All About You

All About You
Si Gila Dan Si Aneh



🌹


🌹


Rania memelankan laju motornya saat melihat mobil yang sepertinya dia kenal terparkir di sebuah jalan yang sepi. Kemudian dia berhenti saat jarak mereka tinggal dua meter saja.


Yaelah, ... beneran dia. Kenapa gue berhenti ya?batinnya, saat melihat pengemudi mobil hitam mengkilat itu ternyata Dimitri. Yang tengah menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sembari memejamkan mata.


"Ni orang tidur apa pingsan ya?" Rania membuka helm dan menunduk agar dia melihat pria itu lebih jelas.


"Kalo pingsan masa estetik gitu sih posenya? ganteng bener." gumamnya. "Eh?? ngaco nih gue." dia terkikik, merasa geli dengan pikirannya sendiri.


"Pak?" Rania mengetuk kaca mobil pria itu yang tertutup rapat.


"Bapak pingsan atau tidur?" pertanyaan konyol, namun dia lontarkan juga.


"Pak?" dia mengetuk lebih keras, yang akhirnya membuat si pengemudi terbangun juga.


Dimitri mengerjap terkejut oleh ketukan di kaca mobilnya. Dia bangkit sambil mengusap wajahnya, lalu menoleh ke asal suara. Dan wajah Rania segera mendominasi pandangannya.


Matanya membulat secara penuh dan dia segera tersadar, lalu menurunkan kaca mobilnya.


"Bapak ngapain disini? tidur bukannya di rumah malah di pinggir jalan. Mana di tempat sepi lagi? kalau ada begal gimana?" Rania dengan perhatiannya.


"Kamu juga, pulang balapan bukannya istirahat malah keluyuran?"


"Dih, dia ngatur-ngatur? pulang pak, boboknya dirumah." katanya, dan dia hendak kembali mengenakan helmnya.


"Kamu mau kemana Rania?" Dimitri antusias.


"Keliling lah, hilangin ketegangan."


"Kelilingnya kemana?"


"Bapak kepo deh, kayak yang mau ikut aja."


"Kalau aku mau ikut gimana?" Dimitri dengan ide di kepalanya.


"Hah?" gadis itu menoleh.


Dimitri membenahi posisinya, lalu bersiap menghidupkan mesin mobilnya.


"Aku mau bicara, Rania."


"Apaan?"


"Apa kamu nggak mau turun?"


Gadis itu terdiam sebentar untuk berpikir.


"Rania?"


"Jangan disini pak, nanti ada satpol pp, dikiranya kita mau me*um." dia melihat sekeliling jalan yang sepi dan agak gelap.


"Terus mau kemana?"


"Makan lah, lapar."


Dimitri memutar bola matanya.


"Bukannya waktu itu bapak janji mau nraktir saya makan? kebetulan nih saya nggak bawa duit buat jajan." dia dengan polosnya.


"Baiklah." pria itu bersiap.


"Tunggu," Rania menghentikannya.


"Apa lagi?"


"Bapak bawa duit cash nggak? kalau nggak gesek dulu ke ATM."


"Ck! kenapa kita nggak makan di tempat yang gampang aja sih?" Dimitri menggerutu.


"Dih, itu juga gampang."


"Yang nggak harus bawa uang tunai, Rania."


"Saya nggak biasa. Bisa aja kita makan di mekdi, atau di mana gitu, tapi nggak akan cocok sama lidah saya."


Dimitri terdiam.


"Mau nggak? kalau nggak mau ya udah lain kali aja nraktirnya."


"Ada yang minta di traktir maksa seperti kamu?"


"Ya ada. Ini buktinya." Rania menunjuk wajahnya sendiri.


Dimitri kembali memutar bola matanya.


Untung kangen. Batinnya.


"Ya sudah."


Rania tersenyum seraya merapatkan helmnya. Kemudian mereka melajukan kendaraan masing-masing ke tempat tujuan Rania.


*


*


Mereka masuk ke sebuah tenda makan pinggir jalan, setelah beberapa saat sebelumnya mengambil uang di Atm di dalam mini market. Sekalian gadis itu yang membeli minuman dan beberapa camilan kesukaannya.


Seperti mengantar jajan anak TK saja. dia tertawa dalam hati sambil melirik dua kantung kresek berisi makanan ringan untuk Rania di kursi penumpang.


"Bapak mau pesen apa?" mereka duduk di bangku dengan gadis itu yang menyesap capucino cingcau yang dia beli di depan mini market tadi.


"Tidak tahu, kamu maunya apa?" Dimitri balik bertanya.


"Boleh pesen banyak nggak?"


"Pesanlah."


"Dih lupa, bapak kan banyak duit ya? pasti boleh." Rania tertawa sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Ingat pria di depannya bertanya kepadanya dia harus mengambil uang berapa banyak saat di ATM tadi. Mungkin saja uang yang dimiliki pria itu tak terbatas jumlahnya, dan tidak akan habis walau dipakai sebanyak apapun.


Sementara Dimitri terdiam menatapnya dengan heran.


"Kamu sudah tidak marah Ran?" dia lantas bertanya.


"Hah, apa? marah kenapa?" Rania berhenti tertawa.


"Soal... waktu itu."


"Yang mana?"


"Yang di... lift." keduanya tertegun.


"Mm... jangan bahas itu deh."


"Serius, aku mau minta maaf kalau misalnya...


"Udah, udah, udah. dari pada bahas itu mendingan kita makan. Aku lapar soalnya." gadis itu memesan beberapa jenis makanan yang tidak menunggu terlalu lama, pesanan tersebut telah siap di meja.


Satu porsi ayam geprek, satu porsi sate sapi, tidak ketinggalan cah kangkung dan tahu goreng kesukaannya. Ditambah satu ayam bakar dan dua porsi nasi putih yang masing-masing diletakan di depan mereka.


"Kamu yakin bisa menghabiskan ini semua?" Dimitri menatap takjub makanan di depannya.


"Bisa. Saya kan lapar. Perjalanan Itali ke jakarta itu lama. Tadi saya nggak sempat makan soalnya papa ngajak langsung pulang. Habis itu pas sampai rumah malah dapat kejadian yang bikin kesel. Makanya saya kabur." dia seperti anak kecil yang tengah mengadu kepada ayahnya.


"Aku lupa tadi di Jakarta mau mengajak kamu makan dulu. Papa kamu buru-buru."


"Memang." Rania memulai acara makannya. Dia meraup ayam bertabur sambal dengan tangannya, bersama kangkung dan nasi putih panas yang masih mengepulkan uap tipis itu lalu dia masukan kedalam mulutnya. Di detik berikutnya gadis itu menggigit tahu goreng diikuti satu tusuk sate berbumbu kacang, dengan toping acar wortel mentimun. Sementara Dimitri masih terdiam, menatapnya yang khusyuk mengunyah makanan tersebut tanpa jeda.


Kata papa, gue kalau makan nggak ada manis-manisnya, masih suka nggak Lu? atau malah ilfeel? batinnya, dan Rania sengaja bertingkah menyebalkan di depan Dimitri agar dia tak lagi berusaha mendekat.


"Bapak kok nggak makan? ayam bakarnya nggak pedes lho, khusus saya pesenin buat bapak." sejenak Rania berhenti.


"Mm... " pria itu celingukan mencari sendok untuk makan karena dirinya memang tak terbiasa makan dengan tangan.


Kemudian Rania menyodorkan benda tersebut kepadanya.


"Lupa, kalau bapak bukan Galang." ucap Rania.


"Galang?" kini Dimitri yang memulai acara makannya. Hanya nasi putih dengan sepotong paha ayam bakar tanpa sambal atau yang lainnya.


"Hmm... mekanik saya."


"Oh... anak itu. Pacar kamu ya?" dia tak tahan untuk bertanya, yang membuat Rania terbatuk di sela acara makannya.


"Kamu buru-buru amat makannya? santai lah, masih banyak."


"Kenapa ya semua orang ngiranya aku pacaran sama Galang? ngga papa, nggak bapak juga?" gadis itu dengan kesal, tapi masih melanjutkan makannya setelah meneguk setengah gelas teh panasnya.


"Memangnya bukan?" Dimitri semakin penasaran.


"Bukan. Dia temen saya dari TK pak. masa mau dipacarin?"


"Oh, ... aku kira dia pacar kamu? habisnya kalian terlihat sangat dekat."


"Emang kalau deket harus sama pacar ya? eh lupa, orang ciuman aja bisa sama siapa aja kan ya? nggak harus sama pacar." Rania dengan kepolosannya.


"Apa?"


"Iya, hahaha... kata Galang ciuman itu bisa sama siapa aja, nggak harus sama pacar. Sama temen juga. Kayak bapak ke saya. Tapi kan kita bukan temen?" Dimitri tertegun, kemudian menoleh sekeliling, dimana ada pengunjung lain yang melirik ke arah mereka, mungkin karena mendengar percakapan absurd itu.


"Maaf, waktu itu mukul bapak. Itu cuma refleks, bapak sih ngagetin saya." dan beberapa orang yang duduk di belakang gadis itu tampak tertawa mendengar ucapannya.


"Rania." Dimitri mencoba menghentikan ocehannya.


"Saya kan nggak pernah kayak gitu. Jangankan sama orang lain, sama Galang aja belum pernah."


"Hah?"


"Bapak tahu nggak, kalau bapak itu ciuman pertama saya?" Rania mencondongkan tubuhnya sambil berbisik. Namun tetap saja, obrolan absurd itu terlanjur di dengar beberapa orang, sehingga mereka tampak tertawa walau tertahan.


"Rania, apa kamu sudah selesai?" Dimitri terpaksa menghentikannya.


"Apa? makannya? belum, nih masih ada."


"Cepatlah, kita pergi."


"Ish, ... buru-buru amat?"


Dimitri tak menjawab, dia hanya melanjutkan acara makannya hingga selesai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka memutuskan untuk berhenti di alun-alun kota Bandung yang semakin ramai padahal malam semakin larut. Sama-sama menikmati suasana yang tak biasa.


Bagi Dimitri tentunya, dan ini merupakan hal baru baginya. Pria itu duduk dibalik kemudi mobilnya dengan pintu yang terbuka lebar, sementara Rania duduk di motornya disamping mobil Dimitri.


Ciuman pertama katanya? Dimitri melirik gadis itu yang asyik dengan ponsel pintarnya, memainkan sebuah game terkenal yang tengah digandrungi semua orang. Sedikit senyum terbit di sudut bibirnya. Ada rasa bahagia dihati, walau gadis itu tampak tak peduli.


"Rania?"


"Hmm...


"Nggak."


"Terus habis ini mau kemana?"


"Nggak tahu. Mungkin keliling lagi."


"Keliling kemana?"


"Nggak tahu. Ah, ... mati. Sidudul!!" gerutunya saat game yang dia minta harus game over saat sedang seru-serunya.


Rania mendengus lalu menenggak minuman yang dia beli di mimimarket tadi.


"Bapak kalau mau pulang, ya pulang aja. Saya mau disini kayaknya."


"Nggak apa-apa. Aku juga lagi bosan. Diapartemen nggak ada teman ngobrol."


"Kan bisa istirahat Pak? besok kan bapak kerja?"


"Istirahatnya sudah tadi waktu tidur di jalan."


"Dih, Itumah bukan istirahat. Tapi rehat sebentar."


"Sama saja."


"Lagian, tidur dipinggir jalan? ngapain sih? sengaja gitu biar ada yang lewat?"


"Aku cuma kelelahan, menyetir dari Jakarta sejak sore."


"Langsung dari Jakarta?"


Dimitri menganggukan kepala.


"Ya ampuuunn."


"Tapi bagus juga kan, jadinya kita ketemu."


"Bapak sengaja biar kita ketemu?"


"Nggak."


"Saya pikir sengaja."


Dimitri menghela dan menghembuskan napasnya dengan pelan.


"Sepertinya aku galau Ran."


"Cieee, ... galau? kayak abege yang lagi ketiban lope bapak." gadis itu tertawa, yang lagi-lagi membuat Dimitri semakin takjub. Keceriaannya hanya sebatas jalan malam dan menemukan makanan. Yang mampu membuatnya lebih bersemangat dari sebelumnya.


"Kamu bisa nggak jangan panggil aku bapak? geli dengarnya."


"Ya masa abang? bapak kan sponsor saya?"


"Kita kan bukan lagi di lintasan atau di kantor?"


"Maunya apa?"


"Terserah."


"Bingung pak kalau gitu."


"Nggak usah bingung, anggap saja kita ini berteman."


"Berteman?" Rania memicingkan matanya."


Dimitri menganggukan kepala.


"Temen yang udah ciuman." gadis itu tertawa terbahak-bahak.


"Kamu sudah tidak marah ya soal itu?"


"Marah? aku marahnya sebentar, kalau udah dilampiaskan ya udah, nggak akan diperpanjang." dia mengingat saat memukul pria itu, yang sempat membuatnya sedikit merasa bersalah.


"Tapi aku nggak nyesel lho, aku merasa udah ngelakuin hal yang benar."


Kini Dimitri yang tertawa.


"Maaf, sudah membuat kamu merasa tidak nyaman."


"Lain kali jangan gitu lagi. Aku nggak terbiasa. Yang aku tahu ciuman itu dilakukan sama pasangan, bukan orang yang baru kenala kayak kita. Biarpun si Galang bilangnya itu bisa dilakuin sama siapa aja, tapi pikiran aku ngga gitu."


"Kalau begitu, kenapa kita tidak pacaran saja? kan bagus, sudah pernah ciuman."


"Apa?"


"Apa aku terlalu memaksa kalau aku mau kita jadian?"


"Kamu bercanda?"


"Nggak." Dimitri turun Dari mobilnya. "Sudah aku bilang kan, kalau aku suka kamu?"


"Terus karena suka kita harus jadian gitu?"


"Nggak juga, hanya kalau kamu juga suka aku." pria itu mendekat.


"Jangan deket-deket, nanti aku tonjok lagi nih." Rania mulai waspada.


"Kamu menakutkan Ran." tapi membuat Dimitri tertawa.


"Emang, masih suka sama cewek nakutin kayak aku?"


"Masih, dan semakin hari aku semakin suka kamu." dia meraih tangan gadis itu yang terkepal, kemudian menggenggamnya dengan lembut.


"Jangan pegang-pegang ih,... " Rania menarik tangannya, namun Dimitri menahannya dengan kuat.


"Aku serius, bahkan kalau kamu Ijinkan aku mau bawa orang tuaku untuk menemui orang tua kamu." entah ide dari mana, tapi ucapan itu sudah terlanjur terlontar dari mulutnya.


"Dih, ... belum di jawab udah main mau bawa orang tua."


"Ya karena aku serius."


Rania tertegun.


"Tidak usah dijawab sekarang, aku cuma mau mengatakannya sebelum kamu nanti terlalu sibuk dengan latihan dan jadwal balapan yang padat."


"Kamu tahu?"


"Tahu, aku kan sponsor kamu. Semua jadwal dan kegiatan yang berhubungan dengan itu aku tahu. Termasuk tawaran jadi model majalah dan merk baju."


"Masa?"


"Majalah dan merk baju itu kan punya mamaku."


"Oh ya?"


"Dia mau modelnya yang nggak biasa seperti kamu. Menurut mama kamu itu keren."


"Dih, aku jadi ke ge'eran." Rania dengan pipinya yang merona, lalu tertawa.


"Jadi sudah dipastikan kita akan sering ketemu setelah ini."


"Jadi intinya?"


"Tidak ada. Aku cuma mau mengatakan itu." dia memutuskan untuk tidak memaksakan kehendak. "Tapi aku akan menunggu sampai kamu juga merasakan hal yang sama."


"Jangan, nunggu itu pegel."


"Kalau nunggunya yang spesial seperti kamu nggak akan pegel." Dimitri mengulum senyum.


"Dih, kamu gombal." Rania berusaha untuk tak terbawa perasaan. Karena jujur, pria ini mulai membuat perasaannya tak karuan. Dan itu tak boleh terjadi, bisa-bisa dirinya kehilangan fokus dan semua tujuannya sulit di gapai.


"Nggak Ran. Aku bilang aku serius kan?"


"Jadi kamu mau nunggu?" gadis itu sedikit terkekeh, hal ini lucu sebenarnya. Seorang pria asing yang tidak terlalu mengenalnya tiba-tiba saja mengungkapkan perasaan. Dan itu aneh.


"Begitulah, ...


"Kalau aku tetep nggak suka gimana?"


"Setidaknya aku sudah berusaha."


"Aku nggak kayak cewek lain lho."


"Aku tahu."


"Aku aneh lho."


"Sepertinya aku juga mulai aneh."


"Papaku galak, dia akan menjauhkan cowok mana aja yang ketahuan deketin aku."


"Itu bisa diatur."


"Dih, kepedean."


"Sudah watak aku begitu."


"Si Galang aja sampai dipukul karena mau peluk aku kemarin."


"Dia baru mau, aku sudah kamu pukul."


Rania tergelak.


"Kamu gila."


"Kamu nggak tahu akan segila apa aku nanti."


"Dih, serem?" lalu mereka berdua tertawa bersama.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


Cieeee.... udah tek tokan... gitu dong akur, kan seneng lihatnya.


biasa genk, like komen dan hadiahnya selau aku tunggu.


lope lope sabandungeun.. 😘😘