
🌹
🌹
Bandara terlihat begitu ramai hari itu, setelah perjalanan hampir 20 jam dari Tuscany, ke bandara internasionalnya hingga kemudian tiba di Jakarta dengan selamat. Rania dan Angga juga seluruh crew turun dari pesawat khusus yang dikirim Nikolai Grup, dengan fasilitas kelas satu.
Suasana langsung riuh ketika mereka berjalan memasuk kedung bandara, begitu banyak orang yang menyambut kedatangan pembalap yang kini menjadi kebanggaan baru yang membawa nama negara di kancah internasional. Beberapa orang penting bahkan menyempatkan datang untuk menyambut kedatangan gadis itu.
"Wah?" Rania tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Menerima sambutan sehebat itu membuatnya ternganga.
Semua orang yang dilewatinya melambaikan tangan dan meneriakan namanya. Beberapa poster bahkan dibentangkan untuk menunjukan betapa bangganya mereka.
Mereka sudah diberitahukan akan ada penyambutan semacam itu, namun Rania tidak menyangka akan seperti yang dihadapinya sekarang.
"Selamat datang," seorang pria yang mereka kenal sering beberapa kali tampil di televisi dalam beberapa acara olah raga datang menyambut. Diikuti orang lainnya yang juga sama terkenalnya. Bahkan ada dari Kementrian olahraga yang memperkenalkan diri.
Rania disambut dengan meriah, untaian bunga dikalungkan ke lehernya, dan media langsung menyorotinya. Kilatan lampu blitz kamera yang menangkap momen itu mewarnai kepulangannya hari itu, dan mereka tak bisa terhindar dari pemberitaan. Yang lagi-lagi menjadi trending topik bahasan netizen sejak hari itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dimitri sudah bersiap-siap menyambut kedatangannya di kantor berita milik anak perusahaan Nikolai grup, sengaja dia menyempatkan diri datang ke Jakarta untuk menyambut kepulangan gadis itu. Setelah hampir dua minggu menahan rindu, kini tiba saatnya mereka akan kembali bertemu. Dalam suasana yang berbeda tentunya.
"Selamat datang." Dimitri mengulurkan tangannya, menyambut Angga dan anak gadisnya yang tiba, sementara crew lain sudah dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing.
"Terimakasih." Angga menerima uluran tangan itu dengan suka cita, kemudian menarik Rania yang berada di belakang tubuhnya.
Dimitri tentu saja merasa gugup, pertemuan mereka yang terakhir kurang baik sehingga membuat gadis itu meradang. Sebaliknya Rania pun merasa canggung, tindakannya yang terakhir itu memang diluar batas, tapi tak membuatnya menyesal sedikitpun. Dia bahkan sudah siap memasang wajah masam saat Dimitri maju untuk menyambutnya.
"Selamat Rania, kamu berhasil." pria itu kembali mengulurkan tangannya, dengan senyum yang ramah tersungging di bibirnya.
Rani tertegun sebentar menatap wajah itu yang terlihat lebih tenang. Lalu dia menyambut uluran tangan Dimitri sambil menganggukan kepala.
"Terimakasih pak." katanya.
Kemudian mereka bersiap untuk melakukan wawancara, beberapa pertanyaan dilontarkan sang pembawa berita dalam suasana hangat. Sementata Dimitri duduk memperhatikan di depan set dengan perasaan riang tentunya.
***
"Hati-hati, Ran." Angga merebahkan punggungnya pada sandaran kursi, mereka kini dalam perjalanan pulang ke Bandung dengan akomodasi dari sponsor.
"Hati-hati kenapa?"
"Kamu mulai dikenal sekarang, prestasimu membawa popularitas ini kepadamu."
"Terus?"
"Hati-hati kena star sindrom."
"Star sindrom? papa lebay deh."
"Akan ada banyak orang yang mendekati kamu, selain yang memang sudah kenal tentunya, dan mereka memiliki niat yang bermacam-macam."
"Hmm...
"Kamu tahu, sebenarnya hari ini kita dapat undangan dari beberapa stasiun televisi untuk wawancara, tapi papa tolak."
"Kenapa?"
"Sengaja, biar kamu nggak terlalu booming, nanti malah mengalihkan fokus kamu."
"Gitu ya?"
"Lagian masuk NKTV juga udah cukup untuk perkenalan, nanti mereka akan memperluas promosi sama hal-hal lainnya." Angga tergelak.
"Maksud hal-hal lainnya itu apa? mencurigakan." Rania memicingkan matanya.
"Kita dapat tawaran kontrak ekslusif dari majalah untuk wawancara sama model merk baju."
"Wah? langsung gitu ya? papa terima?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Takutnya kamu nggak mau."
"Duitnya gede nggak?"
"Lumayan. Kontrak tiga tahun setara sama dua Ducati Panigale yang...
"Terima aja!" gadis itu berujar.
"Harga dua Ducati bisa beli satu Bugati Chiron nggak?" tanya Rania dengan bersemagat. Sudah terbayang di pelupuk mata, mobil keren keluaran terbaru yang menjadi incarannya.
"Nggak, paling baru setengahnya."
"Yah, ... masih banyak kurangnya. Duit aku yang papa simpan ada berapa?"
"Kenapa kamu tanya itu?"
"Masih jauh oneng!"
"Papa tambahin kek? duit papa kan banyak"
"Dih, adik kamu ada tiga, mereka butuh biaya banyak. Apalagi si Rega, masuk SSB tahun ini mahal bener."
"Masa?"
"Kalau kamu jadi juara sampai Mandalika nanti sih baru bisa beli Bugati Chiron."
"Papa serius?" kedua mata bulatnya berbinar-binar.
"Serius."
"Wow... berarti aku harus jadi juara terus biar bisa dapat Bugati..."
"Hmmm... matanya langsung aja banyak mobilnya?" sindir Angga.
"Oke fix. Aku akan jadi juara terus."
"Emang bisa?"
"Papa nggak percaya aku? kemarin aja bisa." dia dengan bangganya.
"Dih, ... sombong."
"Kadang sedikit sombong itu perlu."
"Hati-hati kebanyakan, bisa bikin kamu oleng."
"Nggak akan."
"Cuma ngingetin."
Mereka tiba dirumah setelah kurang lebih dua jam berkendara. Disambut anggota keluarga yang telah berkumpul menunggu kedatangan keduanya.
Raja dan Ratna yang pertama menyambut, juga Sagara dan Virra yang menyempatkan diri untuk datang menemui keponakan mereka. Bersama anak-anak mereka tentunya, membuat rumah bertingkat dua di kawasan perumahan menengah itu menjadi riuh. Ditambah para tetangga terdekat yang juga datamg berkunjung.
"Lah, ... makin lama aja ini dapat jodohnya?" seorang tetangga berujar.
"Jodoh apaan?"
"Jodohnya Rania."
"Memangnya kenapa dengan jodoh Rania?"
"Nggak akan nikah sekarang-sekarang, keburu sibuk sama balapan. Nanti bisa telat nikahnya."
"Masih jauh ke nikah mah, masih muda." jawab Angga.
"Bagusan selagi masih muda, tetangga kita keluar SMA udah nikah. kan enak, udah ada yang tanggung jawab. Rania berapa tahun? 20 kan? udah waktunya." seorang ibu yang lainnya menimpali.
Angga tergelak. "Bagus, bagus. Rania mau kayak gitu?" Angga kepada putrinya, dengan hati dongkol dan sedikit kesal.
Rania menggelengkan kepala.
"Jodohnya aja belum ada." ucap gadis itu.
"Nggak ada yang berani lah, sama pembalap dunia. Belum apa-apa mereka udah ngeper duluan."
"Beneran, padahal perempuanmah nanti ujung-ujungnya juga sibuk di dapur, di sumur sama di kasur. Ngapain jalan jauh-jauh untuk ngejar karir?" ibu lainnya menambahkan, kemudian mereka tertawa.
"Haha... bener juga ya? mendingan nikah, nanti ada yang ngasih duit setiap bulan yang jumlahnya bahkan nggak cukup untuk biaya hidup bulan itu. Ditambah kebutuhan nggak terduga dan lagi nanti punya anak. Emang enakan minta kayaknya ya, dari pada capek-capek balapan." Rania akhirmya mengeluarkan mantra ajaibnya, yang seketika membungkam ocehan ibu-ibu tetangga yang memang selalu berbicara seperti itu setiap ada kesempatan bertemu dengannya. Seperti tidak ada topik lain saja yang penting untuk dibahas.
Ini bahkan gue baru aja pulang balapan dan jadi juara di negri orang, astaga netizen! batinnya.
"Pergi dulu lah." gadis itu melenggang ke garasi rumahnya.
"Kemana Ran?" Maharani bertanya.
"Nyari jodoh, biar cepat nikah. Biar ada yang bisa dimintain duit." dia mengenakan helm kemudian menaiki CBR merah kesayangannya, dan pergi meninggalkan acara penyambutannya yang rusak gara-gara komem netizen lokal di sekitar rumahnya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
sabar Ran, Jodoh kamu udah nunggu. 😆😆
ayo klik like sama komen juga kirim hadiah yang banyak.
lope lope sa Bandungeun 😘😘