All About You

All About You
From Zero To Hero



🌹


🌹


Cuaca cerah mengiringi langkah mereka pada lewat tengah hari itu. Angin pantai Mandalika berhembus menerpa jiwa-jiwa bersemangat di lintasan, juga orang-orang yang sudah memadati bangku penonton. Yang berasal dari seluruh penjuru dunia, untuk menjadi bagian dari perhelatan besar itu.


Suasana sudah riuh sejak pertama kali pintu arena di buka dan penonton berdatangan. Dan atmosfere kemenangan sudah terasa bahkan sebelum balapan dimulai.


Entah siapa yang akan menjadi pemenang, namun segala euforianya sudah jelas terasa.


Rania sudah bersiap, sama seperti pembalap-pembalap lainnya. Dan para crew memastikan segalanya aman dan siap untuk dilaksanakan.


"Riding suit?" Angga kembali ke bagian dalam pit stop dimana Rania berada.


"Siap."


"Safety stuff?"


"Siap."


"Sepatu, sarung tangan?"


"Udah." Rania menujukan kaki dan tangannya yang sudah lengkap dengan segala keamanannya.


"Oke."


Kemudian seseorang staff khusus muncul menghampiri, hal itu mereka kenali dari tanda pengenal khususnya.


"Selamat siang?" dia menyapa.


"Ya?"


"Ada yang ingin bertemu Rania, apa diperbolehkan?" pria itu bertanya.


"Siapa? asal tidak terlalu lama, Rania harus segera bersiap di garis start."


Kemudian satu rombongan muncul, mendampingi seorang pria asing yang tentu saja sangat mereka kenal.


Angga dan beberapa crew tentunya merasa terkejut menerima kedatangannya. Mereka sama sekali tidak menyangka akan bertemu pria ini.


"Valentino Rossi!" Rania bergumam, tentu saja dia pun sama terkejutnya.


Sang legenda Moto GP mendatangi mereka secara khusus dan itu merupakan keistimewaan tersendiri.


"*Congratulatio*ns." sang Legenda mengulurkan tangan begitu jarak mereka sudah cukup dekat. Kemudian berbicara lagi dengan bahasa Inggris.


Rania terdiam menatap uluran tangan pria itu kepadanya, dan sesaat kemudian dia menyambutnya dengan suka cita. Sosok yang dulu, sejak kecil hanya dia lihat di televisi dan menjadi sumber ke kagumannya dan inspirasi yang membuatnya memiliki mimpi sama yang kini tengah dia jalani.


"Balapan baru saja akan dimulai, tapi kami sudah merasakan kemenanganmu." ucap sang legenda, dengan senyuman khasnya.


Rania hanya bisa balas tersenyum.


"Tidak perlu mempedulikan apapun, hanya pikirkan saja balapannya." katanya lagi, seperti yang selalu di ucapkan sang ayah kepadanya.


Perempuan itu mengangguk.


"Well, just have fun! ini adalah kesenangan yang tidak akan kamu dapatkan di pekerjaan lain bukan?" pria itu sedikit tertawa.


Rania hanya mengangguk-angguk. Dia tak mampu mengucapkan apapun karena saat ini dirinya sedang terkesima. Apakah ini mimpi? apakah ini kenyataan?


"Baiklah, selamat berjuang disana. Lakukanlah yang terbaik." ucap pria itu lagi menyemangati, yang kemudian pergi setelahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Baiklah, kamu udah tahu apa yang harus dilakukan. Jadi ... papa nggak akan banyak bicara soal ini." Angga menghampirinya setelah melakukan putaran pemanasan.


"Jalani saja balapannya dengan selamat, nggak usah kamu bikin yang aneh-aneh."


"Aneh-aneh apaan?" Rania tergelak.


"Pokoknya ya jangan aneh-aneh. Ingat kamu lagi hamil."


"Udah sepuluh kali papa ingatin aku."


"Biar kamu nggak lupa, oneng!"


Rania tertawa lagi sambil mengenakan helm full face nya. Lalu Angga memastikan benda tersebut terpasang dengan benar.


Seperti biasa dia menempelkan kepalanya dan memegangi kepala sang putri untuk beberapa saat. Untuk sesaat mereka merasa keadaan begitu hening, hanya doa saja yang dia ucapkan dalam hati, dan setelah itu, Angga melepaskannya. Menepuk pundaknya pelan, kemudian tersenyum.


Suara sirine dibunyikan, dan bendera segera diangkat, tanda balapan akan segera dimulai. Mesin-mesin kembali di hidupkan, dan semua paddock di lepaskan dari roda belakang.


Para crew menyingkir dari lintasan, kemudian bendera dikibarkan. Sebanyak 30 pembalap melesat bersamaan melewati garis start melintasi track beraspal.


Mereka menikung, berbelok, kemudian melesat lagi ketika menemukan lintasan lurus. Berlomba dengan waktu dan rival-rival yang cukup berat dengan keseluruhan 27 putaran yang harus di selesaikan.


Rania melesat dengan kecepatan penuh, menyusul beberapa pembalap di depannya tanpa hambatan berarti. Membuatnya bisa naik ke posisi empat pada putaran ke sembilan.


"Sepi pah." dia mulai berbicara.


"Apa?"


"Rasanya sepi."


"Sepi?"


"Nggak ada empat orang itu balapannya berasa sepi." dia tertawa.


"Astaga!"


"Berasa nggak seru ya?"


"Gila kamu. Konsentrasi!"


Rania hanya tertawa.


Tiga pembalap di depan gigih mempertahankan posisinya. Mereka pun sama menggebu-gebunya seperti Rania. Ingin mendapatkan gelar juara setelah beberapa musim balapan arena tersebut di dominasi empat juara dunia sebelumnya.


Tidak ada yang akan mengalah sedikitpun, karena kemenangan kali ini harga mati. Maka tidak juga dengan Rania, yang terus berupaya mencari celah agar mampu merebut posisi.


Namun pembalap di depannya cukup waspada, membuatnya selalu menyadari gerakan perempuan itu walau sehalus mungkin.


"Stabil Ran!" Angga menatap layar monitor dimana dua kamera di bagian depan dan belakang motor putrinya terpasang terlihat bergetar.


Perempuan itu tampak tak sabar hingga hampir saja membentur rivalnya di depan.


Persaingan balapan di akhir musim ini terasa lebih ketat. Semua pembalap berusaha melakukan yang terbaik yang mereka bisa, sehingga tidak akan menyerah dengan mudah. Semuanya berusaha mepertahankan posisi mereka dengan sungguh-sungguh.


Dua puluh putaran sudah berlangsung, dan ketegangan semakin nyata terasa. Persaingan tidak tampak akan mengendur, namun malah menjadi semakin ketat saja. Empat pembalap terdepan menjadi semakin rapat, dan kesemuanya memiliki tujuan yang sama, yakni merebut posisi rival di depan mereka.


Motor Rania oleng ke kiri ketika ujung pijakannya sedikit bergesekan dengan pembalap nomor tiga. Membuatnya sedikit melebar dan tertinggal. Namun perempuan itu segera kembali ke posisnya dengan sedikit usaha keras.


"Berapa lap lagi?"


"Enam."


"Sial!"


Kehati-hatian membuat Rania merasa lambat. Dia tidak bisa memaksimalkan kecepatannya seperti biasa. Dan itu membuatnya sulit menyusul tiga pembalap di depan.


"Bertahanlah Ran, posisi empat juga bagus." ucap Angga.


"Papa ngece nih."


"Apaan?"


"Nggak percaya ya kalau aku bisa nyusul mereka?"


"Nggak usah."


"Kenapa?"


"Empat juga cukup bagus. Yang penting kita selesaikan balapannya."


"Hmm ... apa bagusnya cuma ikut balapan tapi nggak jadi juara?"


"Kamu udah jadi juara, jadi ...


"Berapa lap lagi?"


"Lima."


Rania menambah kecepatannya.


"Ran?"


"Papa bilang mau mengakhiri musim ini dengan manis?"


"Memang."


"Jadi biarkan aku mengakhirinya dengan manis!"


"Nggak usah terlalu ...


Perempuan itu dengan nekadnya menggeber lebih keras kuda besinya untuk menyusul dua pembalap di depan sekaligus. Mejadikannya mampu merebut posisi dua pada detik berikutnya.


"Raniaa!" Angga berteriak, begitu juga crew di belakangnya. Dimitri bahkan sampai terlonjak ketika melihat istrinya terus melesat mengejar rivalnya.


"See? aku bisa!" Rania balas berteriak.


"Hati-hati Ran!" Angga sedikit menggeram karenanya.


"Dua juga nggak apa-apa, udah bagus. Bertahan saja!" katanya lagi.


"Nggak mungkin, aku udah sedekat ini." dia bersiap lagi untuk menyusul.


"Jangan nekad!"


Namun Rania tidak mendengarkan. Dan untuk putaran-putaran berikutnya dia terus mencari celah. Hingga akhirnya tinggal satu putaran tersisa.


"Lap terakhir Ran." Angga mengingatkan.


"Aku tahu."


"Cukup, posisi kamu udah aman."


"Papa yakin?"


"Ya."


"Well, aku nggak."


"Apa?"


"Karena mereka masih di belakangku."


"Jangan gila!"


"Bukankah aku memang gila?" dia terdengar tertawa.


"Ran!"


"Anak-anakku akan bangga kalau nanti aku bercerita, kalau mereka aku bawa balapan waktu masih di dalam kandungan."


"Iya tapi ...


"Hanya percayalah!" ucapnya dengan sungguh-sungguh.


Angga terdiam.


"Papa harus percaya aku."


Pria itu bergeming.


"Papa!"


"Ya Ran?"


"Papa harus percaya aku." sang putri berteriak.


"Baiklah!" Angga dengan nada frustasi. Baru kali ini dirinya tak menghendaki putrinya untuk menjadi juara pertama, hanya karena ingat keberadaan cucu kembarnya di dalam kandungan perempuan itu.


Namun Rania bukan orang yang mudah dihentikan bukan? sedikit kepercayaan justru begitu berarti untuknya. Dan itu menjadi kekuatan terbesarnya.


"Baiklah Rania, lakukanlah jika kamu bisa melakukannya." ucapnya, yang kini tanpa keraguan. Mempercayakan segalanya kepada sang putri yang tengah bertarung di lintasan.


Maka segera saja, Rania seakan mendapat energi tambahan. Dia segera memutar sisa keuatan pada Ducati Panigalenya, menghabiskannya hingga tak bersisa. Menyalip pembalap nomer satu secara perlahan, kemudian melesat kencang setelahnya. Meninggalkan mereka di belakang pada putaran akhir itu tanpa ada yang mampu untuk menyusulnya lagi.


Dia melesat seperti kekuatan cahaya, dengan motor tercepat di dunianya melewati garis finish. Pengawas lintasanpun seakan hampir tak dapat melihatnya selain lewat kamera yang terpasang di garis akhir itu. Untuk kesekian kalinya, perempuan itu menjadi juara dunia.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


wah wah ...