
🌹
🌹
"Chearsss!!" terdengar suara dentingan nyaring ketika ujung-ujung gelas minuman beradu.
Dimitri memilih menghabiskan waktu di sebuah kafe bersama teman yang di temuinya sesaat setelah dia menjamu pengusaha dari Qatar. Dan berhaail meyakinkannya untuk berinvestasi di Nikolai Grup setelah bernegosiasi beberapa kali.
Sedikit menghilangkan kebosanan yang melanda ketika mengingat tak ada siapapun yang akan menyambutnya dirumah saat pulang nanti.
Live musik dipanggung mini membuat semua pengunjung betah untuk berlama-lama berada disana, mendengarkan suara si vocalist yang memang enak di dengar.
Tapi perasaannya tak menentu, dia mulai gelisah. Selain rasa pening dan mual yang mulai kembali menyerang, wajah Raniapun terus berkelebat di pelupuk mata.
"Aku, ... sepertinya harus pulang." dia bangkit dari kursinya.
"Baru jam sepuluh, biasanya subuh baru pulang?"
"Sekarang keadaannya beda."
"Beda apanya? kamu masih sendiri, kecuali jika istrimu nggak pergi balapan." temannya tertawa.
"Nah kan, aku bahkan lupa untuk menonton balapannya malam ini, biasanya aku siap di depan televisi untuk memberinya semangat."
"Uuhh, ... manis sekali bapak kita yang satu ini, bisa juga kamu takluk sama perempuan."
Dimitri tertawa.
"Ayolah Dim, jarang sekali kita bertemu seperti ini. Apa kamu tidak mau ikut? yang lainnya merapat ke pub sekarang."
"Tidak. Lagipula aku merasa kurang enak badan." tolak Dimitri.
"Kamu payah sekarang," cibir yang lainnya.
"Yeah, ... bisa dibilang begitu." pria itu malah kembali tertawa seraya menghabiskan minumannya.
"Aku pamit ya? semua sudah aku bayar, kalian aku traktir." katanya, dan dia hampir berjalan menjauh setelah menarik jasnya yang tersampir di kursi. Bisa kacau kalau saja dia terus berada disana bersama mereka. Karena apa yang akan teman-temannya lakukan tentu akan diluar kendali seperti biasanya.
"Hey Dim, bukankah ini istrimu?" seseorang berteriak dari kerumunan yang tengah menonton acara live streaming superbike di televisi di sisi lain kafe.
Dimitri kembali memutar tubuh.
"Dia jatuh di garis finish."
Tubuh Dimitri menegang, dan dia kembali mendekat.
Dia menatap layar televisi yang menayangkan sebuah peristiwa yang membuat jantungnya serasa terlepas dari tempatnya. Dadanya bahkan seolah meledak saat melihat beberapa orang berusaha memadamkan api pada motor merah yang tentu sangat dia kenal.
Wajahnya memucat, dan tanpa sadar jasnya terlepas dari genggaman. Napasnya berhenti berhembus, dan darahnya terasa berhenti mengalir. Dimitri membeku di tempatnya berdiri.
"Apa istrimu baik-baik saja, Dim? kamu belum mendengar kabarnya?" seseorang datang menghampirinya, menyadarkan dia dari lamunannya.
Pria itu menghembuskan napas keras, kemudian tanpa basa-basi dia segera berlari keluar dari tempat tersebut.
***
Dimitri memacu mobilnya bagai orang kesetanan, saat ini pikirannya kosong. Dia tak dapat berpikir jernih. Yang ada hanyalah keinginan untuk segera sampai di bandara.
Poselnya terus berbunyi, dan dengan terpaksa dia mengankatnya walau dengan tangan bergetar.
"Dim?"
"Sesuatu terjadi, Mom. Rania ...
"Kamu sudah tahu? tadi mama berusaha menelfonmu, tapi tidak bisa."
"Aku harus ke Argentina Mom, mana papi?"
"Ya nak?" suara sang ayah menggantikannya dari seberang sana.
"Aku harus ke Argentina, Rania membutuhkan aku!"
"Papi tahu, tadi Angga menelfon, dan ..
"What? sesuatu terjadi?"
"Dengar nak, ..
"Suruh mereka menyiapkan pesawatnya, aku mau pergi."
"Tenanglah dulu,"
"Got to go, pih." Dimitri mematikan ponselnya saat dia tiba di bandara.
Keadaan tak seramai biasanya, karena memang malam hampir larut. Hanya terlihat beberapa penumpang yang menunggu keberangkatan.
Dimitri kembali melakukan panggilan telfon kepada ayahnya setibanya dia diruang tunggu.
"Apa mereka sudah menyiapkan pesawatnya?"
"Belum, nak. Makanya kamu harus tenang dulu. Semua pesawatnya sedang menjalani servis berkala, kemungkinan membutuhkan waktu sekitar satu jam, dan kita ...
"Satu jam? aku tidak bisa menunggu selama itu, pih. Istriku disana membutuhkan aku!" pria itu berteriak.
"Tapi kita tidak bisa buru-buru, Dim. Dalam hal ini ...
"Nikolai Airlines tidak berguna pada saat seperti ini!" makinya, lalu dia memutuskan sambungan.
Dia berlari ke pusat informasi, lalu menanyakan beberapa hal. Dan kemarahan menyeruak saat dia tak mendapatkan informasi yang diinginkan. Terlebih lagi dirinya melupakan beberapa hap yang seharusnya dibawanya.
"Pak Dimitri?" dua orang petugas bandara datang menghampiri.
"Silahkan ikut kami." katanya, dan segera saja Dimitri mengikuti mereka ke pintu keberangkatan.
Sebuah pesawat komersil tujuan Buenos Aires sudah siap berangkat dalam beberapa menit lagi.
"Cepatlah Nak! atau kamu mau menunggu pesawat kita selesai di servis?" Satria muncul dari dalam pesawat.
"Papi!" Dimitri setengah berlari menaiki tangga pesawat hingga dia masuk kedalam. Kemudian Satria berjalan mendahuluinya ke kabin penumpang kelas bisnis.
"Duduklah disana, semua yang kamu butuhkan sudah kami bawa." pria itu menunjuk tempat duduk di dekat jendela, lalu menunjuk bagasi diatas kursi. Sebuah tas berisi dokumen penting pribadi Dimitri yang dia butuhkan untuk perjalanan keluar negeri.
"Itulah gunanya menenagkan diri, agar kamu tidak lupa membawa apa yang kamu perlukan." Satria menepuk bahu sang putra, kemudian mereka duduk di kursi yang tersedia.
Pesawat lepas landas beberapa menit kemudian, menempuh perjalanan dari Jakarta ke bandara internasional Buenos Aires lebih dari 35 jam di udara.
Dan selama itu, penyiksaan nyata Dimitri rasakan karena khawatir dan ketakutan. Mengingat, mungkin saja saat ini istrinya tengah menghadapi maut sendirian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pria itu berlari menuju ruang perawatan dimana Rania berada. Beberapa saat setelah pesawat kedua dari Buenos Aires mendarat di Tierra Del Fuego.
Satria terus melakukan panggilan telfon untuk menemukan keberadaan menantu dan besannya di rumah sakit terbesar di Argentina itu.
Dimitri berhenti saat matanya menangkap sosok yang dia kenal sudah berada disana.
"Mama kira kalian sudah sampai. Mama dan Andra menyusul begitu pesawatnya selesai di servis dan ...
"Bagaimana Rania?"
"Rania??"
"Ya."
"Dia tidak ...
"No! dimana dia, .. dimana!!" pria itu tentu saja merasa panik. Dia baru bisa berhenti ketika melihat Angga keluar dari sebuah ruangan, yang di perkirakannya merupakan ruang perawatan Rania.
"Dim, ... Rania ...
"Bagaimana keadaannya ...
Angga terdiam.
"Pah!! bagaimana keadaannya?!" pria itu hampir berteriak.
"Mm .. maaf, soal ..
"Tidak mungkin!" Dimitri menggeser tubuh mertuanya yang berdiri di depan pintu, kemudian segera menerobos masuk kedalam ruangan itu.
Dimana seorang perawat tengah menyelesaikan pekerjaannya, merapikam tempat tidur, dan membenahi selimut yang menutupi seluruh tubuh Rania hingga ke kepala.
"Zai!!" pria itu segera mendekat.
"Tidak tidak tidak!!" dia benar-benar berteriak. "Kamu tidak mungkin melakukan ini kepadaku, Zai! tidak!!" dia menarik selimut yang menutupi wajah Rania.
Perempuan itu tampak pucat dengan luka lecet dan lebam kebiruan di rahang. Sedangkan matanya terpejam begitu erat.
"Zai!! jangan kejam kepadaku!" dia mengguncangkan tempat tidur.
"Aku mohon! jangan laukan ini!!" Dimitri berteriak lagi. Kedua tangannya memegang erat pinggiran tempat tidur, kemudian dia mengguncangnya dengan keras. Pria itu meraung-raung seperti orang gila, berharap dengan begitu Rania akan terbangun.
"Zai, ... aku mohon jangan lakukan ini!!" dia jatuh berlutut di lantai dengan kepala yang menepel diantara kedua tangannya, di pinggiran tempat tidur Rania.
"Zai!! bangunlah!!" pria itu menangis.
"Dim, jangan begini nak. Bersabarlah, Rania ...
"Jangan menyuruhku untuk bersabar! aku kehilangan dua nyawa sekaligus, pih!" Dimitri memotong perkataan ayahnya.
"Sudah aku katakan jangan pergi, Zai! tapi kamu tidak menurut! ... lihat bagaimana sekarang? aku harus kehilangan kalian!!" racaunya, dan dia masih dalam posisi seperti itu.
"Kamu tahu Rania hamil?" Angga mendekat.
"Hamil?" Satria dan Sofia bersamaan.
"Aku sudah melarangnya, tapi dia keras kepala." Dimitri menjawab.
"Zai!!!" dia kembali mengguncangkan tempat tidur Rania. "Ayolah Zai!! kamu janji akan kembali, ... jangan lakukan ini kepadaku!!" Dimitri menghiba.
Angga membeku di tempatnya, dia melihat pria muda di depannya dan banyak bayangan berkelebat di pelupuk matanya. Bagaiaman dia melihat dirinya ketika muda ada pada sosok itu, saat banyak tragedi menimpanya dan Maharani, dan bagaimana dia pun mengamuk ketika perempuan itu mengalami kejadian yang hampir sama seperti putrinya. Dan ya, sosok itu ada didalam menantunya. Bagaimana dia merasa begitu tak berdaya, begitu terpuruk, juga emosional ketika melihat orang yang di cintainya terbaring lemah tak berdaya.
"Rania!!!" untuk kesekian kalinya Dimitri berteriak.
"Jangan begini, Dim." Satria mencoba menenangkan putranya yang semakin lama semakin emosional.
"Sssstttttt!! berisik!!" suara yang mereka kenali menginterupsi.
Semua orang menoleh ke asal suara, dan seketika mereka terhenyak melihat apa yang terjadi.
Rania terjaga dan perlahan membuka mata, sebelah tangannya mengusak kedua matanya yang terasa begitu lengket akibat tertidur selama lebih dari dua puluh jam terakhir.
"Aku kan capek, mana ngantuk lagi. Tapi kalian berisik terus!" ucapnya, dengan suara serak khas bagun tidur.
"Zai?" Dimitri mengangkat kepala, dan mengerjap beberapa kali karena tidak mempercayai penglihatannya.
"Kamu berisisk, aku capek. Mana badan aku sakit semua lagi, silau juga duh." keluh Rania.
"Kamu selamat!" Dimitri membingkai wajahnya, memastikan jika perempuan itu memang benar-benar terjaga.
"Memangnya apa yang kamu harapkan?" Rania menjawab.
"Oh, ... kamu benar-benar selamat!!" Dimitri menelusuri setiap bagian tubuh yang bisa dicapai oleh tangannya. Memeriksa keadaan perempuan itu.
"Bagaimana anakku? apa dia baik-baik saja didalam sana?" terakhir dia menyentuh perut ratanya.
"Hmm ...
"Oh, ... kamu membuatku sangat takut, Zai!" Dimitri kemudian menunduk dan memeluk tubuh Rania dengan erat. Tak peduli sekelilingnya yang masih merasa terkejut oleh beberapa hal.
🥀 Flashback On 🥀
Rania berusaha menarik kakinya yang terhimpit kuda besi tenggangannya ketika beberapa petugas berlari menghampiri. Beberapa saat setelah motor itu terguling ke sisi kiri dan menyeretnya sejauh puluhan meter hingga terdampar di area berpasir.
Dengan sigap mereka mengangkat benda itu secara bersamaan hingga Rania bisa ditarik menjauh saat mereka juga menyadari bahan bakar yang mengalir keluar dari tangki, juga asap yang mengepul dari sela-sela mesin.
Sementara Angga hampir saja mencapai motor merah milik putrinya ketika disaat yang bersamaan kendaraan beroda dua itu meledak dengan dahsyat.
Pria itu bahkan sampai terjengkang ke belakang terkena efek hantaman keras di udara yang menerpa tubuhnya. Dia berteriak kencang mengira putrinya masih berada dibawah ledakan motor. Namun beberapa orang crewnya menahan agar dia tak beranjak dari tempatnya.
Angga meraung-raung sambil mencoba melepaskan diri. Berusaha mencapai ke tempat yang dia kira putrinya berada.
"Om!!" Galang mencoba menyadarkannya.
"Rania!!!" pria itu berteriak, dia meronta sekuat tenaga untuk lepas dari anak buahnya.
"Om!! nggak apa-apa, Rania nggak apa-apa!" ucap Galag lagi, berusaha meraih fokus Angga. Namun dia masih berteriak dan meronta, mengira hal buruk sudah terjadi kepada putri kesayangannya.
"Om!!" Galang mengguncangkan tubuh Angga, sehingga pria itu berhasil dia sadarkan. "Rania nggak apa-apa." dia menunjuknke sisi lain, dimana perempuan itu tengah mendapatkan pertolongan pertama di pinggir lintasan.
"Oh, Rania!!" Angga bangkit, kemudian berlari kearah putrinya. Tanpa banyak bicara pria itu segera meraup tubuh Rania dan memeluknya denga erat. Rasanya dia ingin mati saja jika ternyata terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.
🥀 Flashback Off 🥀
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
Oh, ... selamat-selamat 😂😂
hampir aja emak kena demo netijen sejagat nt wkwkwk
kirim hadiah dulu yang banyak dong, jan lupa like sama komen juga.
lope lope sekebon cabe.😘😘