluruh dunia."
"Wow."
"Kamu bisa-bisa saja melewatkan satu atau dua balapan, sekedar untuk menjeda biar kamu bisa punya waktu untuk latihan dan istirahat."
"Tapi nanti gelarnya nggak akan lengkap." Rania berujar.
"Nggak apa-apa, pembalap lain juga gitu. Kadang mereka absen di satu atau dua balapan karena sesuatu hal."
Rania terdiam.
"Papa serahkan semua sama kamu. Kamu yang akan bertarung di lintasan. Tapi untuk empat balapan kedepan, kita harus pastikan bisa ikut."
Dua muda mudi di depannya mengangguk-anggukan kepala mereka.
"Faham nggak? jangan cuma ngangguk-ngangguk aja."
"Iya Papa." jawab Rania yang mengerjap.
"Ingat, jangan pacaran melulu nanti kurang fokus." pria itu bangkit dari sofa dan melenggang kedalam.
"Dih? siapa yang pacaran?"
"Istirahat Rania, besok pagi kita pulang."
Dua sahabat itu saling pandang.
"Raniaaa!!"
"I-iya papa." gadis itu segera mengekorinya dari belakang.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...