All About You

All About You
AAY 5 : Masa Depan



#Satu Tahun Kemudian.


Rena menekan tombol password sebuah apartemen, ia membawa beberapa kotak makan ditangannya, kemudian masuk.


"Resti!!! Kau sudah bangun?? Ibu datang!" Wanita itu langsung menghampiri kulkas sang anak, melihat persediaan yang udah hampir habis ia tersenyum senang. "Kau hampir menghabiskan semuanya ya," Ia berbalik mengganti kotak makan lama dengan yang baru.


"Hallo Ibu,"


Rena mengalihkan pandangannya, saat mendengar suara pria menyapa dirinya. Ia membesarkan mata lantaran pria itu bertelanjang dada, "KAU SIAPA!!! kenapa kau ada disini?!" Tanyanya setengah berteriak.


"Perkenalkan aku Trias, aku kekasih Resti."


"Apa?"


"Kekasih? Omong kosong apa yang kau bicarakan!" Resti hadir membawa barang-barang Trias dan memberikannya pada sang pemilik, "Pergilah."


"Ok, Baby." Laki-laki itu lalu mencium pipi Resti dan berkemas, "Ibu, aku pamit."


"Siapa yang kau panggil Ibu!" Rena tak terima, laki-laki itu hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Hera kembali menatap putrinya, "Apa dia benar-benar kekasihmu?"


"Bukan"


"Lalu kenapa kau tidur dengannya?"


"Hanya untuk bersenang-senang. Tidak ada yang istimewa Ibu, dia hanya mainanku."


"Walaupun hanya mainan, tidak bisakah kau mencari laki-laki yang mapan? Kau sudah cukup umur untuk mencari pacar dan menikah." Tanya Rena kesal.


"Ibu, melajang itu sedang tren. Aku tidak mau terikat hubungan rumit, aku lebih suka bermain-main. Jika Ibu suka laki-laki mapan dan menikahi mereka, aku hanya perlu menggunakan mereka untuk kebutuhanku tanpa menjalin hubungan." Jawab Resti santai, gadis itu lalu beralih dan duduk manis menyalakan TV.


"Apa kau sungguh-sungguh melakukannya?"


"Iyaa,,"


'Kemarin, Adryan Pewira resmi mengumumkan pertunangannya dengan kekasihnya Gisella Elvaretta....' berita pertunangan Ryan dan kekasihnya tengah menjadi trending topik seluruh negeri.


"Ibu, bagaimana dengan pria ini?"


Hera melirik wajah tampan Ryan yang muncul dari layar TV, raut wajahnya semakin kesal. "Tidak, ibu tidak setuju."


Resti cukup terkejut dengan jawaban sang ibu, ia menoleh, "Kenapa? Ryan? dia CEO-ku. Aku bisa merebutnya kalau aku mau."


"Lalu kenapa jika dia CEO-mu? Ibu tidak setuju." Jawab Hera tegas.


"Ibu, apa aku pernah menuruti perkataan Ibu?" tantang Resti.


"RESTI!!"


"Setidaknya jelaskan padaku, kenapa Ibu menolaknya? Ibu menyuruhku untuk mencari pria mapan kan, dan dia lebih dari kata mapan."


"Tidak. Sekali Ibu bilang tidak, tetap tidak. Jika ibu tau kau bekerja dibawah naungan perusahaannya, ibu juga akan menolak keras. Jangan lupa dihabiskan, ibu sudah menggantikan persediaan makananmu dengan yang baru." Ujar Hera mengakhiri, wanita itu membereskan barang-barangnya dan pergi.


Langkahnya terhenti dan berbalik, "Ah, iya. Ibu lupa satu hal, sesekali kunjungi Ayahmu. Walaupun dia mengu..."


"Aku tidak punya ayah!" potong Resti, "Pulanglah dengan hati-hati. Aku akan bersiap sebentar lagi." Gadis itu bangkit dari sofa dan masuk ke dalam kamar, sedangkan Hera hanya bisa menghela nafas. Sudah satu tahun berlalu tapi keluarganya masih seperti ini. Gilang yang belum menerima kematian Delista, dan Resti yang terkena imbasnya.


Sedangkan gadis itu, masih merasa ada yang janggal pada ibunya. Penolakan ibu terhadap keputusannya, apa berhubungan dengan ayahnya. Ayah kandungnya? karna ini pertama kalinya, ibu menolak tegas ucapannya dalam hal memilih pria.


Drrrrttt drrttt


'Makan malam bersama Presdir dan tunangannya di Hotel Grand Hyatt, jam 7 Malam'


Senyum Resti mengembang, "Haruskah, aku mengenakan dress ter-sexy ku?"


************


Gisella menatap pantulan wajahnya dari cermin, hari ini seluruh negeri tau dirinya sebagai Gisella, bukan Delista. Penampilannya berubah total termasuk bagian wajah, gadis polos sudah tidak terlihat diwajahnya. Hanya mengubah dagu, dahi dan bentuk wajahnya, ia sudah terlihat seperti orang asing.


"Kenapa kau terus-menerus melihat cermin? apa kau tidak PD dengan wajah barumu?"


Wanita itu menoleh.


Ryan.


"Tidak. Aku tidak nyaman. Ternyata tidak semudah yang kubayangkan."


"Maaf,"


"Kenapa?"


"Harusnya kulakukan sebelum kau siuman dari kecelakaan itu,"


Gisella tersenyum, "Haruskah aku berterimakasih padamu, jika kau lakukan hal itu?" Gadis itu kemudian memasang anting-anting, "Bagaimana respon publik dengan kehadiranku?"


"Sangat mengejutkan." Ryan memberikan Tab-nya pada Gisella, "Banyak komentar yang bertanya tentang dirimu. Darimana kau berasal, bagaimana kita berjumpa, dan ....."


"Dan apa?"


"Apakah aku bertemu denganmu setelah melupakan Delista?"


Gisella menyambut Tab Ryan terkejut. "Ada komentar seperti itu??"


Ryan mengangguk, "Aku tidak menyangka mereka masih ingat tentang scandal-ku dengan Delista."


"Karna cinta pertama, memang selalu membekas." Ujar Gisella.


"Hah?"


"Jujurlah padaku, dulu... kau suka padaku kan? maksudku sebagai Delista."


Ryan mendekat, ia menghadapkan kursi putar yang diduduki Gisella kearahnya. Wajah keduanya kini hanya sejarak jengkal bayi.


"Apa otakmu juga ikut di operasi?" bisik Ryan


"Entahlah, aku hanya menebak. Jika kau mau mengajak liburan Delista, itu mungkin hanya akal-akalanmu untuk lebih dekat dengannya kan? terlebih lagi, kau menolongnya lalu... kau menjadikannya tunanganmu sekarang."


Ryan menyeringai, "Jangan menyukaiku, Gisella. Jika pada akhirnya yang kau katakan benar, tolong abaikan aku dan jangan balas perasaanku."


"Kenapa?"


Tok... tok... tok...


Jawaban yang dinantikan Gisella harus terhenti karna ketukan pintu. Ryan menjauhi wajahnya, dan keluar menghampiri intercom, Wildan. "Masuklah,,"


Laki-laki itu membawakan tuxedo sesuai keinginan Ryan. "Semuanya sudah siap. Kau bisa langsung ke Rooftop "


"Baiklah,, aku akan berganti tuxedo."


"Bagimana dengan Gisella?"


"Sebenar lagi keluar, dia sedang berganti pakaian." Jawab Ryan, laki-laki itu terdiam sebentar. "Hmm,, akan lebih baik jika kau memanggil Ny.Gisella bukan?" tanyanya lagi.


"Aku malah sudah terbiasa. Dia lebih muda dariku. Aku sedikit canggung dengannya jika harus memakai panggilan formal." jawab Wildan santai. Ryan ingin melayangkan protes. Namun, melihat ekspresi laki-laki itu berubah berbinar, ia mengikuti arah pandangnya


Gisella keluar dari ruang ganti, gadis itu sudah siap dengan gaun jenis bodycon dengan model off shoulder. Terlihat ketat tapi menampilkan aksen sexy dari lekukan tubuhnya juga sukses membuat Wildan dan Ryan melongo.


"Sejak kapan dia merawat tubuhnya?" bisik Wildan


"Aku juga tidak tau."


"Bagimana menurut kalian? Apa aku terlihat aneh? Aku merasa tidak nyaman karna ini terlalu ketat, dan... bahuku terbuka seperti ini, aku juga cukup risih." jelas Gisella sembari mengusap tekuk lehernya.


"Jika kau tidak nyaman, kenapa kau memakainya?"


"Victoria memberikanku beberapa model dress,, dan aku merasa model ini yang paling cantik dan feminim. Aku tidak mau membuatmu malu, jika salah kostum" bela Gisella.


Ryan menghela nafas, ia tidak menyangka gadis itu bisa berfikiran seperti itu kepadanya. Dia menghampiri Gisella dan mengenakan tuxedo-nya menutupi bahu gadis itu. "Bagaimana jika kutambahkan ini? Apa kau merasa lebih baik? Aku bisa saja meminta Victoria mencarikan model dress yang lain..."


"Tidak apa.. begini saja, aku tidak enak menyuruh Victoria terus-menerus." potong Gisella.


"Kau yakin?"


Gisella mengangguk.


************


Suasana malam menjadi semakin indah ditemani ribuan bintang dan pemandangan kota dari atas memang selalu memanjakan mata. Ratusan undangan yang hadir menikmati pesta santai tapi mewah tersebut. Aneka wine dan cemilan disajikan dengan rapi oleh pelayan hotel.


Riuh pikuk para undangan langsung terdiam saat seorang wanita memasuki area acara. Resti. Gadis itu mengenakan dress jenis sheath. Dress yang menampilkan lekuk tubuhnya yang sempurna dan menonjolkan kesan seksi pada bagian dada.


"Uwaaahhh,, cantiknya." Puji Sherly


"Kami bahkan tidak tau, bodymu sebagus ini." tambah felish.


"Kau melakukan diet keras? Yoga? atau... minum apa?" Tanya Viola


Resti tersenyum, "Aku hanya melakukan yang terbaik untuk tubuhku. Apa acaranya sudah mulai? Aku tidak melihat presdir disini.?


"Ahh,, aku paham. Apa kau berniat menggoda Presdir?" Tanya Sherly iseng.


"Iya. Aku akan melakukannya,"


Sherly, Felish dan Viola kompak shock mendengar jawaban Resti.


"Yak! Bagaimana caranya? Dia pria yang sudah bertunangan. Dan tunangannya bahkan lebih cantik darimu." Tanya Sherly


"Kau sudah melihatnya?" Tanya Felish, Sherly mengangguk.


"Aku merasa dia seumuran dengan Viola, atau memang dia awet muda. Benar-benar bening, wajahnya mulus tanpa cacat sedikitpun."


"Aku hanya melihatnya di TV, dan dia memang cantik." Tambah Viola. "Apakah dia operasi plastik? aku tidak pernah melihat wanita secantik itu. Apa dia benar-benar manusia??" tambahnya.


"Aku tidak peduli, bahkan laki-laki yang sudah menikah bisa berpaling dari istrinya. Mungkin, aku masih punya kesempatan?" jawab Resti penuh percaya diri.


"Astaga,, apa kau mau bernasib sama dengan Delista?" pertanyaan konyol dari Sherly sukses membuat Resti terdiam. "Dia meninggal, mungkin karena presdir lebih memilih wanita ini ketimbang dia. Saat itu, dia lelah dan menghabiskan waktu untuk minum karna usahanya mendapatkan presdir tidak berhasil. Sepertinya, dugaanku benar."


"Kau selalu saja menimbulkan dugaan yang tidak masuk akal. Apa kau masih berniat menjadi pramugari? atau kau sudah bersiap berganti profesi sebagai penulis?" Tanya Resti tak senang. Sherly terdiam dan menutup rapat mulutnya.


"Itu mereka." Felish memberi aba-aba ke teman-temannya. Semua langsung menoleh, pasangan yang ditunggu-tunggu hadir. Ryan dan Gisella menuruni tangga sembari saling tersenyum satu sama lain.


"Mereka serasi ya,"


Ryan menuntun Gisella menuju panggung, sesekali keduanya tersenyum saat beberapa orang menyoraki kata selamat untuk keduanya. Mereka naik ke panggung bersama, lalu disuguhi segelas wine oleh seorang pelayan. Laki-laki itu mendekati mikrofon.


"tes... tes.. apa kalian bisa mendengarkanku?" tanya Ryan


"Bisaa!!!" sahut para undangan.


"Baiklah, pertama-tama terimakasih kalian mau memenuhi undanganku. Disini aku dengan rendah hati, melayani kalian yang telah bekerja keras melayani para konsumen yang masih setia bersama maskapai kita. Ada dua kabar baik yang ingin aku sampaikan, pertama....lagi-lagi untuk ketiga kalinya kita.....memenangi penghargaan dengan katagori Maskapai pelayanan terbaik!!" Serunya bersemangat pada akhir kalimatnya. Ia menatap bangga seluruh awak pesawat yang bekerja keras untuknya.


"Huuuhhh!!! Hidup Ryan!! Hidup Ryaann!!!" Sorak sorai dan tepuk tangan yang riuh langsung terdengar meriah.


"Hm... penghargaan ini, aku berikan kepada kalian yang sudah bekerja keras selama ini. Maka dari itu, untuk gaji bulan ini, akan ku tambahkan bonus untuk semua karyawanku tanpa terkecuali!!"


"Uwaaaahhh!!!!!"


"Semoga kalian menikmatinya. Lalu berita kedua.... mungkin kalian sudah mendengar berita ini, tapi aku tetap ingin memperkenalkan secara resmi di depan kalian semua," Ryan menoleh ke Gisella lalu mengulurkan tangannya. "Dia...tunanganku. Gisella Alvaretta. Mungkin sebagian dari kalian sedang bertanya-tanya, bagaimana kami bertemu dan menjalin kasih. Tapi, bisakah kalian tidak perlu mengetahuinya dan mendukungku??" Tanya Ryan sedikit malu.


"Eiiihhh,," Para undangan serentak menggoda Ryan. Tapi, tidak dengan Resti. Gadis itu terus menatap lurus ke arah wanita disamping Ryan.


"Ny.Gisella, bisakah kau ceritakan sedikit pada kami tentang Tuan Ryan sebagai pacar dimatamu?" Salah seorang tamu undangan meluncurkan pertanyaan.


Gisella menoleh ke arah Ryan meminta persetujuan. Laki-laki itu mengangguk.


"Hallo, aku Gisella Alvaretta. Jika kau bertanya tentang Ryan sebagai sosok pacar di mataku, jawabanku adalah,,, dia bukan tipe romantis." jawaban Gisella sontak membuat para undangan terkekeh,


"Dia gila kerja, kesibukannya menyita waktu dan aku harus mengerti tentang hal itu. Jadi, aku putuskan untuk ikut belajar bersamanya, bagaimana dia mengurus perusahaan, bagaimana membaca saham, bagaimana melihat grafik keuangan, itu cara kami berkomunikasi. Memberikan saran dan tanggapan, sering membuat kami berkelahi satu sama lain. Tapi, tidak ada kata putus yang keluar darinya. Dia mempertahankanku seperti aku mempertahankannya. Dia memang bukan tipe romantis, tapi dia cukup hebat meluluhkan amarahku" penjelasan Gisella diakhiri tepuk tangan meriah.


"Kalian pasangan serasi!!"


"Bagaimana dengan Tuan Ryan sendiri?" Pertanyaan beralih pada Ryan. Laki-laki itu cukup kaget tapi tetap mengambil mikrofonnya.


"Hmm... dia cukup manis dimataku, walaupun dia keras kepala dan terlalu penasaran dengan apa yang kulakukan, pelan-pelan aku bisa mengerti maksudnya. Aku mungkin hebat sebagai CEO, tapi untuk memanjakan wanita, levelku masih pemula. Aku bahkan berkali-kali lupa dengan tanggal jadian kami, dan membuatku berakhir dengan menerima omelannya" Gisella menepuk pelan bahu laki-laki itu,


"Omelanku adalah bentuk cinta dariku." balasnya


"Tapi..." sebuah suara terdengar lantang ditengah-tengah para undangan. Resti, sang pemilik suara. "Bagaimana tanggapanmu dengan sosok Delista? Ada artikel yang beranggapan bahwa kau menemukan wanita baru setelah Delista meninggal? Dan, artikel yang memuat kau berpacaran dengan Delista dulu, kau juga tidak pernah memberikan klarifikasi tentang hal tersebut. Bisakah kau jelaskan? Aku yakin, bukan hanya aku saja yang penasaran dengan hal ini, Tuan Adryan Perwira?"


Suasana santai itu berubah tegang, kini mata Gisella menatap lekat-lekat wajah saudari tirinya itu.


"Delista, dia gadis yang baik. Aku... memang menyukainya saat itu." Pengakuan Ryan sontak membuat pandangan Gisella pindah menatap laki-laki itu.


"Aku memang berniat mengencaninya. Tapi, aku tidak bisa menemuinya karna dia tidak pulang setelah perjalanan bisnisnya bersamaku. Kami, lost kontak saat itu, dan satu lagi, Gisella bukan pengganti Delista. Kau mungkin terlihat gelisah dengan berita pertunangannku, mungkin karena.... kau sudah menganggap Delista sebagai saudaramu?"


Resti tersenyum tipis, "Aku hanya mencoba mengklarifikasi."


"Semoga jawabanku memuaskan hasrat penasaran kalian. Aku mohon untuk berhenti sampai disini, jangan biarkan berita ini kembali muncul," pinta Ryan.


"Lalu bagaimana dengan Ny.Gisella? Apa tanggapanmu setelah mendengar jawaban Tuan Ryan?" Resti kembali mengajukan pertanyaan, Sherly menyenggol lengan gadis itu memintanya berhenti, tapi Resti sama sekali tidak menggubrisnya.


"Aku?? Aku tidak berhak menghakimi masa lalu Ryan, itu hak-nya, dan itu terjadi sebelum aku dan dia menjalin kasih. Dia juga sudah menceritakan hal ini padaku, jadi aku sudah tidak kaget lagi. Kau terlihat cukup tertarik dengan masalah ini ya," Jawab Gisella santai.


"Bukan aku saja,, tapi semua orang yang ada disini." balas Resti.


Ryan mendekat lalu berbisik, "Itulah saudara tirimu."


"Aku tau, kau sudah menunjukkan fotonya. Bagaimana mungkin aku melupakannya."


Acara dilanjutkan dengan ramah-tamah, Ryan memilih bergabung bersama rombongan para pilot dan menanyakan pengalaman kerja mereka. Sedangkan, Gisella bergabung dengan para wanita pramugari, tentu saja ada Resti di antara mereka.


"Aku benar-benar iri padamu. Kau, memiliki segalanya, tunanganmu juga bukan orang sembarangan." Ujar Sherly.


Gisella tersenyum, "Aku juga punya kekurangan. Mungkin, memang terlihat tanpa cacat tapi aku tetap manusia biasa."


"Jika Ryan, sibuk dengan pekerjaannya. Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?" Resti kembali membuat suasana menjadi tegang. Gadis itu seolah tidak ingin kalah, dan berusaha mencari tau bagaimana dua sejoli ini bisa bertemu. "Mungkin, aku bisa belajar dari pengalamanmu."


"Mungkin.... kau harus mau dikorbankan seseorang terlebih dahulu?" ucap Gisella tak terduga. Semuanya terdiam terhanyut dalam lelucon seram keduanya.


Resti tersenyum miring, "Apa maksudmu? dikorbankan?"


"Aku pernah membaca sebuah novel, mengisahkan tentang wanita yang terlalu dengki pada saudara tirinya.... dia menyingkirkan saudaranya dan mengatakan bahwa saudaranya tidak layak berada dalam keluarganya. Tapi, karna kedengkiannya itulah, saudara tiri yang dianggap sebagai musuh, malah bertemu pangeran berkuda putih." Jelas Gisella, ia tersenyum penuh makna. "Kisah yang rumit ya?"


Rahang Resti mengeras, mengigit bibir dan menatap Gisella tidak senang. Kisah itu mengingatkannya pada perilakunya kepada Delista setahun yang lalu. Apa maksud perkataanya? Mengapa dia menyinggung kisah yang membuat hatinya tertohok keras?


Sherly dan yang lain tertawa, "Ah,, jadi itu maksudmu? Kau juga merasakannya ya?"


"Tentu saja tidak. Dari kisah itu, aku belajar. Kesabaran pasti membuahkan hasil, hidup terus berjalan dan kita juga tidak tau apa yang terjadi. Kalau kita merasa kesulitan sekarang, siapa tau suatu saat nanti, ada seseorang yang mampu menampung semua kesepian, kesedihan dan rasa kecewa yang pernah kau rasakan pada seseorang yang sudah kau anggap sebagai saudara."


"Resti? Bagaimana? Apa kau berminat?"


"Tidak. Bukankah itu kisah menyedihkan? Bukannya melawan demi harga diri, saudara tirinya malah pasrah di pijak-pijak oleh saudaranya yang lain. Tentu saja, aku memilih sebagai saudara tiri yang tidak memilih untuk kalah," Jawabnya.


"Untunglah, kau itu anak tunggal." balas Felish.


Resti tak menjawab dan menatap lurus Gisella. Dia harus mencari tau prihal gadis ini, Gisella memang tidak mirip dengan Delista. Gaya bicara, elegan, pintar, dan cukup cantik. Tapi, entah kenapa dia merasa tidak nyaman dengan tatapan gadis itu.


Sedangkan Gisella? Dia yang mengetahui perbuatan saudara tirinya, hanya bisa menahan kesal dengan cara gadis itu menjawab. Nada Resti sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dulu, dia memang sepolos dan terlalu baik hati? sampai melawan Resti saja dia tak mampu.


**************


Hera yang tengah menyiapkan makan malam merasa puas dengan hasil masakannya. "Sayang!! Turunlah, makanan sudah siap!"


Tidak ada jawaban.


"Sayang! Cepatlah turun!!"


Masih tidak ada jawaban. Hera melepaskan celemeknya dan bergegas naik menghampiri suaminya itu.


"Saya..!" Matanya melebar kaget saat melihat sang suami sudah tergeletak pingsan di ruang kerjanya. "Ya tuhan! Gilang!!!" wanita itu menghampiri sang suami dan mencoba menyadarkannya. "Gilang, kau tidak apa? Sadarlah sayang!!"


Tangannya merogoh saku, mengambil ponsel dan cepat menekan tombol darurat.


"Hallo, tolong kirimkan ambulans. Suami saya pingsan!!"


**************


Ryan dan Gisella sudah duduk di dalam mobil menuju perjalanan pulang.


"Bagaimana obrolanmu?" Tanya Ryan


Gisella diam beberapa saat, "Aku hanya tidak suka dengan Resti.... juga dengan Delista."


"Kenapa kau tidak menyukai dirimu sendiri?"


"Entahlah, dari caranya bicara. Sepertinya, Delista mudah mengiyakan semua permintaan Resti. Apa dulu aku terlalu lemah?"


"Maaf menyela. Kata lemah sepertinya tidak cocok untukmu, Gisella. Hanya saja... kau memilih tidak mau memperpanjang masalah dan memilih berdamai." Ujar Wildan.


"Mungkin. Aku juga tadi memilih untuk tidak membuat masalah dengannya, itu hanya membuatnya curiga."


"Dia tipe gadis itu memang tidak mau kalah dan ingin menang sendiri" Ucap Ryan.


"Bagaimana dengan keluarganya? Apa kau mendapat sesuatu Wildan?" Tanya Gisella pada laki-laki itu.


"Apa ini? Sejak kapan kau menyuruhnya?" Tanya Ryan. Gisella memutar bola matanya jengah.


"Bukankah kau yang mengatakan sendiri, kalau apapun yang kau miliki adalah milikku juga? Kau punya Wildan, jadi Wildan juga milikku kan?" tanya Gisella balik


"Tapi, tidak dengan Wildan. Kau menyebutnya apa tadi? milikmu? astaga,, jika kenapa kau tidak mengatakannya di depan semua orang?" tanya Ryan jengkel.


Wildan melirik keduanya dari kaca spion, sedangkan Gisella hanya bisa menyeringai heran.


"Ada apa denganmu? Kau cemburu?" tanya Gisella.


"Ya tuhan. Baiklah, terserah kau saja!" ucapnya sambil memalingkan wajahnya ke luar.


Wildan hanya tersenyum. Ini pertama kalinya dia melihat sisi lain dari seorang Ryan. "Perusahaan keluarganya sedang mengalami krisis. Gilang pemilik perusahaan sekarang dilarikan ke UGD,"


"Apa?"


Ryan langsung menoleh ke arah Gisella, gadis itu menunjukkan raut wajah gelisah. "Kenapa dia dilarikan ke UGD? Bagaimana kau tau?"


"Anak buahku yang kusuruh untuk mengawasi mereka memberitahuku."


"Sejak kapan?" Ia menatap Gisella meminta penjelasan.


"Belum lama ini, aku mulai tertarik dengan keluarga angkatku. Tidak, aku hanya bermaksud mencari tau, apa aku benar-benar tidak diinginkan oleh keluarga itu, atau hanya Resti yang merencanakan semua ini."


Ryan menghela nafasnya, "Jika kau menemukan jawaban yang sama? Apa yang kau lakukan?"


"Aku yakin, aku tidak se-menyedihkan yang kau ceritakan dulu."


"Baiklah. Wildan, ayo kita ke rumah sakit!"


"Baik!!"


"Kau mau apa?" Tanya Gisella panik.


"Bukankah akan menyenangkan jika kau melihatnya langsung? Aku tau kau sudah lama menahannya." Ujar Ryan tenang. Gisella tersenyum tipis,


"Terimakasih"


***************


Ddrrrrrt drrrrtttt


Ponsel Resti bergetar. Panggilan telfon dari sang Ibu muncul di layar. Wanita pemilik ponsel tidak menghiraukan keadaan ponselnya dan memilih bercumbu mesra dengan sang juniornya. Acara makan malam itu memang sudah selesai, tapi keduanya memilih untuk bermalam di salah satu suite room hotel Bintang lima tersebut.


Lagi-lagi getaran terdengar. Sebuah pesan masuk. Resti akhirnya memilih mengakhiri ciumannya dengan Trias, walaupun laki-laki itu masih tidak rela melepaskannya dan menghujani ciuman di area leher gadis itu.


'Ayah masuk rumah sakit, nak. Dia mengalami stroke ringan. Datanglah, ibu menunggumu.'


"Ayahmu masuk rumah sakit?" Trias menghentikan ciumannya saat membaca pesan. "Bagaimana ini? Kau akan pergi? Aku sudah memesan kamar ini, untuk kita berdua." Tanyanya dengan nada sedikit kecewa.


Resti hanya menatap layar ponselnya, lalu memasukkan kembali ke saku mantelnya. Ia menangkup wajah Trias dan tersenyum jail, "Tentu saja aku memilih bersenang-senang."


Trias tersenyum penuh kemenangan, keduanya kembali terhanyut dalam gairah ****. Trias melepaskan mantel Resti dan membuangnya jauh, lalu membawa gadis itu ke kasur. Tanpa Resti tau, sang Ibu kembali menghubunginya.


****************


Rena duduk lesu di depan ruang UGD, melihat ponselnya yang diam tanpa tanda-tanda Resti akan menghubunginya. Pesannya juga hanya dibaca. Wanita itu kembali menelfon anaknya, sekali lagi hanya ada suara operator yang terdengar.


Ia menatap pintu ICU dengan tatapan kosong, "Aku tidak mau menjanda atau kembali miskin lagi." lirihnya.


Tanpa ia sadari, Gisella, Ryan dan Wildan melihat wanita itu dari kejauhan.


"Siapa dokter yang menangani Gilang?"


"Dokter Astrid. Kekasih dokter Erlangga." Jawab Wildan lengkap.


"Baguslah, bisakah kau meminta keterangan darinya?" Tanya Ryan.


"Akan ku usahakan."


Setelah Wildan pergi, Ryan kembali melirik Gisella. Wanita itu hanya memberikan tatapan kosong dan tidak banyak berkomentar.


"Kau baik-baik saja, Gisella?"


"Bisakah aku berbicara dengannya?" Tanya Gisella, Ryan mengikuti pandangan gadis itu.


"Kau mau berbicara dengan wanita itu? Kau yakin?"


Gisella menoleh ke arah Ryan, "Tunggulah disini. Aku tidak akan lama." Ia meninggalkan Ryan dan menghampiri wanita yang diceritakan sebagai Ibu kandung Resti. Ibu tirinya.


"Halo, bukankah kau Ibu Resti?" dengan hati-hati Gisella menyapa Hera. Wanita itu mendongak lalu berdiri, lalu ia mengusap air matanya.


"Kau.....siapa? Iya, aku Ibu Resti."


"Benarkah, aku mengira salah orang. Kebetulan aku lewat dan mampir menanyai keadaanmu. Oh, iya. Aku belum memperkenalkan diri, Aku Gisella teman Resti."


"Benarkah?" Hera melihat penampilan Gisella dari atas sampai bawah, "Penampilanmu....terlihat luar biasa, kau pasti bukan orang biasa. Apakah mungkin... kau atasan Resti?"


"Bisa jadi. Kenapa kau duduk disini? Apa ada yang sakit?"


Hera tersenyum tipis, "Suamiku, Ayah Resti pingsan dan dokter langsung memasukkannya ke ruang ICU, dari hasil pemeriksaan, dia terkena stroke ringan. Kondisinya yang lain juga berpengaruh."


Gisella terdiam, lalu menatap pintu ICU. "Lalu,, dimana Resti?"


"Aku sudah menghubunginya, tapi dia tidak menjawabku. Aku paham, mungkin dia sudah terlanjur sakit hati pada ayahnya sendiri." Jawaban Hera menimbulkan tanda tanya besar bagi Gisella.


"Hmm.. apa.. maksudmu?"


"Tidak apa-apa. Bukan masalah besar." Ujar Hera sembari tersenyum.


*************


Gisella dan Ryan sudah meninggalkan rumah sakit, Wildan menyampaikan bahwa kondisi sang Ayah dalam keadaan tidak baik. Ini disebabkan karena tekanan pekerjaan, dan kurangnya pola hidup yang sehat. Ini cukup mengganggunya, terlebih lagi saat Ibu angkatnya mengatakan bahwa hubungan ayahnya dan Resti sedang tidak baik.


"Wildan, bisakah kau cari tau kenapa hubungan ayah angkatku dan Resti sedang tidak baik?" Tanya Gisella.


"Itu sudah terjadi setahun yang lalu. Sejak mayat yang dikenali sebagai dirimu ditemukan. Ayah tirimu mengusir Resti dari rumah. Sepertinya, ayahmu merasa bersalah padamu. Entah apa yang terjadi saat itu, yang jelas ayahmu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Resti padamu." jawab Ryan.


"Apa yang diucapkan Resti adalah peraturan dirumah itu, mungkin Restilah yang menyuruh ayah dan ibu tirimu untuk tidak menghubungimu saat kau mengalami kecelakaan." Lanjut Ryan.


Gisella menari nafas dalam-dalam, ia merasa kekurangan oksigen setiap kali mendengar cerita tentang dirinya dan masa lalunya.


"Kau tidak apa?"


"Aku baik-baik saja."


*************


Hera pulang kerumah denga tergesa-gesa, ia memasuki kamar dan menggeledah lemari, kasur dan laci riasnya. Saat ia tau apa yang dicarinya tidak ketemu, wanita itu pindah ke ruang kerja sang suami. Hera membuka setiap laci, berharap menemukan yang ia cari. Hingga akhirnya...


Wajahnya berseri menemukan amplop coklat berstempel. Ia membukanya dan memeriksa. Surat tanah dan surat rumah.


"Aku.... tidak boleh jatuh miskin lagi. Tidak boleh!!"


*************