
🌹
🌹
"Kak?" Dimitri menghampiri sang kakak yang masih betah duduk memeluk Arfan yang terbaring lemah di ranjang perawatannya. Dengan beberapa alat kesehatan menempel di tubuhnya.
"Sudah siang, Dim. Kamu masih disini?" Dygta tanpa melepaskan tangannya dari Arfan.
"Aku khawatir kakak begini terus, nanti bisa-bisa kakak malah ikutan sakit." dia menyentuh bahu kakaknya.
"Istirahat dulu kak, atau pulang ya? aku antar, mau?"
Dygta menggelengkan kepala, dan dia malah semakin mengeratkan pelukan pada tubuh suaminya.
"Om Arfan nggak apa-apa, dia cuma butuh istirahat." ucap Dimitri lagi.
"Kalau nggak apa-apa kenapa dia nggak bagun-bangun? dari semalam dia begini terus?" Dygta dengan suara parau. Masih ingat saat semalam dia mendapati Arfan yang tak sadarkan diri di sofa begitu dia tiba dirumah sepulangnya dari kantor.
"Badannya sedang istirahat, kak. Kan dokter tadi juga sudah bilang kalau om Arfan nggak apa-apa."
"Kakak takutnya dokter bohong, hanya karena tidak mau membuat kita khawatir makanya mengatakan hal seperti itu."
"Nggak mom," Amara muncul kemudian. "Aku tadi udah tanya sama dokternya, dan emang gitu keadaannya." katanya. "Jadi sekaramg Mommy pulang dulu ya? istirahat dulu sebentar di rumah. Udah semalaman sampai sekarang mommy nggak tidur. Kan kita jadi khawatir."
Dygta bergeming.
"Adik-adik terlalu lama ditinggal. Asha dan Aksa apalagi, dari tadi nelfonin aku melulu." bujuk Amara kepada ibu sambungnya tersebut.
Namun malah dijawab dengan isakan oleh perempuan berusia hampir 34 tahun tersebut.
"Papa! ayo bangun. Masa mau begini terus? apa kamu tidak kasihan kepadaku?" Dygta berbicara.
"Papa, aku mohon bangunlah!!"
"Mom, ...
"Papa!! sekali saja! buka matamu, dan bangunlah!!" ucap Dygta lagi, kemudian tangisnya pecah seketika.
Sementara dua orang di belakangnya hanya bisa menghela napas pelan. Entah sedih atau lelah, namun keduanya sama-sama tak kuat juga jika harus melihat hal seperti ini.
Karena yang paling rapuh jika mengalami hal semacam ini, pastilah Dygta. Keadaannya akan lebih mebgkhawatirkan dari siapapun.
"Mommy!! kasihan dong papanya kalau mommy kayak gini. Nanti malah jadi terganggu. Kita pindah ya?"
"Kalau nggak mau pulang nggak apa-apa, tapi mommy harus iatirahat dulu. Kita pindah ke sebelah ya? biar istirahatnya tetep deketan papa? oke?"
Dygta menggelengkan kepala.
"Atau mommy mau istirahatnya disini? deket papa? nanti aku suruh orang untuk tambah tempat tidur disini ya?" bujuk Amara sekali lagi.
"Tidak usah kak." tolak Dygta, namun dia bangkit dan melepaskan pelukan.
"Baiklah, ...
Kemudian Dygta malah naik ke ranjang dimana suaminya berada, dan dia ikut berbaring ditempat tidur yang tidak terlalu besar itu. Dan kembali memeluk tubuh Arfan dengan erat.
"Astaga!" Dimitri bergumam pelan.
"Kamu pulang dulu sebentar kerumah, Kak. Lihat adik-adik. Mommy mau istirahat dulu sebentar." ucap Dygta, yang kemudian memejamkan matanya bersama Arfan.
Kalau sudah begini, maka tak ada lagi siapapun yang bisa menghalanginya, karena percuma saja, Dygta tidak akan mendengar.
Dia hanya seorang istri yang sedang ketakutan, dan merasa benar-benar sedang dibutuhkan oleh suaminya, atau mungkin sebaliknya.
"Pulanglah dulu, turuti mommy mu." Dimitri berujar, saat mereka berdua keluar dari kamar perawatan.
"Hmm ...
"Galang masih disini?" pria itu melirik ke arah Galang yang masih berada disana, tampak sibuk dengan ponselnya.
"Hmm ...
"Kalian ada hubungan?" Dimitri penasaran.
"Mmm ... gitu deh." jawab Amara, agak canggung sebenarnya, tapi memang keadaannya begitu, bukan?
"Baiklah." Dimitri mengangguk-anggukan kepala. "Senang juga melihatmu seperti ini." katanya sambil tersenyum.
"Iya, kak." Amarapun tersenyum sekilas.
"Baik, pulanglah dengan Galang jika dia masih tetap akan di Jakarta."
"Kakak gimana?"
"Kakak disini dulu, Mommy mu nggak bisa ditinggalkan. Kasihan kalau ada apa-apa."
"Kak Dim jangan bilang gitu dong, malah bikin takut?"
"Maaf, ..." pria itu terkekeh. "Maksudnya kalau butuh sesuatu biar nggak susah."
"Nah, gitu ngomongnya kan enak."
"Iya iya. Sekarang pulanglah dulu, lihat adik-adikmu. Kalau tidak memungkinkan diringgal dirumah, bawa saja ke tempat papi. Agar mereka tidak sedih juga."
"Iya, kak." Amara pun menurut.
"Ayo kak." kemudian dia mengajak Galang.
"Kemana?" pemuda itu memasukan ponsel kedalam saku jaketnya.
"Kerumah."
"Kerumah?" Galang kemudian bangkit.
"Iya, rumahnya papa."
"Aduh?"
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa." Galang tersenyum canggung, sambil memggelengkan kepala. Namun tak urung juga dia mengikuti langkah gadis yang baru-baru ini resmi menjadi kekasihnya itu.
🌹
🌹
"Janinnya sudah berumur dua minggu, dan dia sangat sehat." sang dokter menjelaskan keadaannya saat ini.
"Keadaan saya sendiri?" Rania bertanya.
"Bagaimana perasaan anda saat ini?" sang dokter balik bertanya.
"Saya merasa baik-baik aja. Nggak apa-apa."
"Mual, pusing? lemas dan malas, atau morning sickness?"
Rania menggelengkan kepala.
"Tidak ada gejala kehamilan ya?" dokter menuliskan seauatu di kertas.
"Nggak ada. Emangnya yang hamil selalu begitu ya?"
"Tidak juga. Bahkan di beberapa kasus, ibu hamil bisa menjalani hidupnya secara normal. Misalnya atlit angkat besi, atau atlit panjat tebing yang masih bisa beraktifitas seperti biasa." dokter menjelaskan.
"Kalau yang biasa bawa motor seperti saya?"
Dokter terdiam sebentar.
"Memangnya anda sering mengendarai motor?" pria dengan penampilan klimis itu malah bertanya.
"Dokter nggak kenal saya?"
"Memangnya anda ini siapa? artis tiktok? selebgram?"
"Dokter nggak pernah lihat saya di tivi?"
"Saya tidak suka menonton televisi. Hanya buang-buang waktu."
"Berita online?"
"Saya terlalu sibuk untuk melakukan hal semacam itu." pria itu tergelak.
"Baiklah." Rania pun tersenyum. Dia lega karena pria itu tak mengenalinya.
"Meskipun saya rasanya pernah melihat anda. Tapi dimana ya, saya lupa. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Oh, ... nggak, kita belum pernah ketemu, dokter."
"Baiklah kalau begitu."
"Jadi, gimana?"
"Apanya?"
"Kalau saya bawa motor nggak akan berpengaruh apa-apa?"
"Asal jangan terlalu ekstrim."
"Jadi boleh?"
"Apa anda membawa motor sendiri kesini?"
"Iya."
"Hati-hati saja, kalau tidak merasa ada yang sakit atau tidak enak, ya tidak apa-apa. Tapi kalau merasa sakit harus berhenti ya?"
"Baik dokter." Rania dengan wajah yang sumringah. Dan dia segera pulang setelah dokter memberinya beberapa obat dan vitamin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rania merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamar yang temaram pada hampir malam itu. Sendirian, dengan pikirannya yang melayang entah kemana.
Perempuan itu kemudian menyentuh perutnya, merasakan kehadiran janin yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Dirinya tak percaya akan mengalami hal ini sekarang. Kehamilan dan punya anak di usia semuda ini, bukanlah hal yang ada dalam rencananya. Apalagi dirinya kini yang tengah mengejar cita-cita, dan memikul beban berat di pundak, sebagai kebanggan semua orang.
"Nggak apa-apa ya, kita rahasiain dulu. Nanti kalau udah beres balapannya, kita umumin sama semua orang."
"Kita bisa kan? kamu kuat ya? kita berjuag bersama." dia seperti tengah berbicara kepada makhluk yang sudah berwujud.
Terdengar pintu seperti dibuka dan ditutup dengan cepat. Rania lantas bangkit untuk mencari tahu, tapi pintu kemarnya lebih dulu terbuka saat dia hampir saja turun dari tempat tidur.
"Kirain kamu nggak akan pulang?" Rania menyambut suaminya yang baru saja tiba.
"Hmm ... tadinya, tapi kak Dygta menyuruh aku pulang. Takut kamu khawatir katanya."
"Padahal aku ngerti kalau kamu nggak pulang juga."
"Hmm ..." Dimitri menjatuhkam tubuhnya diatas tempat tidur, berkendara sendirian antara Jakarta- Bandung membuat tubuhnya terasa letih.
"Gimana om Arfan?"
"Nggak apa-apa, cuma kelelahan."
"Oh ya?"
"Iya. Tapi dia baik-baik saja."
"Nggak ada yang serius?"
"Nggak. Kalau dia udah bisa bangun lagi itu artinya dia baik-bak saja."
🥀Flashback On 🥀
Dimitri setengah berlari ketika mendengar suara gelak tawa dari ruang rawat kakak iparnya, pria itu bahkan membuka pintu dengan keras untuk memastikan pendengarannya.
Namun dia tertegun saat mendapati keadaan di ruangan tersebut, ketika Dygta dan Arfan tengah tertawa dan bercanda diatas tempat tidur.
"Om sudah sadar?" dia menginterupsi.
"Memangnya apa yang kamu harapkan?"
"Maksud aku, om baik-baik saja?"
"Tentu saja, memangnya kenapa? om hanya sedikit tidak enak badan."
"Apa? sedikit tidak enak badan?"
"Iya, hanya butuh istirahat sebentar."
"Sebentar? semalaman itu lama om!!" pria itu berjalan mendekat.
"Ya, hanya memulihkan tubuh."
"Astaga!!! semua orang khawatir, dan hampir putus asa, dan om hanya bilang sedang memulihkan tubuh??"
"Memang begitu kenyataannya." jawab Arfan dengan entengnya.
"Makanya Dim, kamu cepatlah pindah, biar kerjaan om Arfan lebih ringan. Kalau kelelahan dia sangat mengkhawatirkan." Dygta menyela.
Sementara sang adik hanya terdiam.
🥀 Flashback Off 🥀
Dimitri bergeser mendekati Rania, kemudian meraih pinggangnya untuk dia peluk.
"Sepertinya kita harus cepat pindah Zai." katanya, dan dia menyurukan wajahnya di belakang tubuh perempuan itu.
"Hmmm ... harus ya?"
"Ya. Kasihan om Arfan dan Om Andra." kemudian dia bangkit.
"Kamu kerumah sakit Zai?" katanya, saat pandangannya menemukan beberapa cangkang obat diatas nakas.
"Hum?"
"Kamu jadi periksa?"
"Eee ...
"Bagus sekali, kamu sendiri pergi ke dokter." dia merangkul pundak Rania dan menempelkan wajahnya di kepala perempuan itu.
"Mm ... iya."
"Are you oke?" Dimitri bertanya.
"Oke. Aku oke." jawab Rania, yang kemudian meggigit bibirnya kuat-kuat.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
Maaf emak telat up, dunia nyata butuh superhero seperti emak. 🤣🤣
Like komen dan hadiah juga votenya selalu di tunggu ya.
lope lope sekebon cabe 😘😘